Jumat, 24 Juli 2015

Sore yang selalu sederhana




Bisakah hidup melulu sore? Karena sore memang selalu sempurna menyimpan setiap ringan dan senang. Di sore hari angin begitu lembut, memagut rambut tanpa pernah ribut, begitu tenang hingga membuat orang yang menikmatinya nyaman. Sungguh, suasana yang hangat dinikmati bersama keluarga. 

Di saat seperti ini, kau begitu gembira mendengar cerita pasanganmu, cerita anak-anakmu, tentang harinya di hari itu. Dan jika kau tengah sendiri, kau tak pernah lupa untuk membaca buku. Buku-buku yang menghadirkan dunia yang baru untukmu, sore yang baru untukmu.

Ya, kau, wanita yang aku sebut “Ibu”.

Seperti sore-sore sebelumnya, sore ini pun sama. Kita kembali menikmati sore di beranda rumah, seraya menikmati lalu lalang kendaraan yang bagaimanapun juga bergegas tuk segera tiba di rumah, pulang. bukankah rumah selalu menjadi tempat berpulang yang damai? Dan sore yang mendekati malam seperti ini, selalu mengajarkan kita arti perjuangan. Perjuangan hari yang pada akhirnya akan selalu dibalas dengan ketenangan dan keteduhan.

Bukankah matahari sore hari tak pernah pernah terlalu terik, menyengat, dan membuat susah?

Jika ibu selalu bersyukur bisa menikmati indahnya matahari di sore hari, aku pun selalu bersyukur bisa memiliki matahari seperti Ibu. Yang selalu memberi cahaya, kehangatan, juga ketenangan dan keteduhan.
ibu, maafkan anakmu ini, jujur aku baru menyadari betapa besar kasih sayang, perjuangan dan pengorbanan ibu justru setelah berada jauh dari ibu. Tepatnya saat aku menginjak SMA dimana aku harus tinggal di asrama sekolah. Sebelum itu aku justru sering kesal dengan celoteh ibu yang sering melarang ini-itu, terlalu protektif, dll. Entah karena memang waktu itu usiaku yang masih remaja, atau memang jarak dan kerinduan yang telah mengajarkan semuanya.

Yang jelas sejak saat itu kita menjadi semakin dekat, tak ada ragu bagiku tuk terbuka dalam segala hal denganmu. Pun dengan kau. Berada dekat denganmu, mengajarkanku banyak pelajaran hidup, yang barangkali takkan pernah aku temui di bangku sekolah/kuliah. Ya, Ibulah yang menjadikan aku pribadi yang lebih kuat, dan lebih mensyukuri segala yang ada. Darimu aku belajar bagaimana menjadi seorang wanita, istri dan ibu yang harus kuat, cerdas, dan ikhlas.    

Darimu aku belajar arti kebahagian, bahwa kebahagiaan tak pernah terletak pada harta atau tahta, tapi pada hati yang selalu bersyukur. Sederhana dan senantiasa bersyukur, itulah yang selalu kulihat darimu, Bu. Selalu menjadikan segala sesuatu yang ada dan terjadi, entah itu suka atau duka, menjadi sebuah kesyukuran yang pada akhirnya akan selalu bermuara pada kebahagiaan hati.

“Selalu ada tangan Allah di balik hidupmu. Jika kau sedang berada di bawah, jangan pernah kau putus asa dan berburuk sangka. Dan jika kau sedang berada di atas, sungguh sangat tak patut rasanya untuk berpuas dan berbangga diri. Apapun itu, syukurilah. ”

Yah, Karena memang itulah hidup. Tugas kita? Hanya menjalaninya, melewatinya dengan bijak dan belajar dengan cara yang sesempurna kita bisa. Seperti yang ibu selalu katakan, Jadikan sederhana dan syukur sebagai bagian dari hidup, selalu. 

Terlalu banyak yang ingin aku ceritakan tentangmu bu, tapi barangkali bukan disini tempatnya. Disini, hari ini, aku hanya ingin mengatakan bahwa “Ibu is Everything, Always number one for me”.

Selamat ulang tahun yang ke-48 ibuku sayang. Terimakasih telah menjadi Ibu terbaik. Semoga allah selalu menyelimutimu dengan nikmat sehat dan umur yang barokah. Semoga aku senantiasa bisa mempersembahkan yang terbaik untukmu. Dan semoga aku juga bisa menjadi wanita terbaik sepertimu. Wanita yang pendampingannya bisa memberi arti, bagi lingkungan sekitar, bagi kesuksesan suami, dan kecermelangan masa depan anak-anak. Doa dan cintaku selalu untukmu, Bu. Barakallah.

Peluk cium dari putrimu.

Pamekasan, 24 Juli 2015