Rabu, 15 Maret 2017

Jangan Takut jadi Ibu Rumah Tangga

*Tulisan yang sangat apik sekaligus mengena dari mbk Nafila Rahmawati. Tentang perempuan dengan pendidikannya, karir, kewajibannya mjd seorang istri dan ibu yang baik, dan pandangan orang lain yang seolah tak bisa lepas darinya.

Tidak.
Kita tidak sedang berbicara tentang Dian Sastro, yang meskipun sudah S2 tetap mengurus anak di rumah, yang karena takdir rezekinya dilebihkan Tuhan maka dia bisa part time bekerja dan tetap membawa anak, yang karena begitu ajaibnya auranya maka dia tidak dicerca meskipun menjadi ibu rumah tangga.

Kita bicara realita, tentang banyaknya kaum wanita yang punya segudang aset dan potensi untuk bersinar di luar rumah namun memilih kembali pada peran konvensional mereka, menjadi ibu rumah tangga yang di rumah saja.

Kita bicara fakta, tentang banyaknya wanita yang berjibaku dengan post power syndrom mereka selepas meninggalkan kerja, entah itu demi anak dan keluarga atau demi menggenapkan dalil-dalil agama, di mana niat mereka sesungguhnya mulia namun masih saja dipandang sebelah mata dan dicerca hina.

Kita bicara tentang sengketa, bahwa menjadi ibu bukan dikotomi antara ibu pekerja atau ibu rumah tangga, namun kita lihat sendiri betapa banyak dari wanita yang mudah diadu domba hanya untuk pengakuan semata.

====
"Mantumu piye, Jeng? Kerja di mana sekarang yang lulusan terbaik itu?" tanya seorang ibu pada teman kerjanya
"Walah, habis melahirkan kok ya resign Jeng. Eman-eman padahal sekolahnya mahal, kerja gajinya ya lumayan, kok ya dilepas kerjanya. Lha sekolah anak kan ya mahal sekarang, mosok mau nggantung sama suami tok kan yo nggk cukup", jawab si empunya menantu

Atau

" Yaelah yakin lo resign jadi ibu rumah tangga? Engga ada enaknya kali seharian di rumah mulu. Engga pegang duit sendiri, engga setara sama suami", timpal seorang teman saat rekannya bercerita visi hidupnya ke depan.

====
Perbincangan di atas pasti ada, meskipun tidak ditujukan langsung ke muka kita tentang betapa 'tidak berharganya' menjadi ibu rumah tangga yang tidak bekerja.

Ada aroma mendiskreditkan, ada nada menyalahkan pilihan, ada hidup yang dibandingkan.

Menjadi ibu rumah tangga yang di rumah saja adalah perjuangan, tidak selalu lebih mulia dari ibu yang bekerja karena tantangan akan selalu menggoda berkelanjutan.
Anak-anak tidak akan selalu mudah, dan sabar harus selau diasah. Bisa jadi yang bertemu dengan anak sepanjang hari hanya mengobral amuk tiada henti ketimbang yang hanya punya jatah bertemu di penghujung hari.

Menjadi ibu rumah tangga yang di rumah saja adalah peperangan, satu titik tawar yang penuh pertimbangan. Soal apakah bekerja akan menambah value bagi umat atau pribadi, atau di rumah justru berperan sebagai pengukuh pondasi.

Kembalikan saja pada diri sendiri dan ridho suami, sejauh apa kita perlu berkontribusi, selebar apa jangkauan aktualisasi diri. Jangan memaksakan berloncatan demi mereguk pengakuan, sementara ajaran adab dan pelukan harian jatah anak kita abaikan.
Menjadi ibu rumah tangga yang di rumah saja adalah pilihan yang butuh kekuatan, karena seorang ibu tidak bisa berdiri sendiri dalam sebuah pernikahan. Kadang aroma nyinyir justru datang dari keluarga besar yang berbeda pandangan.

===
Berbahagialah mereka yang menjadi ibu rumah tangga karena suami sudah cukup memfasilitasi dan menafkahi, tanpa perlu memusingkan bagaimana tambahan materi, tinggal mengejar pintu surga mana yang ingin lebih dulu dimasuki.

Berbahagialah mereka yang menjadi ibu rumah tangga karena kesadaran pribadi, bahwa dunia yang sudah menua dan bahaya tidak cukup untuk dipercaya lagi, bahwa anak harus diurus dengan tangan pertama sendiri.

Berbahagialah mereka yang menjadi ibu rumah tangga karena meresapkan dan menggenapkan janji Tuhan dalam hati, bahwa setiap makhluk sudah dijaminkan atas rezeki, tinggal mencari bagaimana rezeki tersebut turun terberi tanpa harus mematok dalam bentuk materi. 

Dan berbahagialah para ibu yang masih bekerja, yang menemukan passion pada dunianya, yang diberikan restu dan doa oleh para suaminya, yang tetap terurus dan sakinah rumah tangganya, yang tetap sehat terdidik akhlak keluarganya, yang tetap terjaga dalam iman dan kebersahajaan, yang tetap menebarkan manfaat untuk kemanusiaan.

===
Menjad ibu, adalah satu dunia yang sungguh lucu.
Drama, ketika kita berusaha mendahulukan keluarga lalu dicap pemalas tidak mau bekerja, menyia-nyiakan umur dan ijazah sekolah.
Drama lagi, ketika kita bekerja lalu diaggap mengabaikan keluarga dan tidak menimbang untung ruginya meninggalkan anak pagi petang.

Di saat para ibu sepatutnya saling menguatkan, mereka justru terpancing saling menjatuhkan. Tidak hanya antar kawan, tapi juga dalam keluarga yang mestinya jadi tempat curhat yang nyaman. 

Jika anak-anak atau menantu kita adalah ibu rumah tangga, cukupkan saja menguatkan jiwa mereka. Berterima kasihlah karena mereka sudi mengurus anak lelaki dan cucu kita dengan tangan sendiri, tanpa perlu ada tugas yang terdelegasi pada pihak yang belum tentu kompeten terverifikasi.
Simpan rapi pertanyaan, gugatan atau tuntutan, cukup mari kita doakan agar Tuhan mengguyurkan berkah yang dilebihkan.

Jika kawan kita adalah ibu rumah tangga, cukupkan saja mendengar celoteh remeh keseharian mereka. Tentang dapur atau tentang kasur, tentang anak atau penuhnya benak. Mereka bukan makhluk yang butuh tepuk tangan atau pengakuan, hanya sedikit sapaan agar tidak merasa sendirian.
Simpan rapi renungan kita mengapa ia lebih gemukan atau tidak bisa berdandan, mungkin bukan fisik yang sedang ia prioritaskan.

Jika ibu kita adalah ibu rumah tangga, cukupkan kita melempar beban dan pekerjaan. Pasang target untuk diri sendiri tentang kapan kita akan membahagiakan, tidak selalu tentang materi yang kembali namun tentang bakti budi.

Jika istri kita adalah ibu rumah tangga, well... Apaun predikat para istri dan ibu, para suami perlu meluangkan momen bermutu untuk mensyukuri dan mengapresiasi betapa mereka telah berjuang di jalan pilihan mereka.

====
Jangan takut menjadi ibu rumah tangga, karena ilmu dan rezeki bisa diperoleh dari mana saja asal kita selalu mau bergerak maju ke depan, asal kita mau menerima masukan.
Jangan takut menjadi ibu rumah tangga, setaranya gender belum pasti terjadi dengan karir yang harus didongkrak dengan presisi, feminisme bukan solusi.
Rumah tangga hanya akan setara dalam diskusi yang memanusiawikan, karena suami menghargai istri dan istri menghargai suami bukan karena sesuatu yang sifatnya duniawi.

Jangan takut menjadi ibu rumah tangga, celaan manusia sifatnya hanya sementara, pun kita tidak berdiri hidup dari donasi mereka, pun mereka akan selalu berkomentar atas setiap perubahan dalam hidup kita. Jangan takut menjadi ibu rumah tangga, kalau niat dan pertimbangan kita landaskan kuat pada Tuhan, maka kita sudah punya sekuat-kuatnya penjagaan.

Bu, percayalah dunia masih menganut standar ganda. Kalau Dian Sastro dan Nia Ramadhani yang menjadi ibu rumah tangga, maka sama sekali tidak akan terlihat hina. Apalah daya kita yang daster lima puluh ribuan yang disebut penadah suami gajian.
Sudah Bu, lambaikan tangan dan maju ke depan. Meski kadang celometan tetangga atau keluarga sadis tanpa batasan, percayalah selalu ada Tuhan yang memastikan kita dalam pelukan.

Tulisan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk menyudutkan pilihan ibu bekerja. Ditulis semata untuk menguatkan mereka yang sedang menyambung semangat dari rumah.

*Jujur, tulisan mbk Nafilah memang selalu mengena bagi saya. Mbk Nafilah ini adalah teman dunia maya saya. Ibu satu orang anak yang mencintai dunia literasi, dan kini bekerja di rumah sebagai Senior Book Advisor Penerbit Mizan.

Ya, Karena wanita perlu untuk saling menguatkan. 

Untuk menjadi istri yang menguatkan

Menjadi ibu yang menguatkan

Menjadi anak dan menantu yang menguatkan

Bahkan nantinya, menjadi mertua yang menguatkan. 

0 komentar:

Posting Komentar