Sabtu, 29 Maret 2014

Keluarga Kita..^^

Beberapa bulan yang lalu, kita masih mengukir cerita itu. Dalam canda tawa, isak tangis, getir amarah, bahkan terkadang kebisuan yang menyiratkan keangkuhan. Dan sekarang, aku, kamu, kita hanya bisa tersenyum mengenangnya.

Suatu perjumpaan awal telah membawa kita pada sebuah ikatan, persaudaraan. Yah, nyatanya ikatan itulah yang menaungi kebersamaan kita selama kurang lebih 4 tahun berada di kampus ini. dan saat ini, aku ingin sejenak menuangkan cerita itu. Cerita kita, untuk kita.

Kita sangat berbeda, dan kita menyadari itu. Bukankah perbedaan akan selalu ada hampir dalam semua hal? Selalu akan tercipta kutub-kutub pemahaman yang tak akan bertemu jika tidak dijembatani. Apalagi jika menyangkut masalah karakter.

Aku tipe orang yang cenderung pendiem, dan jelas aku bukan tipe orang-orang sanguinis. Beruntunglah tuhan mempertemukanku denganmu cinta.. bahkan, di awal perkenalan kita kau telah bercerita panjang lebar. Kau tahu? Hal pertama yang membuatku takjub padamu? Saat kau bercerita bahwa kau telah mengenal pacaran sejak kelas 1 SD. Gilaa... ya meskipun ku tahu bahwa itu hanya sebatas saling suka jenis anak-anak. Tapi menurutku, untuk kita yang hidup di tahun 1990-n hal itu tergolong langka. Dan kau menceritakan itu padaku bahkan di saat awal perkenalan kita. Tak ku pungkiri, sikap terbuka mu membuatku nyaman berbagi cerita denganmu. Dari hari ke hari, jalinan pertemanan itu pun semakin dekat. Dari saking dekatnya, serta didukung oleh bentuk fisik yang hampir sama, ada julukan yang disematkan pada kita berdua. Nama yang sampai kapan pun mungkin tak akan pernah kita lupa. Upin dan Ipin. Aku upin, dan kamu ipin. Ibarat anak kembar yang kemana-mana selalu berdua. Anehnya, kita menerima saja dan bahkan cenderung enjoy menyandang nama itu. Bahkan di saat ulang tahunku di tahun pertama kuliah, kau menghadiahiku dengan boneka ipin. Oh dear... saat itu kau bilang, agar aku tak pernah lupa padamu.
 
Cinta... bagaimana aku bisa lupa padamu? Terlalu banyak kenangan yang telah kita ukir. Seringkali aku tertawa sendiri mengingatnya. Apalagi jika itu tentang cinta impian kita dulu, hahahaha... yach, meski hanya cinta dalam hati, tapi setidaknya cinta itu benar-benar menghadirkan aura positif untuk kita di awal kehidupan kampus. Mengingatnya, banyak hal-hal konyol yang telah kita buat ternyata. Oh my god... entah apa yang terpikir dalam benak mas-mas itu jika tahu hal ini. tapi, yang jelas.. seandainya tuhan benar-benar mengabulkan impian cinta itu, betapa bahagianya kita...^^ #ngarep.
Aku dan kamu memang terlahir dengan banyak kesamaan, latar belakang keluarga yang hampir sama, bentuk  fisik, hingga selera yang hampir 100% sama. Tapi, bukan berarti tak ada perbedaan diantara kita. Mulai dari kebiasaan, minat, karakter, hingga cerita cinta, sungguh sangat jauh berbeda. Nyatanya? Tak ada masalah besar dengan itu bukan? Itulah persahabatan...:) cinta, aku kangen dengan suaramu yang manja... apalagi kalo inget pas b’ma niruin suara manjamu...:P

Jika dalam film, Upin hanya memiliki saudara kembar Ipin, tapi tidak untuk cerita ini. Disini, Upin memiliki saudara lain yang diberi nama Upil. Sama, nama itu pun hasil ciptaan teman-teman seangkatan. Dari mana asalnya? Kita juga tidak tahu. Kemungkinan terbesar menyatakan bahwa karena seringnya sahabatku yang bernama Afril ini jalan sama upin dan ipin. Dan karena nama panggilannya berakhiran huful “L”, jadilah dia dipanggil si Upil.  Meski sebenarnya orangnya sendiri risih dipanggil dengan sebutan yang berdenotasi negatif ini. tapi tetap saja, nama itupun akhirnya populer.
Aku lupa sejak kapan tepatnya aku dan kamu menjadi sedemikian akrab. Di awal masa kuliah, bahkan aku tak mengenalmu sama sekali selain namamu yang cukup menonjol di kelas sebelah. Mungkinkah sejak LKMM-TD di batu? Atau saat PLK 1 di bangkalan dimana saat itu kita disatukan dalam satu kelompok? Entahlah, jalinan itu memang mengalir apa adanya. Seperti apa adanya dirimu.
Aku suka dirimu yang apa adanya. Termasuk Cintamu yang apa adanya. Aih, lagi-lagi masalah cinta. Tapi, beginilah adanya. Cerita cintamu memang membuat orang-orang kagum sekaligus iri. Iya, iri. Karena diantara kita banyak yang masih jomblo, dan mendamba mendapat cinta sepertimu. Semoga saja, cintamu yang tulus juga direstui tuhan ya cinta..:)
 
Beberapa bulan yang lalu, ada salah satu dosen yang bilang, “Orin dan Afril kok selalu berdua, apa-apa berdua, sekali-kali pisah gitu lho..” ujarnya. Aku pun berpikir, bener juga pernyataan itu. Selain rutinitas kampus, dari mulai berangkat-kuliah-pulang kita bersama, banyak kegiatan yang juga kita jalani bersama. Mulai dari kegiatan kepenulisan karya tulis, menjadi redaksi paradigma, hingga proyek riset terakhir pun kita dalam satu kelompok. Tak ayal, itu seringkali membuat kita begadang lembur bareng, tertidur di lantai dengan laptop yang masih menyala, hingga gugup dan gopoh bareng. Ah, masa-masa itu. Sesekali aku ingin mengulanginya lagi, hehehe. Apalagi kalo melihat gopohmu cinta...:P

Kau memang selalu tampil beginilah adanya dirimu. Bahkan saking apa adanya dirimu, kau tidak bisa berbohong tentang suasana hatimu. Disaat seperti itulah, kau memilih diam. Kebisuan menjebak kita dalam permainan dugaan, lingkaran tebak menebak. Tapi, seperti cuaca, itu tak pernah bertahan lama. Setelah cukup waktumu untuk membisu, dan seringkali kita merasa teracuhkan oleh sikap itu, kau dengan sendirinya menghampiri kita dengan maaf yang terucap dan cerita yang tumpah. Lalu, Cuaca yang semula mendung pun telah berganti. Dan kita semua akan tersenyum menyambutnya.
Upin, Ipin, dan Upil juga memiliki seorang kakak seperti halnya Upin dan Ipin dalam cerita film. Tapi, tidak seperti kak Ros yang galak, kakak ini sangat dewasa dan ngayomi. Itulah B’ma..... (manggilnya dengan nada panggilan yang manja..:P) Sebenarnya, dari segi usia dia masih sangat muda, tapi pembawaannya yang dewasa dan keibuan, menjadikan kita nyaman memanggilnya B’ma. B’ma... getir cerita hidupmu, sungguh telah membuktikan bahwa kau gadis yang kuat. Percayalah sayang... akan ada kisah ada yang disiapkan untukmu..:)

Aku belajar banyak darimu. Belajar bagaimana bersikap dewasa, tegas dalam menanggapi suatu hal serta mengambil keputusan. Sementara aku, hanya bisa merepotkanmu ya B’ma? Gak di pare, di tempat magang, di kampus, di kosan, hmmm.... maafkan aku yang selalu merepotkanmu ya B’ma..:(
 
Hal-hal konyol dan lucu pun tak lepas dari ceritaku bersamamu. Kejadian di Graha Pena misalnya. Sumpah, kita terlihat katrok banget waktu itu, hahahha. Selain itu, juga ada tragedi ala sinetron dengan salah satu peserta prajab yang kau suka (kau tentu masih inget kan kejadian ini?hihihi..) masa-masa magang yang sangat seru. Kita pun gak pernah menyangka, kita yang waktu itu saja belum lulus S1 diberi tugas untuk menjadi pengawas Diklat Prajab Dosen-dosen muda. Whahahaha... Curi pandang sana-sini dah akhirnya..:P aku juga masih ingat waktu itu kau bilang, “nanti, kita juga bisa ada disana yin..” dan nyatanya, satu tahun setelah peristiwa itu, saat ini kita sedang harap-harap cemas menunggu pengumuman Cpns. Yah.. semoga saja, kita sama-sama lolos, amin...:)

Tidak hanya memiliki seorang kakak perempuan, kita juga memiliki seorang abang yang paling baik sedunia. Yang rela direpotin oleh adik-adiknya (jadi inget pas buat film perubahan sosial, hahahha... apalagi pas akting di PTT4, Aktingnya B’ma ma abang Omen keren banget dah...:)). Kuakui bang, kau memang abang yang baik. Meskipun sering ngejek aku ma Nita anak kecil/liliput. Tapi, kita selalu puas jika berhasil membalas ejekanmu dengan badanmu yang semakin hari semakin gendut...:P
Kau memang terlihat layaknya abang kita beneran. Kau akan melakukan apa aja untuk membantu kita, melindungi kita. Malah, jika kita membutuhkan bantuan dan tidak menghubungimu, ujung-ujungnya kau pasti bilang, “kenapa gak ngubungin aku”. Itulah kamu bang, baik... sangat baik. Layaknya seorang kakak, kau juga sering menasehati, bahkan mengomeli aku ma nita kalo kita salah... tapi, lebih sering Nita sich yang kenal omel...:P Aku kan anak baik... hahahaha
 
Di balik sikapmu yang seringkali mengejek aku dan Nita yang katamu kecil, -tapi menurut kita, kita berdua itu imut, bukan kecil-, kita tidak memungkiri bahwa kau sangat perhatian. Dan salah satu wujud perhatianmu yang masih segar dalam ingatan adalah ketika tahun lalu kau menunaikan ibadah haji. Kita tahu, bahwa saat itu kau tidak bisa dihubungi lewat hp. Dan, siapa yang menyangka bahwa waktu itu, disaat aku, Nita, Afril, dan B’ma sedang PLK kemiskinan, tengah malam waktu indonesia, dengan nomor luar negeri kau meng-sms aku dan nita, yang isinya kurang lebih “Oyin Nita, baik-baik ya disana, jangan nakal. Nanti aku bawakan kado istimewa buat kalian..”  aih, kau benar-benar menganggap kita anak kecil. Tapi, gpp lah... aku benar-benar merasakan gimana rasanya punya abang...:) makasih ya bang, atas semuanya. Makasih juga kado-kado kembarnya buat aku ma nita...:) ditunggu yah kado kembar keempat tahun depan...:P

Ini hanya sekelumit cerita tentang kita. Masih banyak yang ingin kutorehkan, termasuk juga episode kita dan sahabat-sahabat lainnya. Sahabat-sahabatku lainnya, bukan aku melupakanmu, akan kuceritakan tentang kalian di lain episode...^^
Mungkin, memang ada baiknya rindu selalu memburu agar pena bisa bebas menuliskannya...:)

Rinai dan Pelangi



Sore ini, hujan turun kembali tuk membasahi bumi. Alunan syahdu gemericik hantarkan aroma tanah yang mengepul oleh timpaan rintik sang hujan. namun entah kenapa kali ini hujan datang seolah untuk mengenang engkau.. mengenang apa yang tertinggal seperti apa yang disebut kenangan. Yang berkisah tentang gelak, isak, jemari dan bahu yang selalu saling memberi, dulu…

 Dari balik kerai tipis, mataku tak henti memandang ketukan halus sang gerimis, bersama kenangan yang melukai hati, yang entah darimana ia datang kembali menghampiri. Yang jelas akupun tak pernah mengharapkan hadirnya. Aku hanya berharap akan bertemu indahnya sang pelangi. Berharap bersama pelangi ku kan mampu melukis kisah dalam sebaris indah tawa bahagia, walau tanpamu disini..
Kupandangi sepanjang jalan, namun yang kusaksikan hanyalah kabut tipis putih menyelimuti alunan titik-titik hujan yang saling menyusul menerjang apapun yang menghalangi turunnya. Tapi, titik-tik halus itu kini tak lagi menyentuh tubuhmu, seperti dulu. Tak ada lagi dirimu yang lewat depan rumahku, menjemputku tuk ikut berbaur bersama hujan. Ah… romantisme hujan ala anak-anak… dan ketika hujan telah di penghujung waktu, kau mengajakku ke tepi tanah lapang, menjauh dari teman-teman yang tetap asyik bermain di tengah sisa-sisa rintik hujan.

Kau bilang, sebentar lagi kita kan bertemu dengan sosok yang selalu siap memberikan warna-warni kehidupannya untuk kita. Saat hujan datang dengan awan kelabu, dan kita mampu sabar tuk menanti, dia akan datang dengan goresan cerah yang mampu mengembalikan perasaan seseorang yang sejenak kelam oleh kelabu sang hujan. Ya… dia adalah pelangi. Sebuah lengkung sempurna bernafaskan Cahaya indah yang terbias melalui sisa-sisa titik air hujan di udara. Dan ketika sayup pelangi telah menyapa, Torehan semu berwarna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu telah menggoresi langit dengan indahnya. kita kan berbaring di tanah lapang, merebah lelah, melepas penat, dan kita akan tersenyum, tertawa dan riang kembali selepas melukis kisah bersama pelangi.

 Ah, sungguh romantisme persahabatan masa kecil. Tidak….. tidak benar rasanya jika itu hanya disebut kenangan masa kecil, di usia remajapun pertemanan itu masih erat terjalin. Walau kita tak lagi bersama di satu sekolah menengah pertama, tapi itu tak mengapa…. Kita masih tetap saling bersandar atas segala keluh kesah, masih sering bermain bersama hujan, dan tentu… masih setia menunggu senyum pelangi…

“tapi sayang ya… cuaca mampu membuat kita sejenak terpisah” ucapku seiring menghilangnya sang pelangi
“hmm… mksudmu?” balasmu heran
“Ya…. Antara kita dan pelangi, pelangi hanya mampu menemani kita selepas hujan pergi. Padahal aku ingin setiap saat, setiap musim,setiap aku sedih, aku bahagia, pelangi ada bersamaku”
“hmmmmm… tau nggak kalo ada pelangi lain yang lebih setia dari pelangi itu?”
“hmmm …. Emang ada pelangi apa lagi?”
“persahabatan kita… bukankah sahabat akan selalu ada. Seperti yang kau bilang… Jika kita jatuh, sahabat akan membantu kita untuk bangun. Saat hati kita terluka, sahabat akan hadir obati luka dan menghapus air mata. saat kita hilang arah, sahabat akan membimbing sembari menerangi langkah. saat kita bersedih, sahabat akan tunjukkan kita bahagia, ajarkan kita tersenyum, dan memperlihatkan keceriaan kembali. Sama kan seperti pelangi? Malah lebih setia dari pelangi”
“iya…. Sama seperti pelangi, persahabatan juga memiliki warna-warni kehidupan yang berarti. Yang dengannya kita mampu menghapus luka dalam sebaris tawa bahagia”
“jadi, kau tak perlu takut kehilangan pelangi, karena aku pelangimu, dan kau pelangiku. Kau tak usah khawatir, karena aku akan selalu menemanimu…”
“tapi…. Bisa aja kan suatu saat waktu atau jarak membuat kita saling lupa?
“haha…. Konyol banget pertanyaanmu… gak mungkin lha aku melupakanmu, kau adalah bidadari special di hatiku. Sampai kapanpun, kau akan selalu bersemayam di hatiku…  dan kelak, jika waktu benar-benar memisahkan kita, hujan inilah yang akan bercerita tentang kisah yang pernah ada, jadi.. simpanlah baik-baik aku dan cerita hujan ini di hatimu, dan tersenyumlah saat pelangi ini kembali turun mengunjungimu, karena di saat itu aku juga akan tersenyum karena merindukanmu… ”
“ihhhhhhhhh…….. gombal banget dech kamu!! tapi janji ya… setiap hujan turun, dan pelangi telah menggantikan hujan. Kita nikmati saja alunan syahdu kisah kenangan, yang membawa kelindan bait-bait rindu akan masa lalu, denganku… janji!!!”
“janji”

Ah.. mungkinkah sekarang aku sedang ingin menikmati sebuah kenangan yang bahkan pada sekatpun ingin kubenamkan, jauh….. jauh di dasar hati.
Tak mungkin? Tapi aku ingin…

Bukankah hidup ini juga sebuah perputaran. Jika ada bahagia, juga pasti akan ada duka, begitupun halnya dengan cinta. Cinta memang indah, tapi juga bisa menyayat luka yang sangat pedih. Luka di hati yang tak tampak, terasa ada, terkatakan tiada…
Mata menadah menatap langit, perlahan… tetes demi tetes gerimis berubah kembali menjadi hujan deras. Tak bolehkah aku berharap, agar pelangi datang menemaniku yang tengah sendiri dalam pilu….