Rabu, 29 Maret 2017

Berguru pada Anak Kecil



Saat kita masih kecil, kita belajar merangkak, berdiri, hingga berjalan. Selama itu, kita sering terjatuh, terluka, dan berdarah. Namun, kita tidak pernah malu, putus asa, apalagi menyerah. Sungguh beruntung orang yang senantiasa menjaga semangat untuk meraih prestasi dengan belajar dari perilaku dirinya ketika belajar berjalan di waktu kecil. 

Jika kita melihat anak kecil, mereka seperti tidak ada beban dalam hidupnya. Semua dijalani dengan penuh percaya diri. Mulai dari merangkak, hingga berjalan. Sungguh, anak kecil tidak memiliki perasaan buruh sangka pada semua hal. Semua ia raih, semua ia gapai. Tidak peduli apakah itu api atau benda yang membahayakan. Kalaupun ia terjatuh, ia akan segera bangkit. Lalu, ia akan terus melakukan hal yang sama. Terus dan terus hingga akhirnya ia bisa berlari dan melompat. Sungguh, suatu pelajaran yang dahsyat.

Sering kita tidak menyadari akan pelajaran yang senantiasa Tuhan berikan pada kita. Tuhan senantiasa memberi pelajaran dengan cara-cara yang terkadang tidak kita sadari. Bukankah semua adalah ayat-ayat-Nya?  Bila semua adalah ayat-ayat-Nya, tentu saja semua itu mengandung pesan. Dan pesan itu datang langsung dari Tuhan. Pesan-pesan itu ditujukan kepada umat manusia agar manusa semakin mengerti diri, alam dan Tuhan sebagai satu hal yang tidak dapat dipisahkan.

Akhirnya, semua gerak gerik hidup dan kehidupan adalah pelajaran. Kurikulum tuhan telah disusun sedemikian rupa dengan telaten, indah, dan menawan. Oleh karena itu, kita bisa belajar pada bayi, pada bocah, hingga pada daun dan pasir yang berembus.

 “Tuhanku, tambahkanlah kami ilmu, dan limpahkan pada kami karunia mengerti”.


Rabu, 15 Maret 2017

Jangan Takut jadi Ibu Rumah Tangga

*Tulisan yang sangat apik sekaligus mengena dari mbk Nafila Rahmawati. Tentang perempuan dengan pendidikannya, karir, kewajibannya mjd seorang istri dan ibu yang baik, dan pandangan orang lain yang seolah tak bisa lepas darinya.

Tidak.
Kita tidak sedang berbicara tentang Dian Sastro, yang meskipun sudah S2 tetap mengurus anak di rumah, yang karena takdir rezekinya dilebihkan Tuhan maka dia bisa part time bekerja dan tetap membawa anak, yang karena begitu ajaibnya auranya maka dia tidak dicerca meskipun menjadi ibu rumah tangga.

Kita bicara realita, tentang banyaknya kaum wanita yang punya segudang aset dan potensi untuk bersinar di luar rumah namun memilih kembali pada peran konvensional mereka, menjadi ibu rumah tangga yang di rumah saja.

Kita bicara fakta, tentang banyaknya wanita yang berjibaku dengan post power syndrom mereka selepas meninggalkan kerja, entah itu demi anak dan keluarga atau demi menggenapkan dalil-dalil agama, di mana niat mereka sesungguhnya mulia namun masih saja dipandang sebelah mata dan dicerca hina.

Kita bicara tentang sengketa, bahwa menjadi ibu bukan dikotomi antara ibu pekerja atau ibu rumah tangga, namun kita lihat sendiri betapa banyak dari wanita yang mudah diadu domba hanya untuk pengakuan semata.

====
"Mantumu piye, Jeng? Kerja di mana sekarang yang lulusan terbaik itu?" tanya seorang ibu pada teman kerjanya
"Walah, habis melahirkan kok ya resign Jeng. Eman-eman padahal sekolahnya mahal, kerja gajinya ya lumayan, kok ya dilepas kerjanya. Lha sekolah anak kan ya mahal sekarang, mosok mau nggantung sama suami tok kan yo nggk cukup", jawab si empunya menantu

Atau

" Yaelah yakin lo resign jadi ibu rumah tangga? Engga ada enaknya kali seharian di rumah mulu. Engga pegang duit sendiri, engga setara sama suami", timpal seorang teman saat rekannya bercerita visi hidupnya ke depan.

====
Perbincangan di atas pasti ada, meskipun tidak ditujukan langsung ke muka kita tentang betapa 'tidak berharganya' menjadi ibu rumah tangga yang tidak bekerja.

Ada aroma mendiskreditkan, ada nada menyalahkan pilihan, ada hidup yang dibandingkan.

Menjadi ibu rumah tangga yang di rumah saja adalah perjuangan, tidak selalu lebih mulia dari ibu yang bekerja karena tantangan akan selalu menggoda berkelanjutan.
Anak-anak tidak akan selalu mudah, dan sabar harus selau diasah. Bisa jadi yang bertemu dengan anak sepanjang hari hanya mengobral amuk tiada henti ketimbang yang hanya punya jatah bertemu di penghujung hari.

Menjadi ibu rumah tangga yang di rumah saja adalah peperangan, satu titik tawar yang penuh pertimbangan. Soal apakah bekerja akan menambah value bagi umat atau pribadi, atau di rumah justru berperan sebagai pengukuh pondasi.

Kembalikan saja pada diri sendiri dan ridho suami, sejauh apa kita perlu berkontribusi, selebar apa jangkauan aktualisasi diri. Jangan memaksakan berloncatan demi mereguk pengakuan, sementara ajaran adab dan pelukan harian jatah anak kita abaikan.
Menjadi ibu rumah tangga yang di rumah saja adalah pilihan yang butuh kekuatan, karena seorang ibu tidak bisa berdiri sendiri dalam sebuah pernikahan. Kadang aroma nyinyir justru datang dari keluarga besar yang berbeda pandangan.

===
Berbahagialah mereka yang menjadi ibu rumah tangga karena suami sudah cukup memfasilitasi dan menafkahi, tanpa perlu memusingkan bagaimana tambahan materi, tinggal mengejar pintu surga mana yang ingin lebih dulu dimasuki.

Berbahagialah mereka yang menjadi ibu rumah tangga karena kesadaran pribadi, bahwa dunia yang sudah menua dan bahaya tidak cukup untuk dipercaya lagi, bahwa anak harus diurus dengan tangan pertama sendiri.

Berbahagialah mereka yang menjadi ibu rumah tangga karena meresapkan dan menggenapkan janji Tuhan dalam hati, bahwa setiap makhluk sudah dijaminkan atas rezeki, tinggal mencari bagaimana rezeki tersebut turun terberi tanpa harus mematok dalam bentuk materi. 

Dan berbahagialah para ibu yang masih bekerja, yang menemukan passion pada dunianya, yang diberikan restu dan doa oleh para suaminya, yang tetap terurus dan sakinah rumah tangganya, yang tetap sehat terdidik akhlak keluarganya, yang tetap terjaga dalam iman dan kebersahajaan, yang tetap menebarkan manfaat untuk kemanusiaan.

===
Menjad ibu, adalah satu dunia yang sungguh lucu.
Drama, ketika kita berusaha mendahulukan keluarga lalu dicap pemalas tidak mau bekerja, menyia-nyiakan umur dan ijazah sekolah.
Drama lagi, ketika kita bekerja lalu diaggap mengabaikan keluarga dan tidak menimbang untung ruginya meninggalkan anak pagi petang.

Di saat para ibu sepatutnya saling menguatkan, mereka justru terpancing saling menjatuhkan. Tidak hanya antar kawan, tapi juga dalam keluarga yang mestinya jadi tempat curhat yang nyaman. 

Jika anak-anak atau menantu kita adalah ibu rumah tangga, cukupkan saja menguatkan jiwa mereka. Berterima kasihlah karena mereka sudi mengurus anak lelaki dan cucu kita dengan tangan sendiri, tanpa perlu ada tugas yang terdelegasi pada pihak yang belum tentu kompeten terverifikasi.
Simpan rapi pertanyaan, gugatan atau tuntutan, cukup mari kita doakan agar Tuhan mengguyurkan berkah yang dilebihkan.

Jika kawan kita adalah ibu rumah tangga, cukupkan saja mendengar celoteh remeh keseharian mereka. Tentang dapur atau tentang kasur, tentang anak atau penuhnya benak. Mereka bukan makhluk yang butuh tepuk tangan atau pengakuan, hanya sedikit sapaan agar tidak merasa sendirian.
Simpan rapi renungan kita mengapa ia lebih gemukan atau tidak bisa berdandan, mungkin bukan fisik yang sedang ia prioritaskan.

Jika ibu kita adalah ibu rumah tangga, cukupkan kita melempar beban dan pekerjaan. Pasang target untuk diri sendiri tentang kapan kita akan membahagiakan, tidak selalu tentang materi yang kembali namun tentang bakti budi.

Jika istri kita adalah ibu rumah tangga, well... Apaun predikat para istri dan ibu, para suami perlu meluangkan momen bermutu untuk mensyukuri dan mengapresiasi betapa mereka telah berjuang di jalan pilihan mereka.

====
Jangan takut menjadi ibu rumah tangga, karena ilmu dan rezeki bisa diperoleh dari mana saja asal kita selalu mau bergerak maju ke depan, asal kita mau menerima masukan.
Jangan takut menjadi ibu rumah tangga, setaranya gender belum pasti terjadi dengan karir yang harus didongkrak dengan presisi, feminisme bukan solusi.
Rumah tangga hanya akan setara dalam diskusi yang memanusiawikan, karena suami menghargai istri dan istri menghargai suami bukan karena sesuatu yang sifatnya duniawi.

Jangan takut menjadi ibu rumah tangga, celaan manusia sifatnya hanya sementara, pun kita tidak berdiri hidup dari donasi mereka, pun mereka akan selalu berkomentar atas setiap perubahan dalam hidup kita. Jangan takut menjadi ibu rumah tangga, kalau niat dan pertimbangan kita landaskan kuat pada Tuhan, maka kita sudah punya sekuat-kuatnya penjagaan.

Bu, percayalah dunia masih menganut standar ganda. Kalau Dian Sastro dan Nia Ramadhani yang menjadi ibu rumah tangga, maka sama sekali tidak akan terlihat hina. Apalah daya kita yang daster lima puluh ribuan yang disebut penadah suami gajian.
Sudah Bu, lambaikan tangan dan maju ke depan. Meski kadang celometan tetangga atau keluarga sadis tanpa batasan, percayalah selalu ada Tuhan yang memastikan kita dalam pelukan.

Tulisan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk menyudutkan pilihan ibu bekerja. Ditulis semata untuk menguatkan mereka yang sedang menyambung semangat dari rumah.

*Jujur, tulisan mbk Nafilah memang selalu mengena bagi saya. Mbk Nafilah ini adalah teman dunia maya saya. Ibu satu orang anak yang mencintai dunia literasi, dan kini bekerja di rumah sebagai Senior Book Advisor Penerbit Mizan.

Ya, Karena wanita perlu untuk saling menguatkan. 

Untuk menjadi istri yang menguatkan

Menjadi ibu yang menguatkan

Menjadi anak dan menantu yang menguatkan

Bahkan nantinya, menjadi mertua yang menguatkan. 

Jumat, 03 Maret 2017

Berlayarlah, lakukan sesuatu yang berguna bagi hidup dan kehidupan



Terkadang, hidup memang acapkali mengajak kita bercanda, pasti akan ada suatu masa di mana kita dihadapkan pada segala kesulitan dengan segala risiko ketidakmungkinan yang tengah disiapkan semesta. Di saat itu pulalah semangat tengah berada di dasar rasa. Ya, jika digambarkan diri ini seolah tengah berada dalam kondisi dimana tubuh tengah terpisah dari jiwanya. Tak ada lagi gairah untuk menjalani hidup. Hari-hari terasa kosong. 

Merasa tidak memiliki apapun tuk dibanggakan, tidak mempunyai pencapaian, juga tidak ada gairah besar dalam diri yang benar-benar bisa membuat diri merasa hidup. Alhasil, diri ini menjadi sering gelisah, mencela setiap usaha yang dilakukan, dan menjadikannya sebagai kebiasaan. Kebiasaan yang buruk. 

Saat itu adalah saat dimana kita seolah bertentangan dengan seseorang yang lain yang ada dalam diri. Kita berniat untuk mengalahkannya, tapi tak ada usaha dan kekuatan untuk itu. Kita menginginkan perubahan dalam diri, tapi diri ini enggan beranjak dari kenyamanannya. Alhasil, seringkali kita terjatuh untuk mengalah pada kenyamanan yang semu. Kita tahu betul bahwa itu bukan suatu hal yang benar untuk dilakukan, tapi justru kita tetap menikmatinya.

Lalu, untuk apa kita hidup? Hanya sekedar untuk menjalani hari tanpa makna?

Kau tahu, pada dasarnya kita pasti memiliki ironi dalam diri masing-masing; mungkin juga paradoks, kemunafikan, atau ambiguitas. Sesuatu yang kita benci untuk kita sukai. Sesuatu yang sebenarnya baik untuk tidak kita pilih. Atau sesuatu yang berusaha kita sembunyikan dari siapapun, tetapi kita katakan sebaliknya di hadapan orang lain. Ya, entah bagaimana kita memiliki wilayah-wilayah yang memaksa kita untuk mendua. Perasaan dan pikiran yang sering membuat kita letih dan sedih. Tetapi sekaligus penting untuk kita miliki agar kita bisa seutuhnya menjadi manusia, yang terbatas dan tidak sempurna.

Jadi, barangkali tak salah jika kukatakan padamu bahwa yang kita alami ini adalah suatu hal yang wajar dialami oleh anak muda seusia kita. Bukankah dilema anak muda adalah menentukan arah hidupnya?

Di saat seperti ini, alangkah baiknya jika kita sesekali menengok dan belajar sesuatu dari sebuah kapal. Ya, kapal. Apa hubungannya dengan sebuah kapal?

Kapal terbuat dari bahan-bahan terbaik, dilengkapi dengan alat-alat komunikasi yang lengkap, layar yang gagah dan dengan kompas penunjuk arah. Sempurna memang. Tapi, kapal diciptakan bukan hanya untuk tertambat di dermaga, bukan? Ya, bukan untuk itu ia diciptakan. Melainkan untuk berlayar mengarungi samudra dengan segala kemungkinan yang ada untuk menguji kekokohannya. Pun demikian halnya dengan hidup kita, manusia.

Kesejatian hidup memang ibarat berlayar mengarungi samudra, menembus badai, menghalau gelombang, hingga akhirnya bisa menemukan pantai harapan kebahagiaan dan keselamatan hidup abadi. Jika kapal diciptakan dengan bahan yang yang bermutu tinggi, dilengkapi layar yang bagus dan peralatan yang canggih, pun juga manusia yang diciptakan dengan sangat baik oleh Allah. Dilengkapi dengan bakat, talenta serta kemampuan yang luar biasa oleh Allah, diberi hati nurani dan akal budi serta kebebasan untuk menjalani perahu kehidupan kita secara baik dan benar.

Jika diibaratkan, dermaga adalah tempat kita memulai hidup, dan bisa juga diartikan sebagai masa lalu. Sedangkan tali penambat itu adalah kemalasan, ketakutan, penyesalan, dan luka-luka batin yang belum disembuhkan, yang seringnya menghambat kita untuk memulai melakukan sesuatu dan berjuang untuk keluar dari masa lalu.

Dan benar saja, ketika kita merasa hidup yang kita jalani terasa berat, bisa jadi itu karena saat ini kita hidup dalam dua — atau mungkin malah tiga — waktu. Seolah kita berada diantara bayang-bayang kesalahan masa lalu, hari ini, dan bayang misteri esok hari.

jika benar itu yang terjadi, mari berhentilah menyesali kesalahan masa lalu. Jangan biarkan pula  ketakutanmu akan masa depan mengecilkan nyalimu. Hidupilah hari ini! Hidup yang sebenarnya adalah hidup yang saat ini sedang kita jalani — detik ini, menit ini, hari ini. Dan tentang masa depan, masa depan memang misteri yang tak bisa diketahui sebelum dijalani, dan inilah yang seringkali menjadikan kita takut tuk melangkah. Tapi, bukankah hidup selalu bisa diatur dan direncanakan. Kita punya kuasa untuk mengatur ke mana jalan hidup akan membawa. Kita memiliki kemampuan untuk menentukan peta hidup yang akan jadi panduan dalam berjalan. Ya, kita tak pernah kehilangan kendali atas hidup, selama kita mau berusaha.

Karenanya, mari kita jangan buang waktu dan energi untuk menyia-nyiakan segala kemampuan, dan kesempatan yang telah dianugerahkan oleh Tuhan. Lepaskan tali kemalasan, lepaskan ikatan kekhawatiran dan ketakutan yang membelenggu, lepaskan segala pikiran-pikiran yang menghambat kita untuk maju. Jangan biarkan diri ini tertambat dalam kecemasan, kekhawatiran dan penyesalan masa lalu. 

Satu hal yang harus kita ingat betul, bahwa yang memisahkan perahu dan pantai impian adalah angin badai, gelombang dan batu karang. Begitupun yang memisahkan kita dengan kebahagiaan dan keselamatan adalah tantangan, cobaan/godaan yang kita hadapi, masalah-masalah yang selalu menggerogoti, dan tawaran-tawaran duniawi yang bisa memisahkan kita dari Sang Tujuan hidup. Sebenarnya, di sinilah kemampuan, martabat/harga diri dan kesejatian hidup kita diuji oleh Tuhan. Hakekat sebuah kapal adalah terus berlayar, menembus rintangan mencapai pulau yang dituju. Dan hakekat hidup kita adalah berkarya, dan melakukan kebaikan agar kita bisa menemukan kebahagiaan.

Berlayarlah, lakukan sesuatu yang berguna bagi hidup dan kehidupan.

Pamekasan, 03 Maret 2017
*hanya sebuah tulisan sederhana, yang semoga bermanfaat bagi sesama...:)

Selasa, 14 Februari 2017

Menanti dalam Taat


Banyak orang yang mengatakan bahwa menunggu adalah pekerjaan paling membosankan. Kata mereka, menunggu adalah pekerjaan pasif dan melelahkan. Bagaimana tidak, jika waktu yang ada hanya digunakan untuk duduk, diam, dan berharap segala yang diinginkan akan datang. Sungguh non sense memang. 

Dalam hal cinta, beberapa orang, bahkan mungkin sebagian besar lebih meyakini bahwa cinta harus dikejar, bukan ditunggu. Alhasil, tak jarang aku melihat mereka yang tergopoh-gopoh, dan merasa galau karena kesendirian, karena kejombloan. “kalau hanya ditunggu, gimana cinta mau datang?” begitu kata mereka.

Lalu, mereka menyarankan bahwa cinta itu harus dicari, dikejar, bukan hanya ditunggu. Ya, menunggu dan mengejar adalah dua pekerjaan yang saling bertolak belakang. Jika mereka bilang menunggu adalah pertanda kelemahan, maka mengejar adalah tindakan aktif dan tidak membosankan. Dengan mengejar, seseorang telah beberapa langkah lebih dekat dengan apa yang dia inginkan. Bisa memotong waktu, dan memangkas jarak. Kata mereka, dengan sikap seperti ini seseorang bisa memperkirakan seberapa jauh atau seberapa dekat lagi dengan apa yang ingin diraih. Yang pasti, Waktu tidak akan terpakai dengan sia-sia.

Opini tersebut tentu tak salah. Bahkan untuk beberapa hal, seperti mimpi dan cita-cita, memang seharusnya demikian. Namun, untuk diterapkan dalam cinta, menurutku tidak sepenuhnya benar. Bukan berarti aku tak mengharapkan kedatangan cinta, justru aku sangat mengharapkannya. Tapi, bukan berarti pula aku harus mengejarnya dengan pacaran bukan? aku tetap akan mengejarnya, dengan caraku menunggu.

Aku akan menunggu. Tapi bukan berarti aku akan mendedikasikan setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun hanya untuk menyambut sebuah kedatangan cinta. Aku akan menunggu, dan menjadikan penantian ini sebaik-baiknya penantian yang pada akhirnya akan membuahkan kesiapan. Hingga kelak waktu itu tiba, tak ada lagi ragu untuk menyambutmu. Cinta dalam ikatan Ilahi. 

Bagiku, menunggu juga perkara melebarkan kesabaran. Namun, juga tak ada alasan untuk percaya bahwa penantian ini akan sia-sia. Aku percaya, bahwa semua ada masanya. Allah maha tahu waktu terbaik dari segala sesuatu. Allah juga tak akan pernah mengingkari janjinya.

Yang terpenting saat ini, bagaimana aku dan kamu menjadikan waktu penantian ini dengan sebaik-baiknya. Alam semesta memang sudah mengatur langkah kita untuk bertemu, namun bukan berarti kita terlepas dari tanggungjawab untuk menjaga langkah kita sendiri. Dibutuhkan usaha untuk terus bisa menyelaraskan langkah bersama, dalam penantian ini. Yang tak lain dan tak bukan adalah sama-sama memperbaiki diri.

Aku pernah membaca sebuah kalimat, bahwa cinta hakikatnya adalah sebuah perjalanan. Dan ketika saat ini kita masih dalam penantian, anggap saja perjalanan yang harus kita lalui melibatkan lebih banyak belokan dan putaran daripada orang lain. Yang harus kita lakukan adalah terus percaya bahwa pada saatnya, kita akan dibawa ke titik akhir. Titik pertemuan.

Ketika nanti aku sudah bertemu denganmu yang tergariskan, kamu dan aku akan sama-sama mengerti bahwa perjalanan panjang yang kita alami adalah hukum alam. Seperti apa-apa yang terjadi selama ini dalam hidup, merupakan pahatan jalan yang akhirnya pasti berujung. Semua terasa benar. Dan akan terasa indah pada waktunya.


Untukmu calon imamku,
kutulis kisah ini di malam-malamku yang panjang
Bagai goresan getar hati dalam rindu yang tertahan
Untukmu, seseorang yang akan menemaniku di masa depan
Kamu… siapa kamu? Siapa namamu? Di mana kamu berada?
Aku menantimu bersama semua pengabdianku yang tertunda
Bersama segenap cinta yang tak akan sempurna
Bila engkau tak kunjung hadir di hadapanku

Untukmu calon imamku, yang aku tidak tahu di mana engkau berada
Suatu saat bila engkau datang, tolong cintai aku karena Allah
Bimbinglah aku
Jadilah imam dalam shalatku
Izinkan bakti dan taatku menyatu bersama senyum di wajah teduhmu
Izinkan cinta dan rinduku terpatri kuat di dalam hati dan pikiranmu

Untukmu calon imamku yang entah sedang apa
Ketahuilah, aku ini adalah orang asing untukmu
Nanti terangkanlah apa-apa yang tidak kumengerti darimu
Terangkanlah apa-apa yang tidak engkau sukai
Agar aku bisa mengenalmu secara utuh

Untukmu calon imamku yang sedang memantaskan dirinya di hadapan Allah
Ketahuilah, bahwa aku pun di sini selalu menantimu dalam taat
Menanti untuk menjadi belahan jiwamu, menanti untuk menjadi penyejuk hatimu.

Kau yang tertulis di lauhul mahfudz, kau adalah rahasia terbesarku
Kehadiranmu.. menyempurnakan hidupku
Kau yang kusebut di dalam doaku, kau yang menjadi imam di hidupku
Kehadiranmu.. menyempurnakna imanku
Ku menunggu… dalam sabarku
Ku ikhlaskan semua harapanku
Bersamamu di masa depanku
Membangun cinta… membangun surga.. menggapai ridho-Nya.
Dan aku... menanti menjadi bidadari untukmu
Sampai bertemu di suatu masa
Calon imamku…
(Untukmu calon imamku - Meyda Safira)

Dan nyatanya memang benar, perkara jodoh bukan hanya sekadar perkara penantian dan ikhtiar, namun juga rencana Tuhan yang amat berkesan. 
Seperti kata mbak Nurul Kontenesia, Percayalah, suatu hari akan ada laki-laki yang bersungguh-sungguh padamu untuk membersamai hidup, bukan sekedar cinta sebatas degup. :)

Pamekasan, 14-02-17

Senin, 06 Februari 2017

Berhenti Menyembunyikan Renjana. Melangkahlah dengan Hati


mereka yang bisa memerdekakan suara hati untuk bebas memilih apa yang dicintai, maka hidup akan selalu mempunyai esensi untuk bisa dinikmati dan jiwa yang senantiasa bisa bersyukur untuk bisa diberkahi, oleh Sang Pemilik Hati.”
 
Kadang, memang tak perlu banyak alasan untuk menjelaskan tentang apa yang kita cita-citakan. Sesuatu yang ada dalam benak dan menuntut untuk direalisasikan. Namun, satu hal yang juga harus kita pahami, bahwa terkadang tak selamanya kenyataan sesuai dengan rencana awal. Bisa jadi, semesta menyeret kita ke dalam banyak persimpangan yang membingungkan. Menuntut banyak hal untuk dipikirkan dan dipertimbangkan, pun menunggu jawaban. Akankah kita tetap melangkah dengan suara hati?

Ya, kau benar, memang tidak semua orang bisa memahami prioritas yang sedang kita jalani saat ini, bahkan orang tua sekalipun. Kita hanya bisa diam dan terus berusaha untuk melanjutkan jalan sukses yang sedang berusaha kita hilangkan ilalangnya karena telah mengganggu langkah. Satu-satunya hal yang membuat kita terus berjuang adalah keyakinan bahwa apa yang sedang kita perjuangkan saat ini pasti bisa membawa hasil manis di kemudian hari.

Bukankah ada yang bilang bahwa hidup adalah serangkaian pembuktian, akan perjuangan yang tak pernah selesai? Barangkali itu benar. Bukankah di awal jalan, kita tidak punya apapun selain keyakinan bahwa hal yang kita lakukan akan berhasil suatu hari nanti. Justru, inilah yang menjadikan hidup ini lebih menarik, kemungkinan mewujudkan impian menjadi kenyataan. Meski seringkali kita akan dihadapkan pada mereka yang merasa bahwa keyakinan itu salah. Di sinilah, kita harus belajar merelakan hati untuk diproses menjadi dewasa. Akan ada beberapa orang yang mencibir keputusan kita. Terlebih jika kita mengambil jalur yang tidak sesuai dengan status “bagus” di mata  orang lain.

“Hidup terlalu singkat untuk menjadi orang lain”, pernah mendengar kalimat itu? Ya, tak ada gunanya kita berlama-lama membohongi diri, kan? Ayolah, hari-hari terlalu berharga jika hanya diisi dengan hati yang penuh keluhan. Sesuatu yang kita lakukan tidak selayaknya hanya ditukar dengan nilai rupiah atau satuan mata uang yang ada. Tapi lebih dari itu, ketulusan dan kebahagiaan batin yang juga selayaknya diperhitungkan dan diutamakan.

Ketika kita telah mampu menjalani hari dengan apa yang dicintai dan diyakini, maka hidup akan membawa kita pada sebuah makna tertinggi. Yakni, energi yang tidak pernah mati. Jadi sahabatku, mari selalu hadirkan hati dalam segala hal yang kita lakukan. Kehadiran hati yang membuat jiwa menikmati hari-hari yang tak pernah sama. Hati yang mengundang kehadiran inspirasi dan prestasi. Hati yang membuat mimpi tak pernah mati.

Jika kau ingin menggapai sesuatu, jangan ragu dan melompat dengan segenap kekuatanmu
Yaa.. aku pasti akan melakukannya.
Itu adalah tempat dimana aku ingin percaya kepada diriku dan tetap menghadapinya
Itu adalah tempat dimana aku ingin berangan-angan untuk menjadi yang terbaik
Sejujurnya, aku sangat khawatir sekarang, aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini
Aku akan melakukan yang terbaik di jalanku
Terima Kasih telah memberikanku keberanian untuk melakukannya.
Mengubah apa yang telah aku dapatkan menjadi kepercayaan dalam diriku, aku akan terus berjalan sambil berdiri diatas kakiku sendiri
Ya, Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Dan itu akan menuntunmu untuk menemukan takdirmu. Percayalah pada hatimu, karena ia tak akan pernah membohongimu. 
Takkan pernah. 

*Hanya sebuah tulisan sederhana ketika kita sibuk memperdebatkan tentang karir dan kehidupan. Ah, sudahlah. Bukankah saya sudah sangat menikmati hari-hari seperti ini. Menjadi penulis artikel di Penerbit Erlangga dan Kontenesia, sesekali mengajar, serta masih bergelut dengan usaha untuk menerbitkan buku pribadi. Ya, banyak-banyaklah bersyukur, dan tak perlu tergiur dengan tawaran ataupun peluang yang lebih menggiurkan di luar sana. Semua ini adalah pilihan hatimu, bukan?