Senin, 15 Desember 2014

“Pendidikan tanpa kelas, mungkinkah?

Pendidikan merupakan sektor yang sangat penting bagi perkembangan serta peradaban sebuah negara. Di indonesia, pentingnya pendidikan telah dituangkan dalam janji kemerdekaan yang termaktub dalam UUD 1945 yaitu Mencerdaskan kehidupan bangsa. “Mencerdaskan kehidupan bangsa” diletakkan sebagai salah satu janji kemerdekaan. Ia disejajarkan dengan ketiga janji lainnya, yaitu: “Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia”, “Memajukan kesejahteraan umum”, serta “Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”. Penempatan pendidikan sebagai salah satu janji kemerdekaan menekankan bahwa janji lain yang meliputi keamanan, ekonomi dan peran internasional, tidak mungkin dapat terwujud tanpa memberikan perhatian yang baik pada pendidikan. Pembangunan yang dilakukan harus berpusat pada manusia, dan pendidikan adalah kunci untuk menciptakan manusia yang berkualitas.
            Jika kita memperhatikan sistem pendidikan yang berlangsung di Indonesia sekarang ini, masih banyak aspek yang perlu dievaluasi untuk memperbaiki kondisi pendidikan di negeri ini.  Ada tiga masalah pokok yang harus segera diselesaikan demi terciptanya sistem pendidikan yang mampu mewujudkan cita-cita sekaligus janji kemerdekaan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Yaitu berkaitan dengan keadilan pendidikan, mutu pendidikan, dan pengelolaan pendidikan.
            Hal-hal yang berkaitan dengan keadilan pendidikan di indonesia sudah bukan lagi suatu hal yang baru, dan bahkan sudah sangat jelas terjadi. Perbedaan kualitas pendidikan antara Jawa dan pulau-pulau lainnya di Indonesia serta kesenjangan pendidikan antara pendidikan di kota besar dengan yang ada di pedesaan. Padahal, pendidikan yang baik dan berkualitas menjadi hak semua warga Indonesia, tidak terkecuali. Ketika keterbatasan atas pemenuhan hak-hak telah terjadi, maka konsekuensi logis yang akan tercipta adalah kesenjangan. Dan semakin kesenjangan itu tercipta atau semakin melebar, hal tersebut semakin akan membatasi atau menghalangi upaya pengentasan kemiskinan yang juga merupakan masalah akut yang tengah dihadapi bangsa ini.
            Pendidikan seringkali dianggap sebagai salah satu cara untuk memutus rantai kemiskinan. Tidak salah memang, karena pendidikan yang baik dan tepat dapat memberi pengetahuan dan keterampilan sehingga individu terdidik dapat meningkatkan taraf hidupnya melalui peningkatan produktivitas serta pemerolehan akses dan sumber daya. Namun nyatanya, akses untuk sekedar mendapatkan pendidikan yang baik saja sudah terbatas bagi beberapa golongan. Lalu, bagaimana mereka bisa terlepas dari belenggu kebodohan dan kemiskinan? Tidakkah ini semacam ironi atas peran pendidikan dalam upaya pengentasan kemiskinan? Pendidikan yang diharapkan mampu mengatasi masalah, justru memperbesar masalah dan kesenjangan yang selama ini telah ada.
            Tidak bisa dipungkiri jika dari hari ke hari pendidikan menjadi semakin mahal. Meskipun juga tidak bisa ditampik bahwa janji-janji pendidikan gratis seringkali bergema. Tapi, bukankah keduanya memang berbeda? Ketika biaya pendidikan berkualitas harus ditanggung oleh peserta didik, atau orang tua peserta didik, pendidikan justru akan menjadi alat seleksi untuk naik kelas. Golongan yang secara keadaan sosial ekonominya mampu, tentu akan berpendidikan yang baik, otomatis akses akan sumber daya juga menjadi lebih mudah dan mereka akan lebih mudah untuk sejahtera. Sementara golongan dengan tingkat sosial ekonomi rendah, keterbatasan akses akan pendidikan yang berkualitas tentu akan menjadi masalah dari sekian masalah mereka. Padahal, pendidikan bermutu adalah salah satu hak dasar anak yang harus dipenuhi dan negara wajib menjamin pemenuhan hak ini bagi semua anak tanpa terkecuali.
            Barangkali, pendidikan di Indonesia saat ini memang telah berbasis kelas. Disparitas mutu antarsekolah seolah tidak bisa dihindari lagi. Ada segelintir sekolah yang dimungkinkan untuk mencapai keunggulan dengan sebagian anak yang akan menikmati pendidikan kelas dunia. Sementara yang lain, harus berpuas diri dengan pendidikan seadanya atau bahkan mungkin tidak sama sekali. Nyatanya, untuk mendapatkan pendidikan mereka telah terbatasi oleh kelas sosial, dalam proses pendidikan pun mereka akan terkelas-kelas. Kastanisasi sekolah SBI, RSBI, SSN, dan Sekolah reguler memang telah dihapus. Embel-embel sekolah internasional, sekolah unggulan, juga telah disarankan untuk tidak digunakan. Tapi, selama tidak diimbangi dengan adanya perbaikan dan pemerataan kualitas, tidakkah hal itu hanya kebohongan belaka?
            Proses pembelajaran pun juga telah terbagi dalam kelas-kelas. Adanya beragam tes, standarisasi dan sistem perangkingan menjadi salah satu caranya. Serangkaian tes atau aneka ujian telah mengaburkan hakikat dan tujuan pendidikan yang seharusnya mengedepankan proses. Sekolah cenderung mengajarkan siswa untuk semata-mata bisa lulus dari ujian yang harus mereka jalani. Terlepas dari hakikat belajar yang sesungguhnya. Penetapan standarisasi pendidikan pun semakin tidak jelas dasarnya. Jika harus ada standarisasi, berdasarkan standarisasi atau patokan dari yang mana? Bukankah semuanya memang berbeda dan tidak bisa begitu saja disamaratakan? Dan sistem perangkingan menjadi titik akhir sekaligus titik tembak pembagian kelas dalam proses pembelajaran. Siswa akan terkotak-kotak menjadi rangking atas-rangking bawah, lulus-tidak lulus, dan yang paling sederhana bisa-tidak bisa. Ketika kelas-kelas telah tercipta, akses akan sumber daya yang dalam hal ini adalah pengetahuan dan kemampuan (Skill) juga akan berbeda. Anak yang berada di golongan atas akan jauh lebih mudah untuk mendapatkannya karena seringkali guru di indonesia lebih memusatkan perhatiannya pada mereka yang bisa, dan cenderung mengabaikan atau setengah hati dalam mendampingi mereka yang terkategori “tidak bisa”.
            Jika ditelisik lebih jauh lagi, latar belakang keluarga terutama status sosial ekonomi juga memiliki peran besar dalam membentuk kemampuan anak. Anak dari golongan mampu, dengan segala fasilitas yang tersedia, serta kemampuan untuk memperdalam kemampuan melalui bimbingan belajar, tentu bukan hal yang sulit bagi mereka untuk bisa lulus ujian dan berada di rangking atas. Berbeda halnya dengan anak yang berlatar belakang menengah-bawah, selain keterbatasan fasilitas, seringkali mereka juga dihadapkan pada kondisi dimana psikologis mereka telah terbagi antara peran mereka sebagai peserta didik, dan peran mereka dalam keluarga. Proses belajar mereka seringkali terpengaruh oleh hal-hal di luar batas kapasitas mereka sebagai anak. Sehingga tidak heran jika seringkali kemampuan mereka kalah jauh. Dalam kasus ini, tidakkah pendidikan menjadi proses pelanggengan kesenjangan?
            Pendidikan akan mampu memutus mata rantai kemiskinan tatkala keadilan dan kesetaraan pendidikan telah tercipta di bumi Indonesia. Barangkali, reformasi pendidikan memang sudah saatnya dilakukan. Pendidikan untuk semua sudah seharusnya digalakkan dan diterapkan. Adanya diskriminasi dalam dunia pendidikan memang lebih baik diminimalisir, agar semua siswa bisa memperoleh perlakuan yang sama. Kemampuan antar siswa memang bisa jadi beragam, tapi ketika guru bisa mendampingi, membimbing, dan mengarahkannya sesuai kemampuan masing-masing siswa, tentu proses dan hasil pendidikan jauh akan lebih baik. Sedangkan untuk evaluasi, alangkah lebih baik jika penilaian lebih mengedepankan progres atau kemajuan belajar dari masing-masing siswa. Jadi, siswa tidak lagi diuji kemampuan dengan siswa lain, atau hanya untuk sekedar memenuhi standar nilai yang telah ditetapkan. Penilaian untuk mengukur kemampuan memang diperlukan, tapi jika dilakukan terlalu sering juga akan menimbulkan tekanan, dan mengaburkan proses belajar minus pemahaman, penerapan, dan pengembangan kreativitas siswa. Ketika generasi muda telah tumbuh tanpa tekanan, maka tidak akan lagi kita temui anak Indonesia yang besar dan tumbuh tanpa pernah menggunakan otaknya untuk kreativitas. Dan ketika pendidikan untuk semua telah mampu dilaksanakan, kesenjangan (kastanisasi) dalam pendidikan telah dihapuskan, maka secara perlahan kemiskinan dan kesenjangan ekonomi juga akan teratasi. 

Senin, 08 Desember 2014

Cinta di ujung senja

“Karena itulah, aku ingin kau meneruskan pencarian impianmu. Kalau aku memang bagian dari mimpimu, suatu hari nanti kau pasti kembali.” Gadis itu menyeka titik bening yang membahasi pipinya. Ia menundukkan kepala, memejamkan mata, mencoba mencari kekuatan. Barangkali, hatinya  juga melakukan hal yang serupa. Tapi hati sedikit beruntung, karena tidak semua orang bisa mengetahui bagaimana kerasnya ia berjuang melawan kemunafikan yang terjadi padanya. Ia kembali menengadah, mencoba kuat untuk menatap sepasang mata elang yang ada di hadapannya.

“Pergilah... cinta tak pernah menghalangi seseorang untuk mengejar mimpinya. Jika memang ini adalah cinta sejati, cinta ini pulalah yang akan menuntunmu. Pergilah...!” suaranya remuk redam oleh isak tangis yang mulai tak kuasa ia tahan. Sekali lagi ia mengusap pipinya yang basah. Ah, hati. Kadangkala, kau dan tubuh memang tak dapat dipisahkan, yang berarti tubuh menjadi sahih sebagai pencerminanmu. Seperti yang aku lihat pada gadis ini. Seberapapun ia berusaha, ia telah gagal untuk melawan bahwa hati memang tak bisa berbohong.

Gadis itu diam. Aku diam. Semuanya hening. Hanya suara cicit cericit burung-burung yang terbang hinggap diantara pepohonan di sekitar kami yang menjadi nada cinta dalam kebisuan. Ya, terkadang aku memang mencintainya dalam diam. Diamku adalah salah satu caraku mencintaimu, wahai gadisku.

Tapi percayalah, diam bukan berarti pasrah, diam bukan berarti tidak bertindak. Ibarat air yang tenang, seolah aku memang tidak melakukan apapun, hanya diam, sabar, tapi sebenarnya sedang terus berusaha habis-habisan. Berusaha untuk menjalani hari sesuai hukum alamnya, untuk bertemu rintangan, bertemu celah-celah kecil, bahkan bertemu batu-batu. Kau perlu tahu, bagi orang yang mencintai dalam diam sepertiku, apa yang ditunjukkannya hanyalah bagai gunung es di dalam samudera, hanya memperlihatkan pucuk kecil dari betapa besar perasaan itu di dalamnya. Besar sekali yang tersembunyi.

“Sama halnya seperti diriku, Kumohon padamu.. bersabarlah. Bersabarlah atas waktu terbaikNya. Bersabarlah atas skenario terbaikNya. Bahkan ketika orang-orang tidak tahu betapa besar dan menakjubkannya rasa sabar tersebut. Jika memang kita ditakdirkan bersama, biarlah Tuhan yang mengatur semua jalannya. Aku tak ingin mengikatmu dalam penantian, jika ada yang datang padamu dan ternyata dia lebih baik dari aku. Terimalah... aku hanya ingin kau mendapatkan yang terbaik. Meski disini aku juga sedang berjuang untuk menjadi lebih baik bagimu.” Ya, meski berat, akhirnya aku mengatakannya.

Kulihat gadis di sebelahku, dia masih menunduk. Dan kuyakin dalam hatinya menyimpan segumpal rasa sesak. Seperti halnya hatiku. Ah, rasa macam apa ini. Terkatakan tidak, tapi terasa ada. Meski aku juga yakin, dia gadis yang kuat. Mencoba untuk kuat, barangkali. Sebagaimana aku juga yakin akan cintanya yang begitu tulus. Termasuk tulus untuk melepas kepergianku. Meski aku tahu benar, perasaan itu akan benar-benar menyakitkan baginya.

Tentang cinta, betapa ia mengalir diam-diam tanpa harus mencari di mana awal mulanya. Kau hanya tahu, tiba-tiba merasa aneh karena ada seseorang yang mulai mengganggu otak dan perasaanmu. Seperti yang aku dan gadis itu alami. Kita, sepasang cinta yang dipertemukan tanpa proses pendekatan. Kau dan aku, sepasang manusia yang lekat tanpa pernah harus berpelukan.

Entah aku harus berterima kasih atau tidak pada keadaan, pada mereka yang berusaha mempertemukan sekaligus menyatukan aku denganmu. Merekalah yang mengantarkanku pada semua ambiguitas ini. Ah, yang jelas aku harus minta maaf padamu. Ya, padamu.

Terdengar sedikit bising kesibukan yang diciptakan oleh segerombolan anak remaja yang baru saja memasuki area taman. Mereka terlihat sangat riang dalam canda dan tawa mereka. Sungguh, bertolak belakang dengan kita bukan? yang berselimut cinta dalam kesunyian.

Aku dengan resah memalingkan wajah ke arah pepohonan di depanku dan bergumam  “Maafkan aku.”
“maaf untuk apa?”
“karena aku, kau harus kecewa.”

Gadis itu mendesah dan tersenyum tipis, “tidak usah meminta maaf, kau tidak bersalah. Mungkin semuanya memang belum waktunya. Aku tahu, kita masih sama-sama membutuhkan waktu untuk selesai dengan diri sendiri.”

Lagi, Selama beberapa saat suasana tercipta tanpa saling bicara. Suara yang terdengar hanyalah suara gemeresik dedaunan yang ditiup angin, suara lalu lintas di kejauhan dan suara segerombolan anak remaja yang telah berada di ujung taman sana.  

Melihatnya tersenyum, aku turut tersenyum samar. “kau benar, aku belum selesai dengan diriku sendiri. Dan karena itulah, aku masih terlalu takut untuk membawamu turut serta bersamaku. Karena aku tahu, perjalanan itu pasti tidak mudah.”

“mmm.. aku tahu.” Gumamnya, lalu menarik nafas dalam-dalam. “percayalah, aku disini akan baik-baik saja. Jika nanti dalam perjalanan pencarian mimpimu kau akhirnya bertemu dengan seorang gadis yang bisa memahamimu lebih dari aku, semoga cinta kalian dimudahkan oleh Tuhan. Tentu, kau tak perlu memikirkan aku yang disini senantiasa mendoakanmu. Doakan saja aku  ikhlas dengan bahagiamu mas.. hanya itu pintaku. Ya, hanya itu.”

Aku menatapnya dengan heran. mencoba membuka mulutku untuk mengatakan sesuatu, tapi tak ada satu patah katapun yang keluar dari mulutku. Aku berpikir sejenak.
“aku bukannya ingin meninggalkanmu untuk selamanya, Aira.”

Gadis yang dipanggil Aira itu menatap laki-laki di depannya dengan tatapan setengah terkejut.
ah, perasaan macam apa ini. Aku tidak ingin meninggalkannya, tapi aku juga terlalu takut untuk membawanya untuk saat ini. Ya tuhan. Semuanya serba paradoks. Ambigu. Bahkan, beberapa detik yang lalu aku sendiri yang mengatakan padanya bahwa aku tidak mengikatnya dalam penantian ini. Dan detik ini, ketika dia rela melepaskanku. Aku yang tidak rela untuk melepaskan dan dilepaskan. Ya tuhan.

Aku membuka mulut hendak menjelaskan, namun lagi-lagi aku mengurungkan niatku. Tetapi saat ini aku sangat ingin mengatakan apa yang aku rasakan, apa yang ada dalam hatiku. Tidak lagi berbohong, tidak lagi bersikap sok tegar dan seolah semuanya akan baik-baik saja. Tidak.
Aku menoleh ke arahnya. “bisakah aku memintamu untuk menungguku?”

Dia tertegun. Sedangkan aku menatapnya dengan penuh harap. Ia diam. Tak bersuara. Mungkinkah ia sedang berpikir ia harus menjawab apa? Sayangnya aku juga tidak bisa menunggu untuk tidak mengatakannya. “aku pergi untuk sementara. Untuk selesai dengan diriku sendiri, dengan semua impian-impian pribadiku.  Hingga saat itu tiba, bisakah kau menungguku?”

Aku menghela napas dalam-dalam, mencoba meredakan kepanikan yang tiba-tiba menyerangku.
“Kejarlah impianmu,” ucap Aira datar, lalu ia mengulum senyumnya yang tipis. “Setelah itu, kalau memang masih ada kesempatan, kita bisa bertemu lagi.”
“berarti kau mau menungguku?” tanyaku tak sabar.
“entahlah...” sejenak ia terdiam.

Sementara aku masih tidak mengerti apa maksudnya.  Lagi-lagi senyum manisnya terkulum. Dia selalu tenang ketika tersenyum.  “jika saat ini kita memang belum bisa bersatu, mungkin perpisahan ini memang ada baiknya. Aku merasa kita berdua butuh waktu untuk berpikir. Supaya kita benar-benar yakin tentang apa yang kita inginkan.”
Aku terdiam. Kalau aku boleh jujur, aku tidak ingin meninggalkannya. Aku juga tidak ingin ia melepaskanku. Sungguh, keputusan ini sangat sulit.

Aku lihat dia kembali menunduk. Aku bisa merasakan bahwa ia juga merasa sedih walaupun dia terus berkata pada diri sendiri bahwa ia telah melakukan hal yang benar. Bagaimanapun juga, ia melakukan semua ini demi aku dan dirinya sendiri.

Seperti yang aku katakan tadi, aku butuh waktu untuk selesai dengan diriku sendiri. Dan mungkin benar, dia juga butuh waktu. Kita sama-sama membutuhkan waktu untuk memikirkan ulang semuanya. Ya, barangkali memang benar.

Sebutir air mata jatuh di pipinya dan Aira menghapusnya dengan cepat. Kenapa ia menangis? Mungkinkah tiba-tiba hatinya terasa sakit? Dia menghela napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan pelan, mencoba tersenyum. Senyum yang paling aku suka darinya.

“Tidakkah kita seperti dua orang yang sama-sama keras kepala berjuang demi akhir yang sebenarnya belum bisa diperkirakan?” tanyanya seolah dia menertawakan kehidupan yang sedang terjadi.

Aku mencoba menguatkan diriku. Hingga akhirnya...
“Baiklah, mungkin memang lebih baik kita berpisah untuk sementara waktu.”
Aira tidak berkata apa-apa.

“Sebelum waktu itu tiba. Mungkin kita adalah dua manusia yang masih harus berjuang di arena pertarungan serupa, hanya saja dari dua tempat yang berbeda. Yang pasti, hanya Tuhanlah yang memiliki kuasa atas jalannya.”

Masih tidak terdengar suara darinya. Suasana kembali hening sejenak, lalu terdengar Aira bergumam, “Baiklah. ”

Di langit, seraut senja mulai terisak. Enggan berpisah, tapi harus berpisah. Yang barangkali memang hanya untuk sementara.


Surabaya, Desember 2014

Kau adalah Bintang

Surat untuk adikku tercinta yang telah menginjak usia 16 tahun.

Tak terasa, waktu memang cepat berlalu. Rasanya, baru kemarin kehadiranmu menggenapkan kebahagiaan ayah dan ibu beserta dua orang lain yang telah hadir sebelum engkau. Ya, kedua kakakmu. Kau hadir ketika aku tengah duduk di bangku kelas dua sekolah dasar, dan Af Isnain berada satu tahun di bawahku, kelas 1SD. Berbeda dengan sebelumnya, saat kehadiranmu aku telah sedikit mengerti arti keberadaan seorang adik. Meski waktu itu, dalam harapanku aku lebih menginginkan kehadiran adik perempuan dibandingkan adik laki-laki lagi. Sangat wajar bagi anak perempuan seusiaku untuk menginginkan hadirnya saudara sekaligus teman perempuan juga bukan? walau pada akhirnya, aku memang ditakdirkan untuk menjadi putri satu-satunya dalam keluarga ini. Dan kuakui saat ini, aku bahagia karenanya.

Adikku, saat ini usiamu telah genap 16 tahun. Hari ini, juga menjadi hari ulang tahun pertamamu jauh dari rumah bukan? bagaimana rasanya? Karena itulah aku menuliskan surat ini. Jika menurut kebanyakan orang, ulang tahun ke-17 menjadi spesial karena menjadi langkah awal tapak kedewasaan. Maka kau telah memulai tapak kedewasaanmu di usia 16 tahun ini. Memang tak ada perayaan, kado spesial pun mungkin tak ada. Tapi percayalah, doa itu akan senantiasa ada untukmu. Untuk kedewasaan berpikirmu, kematangan jiwamu, dan lapangnya masa depanmu.

Kabar yang aku dengar dari ayah dan ibu, ulang tahunmu kali ini bertepatan dengan hari pertamamu UAS. Dan sebagai syarat utama untuk mengikutinya kau harus terlebih dahulu hafal beberapa surah penting dalam Al-quran. Sudahkah kau hafal? Lalu, sudahkah kau belajar menyiapkan materi ujianmu? Ah, sekarang kau harus benar-benar melakukannya sendiri bukan? Ya, memang sudah masanya. Di rumah ada ayah yang akan selalu menemanimu belajar dan mengetes hafalan surah mu. Terkadang, juga ada aku yang akan menemanimu belajar matematika dan fisika. Tapi, itu dulu. Sekarang, kau harus mulai belajar sendiri. Bersama teman-teman seperjuanganmu. Masih seperti dulu, jika kau belajar sungguh-sungguh, hasilnya juga tidak mengecewakan bukan? kerja keras memang tidak pernah mengkhianati adikku.  Kau tahu, kau pasti bisa jika kau mau.

Selepas menyambangimu, ibu selalu bercerita tentang keadaanmu. Tentang kemajuan-kemajuanmu, juga tentang hal-hal lucu yang menunjukkan bahwa kau memang anak yang baru pertama kalinya merantau. Tak perlu malu atau riskan. Aku, mz fajar, bahkan juga ayah sekalipun pasti pernah mengalami hal yang sama, atau bahkan lebih parah darimu. Itulah yang namanya proses kehidupan. Selalu ada kata “pengalaman pertama” dalam setiap proses bukan? dan dari sanalah kita senantiasa harus belajar.

Pernah suatu hari ada seorang rekan ayah di kegiatan desa bertanya padaku, apa ayah dan ibu tidak kepikiran ketika anak-anaknya berada nun jauh disana? Aku lalu menceritakannya pada ayah, ayah tertawa. Lalu ia melanjutkan, “kalau mengedepankan rasa khawatir, bagaimana bisa maju?” kau tentu bisa mencerna makna di balik kata-kata itu bukan? bukannya tidak khawatir. Bukan pula tidak ingin menyaksikan perkembangan kita secara langsung di sisinya. Tapi, akan ada suatu masa dimana kita harus belajar mandiri, belajar arti kedewasaan, sekaligus memperluas ilmu dan pengalaman.

Banyak pelajaran yang akan kau dapatkan di tanah perantauan adikku. Pergaulanmu tidak akan lagi hanya sebatas rumah-sekolah dan kota kelahiran ini saja. Sekarang, teman-temanmu berasal dari berbagai kota bukan? Dengan segala perbedaan di dalamnya, tentu akan lebih menuntutmu untuk lebih bertoleransi, memahami, dan menghargai. Merekalah teman seperjuanganmu. Keluarga barumu. Aku tahu, tidak semua dari mereka akan cocok denganmu. Tapi, tetap hargailah mereka. Bersama merekalah, hidupmu akan mejadi lebih berwarna. Bukankah hidup tidak hanya sekedar hitam dan putih?

Adikku, barangkali pernah terbesit dalam benakmu untuk lebih baik menjadi seperti teman-teman SMP mu. Yang tetap berada di rumah dengan segala kenikmatannya, tetap bisa bermain-main dengan teman yang sudah saling cocok, dan yang paling penting dan utama bagi anak se-usiamu adalah  tidak lepas dari gadget. Aku tahu pasti bagaimana rasanya, pasti berat ya? Tapi, ketika kau sudah bisa melewatinya, bukankah kau sudah selangkah lebih dewasa?

Di tempatmu yang baru, kau juga akan ditempa untuk lebih disiplin terhadap diri sendiri. Tidak akan ada lagi suara ibu yang mengomel untuk sekedar mengingatkanmu. Tidak akan ada juga suaraku yang seringkali memarahimu karena kau belum bisa mengatur sendiri barang-barangmu. Kau boleh sedikit bersenang hati, karena hidupmu akan sedikit bebas. Tapi bebas disini tentu bukan bebas untuk melakukan hal-hal di luar batas, tetapi kebebasan yang bertanggung jawab terhadap batas-batas yang telah ditetapkan Tuhan atas dirimu.

Kau juga bebas untuk menentukan arah masa depanmu adikku. Ibaratnya, ayah dan ibu saat ini hanya memilihkan pondasi untukmu. Selanjutnya, minat dan bakatmu mengarah kemana, ikutilah. Ikuti kata hatimu. Kau tidak harus mengikutiku, juga tak harus memilih jalan seperti yang dipilih mas fajar. Kau memiliki jalanmu sendiri. Sampai disini, mungkin kau akan bertanya apa passion mu? Dan yang tahu jawabannya hanya dirimu sendiri adikku. Maka dari itu, ikutilah kata hatimu, ikuti semua inginmu. Jika kau tertarik dengan hal-hal yang berbau teknik, dalamilah. Jika kau tertarik untuk belajar bahasa jepang, pelajarilah. Sudahkan kau melakukan apa yang ingin kau lakukan?

Satu pesanku untukmu. Ketika kau telah memilih hal-hal yang kau sukai dan ingin kau lakukan, tekunilah dengan sebaik-baiknya. Tak perlu ragu atau minder. Yakinlah dengan kemampuanmu. Tapi, jika kau memilihnya karena hanya sekedar ikutan-ikutan. Lupakan saja adikku. Hidup ini terlalu singkat untuk menjadi orang lain. Kau hanya memiliki satu kehidupan. Masa SMA juga hanya akan sekali kau alami. Sayang rasanya jika tak kau jalani dengan sungguh-sungguh. Ada beberapa pilihan kelas disana, juga ada banyak ekskul tersedia. Pilih dan jalanilah sesuai minatmu. Kau tentu tak ingin menyesal di kemudian hari kan? Maka, jalanilah harimu dengan sebaik-baiknya. Kau tak perlu takut untuk mencoba hal-hal baru. Kau juga tak perlu takut untuk menjadi berbeda. Jalanilah hari-hari ini dengan versi terbaik dari dirimu sendiri.

Satu hal lagi, dalam masa-masa belajar ini, kau juga tak perlu takut untuk salah. Kadang, hidup memang mengajak kita becanda, tetapi yang terbaik adalah saat kita mampu menertawakan kesalahan sendiri dan berani berdiri lagi setelahnya. Mulai saat ini, aku harap kau bisa percaya pada dirimu sendiri. Pada kemampuanmu. Pada hal-hal istimewa yang ada pada dirimu. Kau tahu? mereka yang hari ini tampil dengan percaya diri pun pernah mengalami berbagai pengalaman pahit dan berjuang melawan keraguan dalam dirinya sendiri. Pada akhirnya semua akan belajar bahwa menerima diri sendiri adalah hal yang paling melegakan di dunia ini. Semua orang adalah bintang, meski tidak di langit yang sama.

Ingatlah, kau juga adalah bintang. Dan kamu hanya perlu mempercayainya. Percayalah pada kekuatanmu.

Adikku, apapun yang kau nikmati hari ini, di hari istimewamu, akan terasa lebih sempurna bila kau mengingat dan mengetahui bahwa kesempatan tidak selalu ada pada kita semua. Mumpung masih diberi umur, mari kita manfaatkan segala kesempatan dengan perubahan, tentu perubahan untuk menjadi lebih baik. Betapa Allah masih menyertai  dan memberi kau kesempatan, untuk mengulas, memperbaiki segala yang kurang menjadi lebih, dan lebih. Tentu lebih baik dari hari kemarin.

Maka dari itu, mari nikmati setiap detik yang ada dalam hidupmu, ambil setiap kesempatan yang tersedia untukmu dan besyukurlah atas hidupmu.

Salam sayang dariku
Teruntuk adik tersayang Maulana Abdillah (Aank) di PP. Tambak beras Jombang


Minggu, 23 November 2014

Jejak Langkah



Aku menuliskan catatan ini untuk adikku Af Isnain, yang beberapa jam yang lalu bercerita tentang keresahan-keresahan akan tujuan hidup, dan bagaimana menjalani hidup tatkala hati tengah kering oleh motivasi dalam diri.

Dalam ceritanya dia menggambarkan dirinya seolah tengah berada dalam kondisi dimana tubuh telah terpisah dari jiwanya. Tak ada lagi gairah untuk menjalani hidup. Hari-hari terasa kosong. Ya. Membayangkan apa yang tengah dirasakannya, mengingatkanku bahwa aku pun pernah mengalaminya. Aku merasa tidak memiliki apapun untuk dibanggakan. Tidak mempunyai pencapaian, juga tidak ada gairah besar dalam diri yang benar-benar bisa membuat aku merasa hidup. Aku menjadi sering gelisah, mencela setiap usaha yang kulakukan, dan menjadikannya sebagai kebiasaan. Kebiasaan yang buruk. Saat itu adalah saat dimana aku seolah bertentangan dengan seseorang yang lain yang ada dalam diriku. Aku berniat untuk mengalahkannya, tapi tak ada usaha dan kekuatan untuk itu. Aku menginginkan perubahan dalam diri, tapi diri ini enggan beranjak dari kenyamanannya. Alhasil, seringkali aku terjatuh untuk mengalah pada kenyamanan yang semu. Aku tahu betul bahwa itu bukan suatu hal yang benar untuk dilakukan, tapi aku tetap menikmatinya. Lalu, untuk apa aku hidup? Hanya sekedar untuk menjalani hari tanpa makna?

Kau tahu, pada dasarnya kita pasti memiliki ironi dalam diri masing-masing; mungkin juga paradoks, kemunafikan, atau ambiguitas. Sesuatu yang kita benci untuk kita sukai. Sesuatu yang sebenarnya baik untuk tidak kita pilih. Atau sesuatu yang berusaha kita sembunyikan dari siapapun, tetapi kita katakan sebaliknya di hadapan orang lain. Ya, entah bagaimana kita memiliki wilayah-wilayah yang memaksa kita untuk mendua. Perasaan dan pikiran yang sering membuat kita letih dan sedih. Tetapi sekaligus penting untuk kita miliki agar kita bisa seutuhnya menjadi manusia, yang terbatas dan tidak sempurna.

Jadi, kukatakan padamu bahwa yang kau alami adalah suatu hal yang wajar dialami oleh anak muda seusia kita. Bukankah dilema anak muda adalah menentukan arah hidupnya?

Bahkan, saat kau meminta nasihat dariku, aku masih merasa bahwa kau jauh lebih dewasa dibandingkan aku. Lalu kau bilang, sebagai seorang adik bolehkan menuntut hak mendapat nasehat dari kakaknya? Ah, kau selalu bisa mengeluarkan kata-kata yang bisa membuatku termenung beberapa detik untuk memikirkan jawabannya. Sama halnya seperti waktu itu, di hari pertamamu menginjakkan kaki di usia 20-an, kau bertanya padaku, “sekarang usiaku berapa mbak?” aku menjawabnya dengan sedikit gurauan bagaimana kau bisa lupa dengan usiamu sendiri, “udah segitu yaa... tapi aku belum bisa apa-apa, belum berbuat apa-apa”. Hatiku tersentil mendengarnya. Bahkan pemikiran seperti itu belum terbesit dalam benakku saat di usia yang sama. Padahal aku tahu, bagaimana kualitas dirimu, kualitas pengetahuan agamamu, dan seberapa luas pengalaman dan jaringan pertemananmu.

Sedari kecil, kau selalu merasa bahwa kau harus belajar banyak dariku, dan aku pun merasa bahwa aku harus banyak belajar darimu. Nyatanya, kita memang berbeda. Setiap orang mempunyai caranya sendiri untuk memahami sesuatu dan mempelajari sesuatu. Hingga akhirnya, kita harus memilih jalan masing-masing dan bertanggung jawab penuh atasnya.

Baiklah, sebagai seorang kakak aku akan memberikan beberapa nasehat untukmu. lebih tepatnya, motivasi untuk kita. Tak ada maksud untuk menggurui karena sama halnya seperti dirimu, aku pun masih sering gamang akan masa depan. Aku hanya menuliskannya secara sederhana, sebatas pemahaman dan pengalamanku. Semoga ini bisa menjadi oase di tengah keringnya hatimu.

Adikku, di usiamu saat ini, kau pasti merasa bahwa kau harus meraih banyak hal, mengukir prestasi, dan mencapai segalanya. Begitu juga dengan semua orang seumuranmu, mereka  melakukan hal yang sama. Tak jarang, di titik ini kau akan bertanya-tanya, Apa benar jalan yang telah kupilih ini? Dan ketika kau melihat sekitarmu, melihat teman sebayamu, kau akan kembali bertanya sebenarnya aku mau berlari kemana? Sampai ke mana tujuan yang aku ingin capai? lalu, semuanya terasa kabur. Kau tidak bisa melihat apa-apa. Semuanya gelap.

Kau harus tahu, memang bukan hal yang mudah untuk memantapkan diri. Bukankah kau sudah pernah merasakannya sebelum memilih jalan ini? Aku mengerti, keraguan dan kekhawatiran acapkali hadir dalam perjalanan ini. Awalnya, kita memang sangat yakin bahwa inilah jalan yang terbaik bagi kita. Meski aku pun tak memungkiri, bahwa ada rasa takut untuk melalui jalan panjang itu. Kita tak tau adakah batu yang besar yang menghalangi jalan, ataukah adakah jurang yang memutuskan jalan ini. Sehingga kita hanya duduk termenung menatap jalan itu, untuk beberapa waktu. 

Ketika kita sudah benar - benar yakin pada jalan ini. Jalan yang akan membawa ke tempat yang kita inginkan. Kita pun mulai berjalan melangkahkan kaki perlahan demi perlahan. Tapi, seringkali kita  merasa langkah kaki ini begitu berat. Disaat seperti inilah kita akan dihadapkan pada dua pilihan. Kita bisa memilih berhenti dan membalikkan badan untuk kembali atau terus memaksakan diri agar tetap melangkahkan kaki. Akan ada ujian di setiap langkah kita, hingga dorongan untuk keluar atau berbalik arah dari jalan ini terasa sangat besar. Karena itulah, untuk sampai di ujung jalan atau untuk berada di puncak tak pernah ada yang mudah.

Seringkali kita akan bertanya, mengapa proses ini sangat panjang dan sangat sulit? Itu tidak lain agar orang-orang memiliki tanggung jawab untuk mengerti, bisa mengerti makna dari sebuah proses. Bayangkan seandainya semua orang dengan seenaknya mengubah logam menjadi emas, emas akan kehilangan nilainya bukan? Hanya orang-orang yang teguh hati, dan bersedia belajar secara mendalamlah yang bisa mencapainya.

Kau juga harus mengerti, rasanya hari-hari terlalu berharga jika hanya diisi dengan keluhan atau merutuki nasib akan jalan yang telah kau pilih. Setiap orang mengukir perjuangannnya sendiri. Dan, selalu ada kisah-kisah yang terserak tentang perjuangan dalam meraih banyak hal. Semakin dekat kita dengan perwujudan impian, maka semakin sulit situasi-situasi yang dihadapi. Dalam usaha mengejar impian itu, ada-ada saja cobaan yang menghadang, untuk menguji keteguhan hati serta keberanian. Maka kita tak bisa terburu-buru ataupun tak sabar. Kalau kita merengsek maju secara membabi buta, kita akan luput melihat isyarat-isyarat dan tanda-tanda yang diberikan Tuhan di sepanjang jalannya.

Ada yang bilang bahwa hidup adalah serangkaian pembuktian, akan perjuangan yang tak pernah selesai. Barangkali itu benar. Bukankah di awal jalan, kita tidak punya apapun selain keyakinan bahwa hal yang kita lakukan akan berhasil suatu hari nanti. Justru, inilah yang yang menjadikan hidup ini lebih menarik, kemungkinan mewujudkan impian menjadi kenyataan. Meski seringkali kita akan dihadapkan pada mereka yang merasa bahwa keyakinan itu salah. Disinilah kita harus belajar merelakan hati untuk diproses menjadi dewasa. Akan ada beberapa orang yang mencibir keputusan kita. Terlebih jika kita mengambil jalur yang tidak sesuai dengan status “bagus” di mata  orang lain. Seperti yang kita lakukan. Aku dengan jurusan sosiologiku, dan kau dengan jurusan tafsir al-quran dan hadist mu. Untuk ini, rasanya kita harus belajar dari ayah dan ibu. Merekalah yang paling kuat merelakan hati, bahkan merelakan harga diri karena seringkali kita dianggap tidak akan berhasil dengan jalan yang kita pilih. Mereka jugalah yang paling percaya bahwa kekuatan mimpi itu ada dan akan menjadi nyata.

Yah, begitulah orang. Selalu merasa paling tahu bagaimana orang lain seharusnya menjalani hidup, walau sebenarnya mereka sendiri belum tentu tahu bagaimana seharusnya menjalani hidup mereka. Akan ada masa dimana kita harus memasang muka tebal dan merelakan harga diri sebelum bisa membuktikan keberhasilan itu. Melihat semuanya, aku belajar satu hal. Selalu ada orang yang akan mencintaimu, mendukungmu. Tapi juga akan selalu ada orang yang membenci dan bahkan mungkin ingin membunuhmu. Tetapi apapun itu, adalah segala hal yang akan membuat kita lebih kuat.

Aku percaya bahwa kau memiliki hati yang kuat. 7 tahun terakhir telah kau gunakan untuk belajar dari satu kota ke kota yang lain. Dengan hanya bisa pulang 2-3 kali dalam satu tahun. Ya, ayah selalu menanamkan dalam diri anak-anaknya bahwa memperjuangkan diri untuk dapat melihat bintang di langit yang lain adalah hal yang perlu dicoba. Meski aku juga tahu, tak mudah bagi ayah dan ibu untuk rela melepas anaknya belajar di kota lain di saat usianya masih 15 tahun. Perantauan memang bisa membuat kita lebih kuat. Tapi layaknya manusia, hati seringkali menjadi lemah. Saat situasi ini terjadi padamu, ingatlah selalu ayah dan ibu. Dengan kesabaran yang panjang, tekad yang kuat, dan keyakinan pada kemampuan diri kita, mereka tak pernah berhenti berjuang dan mendoakan kita. Mereka yang selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi kita. Mereka yang selalu mengajarkan pada kita akan arti sebuah kehidupan. Makna hidup dalam kebermanfaatan.

Sama halnya seperti dirimu, aku juga seringkali terjebak dalam ketakutanku sendiri. Ketakutan akan masa depan. Ah, bukannya semua yang tidak terlihat selalu bisa menimbulkan rasa takut? Apalagi misteri masa depan. Yang tidak satu pun orang tahu atau setidaknya sedikit memberikan rasa ketenangan untuk menghadapinya.  Masa muda memang masa dalam kecemasan yang memprihatinkan bukan?
Dan untuk kesekian kalinya. Kita harus mengingat apa yang pernah ditanamkan oleh Ayah dan ibu. Bahwa masa depan adalah milik Tuhan, dan hanya Dialah yang mengungkapnya dalam keadaan tertentu. Tapi, rahasia masa depan ada pada saat sekarang. Jika kita menaruh perhatian pada saat sekarang, maka kita bisa memperbaikinya. Dan jika kita memperbaiki saat sekarang ini, apa yang akan datang juga lebih baik. Intinya, tak perlu khawatir soal masa depan, jalani setiap hari sesuai dengan kapasitas kita dan ajaran ajaran yang telah kita terima. Yakinlah bahwa janji Allah itu pasti. Dan kerja keras juga tidak akan pernah mengkhianati.  

Maka dari itu, kita tidak boleh berhenti, meski kita sudah sampai sejauh ini. Jangan sampai nanti sepanjang sisa hidup kita akan menyesal, kenapa dulu kita tidak mengejar takdir. Mengejar mimpi. Jadi, tak ada cara lain bukan? selain bertahan dalam prosesnya. Apapun itu. 

Terakhir, mari bersama kita jalani sebaik mungkin, lewati selapang mungkin, luruhkan semua kecewa. Sisanya, serahkan pada yang Maha memiliki skenario. Tenang saja, semuanya akan baik-baik saja. 

Sabarlah... waktumu akan datang.



Tak ada yang pasti dalam kehidupan ini bukan?

Ya, karena kita tidak pernah bisa merencanakan atau mengatur bagaimana kehidupan kita akan berjalan. Kita memang bisa berencana, tapi kita juga harus ingat bahwa ada Maha perencana diatas sana. Pemberi skenario terbaik atas hidup setiap umatnya. Seringkali kita mungkin akan dihadapkan pada suatu kondisi yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Atau jauh dari apa yang kita harapkan. Sedih, kecewa, pasti ada bukan? Yah, inilah hidup. Kadang kita berada diatas dengan penuh canda tawa, tapi sedetik kemudian bisa jadi kita tengah terpuruk dengan tangis yang tak kunjung henti. Terlalu meratapi apa yang telah menjadi kehendak-Nya rasanya juga bukan hal yang baik untuk dilakukan. Bukankah janji Allah itu pasti. Bahwa ada kemudahan selepas kesulitan, ada kebahagiaan setelah kesedihan. Lalu, mengapa kita harus khawatir dan meratap berlebihan?

Yang harus kita lakukan adalah memahami dan menerima dengan hati bahwa apa yang kita inginkan tak bisa selalu menjadi kenyataan. Ada kekuatan yang Maha, yang menentukan ujung semua jalan. Ada pelajaran-pelajaran yang ingin Ia sampaikan dengan cara-Nya sendiri.

Beberapa hari yang lalu, aku mendapat kabar bahwa aku lolos seleksi pembinaan kepenulisan yang diadakan oleh sebuah penerbit di jogja. Bisa ditebak bagaimana rasa bahagia itu menyelimutiku. Sangat. Aku sangat bahagia. Seolah mimpi itu tinggal selangkah lagi. Kau tahu? Aku memimpikannya sudah sejak beberapa tahun yang lalu. Memimpikan bagaimana rasanya tulisanku bisa dibaca oleh banyak orang dan syukur jika bisa menginspirasi dan bermanfaat. Sama halnya seperti diriku, semua orang ketika masih muda pasti tahu apa mimpi mereka. Pada titik itu segalanya seolah terlihat jelas, segalanya mungkin. Mereka tidak takut bermimpi, mendambakan segala yang mereka inginkan terwujud dalam hidup. Tetapi dengan berlalunya waktu, ada daya misterius yang mulai meyakinkan mereka bahwa mustahil mereka bisa mewujudkan mimpi itu. Daya ini adalah kekuatan yang kelihatannya negatif, tapi sebenarnya menunjukkan pada kita cara mewujudkan takdir kita. Daya ini mempersiapkan jiwa dan menguji kesungguhan keinginan kita, sebab ada suatu kebenaran mahabesar dalam dunia ini, siapapun dirimu, apapun yang kamu lakukan, jika engkau bersungguh sungguh menginginkan sesuatu, itu karena hasrat tersebut bersumber dari jiwa jagat raya. Itulah misimu di dunia ini. Seperti yang pernah dikatakan oleh Paulo Coelho bahwa salah satu kewajiban sejati manusia adalah mewujudkan takdir/mimpinya. Dan kini, mimpi itu seolah benar-benar telah menemukan jalannya.

Selang beberapa hari kemudian, lagi-lagi aku mendapat kabar terkait masa depan. Aku gagal dalam seleksi pegawai negeri sipil. Rasanya memang tidak sepedih tahun lalu. Entahlah.. apa karena aku sudah terlebih dahulu memantapkan hati memperjuangkan mimpiku untuk menjadi penulis dan akademisi? Atau karena di tahun ini prosesnya tidak dilalui dengan luka seperti halnya tahun lalu. Aih, sudahlah. Tak perlu rasanya membuka luka lama. Dari pengalaman tahun lalu, aku belajar bahwa pasti selalu ada orang yang akan mencintaimu. Selalu ada pula orang yang membenci dan bahkan mungkin ingin membunuhmu. Tetapi apapun itu adalah segala hal yang akan membuatmu lebih kuat.

Yang jelas, aku merasa saat ini aku lebih tegar menghadapi kegagalan dibandingkan dengan aku tahun lalu. Tidak seperti tahun lalu yang disertai dengan kesedihan yang mendalam, saat ini yang terlintas dalam benakku “ah, mungkin memang bukan jalanku. Pasti ada yang lebih baik.” Tidak, aku tidak sedang menghibur diri atas kegagalan ini. Itulah yang kurasa saat itu. Walau mungkin, dimata orang lain posisiku terlihat sangat disayangkan. Bagaimana tidak? Hanya selisih 10 poin atau dua soal, selain itu diantara 3 orang dari teman seangkatanku yang ikut di instansi yang sama, hanya aku yang gagal. Alhasil, beberapa teman terdekat berupaya menghibur dan menyemangatiku. Walau telah berulang kali aku katakan bahwa aku baik-baik saja. Aku turut berbahagia sahabatku lolos dalam seleksi PNS tahun ini. Doaku selalu teriring untuknya. 

Aku percaya, Tuhan telah menyiapkan jalan yang mesti dilalui masing masing orang, dan itu tak harus sama. Kita hanya harus membaca pertanda-pertanda yang ditinggalkan-Nya. Termasuk juga dari pencapaian-pencapaian kecil atau dari kegagalan yang acapkali terjadi.  Mungkin, aku digagalkan saat ini agar aku lebih fokus untuk mengejar mimpiku, mengasah kemampuan menulisku, dan menuntaskan studi S2 ku. Yang jelas tidak akan bisa kulakukan ketika aku berhasil dalam tes ini bukan?

Ya, memang tak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok hari. Tapi, aku percaya, sangat percaya bahwa di depan sana Allah telah menyiapkan sesuatu yang indah untukku. Walau aku juga tahu untuk mencapai puncak itu juga bukan suatu hal yang mudah. Akan ada berbagai jalan menanjak dan ranting besar yang harus dilewati. Dan pasti hanya tersedia dua pilihan. Memilih berhenti dan membalikkan badan untuk kembali atau terus memaksakan diri agar tetap melangkahkan kaki. Ketika aku memilih untuk terus berjalan, aku yakin perlahan puncak itu pasti terlihat di hadapanku. Satu hal yang harus aku pegang, bahwa kerja keras tidak akan pernah menghianati. Maka, hanya soal waktu, dan mimpi itu akan menjadi nyata.

Setelah berusaha keras meyakinkan diri bahwa segala sesuatu yang terjadi padaku merupakan bagian dari skenario terbaik Tuhan. Aku kembali harus belajar merelakan hati ini untuk diproses menjadi dewasa. Bedanya, kali menyangkut urusan hati, perasaan. Mungkin, di hadapan orang lain aku bisa berbohong, bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Ya, bukankah dalam setiap diri kita memiliki ironi dalam diri masing-masing; mungkin juga paradoks, kemunafikan, atau ambiguitas. Sesuatu yang berusaha kita sembunyikan dari siapapun, sesuatu yang sebenarnya kita sayangi, kita harapkan, atau sesuatu yang terlampau menyakitkan tetapi kita katakan sebaliknya di hadapan orang lain. Aku melakukannya. Tapi, sekuat apapun aku berusaha melakukannya, justru itu semakin menyakitkan.

Dalam hening, aku coba meyakinkan diriku. Apa mungkin ini bentuk teguran dari Tuhan? Atas cinta dan kebesaran-Nya. Ketika aku telah meyakini bahwa Cinta yang hakiki adalah cinta karena-Nya, dan ketika aku telah mencoba mencintai seseorang karena-Nya, maka aku pun harus ikhlas meninggalkan cinta ini semata-mata karena-Nya. Mungkin, Allah hendak mengingatkanku bahwa cinta yang suci itu tak pernah tersentuh oleh “cinta” sebelum cinta itu menjadi kehalalan bagi penikmatnya. Saat ini, aku sangat ingin menjadi seperti dirinya, yang tak sedikitpun tenggelam dalam rasa, dan dengan santainya bisa mengatakan bahwa sekarang belumlah saatnya. Ya, seandainya aku juga bisa seperti itu.

Untuk kesekian kalinya, aku harus menguatkan diriku. Merelakan semuanya, dan berusaha ikhlas atas segala sesuatu yang terjadi. Aku tahu, aku tidak memiliki hati sekokoh batu karang. Tapi aku akan selalu berusaha untuk menjadi pribadi dengan hati yang kuat. Termasuk hati yang kuat untuk bersabar. Bukankah hidup selalu mengajarkan kita untuk selalu bersabar. Bersabar dalam setiap proses, baik itu proses dalam meraih mimpi ataupun cinta. Ya, seperti kata Tere Liye bahwa cinta itu adalah bersabar, bukan tergesa-gesa. Bersabar menunggu waktu terbaiknya. Bersabar menunggu orang paling tepat. Bersabar dengan cara yang paling mulia dan Bersabar atas setiap skenario yang terjadi.

Sabarlah, ada waktu atas segala sesuatu. Waktumu akan segera datang.