Selasa, 30 Agustus 2016

Perempuan berpendidikan tinggi, what’s wrong?



“Mbak Orin mboten pengen nikah ta? Kok sekolah terus?”

Deg. Sejenak saya termangu mendengar pertanyaannya. “nggeh, pandungane mawon!” jawaban diplomatis dengan seutas senyum -yang sedikit dipaksakan-  menjadi satu-satunya alternative pilihan.

Pernah suatu waktu, saya juga sempat membaca sebuah komentar di salah satu akun socmed teman saya, yang isinya kurang lebih begini, “cantik-cantik belum laku, yang dipikir sekolah terus sih. Habis S2, S3?”

Percaya atau tidak, pertanyaan atau komentar semacam ini jauh lebih nyelekit daripada pertanyaan “kapan nikah?”  Duh… bisa nggak kalian sedikit saja mengerti bagaimana perasaan kami? Setidaknya, sebelum kalian sibuk berkomentar dan mengurusi hidup orang lain. Pilihan-pilihan hidup kami. 

Andai kalian tahu, kami juga perempuan biasa, yang mimpi terbesar kami adalah bisa menjadi seorang istri dan ibu yang baik. Dalam lubuk hati kami yang terdalam, kami juga ingin segera merasakan kebahagian membangun sebuah keluarga. Tapi, jika saat ini kami masih memilih menyibukkan diri dengan belajar, meningkatkan kualitas diri kami, apa itu salah?

Oh come on baby, semua orang memiliki jalan dan waktunya sendiri. Jika saat ini kalian telah berbahagia dengan kehidupan baru kalian, silahkan dinikmati dan berbahagialah. Tak usah kalian sibuk meluangkan waktu berharga kalian dengan mengurusi hidup kami. Ok, anggaplah itu salah satu bentuk perhatian kalian. Tapi bagi kami, cukup dengan hargai perasaan kami -syukur-syukur jika kalian berkenan untuk mendoakan- itu sudah jauh lebih dari cukup. 

Barangkali memang benar, orang-orang selalu merasa lebih tahu dengan apa yang seharusnya orang lain lakukan. Sesuai atau tidak sesuai dengan pandangan mereka, mereka akan tetap saja sibuk berkomentar. Mungkin, ada baiknya jika di masa ini, para wanita muda termasuk juga saya, harus pintar-pintar untuk bersikap sesuai posisi dan kondisi. Ada waktu dimana kita harus menghargai pendapat mereka, tapi di lain waktu juga berhak untuk membebalkan diri dari semua komentar mereka. Karena bagaimanapun, hidup tidak pernah bisa disamaratakan.

Pernah juga seseorang berkata pada saya, “Perempuan itu gak perlu sekolah tinggi-tinggi sampe S2, nanti laki-laki takut yang mau mendekat,”

Hmm… saya menjadi semakin bertanya-tanya, apa sih yang salah dengan perempuan yang berpendidikan tinggi? Bukankah semakin bagus jika semakin banyak perempuan yang berpendidikan? Mereka kan madrasah pertama dan yang utama bagi anak-anak. Logikanya, jika madrasahnya saja sudah baik, bukankah hasil didikannya nanti juga akan semakin berkualitas?

Pernah dengar kalimat ini, “mendidik seorang laki-laki itu mendidik pemimpin, dan mendidik seorang perempuan sama halnya dengan mendidik satu generasi.”

Saya pribadi memahami betul makna dari kalimat tersebut. Bersyukur saya bisa tumbuh dan berkembang dalam sebuah keluarga yang hangat. Ibu yang selalu ada dan memantau setiap perkembangan si anak. Ibu yang selalu mendukung ayah, menasehati ayah jika ayah salah, dan berembuk untuk menyelesaikan masalah bersama. Ya, saya menjadi mengerti bahwa menjadi perempuan itu harus kuat, dan harus cerdas. Saya menjadi semakin paham makna dari pepatah yang mengatakan bahwa dibalik suksesnya seorang laki-laki, ada perempuan yang mendampinginya. Istri dan Ibunya.

Jika yang kalian khawatirkan adalah kami akan jauh lebih berkuasa –dengan gelar kami-, sepertinya kalian harus pahami ini terlebih dahulu, pernikahan itu bukan sebuah kompetisi, right? Sehebat-hebatnya wanita cerdas mereka juga paham bahwa suami adalah imam mereka dan segala perintahnya adalah kewajiban.

So, jika suamimu kelak menyuruhmu untuk tidak bekerja, apa nggak sayang S2 kamu? Rugi dong orang tuamu nyekolahin kamu tinggi-tinggi kalo ujung-ujungnya hanya tinggal di rumah.

Sebenarnya ini bukan tentang mana yang lebih baik, ibu rumah tangga atau ibu yang bekerja. Tentu, sebagai perempuan dengan bekal pendidikan yang lebih dari cukup, kami ingin berkarir, berkarya mengamalkan ilmu, dan mandiri secara financial guna membahagiakan orang tua di hari senja.

Tapi, lebih dari itu, ini juga tentang seikhlas apa orang tua membesarkan anak perempuannya.

Bagaimana tidak, ketika kita melihat seorang perempuan dengan gelar strata satu dua atau tiga, tapi memilih membaktikan kebermanfaatan hidup untuk keluarga barunya, mungkinkah kita tidak melihat ke belakang untuk berapa banyak rupiah terhambur demi pendidikannya?

Ya, itu sangat wajar. Bagaimanapun orang tua telah mengorbankan segalanya untuk anak-anaknya. Jadi patut rasanya jika ada keinginan untuk membahagiakan mereka dengan kesuksesan kita. Namun, itu akan sangat jauh berbeda ketika anak itu adalah anak perempuan. Saya pernah membaca sebuah kalimat, memiliki anak perempuan itu hanya bisa membesarkan, tapi tidak bisa memilikinya. Dan kini saya baru menyadari kebenaran kalimat itu.

Beruntung orang tua saya adalah orang tua yang paham akan peran sentral seorang perempuan dalam sebuah keluarga. Tidak masalah seberapa tinggi pendidikan seorang perempuan, atau seberapa fantastis potensi nominal rupiah yang bisa ia hasilkan. Keberadaan ragawinya di rumah adalah sesuatu yang sangat dirindukan.
Dari jauh-jauh hari sebelum saya menyelesaikan studi saya di program magister, ibu telah mewanti-wanti saya, bahwa ketika nanti saya telah menikah, keluarga adalah yang utama. Boleh saja saya berkarir, mencari pengalaman sebanyak-banyaknya selagi saya masih lajang. Tapi, ketika saya sudah menikah, keluarga adalah prioritas

“bukan berarti kamu tidak boleh bekerja, tapi bagaimanapun kamu harus mengerti bahwa tugas utama seorang wanita adalah menjadi istri dan ibu yang baik. Anak-anakmu, suamimu, jauh lebih membutuhkan dirimu daripada gelimang materi. Jika akhirnya kamu tetap bekerja, perbaiki niatmu, niatkan untuk mengamalkan ilmu, bukan untuk materi, apalagi sampek mengorbankan keluarga. Kalo itu yang terjadi, mending kamu gak usah kerja. Buat apa kamu S2, kalo anak-anakmu justru lebih banyak bersama pembantu yang rata-rata pendidikannya SMP.”

Saya tersenyum membenarkan pernyataan Ibu, lalu saya iseng bertanya, “aku kan juga pengen ngebahagiain ayah dan ibu. Apa ibu gak pengen nikmatin hasil jerih payah ayah ibu selama ini nyekolahin aku”

Ibu tersenyum, “bisa mengantarkanmu menjadi istri dan ibu yang sholihah sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami, Nduk.”

Duh… ibu. Seikhlas itu ibu dan ayah membesarkan saya, anak perempuan satu-satunya. Semoga saya  selalu bisa membahagiakan kalian.

Untuk saya dan untuk semua perempuan berpendidikan tinggi, apapun pilihan kita nantinya, menjadi ibu rumah tangga atau ibu yang bekerja. Semoga setiap keputusan dilandasi dengan kesadaran penuh, dan urutan prioritas yang tidak keliru. Semoga setiap perempuan bisa menjalankan peran kebermanfaatannya di setiap tempat dengan tepat. Semoga. 

Surabaya, 30 Agustus 2016
 

Saya harus tetap menulis!



“Perjalanan untuk menjadi seorang penulis itu bisa saja berbeda. Orin tidak harus menempuh jalan yang telah saya lalui, karena saya yakin Orin akan menemukan jalannya sendiri.”

Saya selalu kagum ketika membaca sebuah tulisan yang tidak saja menyentuh secara penyampaian, namun juga bernas secara secara logika dan pemikiran. Lalu, kekaguman itu berlanjut menjadi sebuah pertanyaan, “apa yang penulis itu lakukan hingga dia bisa menulis sedemikian bagusnya?”, “buku-buku apa yang biasa Dia baca?”, “habitus apa yang dia bentuk?”, “bagaimana proses kreatifnya?”, dan akhirnya, saya akan bertanya pada diri saya sendiri, akankah saya bisa menulis sebagus itu?”

Pernah suatu waktu saya memberanikan diri untuk bertanya pada dosen saya tentang hal itu. Ya, dosen saya yang satu ini memang memiliki kemampuan menulis dan juga karya yang mumpuni. Beliau juga turut andil dalam membentuk kemampuan menulis dan daya analitis saya, tidak hanya ketika saya masih menjadi mahasiswa beliau, ketika saya sudah lulus pun saya bersyukur masih bisa menikmati proses belajar dan ilmu dari Beliau.

“Proses belajar dan proses kreatif tiap orang bisa saja berbeda. Kalau saat ini saya menempa kamu, bukan berarti kamu harus menjadi atau mengikuti jejak saya. Saya hanya mengajarkan apa-apa yang saya pahami dari pengalaman saya. Dan saya yakin, kamu akan menemukan pengalaman-pengalaman itu dan bisa berproses dari sana.” 

Saya pun akhirnya sadar bahwa bagaimanapun saya tidak akan pernah bisa meniru gaya tulisan orang lain. Saya adalah saya. Begitupun, tulisan saya adalah saya dalam wujud yang lain.

Saya bersyukur di sepanjang perjalanan ini Allah selalu mempertemukan saya dengan orang-orang yang darinya saya bisa belajar. Termasuk juga kaitannya dengan mimpi saya yang satu ini.

Saya mulai menggenggam mimpi ini ketika saya menginjak masa putih abu-abu. Kala itu saya baru menyadari bahwa dunia itu adalah dunia saya, setelah sebelumnya saya selalu berkata bahwa cita-cita saya adalah menjadi seorang dokter. Aih… itu kan cita-cita anak sejuta umat.

Di SMA, saya hanya bisa mengasah kemampuan sekaligus berproses dalam sebuah keredaksian majalah sekolah “PIJAR”. Itu sudah lebih dari cukup bagi seorang remaja seperti saya yang kala itu sedang mencari jati diri, mencari apa itu yang disebut “passion”. Saya pun belum berani melangkah lebih jauh, kodrat saya sebagai anak ilmu alam menuntut saya untuk terus bergelut di bidang itu, hingga akhirnya Allah memilihkan tempat lain untuk saya belajar. Dunia yang sangat jauh berbeda dengan sebelumnya. Ya, Dunia social.

Proses peralihan yang tidak mudah memang, tapi ketika kita telah memutuskan untuk terjun, apapun yang terjadi, itu adalah proses belajar, kan? saya hayati betul kata-kata Ayah waktu itu, “Allah memilihkan tempat untukmu, bukan karena kebetulan, pasti ada sesuatu di depan sana”  begitu pesan ayah saya di malam pengumuman SNMPTN. “jalanilah.. mungkin memang jalannya” lanjutnya.

Dan memang benar, di tempat itulah saya benar-benar yakin akan passion saya. Menulis.

Sejak semester awal, saya sudah leluasa mengembangkan minat di dunia tulis menulis. Mulai dari SSC, PKM dan LKTM, FLP Surabaya, redaksi tabloid kampus, hingga redaksi jurnal Paradigma. Tuntutan tugas-tugas mata kuliah yang mayoritas berbasis riset juga berpengaruh terhadap minat dan kemampuan menulis. Ditambah lagi dengan kesempatan mengikuti beberapa proyek penelitian dosen semakin membuat saya yakin bahwa dunia ini sangat mengasyikkan. Dunia dimana kita tidak hanya menggali ilmu, tapi juga menebar ilmu dan pengetahuan melalui pena.

Saya begitu menikmati hari-hari itu, hingga akhirnya saya lulus dan mendapatkan pekerjaan. Sayangnya, pekerjaan pertama saya sangat jauh dari dunia yang selama ini saya geluti. Mungkin benar kata orang, bagi seorang sarjana tahun-tahun pertama adalah tahun pembuktian diri. Baru setelah itu, kita akan kembali tersadar, “apa benar ini dunia saya?” Begitu pun yang saya rasa kala itu.

Beruntunglah Allah tidak pernah rela membiarkan saya terlalu lama larut dalam kebingungan. Saya kembali diarahkan ke dunia yang amat saya cintai. Dunia literasi. Saya pun diberi kesempatan untuk memiliki keluarga baru, tempat belajar dan berproses, sekaligus kembali memantapkan hati bahwa ini memang dunia dan mimpi saya. Saya lolos dalam seleksi Kampus Fiksi edisi Nonfiksi angkatan 1 dari sebuah penerbit di kota Yogyakarta. Di sana saya bertemu dengan saudara-saudara dengan passion yang sama. Beberapa dari mereka adalah penulis yang telah berhasil melahirkan beberapa buku. Tulisan-tulisan mereka telah beberapa kali muncul di berbagai media. Tiga hari bersama mereka sukses menyulut semangat saya untuk juga bisa berkarya seperti mereka. Terlebih selama tiga hari itu kita juga digembleng dengan materi dan pemaparan dari penulis dan praktisi dunia kepenulisan. Ahh… rasanya itu, tak pernah bisa terlukis oleh kata-kata meski pena telah berusaha menguraikannya panjang lebar.

Sepulang dari Jogja, hasrat itu masih mengakar kuat untuk menjadi nyata apalagi kita memproleh fasilitas untuk bimbingan online  terkait naskah yang akan kita terbitkan. Pertama, kita harus mengajukan tema yang menarik secara kualitas dan juga secara “pasar”. Jika lolos, baru kita akan dibimbing hingga naskah itu terbit. Sayangnya, judul naskah saya waktu itu ditolak. Mungkin karena tema yang saya ajukan kurang menarik pasar, telah banyak judul buku yang sejenis, atau alasan lainnya. Sempat down? Iya. Lalu saya mencoba peruntungan dengan mencoba nulis untuk media. Baik itu resensi, opini, ataupun cerpen. Hasilnya? Tetap saja nihil.

Oh Tuhan. Kenapa rasanya semuanya begitu sulit? Sedangkan teman-teman saya di KF kok kayaknya gampang banget tembus media. Beberapa lainnya juga telah bertambah buku karya mereka. Sedangkan saya? seolah tetap stagnan. Tanpa progress yang berarti. Ok lah, saya masih tetap menulis hasil-hasil riset, baik untuk tugas kuliah ataupun proyek penelitian. Tapi saya ingin lebih dari itu.

Saya ingin jadi penulis. Saya ingin tulisan saya dibaca banyak orang, syukur-syukur jika bermanfaat dan bahkan menginspirasi. Saya juga tidak memungkiri bahwa saya ingin menjadikan menulis sebagai profesi. Benar memang, dengan gelar akademik yang saat ini telah saya peroleh sangat memungkinkan bagi saya untuk bergelut di dunia akademisi dan peneliti (keduanya telah dan tengah saya jalani). Keduanya memang tidak terlampau jauh dari dunia literasi, pun keduanya juga menuntut kemampuan menulis yang mumpuni. Dengan kata lain, saya tetap bisa menulis di tengah profesi tersebut. Hanya saja, hati kecil saya berbisik tentang mimpi terbesar saya sebagai seorang wanita. Ya, menjadi seorang istri dan ibu.

Sekarang mungkin saya masih bebas untuk pergi kemana-mana melakukan riset, atau seharian penuh berada di sekolah/kampus untuk mengajar. Tapi bagaimana ketika nanti saya telah menikah dan telah dikaruniai seorang anak? Ah… maklum lhah, usia saya sudah memasuki masa-masa menikah, jadi mikirnya sudah menata masa depan. Eaaa… hahahaha

Sebenarnya, tidak masalah bagi saya jika seandainya saya harus menjadi full time mother dan berhenti berkarir di ranah public. Justru itu adalah keinginan terbesar dari lubuk hati yang terdalam. Mungkin karena saya dibesarkan oleh keluarga yang hangat dan ibu yang selalu ada dan dekat dengan anak-anaknya. Saya pun berharap bisa demikian. Meski di sisi lain, saya juga bisa menebak bahwa akan banyak orang nyinyir yang akan berkomentar, “apa gak sayang tuh gelar S2-nya?” atau “sekolah tinggi-tinggi sampe S2 cuma jadi ibu rumah tangga?”

Ya, mungkin akan ada rasa bersalah dalam diri saya jika akhirnya saya hanya ongkang-ongkang kaki di rumah. Akan kamu kemanakan ilmu yang telah kamu pelajari selama ini? benar memang, akan sangat bermanfaat bagi suami dan anak-anak. Tapi, masak iya hanya sekedar itu? ya, saya ingin berkarya dari rumah. Bekerja tanpa harus jauh dari anak-anak. Raga saya tetap berada di dekat mereka, tapi saya tetap ingin karya dan pemikiran saya tersebar dan bermanfaat bagi semua orang.

Keinginan itu semakin membuncah tatkala saya berkenalan dengan teman-teman KF yang telah menjadi ibu dari beberapa anak, menjadi ibu rumah tangga, tapi tetap produktif untuk berkarya. Ya, saya ingin menjadi seperti itu. 

Karenanya, setelah semua kereweuhan tesis dan urusan tetek bengeknya selesai, saya kembali memantapkan hati untuk menempuh jalan sunyi kepenulisan. Setelah sebelumnya saya sempat vakum dari dunia menulis, sejenak mimpi itu mati suri, dan mungkin ini adalah waktu yang tepat untuknya kembali.

Disaat itu pulalah Allah kembali membuka jalan-Nya. Saya diberi kesempatan untuk bergabung dalam sebuah keluarga baru bernama “Kontenesia”. Allah kembali memilihkan tempat untuk saya belajar dan beproses untuk mimpi-mimpi saya. Di sini saya tidak hanya akan belajar tentang kepenulisan, namun juga tentang profesionalitas dan attitude seorang penulis.  

Ya, awal yang bagus untuk kembali mengasah kemampuan menulis saya. Dan yang terpenting, untuk mengembalikan habitus menulis saya yang sempat mati suri oleh kesibukan-kesibukan lainnya. Saya bertekad, saya tetap harus menulis untuk naskah buku-buku saya, saya tetap harus menulis untuk media (meski saya telah menjadi penulis tetap rubric social-budaya di emadura.com).

“Semua harus ditulis. Apa pun. Jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti berguna.” Pramoedya Ananta Toer

Saya harus tetap menulis, saya harus tetap berkarya. Semoga Allah berkenan untuk mengabulkan mimpi-mimpi saya. Amiin…

Rabu, 10 Agustus 2016

it's our full day school



Beberapa hari ini, masyarakat, khususnya para orang tua, pelaku pendidikan, bahkan pemerhati pendidikan, sedang dibayang-bayangi oleh wacana “full day school”.

"Jadi kalau FDS (full day school) itu waktu sehari penuh itu kan nanti bisa menerjemahkan lebih lanjut dari program nawacita dari Beliau (Jokowi-JK) yang dimana pendidikan dasar SD dan SMP itu pendidikan karakter lebih banyak dibanding knowledge basenya dan banyak waktu memberikan kesempatan guru mendidik anaknya menanamkan pada siswanya karakter yang ada dalam nawacita itu," ungkap Muhadjir Effendy.

Sontak, pendapat Pak Menteri itupun menuai pro dan kontra di kalangan netizen, tidak saja para pemerhati pendidikan yang mengungkapkan pendapatnya, masyarakat umum pengguna social media pun turut menyampaikan uneg-uneg-nya. Cara pengungkapannya pun beragam, mulai dari yang sopan, satir, bahkan hingga ada yang “sarkastik”.

Ya, Kita semua tahu, bahwa segala sesuatu pasti memiliki dua sisi. Sisi lebih dan sisi kurang. Kedua sisi yang harus diakui sebagai satu hal yang sama.

Sejenak, saya ingin bercerita pengalaman saya sebagai salah satu produk dari fullday school, meski tidak pada tataran pendidikan yang sama. Karena jika yang dimaksud dengan Fullday School adalah seharian penuh berada di sekolah, saya rasa masa itu saya juga mengalaminya. Hanya saja di sekolah yang berbeda, pagi-siang di sekolah dasar, siang-sore di madrasah diniyah, sore menjelang maghrib berlanjut dengan mengaji di masjid, baru setelah isya’ saya bisa berada di rumah bersama keluarga. Capek? Tidak. Layaknya anak 90-an lainnya, justru itu adalah masa-masa terindah kami. Sekolah bagi kami saat itu adalah arena untuk bermain dan bersosialisasi bersama teman-teman sebaya. Belum ada gadget, belum ada dunia maya, belum ada permainan ini-itu, jadi wajar jika sekolah mempunyai daya tarik tersendiri sebagai tempat “bermain”.

Tujuan para orang tua –termasuk orang tua saya- menyekolahkan anaknya dengan model seperti itu (di zaman itu), tentu agar anaknya tidak hanya belajar ilmu pengetahuan umum, tapi juga berbekal ilmu agama. Keseimbangan antara keduanya itulah yang kemudian menjadi dasar terbentuknya sekolah-sekolah dasar terpadu (SDI/SDIT/sekolah alam), yang dalam perkembangannya juga lekat dengan kesan “bonafit” dan “mahal”.

Dua adik saya menjadi bagian dari system pendidikan yang demikian. Dulu, ketika Aank (adik saya) pertama kali masuk di RA sekolah Fullday tersebut, saya baru menginjak kelas satu SMP. Saya tidak terlalu paham, dan juga tidak ambil pusing waktu itu. Yang saya tahu, ketika saya bertanya pada orang tua saya, beliau hanya menjawab “biar sekalian belajar agamanya disitu, jadi gak usah tengah hari berjalan kaki ke desa sebelah untuk sekolah madrasah”. Sesimpel itu.

Waktu itu, saya juga melihat bahwa keputusan itu memang lebih baik, karena perlahan pilihan untuk sekolah di madrasah diniyah memang semakin ditinggalkan –utamanya di masyarakat perkotaan-. Alih-alih, perkembangan sekolah model seperti ini pun kian berkembang bak jamur di musim penghujan.

Baru di tahun 2012, ketika adik bungsu saya (Alfan) juga disekolahkan di sekolah RA-SDI yang sama, saya baru bisa melihat dengan jelas bagaimana lebih dan kurangnya system pendidikan dengan model seperti itu. Mahal, sudah pasti. Bagaimanapun, sarana prasarana belajar harus menunjang, dan untuk melengkapi itu tentu dibutuhkan biaya yang mahal, bukan? sungguh, sangat jauh berbeda dengan sekolah dasar dan madrasah diniyah saya dulu.

Tiap kelas yang berisikan kurang lebih 40 anak diampu oleh 4 orang ustadz/ustadzah, jadi setiap satu orang ustadz/ustadzah membawahi kurang lebih 10 anak yang harus diawasi dan dipantau perkembangannya. Dari segi pembentukan karakter, saya suka ketika melihat para guru menyambut siswa di pintu gerbang setiap pagi, adanya kantin kejujuran, anak yang diajari untuk bebas berpendapat dan akan selalu didengarkan oleh sang guru (karena memang guru hanya dan harus terkonsentrasi pada beberapa anak), setiap akhir pekan (jumat-sabtu) ada agenda rutin belajar di luar kelas, serta adanya hubungan dan komunikasi yang jelas antara guru dan orang tua. Hal-hal unggul seperti ini yang mungkin memang belum ada di sekolah kebanyakan. Hanya saja, Guru disini, memang dituntut untuk memiliki kesabaran dan kreatifitas yang ekstra, karena bagaimanapun pasti ada “tuntutan standar lulusan” disana.

Ya, memang, saya akui bahwa sekolah model seperti ini memiliki muatan pelajaran yang memang lebih berat dibandingkan dengan sekolah lain. Baik dalam hal waktu, ataupun kemampuan. Terkait kemampuan, stratifikasi kemampuan pasti sangat dikotak-kotakkan. Meskipun sejatinya, setiap anak memiliki kecerdasan dan kemampuan yang tidak bisa disamaratakan, apalagi dikotak-kotakkan. Saya sangat setuju ketika waktu itu adik saya masuk dalam list kelas internasional (ada beberapa jenis kelas di sekolah tersebut), tapi orang tua saya menolak dan lebih memilih tetap berada di kelas regular. Bukan karena apa, untuk anak seusia mereka, berada di sekolah fullday saja sudah berat, apalagi di kelas internasional?

Sebenarnya, tanpa menampik kelebihan-kelebihan yang diberikan, orang tua saya pun paham tekanan yang dialami oleh anak “Fullday School”, dan mereka berusaha mengimbanginya dengan tidak pernah melarang adik-adik saya untuk bermain selepas pulang sekolah (1-2 pulang jam 12.00, kelas 3 pulang jam 15.00, kelas 4-6 pulang jam 16.00). Setelah maghrib, mengaji bersama Ayah, belajar didampingi ibu, dan belajar tidak pernah lebih lebih dari jam delapan malam.

Dalam kasus keluarga saya, orang tua menempatkan anak di fullday school bukan karena orang tua yang bekerja dan sekedar “menitipkan anak” di sekolah. Karena nyatanya, ibu saya adalah seorang full time mother, yang harus mengupgrade ulang ilmu pengetahuannya tatkala mendampingi anak-anaknya belajar di rumah. Hasilnya akan menjadi seperti apa kita semua belum tahu, Alfan masih di kelas tiga SD, sedangkan Aang saat ini kelas 3 SMA. Alasan sekaligus harapan sederhana ayah ibu saya adalah bisa memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anaknya, baik secara kecerdasan intelektual, spiritual, maupun emosional. Tentu, tanpa bermaksud mengabaikan peran sentral orang tua dalam mendidik anak-anaknya.

Saya pribadi, baru mengalami bagaimana tekanan “sekolah plus-plus” itu pada tingkat SMA. Secara umum SMA saya memang bukan fullday school, hanya beberapa kelas saja yang bisa disebut dengan “kelas plus-plus”. Mengapa begitu? Ya, karena rutinitas yang harus kami jalani. Kami harus tinggal di asrama, setiap hari harus bangun sebelum shubuh, pagi-siang belajar di sekolah, sore-malam juga ada bimbingan belajar. Tidak ada waktu bagi kami untuk hanya sekedar mengikuti ekstrakurikuler sekolah, seperti anak-anak kelas lain. Tugas kami hanya belajar, belajar, dan belajar. Terlebih ketika menjelang musim olimpiade, kami benar-benar digenjot untuk belajar dan bahkan unggul di bidang pelajaran yang kami pilih. Karena rutinitas yang demikian, jadi tidak perlu heran jika banyak yang mengecap kami sebagai “kutu buku”, atau bahkan kami memang “ekslusif” (untuk tidak mengatakan kuper), karena tidak semua anak bisa bergaul bebas dengan kami.

Entah kami harus bangga atau tertekan dengan semua status yang melekat pada kami waktu itu. Kenyataan bahwa untuk bisa menjadi dan mendapat fasilitas seperti kami itu memang tidak mudah, dan mungkin juga “mahal”. Dan kami, mendapatkannya dengan gratis. Senang dan bangga, tentu. Bagi kami waktu itu, itu adalah salah satu jalan pembuka mimpi-mimpi.

Apakah kami stress dan merasa tertekan? Saya tidak bisa memungkiri bahwa rasa tertekan dan stress itu pernah ada, apalagi posisi kami waktu itu jauh dari keluarga. Tapi ada hal yang membuat kami bisa bertahan. Apa itu? Teman seperjuangan dan kecintaan kami pada belajar dan ilmu (apapun ilmu itu). Kami tahu, tuk mencapainya, ada lautan yang harus disebrangi, ada hujan yang akan melanda, atau bahkan mungkin badai dalam sebuah hubungan dan perjalanan ini. Tapi, kami percaya, selalu percaya, bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Hampir seluruh kenangan di masa putih abu-abu adalah kenangan bersama mereka (Einstein). Kami tersenyum, menangis dan bertengkar. Waktu pun berlalu sejak hari itu, di saat kami saling berbicara tentang impian masing-masing. Hampir seluruh kenangan ini adalah jejak kehidupan kami. Kami berjalan, berlari dan berhenti. Hingga akhirnya kami sadar, bahwa pasti akan ada masa dimana kami harus fokus mengejar impian masing-masing.

Ya, saya akui saya adalah salah satu produk fullday School. Pahit manis “sekolah plus-plus” atau lebih khusus “kelas plus-plus” telah kami rasakan. Hasilnya? Ya, seperti kami-kami ini.

Yang perlu saya tekankan di sini, tak perlu lhah kita terlalu menyempitkan arti “pendidikan”. Sekolah memang tempat belajar, tapi bukan satu-satunya tempat belajar. Jangan sampai karena terlalu mengagungkan sekolah, kita justru terjebak mendiskreditkan peran sentral orang tua, masyarakat, dan lingkungan.

Yah, barangkali ini bukan tentang lamanya jam pelajaran, namun lebih pada kebahagiaan anak secara sadar untuk berangkat ke sekolah. Karena sekali lagi, pendidikan itu proses. Jika memang “sekolah plus-plus” itu telah terbukti mampu bisa “membahagiakan” anak, bisa membantu anak menjawab nalar-nalar kritisnya, bisa menjadikan mereka peka dengan dunia alam dan sosialnya. Ya silahkan, dilanjutkan.

Lalu, bagaimana dengan sekolah lain yang belum menjadi “sekolah plus-plus”? dan jumlahnya masih menjadi mayoritas di Indonesia. Mungkin perombakan yang harus dilakukan bukan dari sisi itu, perbaiki saja kualitas proses pembelajarannya. Jika anak sudah “bahagia” belajar di sekolah, tidak perlu disuruh untuk “fullday” pun mereka akan selalu tertarik untuk belajar di manapun dan kapanpun.

Tidak percaya? Ya, silahkan dibuktikan.  

Surabaya, 10-08-2016