Kamis, 14 April 2016

Selamat Jalan Mbah Oemar Bakrie ku



“Hidup memang bermula dengan B (Birth) dan berakhir dengan D (Death). Dan yang harus senantiasa diingat bahwa diantara B dan D, ada C (Choice). Hidup adalah pilihan. Mau jadi pahlawan atau pecundang. Numpang lewat atau menebar manfaat.”

Ya, hidup memang hanya sekali. Karenanya, pilihlah hidup yang penuh arti. Yang penuh prestasi dan kontribusi. Yang jasadnya mati tapi namanya tetap abadi. Yang hidupnya mulia, matinya dikenang sejarah. Yang di dunia bahagia, di akhirat meraih surga. Yang di dunia dicintai manusia, di akhirat hidup bersama ridha Tuhannya. Sejatinya, itulah hakikat hidup sejati seorang manusia.

Kau telah pergi, memoar hidup sejenak kembali, dan seperti halnya kau, perjalanan hidupmu juga mengajarkan banyak hal. “Mbah Guru”, Ya, begitulah masyarakat di desa ini memanggilmu. Dulu, sewaktu kecil aku sempat heran mengapa orang-orang di desa ini memanggilmu dengan sebutan “Mbah Guru”? mengapa tidak dipanggil “Mbah Madin” atau “Mbah Fagi” seperti halnya mbah-mbah kebanyakan di desa ini yang biasa dipanggil mbah dan diikuti langsung dengan namanya. Dan  lambat laun, aku pun tahu bahwa sebutan itu melekat karena kau, adalah guru pertama di desa ini. Sang pembabat hutan kegelapan dan kebodohan. 

Desa itu memang hanya sebuah desa kecil di pelosok Pamekasan, Madura. Tapi, desa itu pulalah yang menjadi saksi dari perjuangan dan pengabdianmu. Mungkin, aku memang tidak tahu persis bagaimana jerih payahmu, bagaimana kerasnya episode kehidupan yang kau lalui hingga kau dihormati dan mampu mengangkat derajat keluargamu dengan status pendidikanmu. Tapi, bukan berarti aku tak tahu. Terlalu banyak orang yang menyimpan episode hidupmu dalam sejarah pendidikan di desa ini. Hingga hari ini, di hari paska kepergianmu, aku masih bisa melihat, mendengar, dan merasakannya.

Dulu, tentu tak banyak orang yang akan menyangka jika anak kecil yang bernama Asmadin, yang sedari kecil berkeliling desa menjajakan ikan bersama ibunya, karena memang ibumu berprofesi sebagai penjual ikan keliling yang oleh orang Madura disebut “blijjeh”, akan menjadi orang yang berpengaruh. Tak pernah ada keluh terucap dari bibirmu, dengan penuh ikhlas kau menjalani semuanya. Kau tetap melangkah meski lelah, tetap tersenyum meski sulit, dan tetap sabar di tengah takdir, hingga Allah pun membuka jalan yang membawamu masuk indah rencana-Nya. Ya, ada seorang saudagar kaya di desa kelahiranmu itu yang melihat kegigihan dan semangatmu. Hingga akhirnya saudagar itu memutuskan untuk memilihmu sebagai pengganti putranya yang tidak mau sekolah, dan terlanjur sudah ia daftarkan. Ah, rasanya, jika melihat kondisi hidupmu seorang pun takkan pernah membayangkan jika kau akan menjadi guru pertama di desa kelahiranmu, mengingat di jaman sebelum kemerdekaan pendidikan seolah hanya untuk kaum bangsawan.

Namun, bukankah kita juga harus percaya, tak pernah ada yang tahu darimana Allah akan memberikan pertolongannya, bukan? Yang jelas, Allah tidak pernah tidur tuk melihat kegigihan, semangat dan mimpi orang-orang sepertimu, Mbah.

Kaupun tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Allah untukmu. Dengan semangat kau belajar bersama cerah mentari, dalam sore yang menanti senja, dan bersama malam yang sedikit menggoda untuk segera terlelap dalam hangatnya mimpi. Kau tidak pernah merasa minder dengan statusmu sebagai putra “cok gunong” (istilah untuk putra yang berasal dari daerah terpencil) meski teman-temanmu berasal dari seluruh kabupaten di Madura, bahkan ada yang dari luar Madura, yang tentu dengan status social jauh lebih tinggi darimu. Ya, begitulah kau. Hingga kaupun menjadi siswa kesayangan gurumu dan diminta tuk tinggal dirumahnya. Sejak itu pulalah, namamu diubah menjadi “Fagi WirjoAsmoro”. Nama pemberian dari guru yang selanjutnya terus melekat padamu.

Kau hidup bersamanya dalam didikannya tuk menjadi seorang guru. Hingga akhirnya, kaupun lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Banyak tawaran pekerjaan yang datang padamu, mulai dari Pegawai Pemerintahan, Bank, dan Guru. Dan rupanya, jiwa seorang guru telah melekat dalam dirimu. Selayaknya, profesi seorang guru memang tidak hanya didasarkan pada gaji guru yang akan dinaikkan atau akan menjadi PNS, bukan pula merupakan pilihan terakhir setelah tidak dapat berprofesi di bidang yang lain. Tapi, lebih pada sebuah idealisme luhur demi tercipta generasi indonesia yang berkualitas di masa yang akan datang. Itulah prinsipmu.

Menurutmu, guru adalah pekerjaan mulia. Bagimu dan juga bagi Oemar Bakri lainnya, kesuksesan hanya ada jika kita bisa menjadi jalan sukses orang lain, dan hal itu bisa  didapatkan dengan menjadi seorang guru dan pendidik yang mampu menjadi pembuka jalan kesuksesan bagi anak-anak didiknya. Tentu, sukses disini tidak hanya dalam artian kemampuan intelektual semata, tapi juga berpijak pada moralitas yang agung sebagai basisnya. Itulah harapan tulus seorang pahlawan tanpa tanda jasa sepertimu.

Awal-awal kariermu sebagai guru, kau ditempatkan di sebuah desa yang terletak di kabupaten lain di Pulau Madura. Kala itu, kau juga baru saja mempersunting seorang gadis yang bernama Nafiyah. Kewajibanmu sebagai guru dan jauhnya jarak tempat tinggal dan tempat tugas menuntutmu untuk menyewa sebuah rumah di desa tempat kau mengajar. Tak ayal, setiap senin pagi kau membonceng sang istri turut serta ke desa dimana kau mengajar, dan tiap sabtu sore  akan pulang ke desa dengan sepeda ontel kesayanganmu. Begitulah, rutinas berulang setiap minggunya hingga kau dikarunia seorang putra di pertengahan tahun 1954. 
Baru setelah kelahiran putra ketigamu, desamu itu baru mulai terjamah oleh pendidikan. Sekolah dasar mulai didirikan dan kau diangkat menjadi kepala sekolah disana. Itu artinya kau tak lagi harus mengontel sepeda sejauh itu demi melaksanakan kewajibanmu sebagai guru. Kau akan menjadi peretas pendidikan di kampung kelahiranmu. Menjadi kepala sekolah tentu tak membuatmu memilih berleyeh-leyeh menikmati fasilitas. Karena bagimu, kepala sekolah tetaplah guru, hanya saja tanggung jawab sekaligus godaannya lebih besar. Ibarat sebuah tanaman, bukankah makin tinggi tanaman, angin yang menerpanya juga akan semakin kencang? Begitupun halnya dengan Kepala Sekolah. Dengan tanggung jawab dan kuasa yang lebih besar, tapi jika tidak hati-hati tentu akan terlena, hingga akhirnya terpedaya oleh candu duniawi.

Menjadi guru sekaligus kepala sekolah di daerah yang baru saja terjamah oleh pendidikan formal, memang bukan hal yang mudah. Kau beserta guru-guru lainnya harus berjuang keras membangun kesadaran baru masyarakat setempat akan pentingnya pendidikan. Walau kau tahu itu tak mudah, namun jiwa seorang pendidik terus menyemangati diri tuk terus melangkah demi mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam harap, akan terciptanya Indonesia, dan Madura khususnya sebagai bumi manusia berkualitas dan bermakna di hari esok.

Menjadi seorang guru juga tidak hanya dituntut mempunyai kewajiban ilmu-ilmu akademis, tapi lebih dari itu seorang guru juga memiliki tanggung jawab moral akan anak didiknya. Guru tidak hanya sebatas mengajar di depan kelas, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku seorang guru adalah contoh dan suri tauladan bagi murid-muridnya. Bagaimana bisa seorang guru mengajar tentang nilai kejujuran jika sang guru, yang notabenenya adalah orang yang mengajari tidak bisa melakukan hal-hal yang berbau kejujuran? Adalah kau contoh seorang pendidik yang memegang teguh nilai pekerti tersebut. Tak sebatang kapurpun kau tuliskan diluar keperluan mengajar, tak sebatang kayu proyek bangunan sekolahpun kau bawa pulang meski hanya sekedar untuk kayu bakar. Ah… andai saja, anak-anak Indonesia telah terbiasa terdidik dengan nilai-nilai kejujuran, sejak kecil dan dimulai dari hal-hal kecil. Tentu yang lahir adalah generasi yang tidak akan menjadikan Indonesia sebagai Negara terkorup di Dunia seperti saat ini.

Selain itu, bagimu seorang guru juga harus mampu mendalami makna dan komitmen sebagai seorang pengajar dan pendidik. Tidak hanya sebatas dalam gedung-gedung sekolah, melainkan seluruh waktunya didekasikan untuk pendidikan, baik dalam keluarga, dan juga masyarakat. Keluargamu, kau anggap sebagai sebuah lahan percontohan dalam proses pemberian dan penanaman nilai-nilai pendidikan. Dimata putra-putrimu termasuk ayahku, kau adalah sosok ayah terbaik sedunia, tidak hanya Ikal Lascar Pelangi yang mempunyai ayah seperti itu, tapi ayahku pun memiliki bapak yang tidak hanya menjadi ayah super baginya, tapi juga bagi masyarakat di desanya.

Namun, siapa yang menyangka ayah super sepertimu, sedari kecil justru tidak pernah menikmati kasih sayang dan didikan seorang ayah. Ayahmu meninggalkanmu, ibu serta adikmu dan memilih pergi merantau ke luar pulau Madura tanpa ada kabar, bahkan tak pernah kembali. Menurut informasi dari saudara-saudara ayahmu, ayahmu menikah lagi dan telah meninggal di jawa. Hingga akhir hayat ayahmu pun kau tak sempat lagi melihat jasadnya, bahkan liang lahatnya pun kau tak tahu ada dimana. Pilu, tentu. Terasa sangat berat untuk diingat jika enggan tuk mengatakan terharu.

Tak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah bukan berarti kau tak mampu menjadi ayah dan pendidik bagi anak-anakmu. Kau memang mendidik anak-anakmu dengan penuh disiplin. Kau memiliki cara tersendiri untuk menunjukkan kasih sayangmu. Tidak hanya ayahku yang berkata demikian, paman dan bibi pun tak memungkirinya. Kau tidak akan segan-segan untuk mengikat anak-anakmu di pohon jati dekat persawahan belakang rumah semalaman, jika anak-anakmu ketahuan berbohong, melalaikan tugas, ataupun bertengkar dengan saudara sendiri maupun dengan orang lain. Kau selalu ajarkan mereka solidaritas dan empati yang tinggi terhadap sesama. Kala itu, memang anak-anakmu sudah bisa dikatakan anak orang terpandang, dan lebih mampu dibanding warga sekitarnya. Tapi kau tak pernah henti memupuk kemandirian dan kedisiplinan mereka sejak kecil. Tak ada satupun putramu yang kau manjakan. Mereka juga harus bisa melakukan aktifitas layaknya orang desa pada umumnya. Yang laki-laki harus berani dan bisa menggarap sawah. Sementara yang perempuan harus bisa melakukan pekerjaan rumah tangga dengan baik. 

Hanya saja, layaknya orang-orang di zamanmu, memang ada pembedaan perlakuan dalam hal pendidikan antara anak laki-laki dan anak perempuan. Karena memang, kultur di zaman itu mengatakan demikian. Hanya anak laki-laki yang berhak sekolah. Sementara untuk anak perempuan, cukuplah hanya mengerti ilmu agama dan ilmu-ilmu dasar rumah tangga. Namun, lambat laun  tepatnya di penghujung tahun 1980-an, pemikiranmu pun berubah, kau mulai menyadari pentingnya emansipasi wanita terutama dalam hal pendidikan. Putri bungsumu kau sekolahkan setara dengan putra-putramu, hingga perguruan tinggi. Dan kini, merekapun menjadi guru sepertimu, termasuk salah satunya adalah ayah terbaikku, yang darinya aku dengar alunan cerita hati masa lalu yang menginspirasiku tuk selalu bersyukur dan memanfaatkan kemudahan-kemudahan yang ku dapat saat ini untuk terus melangkah membangun kebermaknaan diri, bagi agama, masyarakat, dan negeri ini.

Kau memiliki orang-orang hebat yang mengantarkanmu menjadi bapak guru, baik dalam keluarga dan masyarakat desa Rang Perang Laok Kecamatan Proppo Kabupaten Pamekasan Madura. Dan kini kau menjadi orang hebat yang mengajarkanku tentang arti perjuangan, kejujuran, dan tanggung jawab. Belajar dari kisah perjalanan hidupmu, aku menjadi semakin mengerti bahwa Ilmu itu mengangkat derajat orang yang mempelajari. Memudahkan orang yang mengamalkan, makin bertambah jika dibagikan, dan akan abadi jika dituliskan. Ilmu itu, mencahayaii gelapnya peradaban, membalik nasib menuju keberkahan, dan memantik hadirnya kebahagiaan.

Sampai di penghujung akhir hayatmu, betapa kau masih sangat bangga dengan profesi gurumu. Kau masih ingin memakai baju PGRI kebanggaanmu, tak peduli baju itu telah sangat kusut dan kusam, bahkan berhias beberapa sobekan setelah hampir 26 tahun tersimpan selepas kau purna tugas. Saat terakhir kali aku bisa berbicara denganmu di ruang ICU, sehari sebelum kepergianmu, masih teringat jelas kau memintaku tuk mencarikan dan mengambilkan sandalmu. Ya, di tengah kondisimu yang tengah terbaring lemah berbalut banyak selang, kau masih ingin melangkah. Dan waktu itu, aku hanya bisa menangis.

Dan kini, kau telah benar-benar pergi.

Semoga segala amal ibadahmu diterima mbah, dan kau diberi tempat terbaik oleh-Nya. Doakan selalu cucumu, agar bisa menjadi orang bermanfaat sepertimu. Semoga, cucumu ini bisa meneruskan langkahmu, menjadi pejuang pendidikan. 

Selamat jalan Mbah Fagi, Mbah Oemar Bakrie.(02-09-1930 -  05-04-2016)