Sabtu, 09 Agustus 2014

Aku, kau, Kita Tumbuh bersama Lagu



Hari ini, waktu telah mengantarmu pada dunia anak-anak yang identik dengan wajah ceria penuh derai tawa. Saat kau menapakinya, kau mungkin belum pernah tahu seperti apa duniamu saat ini. Yang kau tahu hanyalah bermain, bermain, dan bermain. Senyum dan tawamu seolah mengisyaratkan bahwa kau sangat menikmati duniamu saat ini.  Ah.. ya, dulu aku pun begitu. Tapi... itu semua telah berbeda. Waktu... mungkinkah semua itu karena waktu? Entahlah, yang jelas semua itu hanyalah apa yang disebut kenangan. Bagiku.

Masa telah berganti rupa adikku.. masaku dan masamu adalah dua masa yang sudah sangat jauh berbeda. Memang, Semuanya tak harus sama. Itulah alasan mengapa Tuhan menciptakan dan mengatur semuanya serba berbeda. Tuhan memenuhi dunia dengan berbagai warna, bukan sekedar hitam, putih atau abu-abu tidak lain agar makhluknya mengenal berbagai macam manusia dengan berbagai sisi kehidupannya. Termasuk aku, yang harus memandang nanar duniamu saat ini. 

Kau tahu? Dunia ini tak lagi ramah dalam menyambutmu. Hal hal sederhana di sekelilingmu sudah menampakkan taringnya tuk menerkammu. Seolah tak rela membiarkanmu tumbuh normal secara mental dan psikologis. Mereka tengah berdiam diri menunggumu dalam keriuhan budaya semu. Ya.. mereka tahu bahwa aku, kau, kita, pasti tumbuh bersama lagu. Entah lagu apapun itu, yang jelas ia juga mampu membentuk gaya hidup dan pola pikir kita. Semua hanya karena lagu. 

Sederhana memang, tapi mereka terlalu pintar untuk menganggap otak anak-anak sepertimu layaknya Super spon. Yang bisa menyerap apa saja termasuk lirik lagu sebagai sesuatu yang paling mudah untuk diserap oleh otak super spon tersebut. Bagaimana tidak, beragamnya acara musik tiap hari menyuguhimu tontonan, pendengaranmu di desak oleh bising lagu-lagu yang sarat dengan kata cinta, sakit hati, dan perselingkuhan. Dan alhasil kau hafal. Kau mulai asyik hidup dengan senandung lagu-lagu orang dewasa, tanpa mengerti apa makna dari lagu tersebut.

Bukan.. bukan tidak adanya anak/penyanyi cilik yang menjadi penyebabnya. Lebih tepatnya, tidak adanya lagu anak-anak yang dinyanyikan oleh anak-anak. bukankah begitu? Kau lihat bukan, tidak sedikit anak-anak seusiamu yang nongol dan bernyanyi di televisi. Tapi, yaa... begitulah. adakah hal lain yang dirasa jika enggan tuk mengatakan, miris. 

Mungkin mereka lebih tertarik untuk menuruti cita rasa dan kemauan publik daripada harus memikirkan perkembanganmu yang jelas-jelas tidak akan memberi keuntungan ekonomis. Meminjam istilah Theodor Adorno sebagai “Budak Irama” untuk mereka penikmat musik yang telah dikomoditaskan oleh industri sebagai korban banalitas budaya massa. Dimana musik adalah salah satu produknya. Sesuatu yang ironis memang, tatkala produk kebudayaan yang ada direncanakan dan dibuat tidak lagi menurut dorongan kreatif dari lubuk hati seorang seniman, melainkan didorong menurut cita-rasa dan kemauan publik, untuk mampu memenuhi permintaan massa akan kepuasan kultural.

Lalu, terlalu naifkah jika ada yang bilang kau dewasa terlalu dini? Rasanya tidak. Kau memang telah terserat ke dunia yang belum saatnya untuk kau kunjungi. Dunia orang dewasa. Tanpa meninggalkan tapak-tapak istimewa di masa kanak-kanakmu? Ah, jika kau sadar, kau pasti akan sangat iri dengan masa kecilku. masa kecilku memang terlalu seru jika dibandingkan dengan masa kecilmu saat ini. lagu-lagu itu tidak hanya mengajakku tuk bernyanyi, tapi juga belajar. Belajar tentang apa yang aku lihat, aku rasakan, dan aku dengar. Andai saja kau tahu lagu Trio Kwek-kwek yang judulnya “Katanya”, dimana liriknya sangat berisi pengetahun “Australia negeri wol, aborigin sukunya, bumerang senjatanya, kangguru binatangnya…”
Berbicara tentang lirik lagu, bukankah kata/kalimat yang sering diucapkan juga memiliki kekuatan untuk men-sugesti. Jika lisan telah terbiasa mengucapkan kata kata yang baik, niscaya orang itupun juga akan baik. Begitu juga sebaliknya. Bisa kita bayangkan, apa yang terjadi dengan Indonesia 20 tahun mendatang, jika kini para seniman dan pencipta lagu mulai kembali menghias wajah lirik lagu anak-anak Indonesia dengan pengetahuan, dan nilai-nilai karakter.  

Dalam riuhnya perayaan hari musik nasional yang baru saja kita peringati di tanggal 9 maret ini, sama seperti diriku, aku ingin kau percaya bahwa bangsa ini masih punya hati untuk memperbaiki semuanya. Semoga...