Rabu, 02 November 2016

Head, Heart, And Hand



Jagat raya ini memang demikian ramai, sibuk, dan penuh gejolak. Betapa tidak, semesta dengan segala isinya senantiasa sibuk dengan segala aturan yang harus dijalani. Lihat saja bumi, selain berotasi pada porosnya, ia juga melakukan tawaf bersama matahari dan planet-planet lain. Sementara matahari senantiasa memancarkan cahaya ke penjuru planet, termasuk bumi.

Semua bergerak sibuk!

Semua kesibukan itu berlaku bagi seluruh jagat berikut isi dan setiap hal yang ada di dalamnya. Dari kesibukan jagat raya yang ramai itu, tidak ada yang lebih ramai selain jagat pikiran kita. Jagat pikir adalah jagat cipta. Kita dapat saja duduk di kursi sambil meneguk kopi, tetapi siapa yang dapat menebak ke mana saja arah alam pikiran kita melayang dan menerjang. Kadang, jagat pikir kita lebih dari sekedar sibuk, bahkan macet! 

Kita sudah tidak lagi terbiasa berpikir jernih untuk menemukan hal-hal positif. Jangankan untuk memikirkan hal-hal kreatif dan inovatif, untuk menemukan solusi diri saja sudah tidak terkendali.

Selain jagat pikir, demikian pula dengan hati. Orang sering mengatakan, “hati adalah cermin”. Sebuah kalimat singkat, namun sarat makna. Kita tahu, cermin memiliki karakter merefleksikan apa saja yang ada di hadapannya. Namun, sang cermin tidak selalu sempurna memantulkan gambar atau rupa jika sang cermin sendiri kotor dan gelap.

Membersihkan hati adalah tugas manusia tiada henti. Sepanjang tarikan nafas, manusia dengan segala keyakinan yang dimiliki berupaya membenahi diri agar senantiasa berarti. Semua itu dilakukan demi mendapati gambar dan rupa secara utuh dan sempurna. Itulah hati. Dan hati, hanya bisa dibersihkan oleh yang “memiliki” hati. Dialah sang Hati.

Jika alam pikir adalah cipta maka alam hati adalah sebagai rasa. Jika demikian, yang bisa kita lakukan hanya pasrah, bersedia untuk senantiasa “mengheningkan” cipta. Lalu, kita memohon kepada sang pemilik hati agar sennatiasa memberi bimbingan dan cara terbaik dalam membersihkan hati.

Sekali waktu, coba kita renungkan apa yang kita lakukan sejak kita bangun hingga kembali beranjak tidur. Ketika fajar menyingsing dan cahaya matahari menyergap, yang selalu menjadi pikiran kita adalah banyaknya uang yang harus kita dapatkan hari ini. Dalam bahasa lain, kita akan mengatakan keuntungan apa yang bisa diperoleh hari ini. Apapun yang kita lakukan tujuan akhirnya adalah uang. Secara sederhana, kita mempunyai logika bahwa jika saya mendapatkan uang, saya bisa membeli makan. Jika saya  makan, maka saya akan sehat. Jika saya sehat, saya dapat bekerja. Jika saya bisa bekerja, saya bisa mendapatkan uang. Inikah yang menjadi pola dan rutinitas kita sehari-hari?
 
Ya.

Tanpa kita sadari, uang telah semakin mendewa, kita akan menjadi hamba-hamba yang akan saling 
bersinggungan, bahkan berselisih untuk mendapatkan sang dewa. Uang telah menggeser nilai dan jati diri manusia sebagai manusia spiritual.

Time is money. Satu ungkapan modern yang demikian popular di telinga kita. Sadar atau tidak ungkapan ini menjelaskan secara nyata bahwa segalanya diukur oleh (dengan) uang. Sehingga setidaknya setiap gerak dan langkah kita selalu diisi dengan segala hal yang bernilai atau menghasilkan uang. Jika hal ini yang menjadi orientasi hidup kita. Betapa kering kehidupan ini, semua selalu diukur dengan uang, uang, dan uang.

Padahal, apa yang kita buru selama ini, seperti uang, kekayaan, dan popularitas, bukanlah sesuatu yang abadi. Terlalu banyak cerita yang menuturkan mengenai orang yang sering tergelincir pada wilayah kekayaan 
dan jabatan tinggi. Sederhana saja, orang yang sebelumnya memiliki kepekaan dan solidaritas sesama kawan, kemudian menjadi sirna hanya karena statusnya berubah menjadi seorang yang “ber-uang”.

Karena itulah, saya lebih menganggap keistimewaan seseorang dari bagaimana dia tersenyum pada sekitarnya. Menaruh kesempurnaan bagaimanapun juga saat dia kekurangan. Sederhana adalah saat kita menjadikan segala sesuatu yang ada dan terjadi tepat menjadi kebahagiaan.
Dari mereka yang tetap sederhana, saya belajar. 

Sebuah refleksi, dan sebuah renungan.

Disleksia, bukan penyakit kok!


Disleksia? Apa itu?

Kata “Disleksia” pertama kali saya dengar dari sebuah film yang menceritakan tentang kesulitan seorang anak untuk membaca dan menulis. Dalam film tersebut diceritakan bagaimana seorang anak berumur sekitar 8-9 tahun -yang ternyata mengidap disleksia-, terlanjur mendapat label “anak bodoh”, bahkan dari ayah dan gurunya sendiri.

Setelah menonton film tersebut, saya jadi teringat pada salah satu sepupu saya, yang saat ini telah menginjak kelas 2 SMA, tapi belum mahir dalam membaca dan menulis. Lalu, bagaimana dia bisa naik kelas?

Dalam hal ini mungkin sepupu saya tersebut sedikit lebih beruntung karena dia tidak harus mengalami  riwayat “tinggal kelas”, serta tidak harus mengalami fase labeling “anak bodoh” secara langsung dan kasar seperti yang dialami oleh si tokoh dalam film. Beruntungnya lagi, orang tuanya lebih bisa menerima kondisi dia, dan tidak membanding-bandingkannya dengan sang kakak. Jadi, untuk pembentukan mental dan psikisnya, dia tidak mengalami masalah hingga saat ini. Perlakuan yang dia terima dari lingkungannya lebih pada pemakluman, sekaligus rasa sungkan pada kedua orang tuanya.

Sama halnya seperti di film, kekuatan dan ketegaran sang ibu sangat diuji, begitupun halnya dengan tante saya itu. Tentu bukan hal yang mudah baginya, meski di luar nampak selalu baik-baik saja, mampu bersikap masa bodoh dengan gunjingan atau bahkan cemooh orang, tapi dalam hatinya, dalam pikirannya, yang ada hanyalah anak dan masa depan si anak, apalagi anak itu adalah anak laki-lakinya.

Sebenarnya, tanda-tanda “lamban” dalam proses belajar telah ada sejak dia kecil. Malah, waktu itu ada yang menyarankan agar sepupu saya itu dimasukkan ke sekolah luar biasa. Tentu saja ayah-ibunya menolak, wong anaknya normal kok. Alhasil, dia tetap menempuh pendidikan di sekolah layaknya anak pada umumnya. Guru-guru les pun selalu didatangkan untuk membantunya belajar. Sayangnya, tetap belum ada perkembangan yang signifikan hingga saat ini.

Hingga tante saya itu pernah berkata pada ayah saya, “Saya seorang guru kak, ayahnya juga guru, tapi kami tidak bisa mengajari anak kami sendiri”. Ya, akhirnya yang mengalami frustasi adalah tante saya. Semacam ada rasa bersalah dalam dirinya, juga ada beragam ketakutan sekaligus kekhawatiran akan masa depan anak-anaknya.

Tante saya itu adalah bungsu dari lima bersaudara, dan selama ini yang selalu menjadi tumpuan segala keluh kesahnya adalah ayah saya, kakak tertuanya. Saya pribadi juga bisa dikatakan sangat dekat dengan keluarganya, dengan anak-anaknya. Bahkan, sepupu saya itu sangat nurut pada saya dan adik saya Fajar. Ya, dia butuh diemong.

Yang sangat saya sayangkan adalah mengapa saya baru mengenal disleksia setelah saya dewasa, dan lebih banyak memahaminya ketika harus menulis artikel bertema parenting –yang salah satunya membahas tentang disleksia-.

Seandainya sejak dulu saya tahu, mungkin saya bisa menjelaskan dan menyarankan orang tua saya dan tante saya terkait cara-cara menangani anak Disleksia.

Disleksia bukan penyakit kok, tapi merupakan salah satu gangguan dalam pembelajaran yang biasanya dialami oleh anak-anak. Mereka yang mengalami Disleksia dapat dipastikan adalah orang yang tidak mengalami kecacatan, gangguan pendengaran, atau penglihatan, dan bahkan sebagian dari mereka adalah orang-orang dengan intelektual tinggi. Bahkan, tokoh sekaliber Einstein, di masa kecilnya adalah anak Disleksia.

Disleksia terjadi akibat kerja otak yang berbeda daripada keadaan normal. Ada fokus yang berganda atau menyebar, satu huruf bisa terlihat tumpuk dua atau tiga, sehingga menyebabkan si anak kesulitan untuk membaca dan menulis. 

Disleksia hanya boleh ditangani oleh psikolog atau terapis Disleksia. Pengidap Disleksia pada umumnya akan diberi terapi untuk meningkatkan kemahiran linguistik, berpikir, dan sosial. Cara ini untuk membantu anak meningkatkan perkembangannya dalam hal membaca dan menulis. Jika anak mendapat penanganan yang tepat dan intensif, anak Disleksia akan dapat membaca seperti anak normal bahkan bisa memiliki IQ melebihi anak kebanyakan.

Duh… nyesel banget deh, kenapa nggak dari dulu-dulu tahu hal-hal beginian. Ya, semoga saja belum terlambat, mengingat sepupu saya itu kini telah remaja dan memasuki masa puber. Untuk menanganinya tentu perlu cara-cara tersendiri, kan?

Entah kenapa sepupu saya ini sering sekali tiba-tiba nelpon, atau menyuruh ibunya menelpon saya, untuk sekedar bincang-bincang. Dia hampir sepantaran dengan adik saya Aank, jadi ya, yang bisa saya lakukan ya tetap menjadi kakak dan sahabatnya, sesekali mendengarkan dia bercerita tentang teman-temannya, sembari menyelipkan ajakan-ajakan kecil untuk mengajaknya belajar. 

Bukankah tugas orang di sekitarnya adalah membantu dia untuk menemukan keunggulan dirinya agar bisa merasa bangga dan tidak pesimis terhadap hambatan-hambatan yang dialaminya. Bukan begitu?

Setiap anak adalah bintang, meski tidak pada langit yang sama. 


Selasa, 01 November 2016

Karir, Nikah, atau Pendidikan?



“Setelah Lulus S2 mau ke mana?”

Sebenarnya, pertanyaan jenis ini pernah ada dalam fase hidup saya sebelumnya. Fase setelah lulus kuliah memang menjadi sebuah tonggak sejarah yang penting dalam perjalanan hidup seseorang. Bedanya, dulu ketika baru menjadi seorang sarjana baru, yang ada dalam pikiran saya hanyalah ego yang tinggi tentang pekerjaan. Hingga akhirnya saya mengerti bahwa untuk mencari pekerjaan yang pas, yang sesuai dengan passion, tujuan, dan mimpi-mimpi hidup itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.

Kini, pertanyaan serupa kembali hadir, yang barangkali dengan beban mental yang jauh lebih berat. Karena tentunya, dengan gelar S2 yang telah kami sandang, begitu banyak tuntutan yang akan hadir, utamanya yang berasal dari cermin social.

Pernah suatu waktu, saya dan teman-teman terlibat dalam sebuah perbincangan tentang apa yang akan kita lakukan selepas kita lulus kuliah. Lebih enak mana menjadi guru SMA atau Dosen? Kemudian berlanjut pada sebuah masalah yang bisa jadi akan menghampiri kami semua nantinya. Berkarir atau tidak setelah menikah? 

Pembahasan tentang masalah ini langsung menjadi topik hangat, mengingat yang terlibat dalam perbincangan ini mayoritas adalah wanita-wanita muda yang memang belum menikah. (Oh ya, kelas ini memang kelas dengan mahasiswa paling muda-muda diantara semua angkatan yang pernah ada, jadi tidak heran jika tingkah kami masih pecicilan, layaknya mahasiswa S1, hahha)

Topik ini muncul karena curahan hati dari seorang sahabat saya sekaligus kakak tingkat saya zaman S1 dulu. Dia bercerita bahwa “calonnya” melarang dia untuk meniti karir selepas menikah nanti. Menjadi berat bagi dia mengingat selama ini dia telah terbiasa dengan kesibukannya mengajar, dan berbeda dengan saya yang cenderung  lebih suka berada di rumah, dia adalah tipe orang dengan kepribadian ekstrovert, mencintai keramaian. Selain itu, setelah menikah nanti, dia akan diboyong ke luar jawa. Wow… bisa dibayangkan, dia akan jauh dari keluarganya, dari teman-temannya, dan dari hingar-bingar kota besar seperti Surabaya -karena teman saya ini adalah fashionista sejati-, dan harus berada di rumah? Tentu, akan sangat membosankan bagi dia, bukan?

“Rugi dong S2 kamu kalau kamu nggak boleh kerja?” celetuk salah seorang diantara kami

“Tapi kenapa dia nyuruh kamu S2 ya mbak, kalau akhirnya nggak boleh kerja? Tujuannya apa coba?” sahut teman saya yang lain

Hmm... Pada akhirnya, masing-masing pribadilah yang akan memutuskan. Bukankah bagi seorang wanita, sebuah perbincangan memang tidak menuntut untuk hadirnya sebuah solusi? Meski demikian, setidaknya, dengan adanya perbincangan ini, pikiran kami menjadi lebih terbuka bahwa segala hal memang selalu terdiri dari dua sisi.

Menjelang wisuda, mulai merebak pengumuman tentang pengajuan beasiswa LPDP untuk jenjang doctoral. Beberapa teman menyambutnya dengan antusias, bahkan satu diantara teman kelas kami sudah ada yang lolos. 

“Orin nggak mau nyoba beasiswa S3 LPDP? Yuk, nyoba yuk!” ajak salah satu teman saya. 

Hmm… jujur, tak pernah terlintas dalam benak saya bahwa saya ingin melanjutkan S3. Karena kenapa? Pertama, saya merasa bahwa saya belum memiliki kapasitas untuk menjadi mahasiswa doctoral. Kedua, saya berpikir, sudah cukup saya menjadi mahasiswa yang berkutat dengan diktat dan tugas, kini saatnya saya mengamalkan ilmu yang saya miliki. Perkara suatu saat saya ditakdirkan untuk kembali ke kampus, itu soal lain. Ketiga, saya merasa sudah saatnya saya belajar di universitas kehidupan, atau bahasa sederhananya, menikah. hihihi…

Nah, alasan yang ketiga inilah yang sering saya jadikan tameng sekaligus guyonan setiap kali ada yang menanyakan tentang keberlanjutan studi saya.

“iya mau.. S3 (Es tri/istri) tapi…” jawab saya dengan seutas senyum

Duh, pokoknya, usia seperempat abad itu memang dikit-dikit bawa perasaan deh, apalagi untuk urusan yang satu ini. Ya, seperti kita-kita ini.  

Pasca wisuda, yang menjadi trending topik pembicaraan adalah lowongan pekerjaan  utamanya untuk menjadi dosen. Tentang penawaran dari kampus almamater, lowongan dosen atau peneliti yang lumayan banyak di luar jawa, atau tentang kesempatan untuk menjadi PNS di kementerian pusat.

“Dijalani aja yang ada, ndak usah terlalu jauh, biar bisa sering-sering pulang” ucap ayah saya ketika saya bercerita tentang teman-teman yang mulai mencoba ini-itu. 

Sebenarnya, saya pribadi juga hanya ingin bercerita sih, tanpa bermaksud apa-apa -karena memang kebiasaan saya tiap kali pulang untuk bercerita apapun pada ayah-ibu-. Tidak seperti dulu ketika baru lulus S1, saat hasrat untuk merantau dan memperjuangkan mimpi masih menggebu. Bukan berarti saat ini hasrat memperjuangkan mimpi itu telah padam lhoh ya, hanya saja, kini saya telah tahu apa mimpi saya yang sebenarnya. Pertimbangan lain, saya anak perempuan satu-satunya, tidak seperti adik-adik saya yang bebas merantau untuk menuntut ilmu dan mengamalkan ilmu, saya mah di sini saja, dekat rumah, bisa sering-sering pulang, sebelum nanti pada waktunya dibawa suami. Eaa…. Baper lagi kan. hahahah

Ya, setiap orang mengukir perjuangannnya sendiri. Dan, selalu ada kisah-kisah yang terserak tentang perjuangan dalam meraih banyak hal. Setiap orang bebas menentukan arah hidupnya. Setiap orang bebas memperjuangkan apa yang diyakininya. 

Tapi, pada akhirnya orang-orang yang punya komitmen, merasa cinta dengan apa yang ia lakukan, dan selalu berangkat kerja dengan penuh semangat adalah orang-orang yang sedang membuat perubahan. Dengan energi yang dimilikinya, mereka berbagi dan mendorong orang lain untuk merasakan hal yang sama, kebahagiaan – dalam bentuk apapun-. Termasuk meneruskan apa yang pernah didapatkannya dalam hidup ini. Meneruskan kesempatan dan kepercayaan.

Well, Selamat berjuang teman-teman. Good Luck.

Selasa, 30 Agustus 2016

Perempuan berpendidikan tinggi, what’s wrong?



“Mbak Orin mboten pengen nikah ta? Kok sekolah terus?”

Deg. Sejenak saya termangu mendengar pertanyaannya. “nggeh, pandungane mawon!” jawaban diplomatis dengan seutas senyum -yang sedikit dipaksakan-  menjadi satu-satunya alternative pilihan.

Pernah suatu waktu, saya juga sempat membaca sebuah komentar di salah satu akun socmed teman saya, yang isinya kurang lebih begini, “cantik-cantik belum laku, yang dipikir sekolah terus sih. Habis S2, S3?”

Percaya atau tidak, pertanyaan atau komentar semacam ini jauh lebih nyelekit daripada pertanyaan “kapan nikah?”  Duh… bisa nggak kalian sedikit saja mengerti bagaimana perasaan kami? Setidaknya, sebelum kalian sibuk berkomentar dan mengurusi hidup orang lain. Pilihan-pilihan hidup kami. 

Andai kalian tahu, kami juga perempuan biasa, yang mimpi terbesar kami adalah bisa menjadi seorang istri dan ibu yang baik. Dalam lubuk hati kami yang terdalam, kami juga ingin segera merasakan kebahagian membangun sebuah keluarga. Tapi, jika saat ini kami masih memilih menyibukkan diri dengan belajar, meningkatkan kualitas diri kami, apa itu salah?

Oh come on baby, semua orang memiliki jalan dan waktunya sendiri. Jika saat ini kalian telah berbahagia dengan kehidupan baru kalian, silahkan dinikmati dan berbahagialah. Tak usah kalian sibuk meluangkan waktu berharga kalian dengan mengurusi hidup kami. Ok, anggaplah itu salah satu bentuk perhatian kalian. Tapi bagi kami, cukup dengan hargai perasaan kami -syukur-syukur jika kalian berkenan untuk mendoakan- itu sudah jauh lebih dari cukup. 

Barangkali memang benar, orang-orang selalu merasa lebih tahu dengan apa yang seharusnya orang lain lakukan. Sesuai atau tidak sesuai dengan pandangan mereka, mereka akan tetap saja sibuk berkomentar. Mungkin, ada baiknya jika di masa ini, para wanita muda termasuk juga saya, harus pintar-pintar untuk bersikap sesuai posisi dan kondisi. Ada waktu dimana kita harus menghargai pendapat mereka, tapi di lain waktu juga berhak untuk membebalkan diri dari semua komentar mereka. Karena bagaimanapun, hidup tidak pernah bisa disamaratakan.

Pernah juga seseorang berkata pada saya, “Perempuan itu gak perlu sekolah tinggi-tinggi sampe S2, nanti laki-laki takut yang mau mendekat,”

Hmm… saya menjadi semakin bertanya-tanya, apa sih yang salah dengan perempuan yang berpendidikan tinggi? Bukankah semakin bagus jika semakin banyak perempuan yang berpendidikan? Mereka kan madrasah pertama dan yang utama bagi anak-anak. Logikanya, jika madrasahnya saja sudah baik, bukankah hasil didikannya nanti juga akan semakin berkualitas?

Pernah dengar kalimat ini, “mendidik seorang laki-laki itu mendidik pemimpin, dan mendidik seorang perempuan sama halnya dengan mendidik satu generasi.”

Saya pribadi memahami betul makna dari kalimat tersebut. Bersyukur saya bisa tumbuh dan berkembang dalam sebuah keluarga yang hangat. Ibu yang selalu ada dan memantau setiap perkembangan si anak. Ibu yang selalu mendukung ayah, menasehati ayah jika ayah salah, dan berembuk untuk menyelesaikan masalah bersama. Ya, saya menjadi mengerti bahwa menjadi perempuan itu harus kuat, dan harus cerdas. Saya menjadi semakin paham makna dari pepatah yang mengatakan bahwa dibalik suksesnya seorang laki-laki, ada perempuan yang mendampinginya. Istri dan Ibunya.

Jika yang kalian khawatirkan adalah kami akan jauh lebih berkuasa –dengan gelar kami-, sepertinya kalian harus pahami ini terlebih dahulu, pernikahan itu bukan sebuah kompetisi, right? Sehebat-hebatnya wanita cerdas mereka juga paham bahwa suami adalah imam mereka dan segala perintahnya adalah kewajiban.

So, jika suamimu kelak menyuruhmu untuk tidak bekerja, apa nggak sayang S2 kamu? Rugi dong orang tuamu nyekolahin kamu tinggi-tinggi kalo ujung-ujungnya hanya tinggal di rumah.

Sebenarnya ini bukan tentang mana yang lebih baik, ibu rumah tangga atau ibu yang bekerja. Tentu, sebagai perempuan dengan bekal pendidikan yang lebih dari cukup, kami ingin berkarir, berkarya mengamalkan ilmu, dan mandiri secara financial guna membahagiakan orang tua di hari senja.

Tapi, lebih dari itu, ini juga tentang seikhlas apa orang tua membesarkan anak perempuannya.

Bagaimana tidak, ketika kita melihat seorang perempuan dengan gelar strata satu dua atau tiga, tapi memilih membaktikan kebermanfaatan hidup untuk keluarga barunya, mungkinkah kita tidak melihat ke belakang untuk berapa banyak rupiah terhambur demi pendidikannya?

Ya, itu sangat wajar. Bagaimanapun orang tua telah mengorbankan segalanya untuk anak-anaknya. Jadi patut rasanya jika ada keinginan untuk membahagiakan mereka dengan kesuksesan kita. Namun, itu akan sangat jauh berbeda ketika anak itu adalah anak perempuan. Saya pernah membaca sebuah kalimat, memiliki anak perempuan itu hanya bisa membesarkan, tapi tidak bisa memilikinya. Dan kini saya baru menyadari kebenaran kalimat itu.

Beruntung orang tua saya adalah orang tua yang paham akan peran sentral seorang perempuan dalam sebuah keluarga. Tidak masalah seberapa tinggi pendidikan seorang perempuan, atau seberapa fantastis potensi nominal rupiah yang bisa ia hasilkan. Keberadaan ragawinya di rumah adalah sesuatu yang sangat dirindukan.
Dari jauh-jauh hari sebelum saya menyelesaikan studi saya di program magister, ibu telah mewanti-wanti saya, bahwa ketika nanti saya telah menikah, keluarga adalah yang utama. Boleh saja saya berkarir, mencari pengalaman sebanyak-banyaknya selagi saya masih lajang. Tapi, ketika saya sudah menikah, keluarga adalah prioritas

“bukan berarti kamu tidak boleh bekerja, tapi bagaimanapun kamu harus mengerti bahwa tugas utama seorang wanita adalah menjadi istri dan ibu yang baik. Anak-anakmu, suamimu, jauh lebih membutuhkan dirimu daripada gelimang materi. Jika akhirnya kamu tetap bekerja, perbaiki niatmu, niatkan untuk mengamalkan ilmu, bukan untuk materi, apalagi sampek mengorbankan keluarga. Kalo itu yang terjadi, mending kamu gak usah kerja. Buat apa kamu S2, kalo anak-anakmu justru lebih banyak bersama pembantu yang rata-rata pendidikannya SMP.”

Saya tersenyum membenarkan pernyataan Ibu, lalu saya iseng bertanya, “aku kan juga pengen ngebahagiain ayah dan ibu. Apa ibu gak pengen nikmatin hasil jerih payah ayah ibu selama ini nyekolahin aku”

Ibu tersenyum, “bisa mengantarkanmu menjadi istri dan ibu yang sholihah sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami, Nduk.”

Duh… ibu. Seikhlas itu ibu dan ayah membesarkan saya, anak perempuan satu-satunya. Semoga saya  selalu bisa membahagiakan kalian.

Untuk saya dan untuk semua perempuan berpendidikan tinggi, apapun pilihan kita nantinya, menjadi ibu rumah tangga atau ibu yang bekerja. Semoga setiap keputusan dilandasi dengan kesadaran penuh, dan urutan prioritas yang tidak keliru. Semoga setiap perempuan bisa menjalankan peran kebermanfaatannya di setiap tempat dengan tepat. Semoga. 

Surabaya, 30 Agustus 2016
 

Saya harus tetap menulis!



“Perjalanan untuk menjadi seorang penulis itu bisa saja berbeda. Orin tidak harus menempuh jalan yang telah saya lalui, karena saya yakin Orin akan menemukan jalannya sendiri.”

Saya selalu kagum ketika membaca sebuah tulisan yang tidak saja menyentuh secara penyampaian, namun juga bernas secara secara logika dan pemikiran. Lalu, kekaguman itu berlanjut menjadi sebuah pertanyaan, “apa yang penulis itu lakukan hingga dia bisa menulis sedemikian bagusnya?”, “buku-buku apa yang biasa Dia baca?”, “habitus apa yang dia bentuk?”, “bagaimana proses kreatifnya?”, dan akhirnya, saya akan bertanya pada diri saya sendiri, akankah saya bisa menulis sebagus itu?”

Pernah suatu waktu saya memberanikan diri untuk bertanya pada dosen saya tentang hal itu. Ya, dosen saya yang satu ini memang memiliki kemampuan menulis dan juga karya yang mumpuni. Beliau juga turut andil dalam membentuk kemampuan menulis dan daya analitis saya, tidak hanya ketika saya masih menjadi mahasiswa beliau, ketika saya sudah lulus pun saya bersyukur masih bisa menikmati proses belajar dan ilmu dari Beliau.

“Proses belajar dan proses kreatif tiap orang bisa saja berbeda. Kalau saat ini saya menempa kamu, bukan berarti kamu harus menjadi atau mengikuti jejak saya. Saya hanya mengajarkan apa-apa yang saya pahami dari pengalaman saya. Dan saya yakin, kamu akan menemukan pengalaman-pengalaman itu dan bisa berproses dari sana.” 

Saya pun akhirnya sadar bahwa bagaimanapun saya tidak akan pernah bisa meniru gaya tulisan orang lain. Saya adalah saya. Begitupun, tulisan saya adalah saya dalam wujud yang lain.

Saya bersyukur di sepanjang perjalanan ini Allah selalu mempertemukan saya dengan orang-orang yang darinya saya bisa belajar. Termasuk juga kaitannya dengan mimpi saya yang satu ini.

Saya mulai menggenggam mimpi ini ketika saya menginjak masa putih abu-abu. Kala itu saya baru menyadari bahwa dunia itu adalah dunia saya, setelah sebelumnya saya selalu berkata bahwa cita-cita saya adalah menjadi seorang dokter. Aih… itu kan cita-cita anak sejuta umat.

Di SMA, saya hanya bisa mengasah kemampuan sekaligus berproses dalam sebuah keredaksian majalah sekolah “PIJAR”. Itu sudah lebih dari cukup bagi seorang remaja seperti saya yang kala itu sedang mencari jati diri, mencari apa itu yang disebut “passion”. Saya pun belum berani melangkah lebih jauh, kodrat saya sebagai anak ilmu alam menuntut saya untuk terus bergelut di bidang itu, hingga akhirnya Allah memilihkan tempat lain untuk saya belajar. Dunia yang sangat jauh berbeda dengan sebelumnya. Ya, Dunia social.

Proses peralihan yang tidak mudah memang, tapi ketika kita telah memutuskan untuk terjun, apapun yang terjadi, itu adalah proses belajar, kan? saya hayati betul kata-kata Ayah waktu itu, “Allah memilihkan tempat untukmu, bukan karena kebetulan, pasti ada sesuatu di depan sana”  begitu pesan ayah saya di malam pengumuman SNMPTN. “jalanilah.. mungkin memang jalannya” lanjutnya.

Dan memang benar, di tempat itulah saya benar-benar yakin akan passion saya. Menulis.

Sejak semester awal, saya sudah leluasa mengembangkan minat di dunia tulis menulis. Mulai dari SSC, PKM dan LKTM, FLP Surabaya, redaksi tabloid kampus, hingga redaksi jurnal Paradigma. Tuntutan tugas-tugas mata kuliah yang mayoritas berbasis riset juga berpengaruh terhadap minat dan kemampuan menulis. Ditambah lagi dengan kesempatan mengikuti beberapa proyek penelitian dosen semakin membuat saya yakin bahwa dunia ini sangat mengasyikkan. Dunia dimana kita tidak hanya menggali ilmu, tapi juga menebar ilmu dan pengetahuan melalui pena.

Saya begitu menikmati hari-hari itu, hingga akhirnya saya lulus dan mendapatkan pekerjaan. Sayangnya, pekerjaan pertama saya sangat jauh dari dunia yang selama ini saya geluti. Mungkin benar kata orang, bagi seorang sarjana tahun-tahun pertama adalah tahun pembuktian diri. Baru setelah itu, kita akan kembali tersadar, “apa benar ini dunia saya?” Begitu pun yang saya rasa kala itu.

Beruntunglah Allah tidak pernah rela membiarkan saya terlalu lama larut dalam kebingungan. Saya kembali diarahkan ke dunia yang amat saya cintai. Dunia literasi. Saya pun diberi kesempatan untuk memiliki keluarga baru, tempat belajar dan berproses, sekaligus kembali memantapkan hati bahwa ini memang dunia dan mimpi saya. Saya lolos dalam seleksi Kampus Fiksi edisi Nonfiksi angkatan 1 dari sebuah penerbit di kota Yogyakarta. Di sana saya bertemu dengan saudara-saudara dengan passion yang sama. Beberapa dari mereka adalah penulis yang telah berhasil melahirkan beberapa buku. Tulisan-tulisan mereka telah beberapa kali muncul di berbagai media. Tiga hari bersama mereka sukses menyulut semangat saya untuk juga bisa berkarya seperti mereka. Terlebih selama tiga hari itu kita juga digembleng dengan materi dan pemaparan dari penulis dan praktisi dunia kepenulisan. Ahh… rasanya itu, tak pernah bisa terlukis oleh kata-kata meski pena telah berusaha menguraikannya panjang lebar.

Sepulang dari Jogja, hasrat itu masih mengakar kuat untuk menjadi nyata apalagi kita memproleh fasilitas untuk bimbingan online  terkait naskah yang akan kita terbitkan. Pertama, kita harus mengajukan tema yang menarik secara kualitas dan juga secara “pasar”. Jika lolos, baru kita akan dibimbing hingga naskah itu terbit. Sayangnya, judul naskah saya waktu itu ditolak. Mungkin karena tema yang saya ajukan kurang menarik pasar, telah banyak judul buku yang sejenis, atau alasan lainnya. Sempat down? Iya. Lalu saya mencoba peruntungan dengan mencoba nulis untuk media. Baik itu resensi, opini, ataupun cerpen. Hasilnya? Tetap saja nihil.

Oh Tuhan. Kenapa rasanya semuanya begitu sulit? Sedangkan teman-teman saya di KF kok kayaknya gampang banget tembus media. Beberapa lainnya juga telah bertambah buku karya mereka. Sedangkan saya? seolah tetap stagnan. Tanpa progress yang berarti. Ok lah, saya masih tetap menulis hasil-hasil riset, baik untuk tugas kuliah ataupun proyek penelitian. Tapi saya ingin lebih dari itu.

Saya ingin jadi penulis. Saya ingin tulisan saya dibaca banyak orang, syukur-syukur jika bermanfaat dan bahkan menginspirasi. Saya juga tidak memungkiri bahwa saya ingin menjadikan menulis sebagai profesi. Benar memang, dengan gelar akademik yang saat ini telah saya peroleh sangat memungkinkan bagi saya untuk bergelut di dunia akademisi dan peneliti (keduanya telah dan tengah saya jalani). Keduanya memang tidak terlampau jauh dari dunia literasi, pun keduanya juga menuntut kemampuan menulis yang mumpuni. Dengan kata lain, saya tetap bisa menulis di tengah profesi tersebut. Hanya saja, hati kecil saya berbisik tentang mimpi terbesar saya sebagai seorang wanita. Ya, menjadi seorang istri dan ibu.

Sekarang mungkin saya masih bebas untuk pergi kemana-mana melakukan riset, atau seharian penuh berada di sekolah/kampus untuk mengajar. Tapi bagaimana ketika nanti saya telah menikah dan telah dikaruniai seorang anak? Ah… maklum lhah, usia saya sudah memasuki masa-masa menikah, jadi mikirnya sudah menata masa depan. Eaaa… hahahaha

Sebenarnya, tidak masalah bagi saya jika seandainya saya harus menjadi full time mother dan berhenti berkarir di ranah public. Justru itu adalah keinginan terbesar dari lubuk hati yang terdalam. Mungkin karena saya dibesarkan oleh keluarga yang hangat dan ibu yang selalu ada dan dekat dengan anak-anaknya. Saya pun berharap bisa demikian. Meski di sisi lain, saya juga bisa menebak bahwa akan banyak orang nyinyir yang akan berkomentar, “apa gak sayang tuh gelar S2-nya?” atau “sekolah tinggi-tinggi sampe S2 cuma jadi ibu rumah tangga?”

Ya, mungkin akan ada rasa bersalah dalam diri saya jika akhirnya saya hanya ongkang-ongkang kaki di rumah. Akan kamu kemanakan ilmu yang telah kamu pelajari selama ini? benar memang, akan sangat bermanfaat bagi suami dan anak-anak. Tapi, masak iya hanya sekedar itu? ya, saya ingin berkarya dari rumah. Bekerja tanpa harus jauh dari anak-anak. Raga saya tetap berada di dekat mereka, tapi saya tetap ingin karya dan pemikiran saya tersebar dan bermanfaat bagi semua orang.

Keinginan itu semakin membuncah tatkala saya berkenalan dengan teman-teman KF yang telah menjadi ibu dari beberapa anak, menjadi ibu rumah tangga, tapi tetap produktif untuk berkarya. Ya, saya ingin menjadi seperti itu. 

Karenanya, setelah semua kereweuhan tesis dan urusan tetek bengeknya selesai, saya kembali memantapkan hati untuk menempuh jalan sunyi kepenulisan. Setelah sebelumnya saya sempat vakum dari dunia menulis, sejenak mimpi itu mati suri, dan mungkin ini adalah waktu yang tepat untuknya kembali.

Disaat itu pulalah Allah kembali membuka jalan-Nya. Saya diberi kesempatan untuk bergabung dalam sebuah keluarga baru bernama “Kontenesia”. Allah kembali memilihkan tempat untuk saya belajar dan beproses untuk mimpi-mimpi saya. Di sini saya tidak hanya akan belajar tentang kepenulisan, namun juga tentang profesionalitas dan attitude seorang penulis.  

Ya, awal yang bagus untuk kembali mengasah kemampuan menulis saya. Dan yang terpenting, untuk mengembalikan habitus menulis saya yang sempat mati suri oleh kesibukan-kesibukan lainnya. Saya bertekad, saya tetap harus menulis untuk naskah buku-buku saya, saya tetap harus menulis untuk media (meski saya telah menjadi penulis tetap rubric social-budaya di emadura.com).

“Semua harus ditulis. Apa pun. Jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti berguna.” Pramoedya Ananta Toer

Saya harus tetap menulis, saya harus tetap berkarya. Semoga Allah berkenan untuk mengabulkan mimpi-mimpi saya. Amiin…