Rabu, 20 Mei 2015

Ulang Tahun, Mengulang dan Mengurang: Sebuah Renungan




Setiap tahun, di tanggal yang sama, semua orang pasti akan mendapatkan ucapan selamat dan doa yang kurang lebih isinya begini, “Selamat Ulang tahun… semoga sehat, sukses dan Allah senantiasa melindungimu dengan cinta kasih-Nya, semoga doa-doa yang terungkap dikabulkan-Nya, Amin”.

Ya, sama halnya seperti satu tahun yang lalu. Hari ini, tepat di tanggal dan bulan yang sama saya juga ingin menulis catatan untuk diri saya sendiri.  Sebuah catatan ulang tahun, mengulang dan mengurang “tahun”.

Halo, Diriku.
Bagaimana suasana hatimu saat ini? Aku harap kau selalu dalam kondisi baik dan selalu dalam lindungan-Nya.

Ah, iya. Selamat memperingati hari kelahiran yaa, hari dimana kau pertama kali menjejak dunia. Sudah berapa usiamu ketika membaca surat ini? Hmm… Rasanya bilangan usia sudah menunjukkan bahwa diri ini tak lagi muda. Meski nyatanya, di usia saya saat ini, saya masih merasa berada pada masa di mana saya masih gemar bertekuk lutut pada ego. Memakluminya? Boleh saja. Manusiawi bukan?

Karena itulah, saya sengaja menuliskan catatan ini untuk diri sendiri. Tidak hanya sekedar refleksi, tapi juga sebagai catatan kecil yang saya harap mampu menemani saya ketika hati begitu lelah dihajar keadaan dan ingin kembali dikuatkan.

Ulang tahun. Sebuah perayaan yang sebenarnya, hakikatnya adalah mengulang dan mengurang. Meng ”ulang” tahun, tentu bukan mengulang tahun yang sudah berlalu, tapi lebih pada berulangnya penanggalan awal kelahiran namun pada tahun yang berbeda. Anggaplah, di hari itu kita bernostalgia, mengingat kembali detik-detik awal kemunculan kita di dunia. Bahwa Allah mengijinkan kita untuk hidup, menikmati dunia, tentu karena ada sesuatu yang harus kita lakukan. Sebagai hamba-Nya, dan sebagai makhluk-Nya di dunia.

Saat seseorang merayakan ulang tahun, ia akan diberikan selamat berupa doa-doa, seperti panjang umur, sehat, rezeki, jodoh, anak dan lain-lain. Suasana diselimuti kebahagian, sama halnya seperti ketika hari lahir itu bukan? Tapi, sebenarnya saat lagu ulang tahun dikumandang dengan syair panjang umurnya, waktu itu pulalah jatah umur kita di dunia justru semakin ber”kurang”.

Ketika kita memaknai perayaan ini sebagai momen mengulang, di saat itulah kita sadar dan percaya bahwa ada sebuah masa depan. Sebuah masa yang akan kita lakoni esok hari, dan kembali akan kita kenang di tahun depannya lagi, di tanggal yang sama. Dan ketika kembali tiba di tanggal yang sama, usia kita telah bertambah, dan secara otomatis jatah umur hidup justru berkurang. Ibarat lilin ulang tahun, cahaya perayaan yang selalu dibarengi dengan berkurangnya batang lilin itu sendiri.

Nah, di antara keduanya, “mengulang” dan “mengurang” itulah, seharusnya terdapat momen refleksi.   Merefleksikan kualitas diri, apakah usia hidup ini telah memberi manfaat bagi kehidupan? Semakin baikkah ibadah saya sebagai hamba-Nya, sikap sosial saya terhadap sesama, dan adakah perubahan ke arah yang lebih baik yang telah saya sumbangkan untuk kehidupan? Sebelum akhirnya, waktu yang semakin berkurang tiap tahunnya itu pada akhirnya akan mencapai titik nadir, habis.

Ah, saya jadi teringat kata ini, “Hidup sekali, berarti, lalu mati”.

Itulah kehidupan bukan? Dan kita memang menjadi bagian di dalamnya.

Maka, di hari ini, di hari spesial ini, mengulang doa memang tak akan pernah jadi percuma, tak mungkin sia-sia begitu saja, karena tak ada doa yang sederhana. tapi, Saya juga tidak ingin berbicara banyak tentang apa saja harapan dan doa-doa saya di sini. Biarlah, mulai detik ini saya belajar mengeja ikhlas dengan benar. Untuk segala yang masih membayang, segala yang masih jadi tanda tanya, segala yang masih abu-abu. Barangkali, selama ini saya lupa bahwa satu cara paling mujarab atas penyelesaian suatu perkara memang hanya mengembalikan segala pada pemilik tunggalnya. Allah. Dan kini, saya menyerahkannya. Tugas saya? hanya menjalaninya, melewatinya dengan bijak dan belajar dengan cara sesempurna yang saya bisa. bukan begitu?

Untuk semuanya, terima kasih atas segala doa. Semoga kebaikan, keberkahan, rahmat dan ridha-Nya juga senantiasa menyelimuti kalian. Amin 

0 komentar:

Posting Komentar