Sabtu, 28 Februari 2015

Ketika Dunia dalam Genggaman




http://assets.kompasiana.com/statics/files/2014/03/1395677900515546588.jpg
Jika dulu suatu bangsa bisa hidup aman di tengah-tengah padang pasir atau hutan. Sekarang tidak. Ilmu pengetahuan modern mengusik siapa saja dari keamanan dan kediamannya. Juga manusia sebagai makhluk sosial dan sebagai individu tidak lagi bisa merasa aman. Dia dikejar-kejar selalu, karena ilmu-pengetahuan modern memberikan inspirasi dan nafsu untuk menguasai: alam dan manusia sekaligus. Tak ada kekuatan lain yang bisa menghentikan nafsu berkuasa ini kecuali ilmu-pengetahuan itu sendiri yang lebih unggul, di tangan manusia yang lebih berbudi.” (Pramoedya Ananta Toer)

Hari ini, ketika aku kembali mengulang pelajaran tentang modernitas dan postmodernitas, aku menjadi lebih paham bagaimana proses pergeseran masa mulai dari tradisional yang magis berpindah ke modernitas yang rasionalitas, hingga ke masa postmodernitas, masa dimana irrasionalitas tumbuh dan berkembang dalam rasionalitas. Kita tahu bahwa masa tradisional berakhir sejak abad pencerahan, sejak ilmu pengetahuan bisa bebas dan berkembang. Abad modern memang berkembang dengan mengedepankan rasionalitas. Dan terapan maksimal dari rasionalitas manusia ini adalah perkembangan teknologi. 

 Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai turunannya memang tidak saja membantu manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Lebih jauh, ilmu pengetahuan dan teknologi telah berhasil mendatangkan kemudahan hidup bagi manusia. Namun sayangnya, perlahan tapi pasti, tujuan mulia ilmu pengetahuan dan teknologi dalam membantu manusia memenuhi kebutuhan hidupnya telah mengalami pergeseran. Ilmu pengetahuan dan teknologi seolah menjadi bumerang bagi manusia sebagai penggunanya. Penggunaan IPTEK yang salah kaprah dan tidak terkendali, kini hanya menciptakan alienasi, dehumanisasi, dan konsumerisme dalam kehidupan manusia. Padahal, ilmu pengetahuan lahir dan hadir di tengah-tengah manusia untuk melakukan enlightening, pencerahan. Tetapi mengapa ilmu pengetahuan dan teknologi, kemudian justru menimbulkan tanda-tanda kehancuran bagi umat manusia?

Bahkan seorang Einstein pun pernah mengungkapkan kekhawatirannya akan perkembangan ilmu yang sifatnya rasional, mulai menjadi dewa baru yang tidak saja menundukkan tapi juga memperbudak masyarakat modern. Beliau berpesan “Dalam peperangan, ilmu menyebabkan kita saling meracun dan saling menjegal. Dalam perdamaian, dia membikin hidup kita dikejar waktu dan penuh tak tentu. Mengapa ilmu yang amat indah ini, yang menghemat kerja dan membikin hidup lebih mudah, hanya membawa kebahagiaan yang sedikit sekali kepada kita?” (Pesan Albert Einstein kepada mahasiswa California Institute of Technology)

Untuk zaman seperti ini, perkembangan teknologi memang bukan hal yang bisa dielakkan, pun tidak perlu sekedar dikutuk, bahkan secara keseluruhan masyarakat memang menyenanginya, seolah tak bisa hidup tanpanya. Ya, dalam kerangka dan irama kultur secara makro, masyarakat memang membutuhkan teknologi. Namun, kita juga harus berhati-hati dalam menerjemahkan makna kemajuan. Dari sudut lain terlihat bahwa ini adalah contoh mencolok betapa tangan-tangan raksasa teknologi kapitalis telah mencengkeram hingga rongga terdalam dari tubuh kebudayaan masyarakat. Satu sisi realitas yang naif; masyarakat telah didorong sedemikian rupa, dipaksa secara kultur dengan dahsyat untuk memiliki apa-apa yang sesungguhnya tidak atau setidaknya belum merupakan kebutuhan dasar yang berasal dari dirinya sendiri. Contoh paling sederhana, handphone –yang saat ini disebut smartphone- misalnya. Anak-anak kecil di era ini bahkan masih dalam usia balita telah menjadikan Smartphone sebagai mainan sehari-hari. Usia diatasnya, Smartphone seolah telah menjadi kebutuhan pokok, yang bisa atau tidak bisa harus ada dalam keseharian mereka. Sementara bagi mereka yang berada dalam rentang remaja-dewasa, memakai Smartphone telah melebihi alasan kebutuhan akan esensi dari barang itu sendiri. Kepuasaan akan fitur-fitur yang selalu berkembang untuk dianggap sebagai yang tercanggih, serta kebesaran nama dari sebuah produk lebih penting untuk mereka miliki. Sehingga tidak heran jika Indonesia menjadi pasar sekaligus konsumen terbesar untuk industry Smartphone. Sangat wajar jika hasil survei Mobility Report Ericsson, menyebutkan bahwa pengguna perangkat mobile akan mencapai 9,3 miliar pada tahun 2019. Dan sekitar 5,6 miliar atau lebih dari 60 persennya merupakan pengguna Smartphone.

Smartphone, di samping kedudukannya sebagai pemenuh mimpi kultur yang kewajarannya dipertanyakan, juga memberi degup yang berbeda dalam kehidupan masyarakat indonesia. Smartphone dan teknologi semacamnya, notabenenya adalah suatu kemajuan konkret. Namun, masalahnya lebih rumit dan naif dari sekedar soal “maju” karena Smartphone tidaklah hadir serempak dengan kesiapan masyarakat untuk menjadikannya sebagai alat komunikasi yang benar-benar efektif. Benda-benda gemerlap itu merupakan produk kultur teknologi yang mencampakkan orang-orang sedemikian rupa kedalam impian kemewahan yang meminta hampir seluruh hidup mereka. Mereka hanya mengerti bahwa produk teknologi tersebut bisa menjadi simbol kemajuan taraf hidup mereka. Bahwa ia tidak bisa dan tidak boleh dielakkan untuk hadir. 

Sehingga, Handphone secara langsung atau sedikit demi sedikit, akan mampu mengendalikan atau bahkan bisa disebut memperbudak sikap dan mekanisme hidup mereka sehari-hari. Barangkali, hal demikian boleh sesekali diabaikan. Namun, sebuah benda teknologi tidak pernah berdiri sendiri, dan sebagai gejala makro yang merata harus diakui bahwa keberadaannya mampu membawa pergeseran warna hidup secara sosial. Memang tidak ada yang salah dengan terjadinya sebuah pergeseran sosial, karena itu memang sebuah konsekuensi dari sebuah dinamika. Dan setiap dinamika meminta ongkos terjadinya kehilangan-kehilangan. Sementara kemajuan akan teruji kebenarannya apabila atas kehilangan-kehilangan ini bisa ditemukan gantinya. Sebut saja terhapusnya beberapa tatanan dan pertalian kehidupan masyarakat sebagai salah satu contohnya.

Dalam Runaway World, Giddens menjelaskan bahwa Globalisasi yang tidak lain adalah anak dari kemajuan ilmu dan teknologi juga bisa menciptakan perubahan super dahsyat yang merombak dan memporak-porandakan tradisi, dimana nilai-nilai penyangga kehidupan manusia terbentuk.  Tidak berhenti di situ saja, proses penghancuran ini pun merambah ke keluarga, komunitas terkecil tempat manusia hidup. Akibatnya, manusia semakin kehilangan tempat berpijak bagi kehidupannya. Bukan hal yang aneh jika saat ini dalam sebuah keluarga, mereka lebih asyik dengan Smartphone masing-masing dibandingkan dengan harus menciptakan quality time dengan anggota keluarga yang lain. Bahkan tak jarang, untuk sekedar komunikasi pun mereka lakukan hanya melalui alat teknologi serba canggih ini. Disadari atau tidak, Smartphone telah mengubah perilaku masyarakat. Orang-orang di zaman ini sudah tidak bisa lagi lepas dari Smartphone. Mereka seolah tidak bisa melepaskannya dari genggaman bahkan hanya untuk beberapa menit. Hal ini tentu cukup mengejutkan bagi kehidupan sosial setiap orang yang ada sekarang. Tujuan utama ponsel sebagai alat komunikasi jarak jauh pun sudah terlupakan. Smartphone membuat orang yang jauh menjadi dekat, namun justru membuat orang yang dekat menjadi jauh. Orang-orang modern saat ini justru lebih asyik dengan dunia yang mereka ciptakan sendiri, dibandingkan dengan dunia nyata dimana mereka berpijak.

Perlahan, kita telah melepaskan diri dari tatanan dan pertalian yang lazim terdapat dalam kehidupan social khususnya di Indonesia yang sebelumnya amat erat dengan kebersamaan dan kekeluargaannya. Di titik ini, kita patut bertanya perihal tatanan-tatanan baru yang mampu mencapai tingkat lebih tinggi secara peradaban manusia, sesuai dengan tingkat kemajuan yang notabenenya menjadi hak masyarakat modern.

Ah, aku tiba-tiba jadi ingat ibu yang pernah berkata “semoga saya dilindungi dari kuasa handphone”. Ya, ibuku. Sosok sederhana tapi telah mampu melakukan counter culture akan kuasa Smartphone. Bagi beliau, dianggap kuno atau ketinggalan zaman masih lebih baik dibandingkan jika kita harus menjadi budak dari sebuah benda kecil seperti itu. Dan tak patut rasanya jika waktu yang amat berharga, yang dikaruniakan oleh tuhan pada umatnya, hanya dihabiskan untuk mengurusi hal-hal yang berada dalam Smartphone. Awalnya, aku pun sempat merasa risih ketika di rumah selalu ditegur dan dinasehati acapkali aku memegang HP. Bagi mereka, ayah dan ibuku, handphone hanya patut digunakan ketika dibutuhkan, dan itu tidak setiap saat. Benar memang, handphone bagi mereka hanya cukup sekedar SMS dan telepon, tidak seperti aku dan saudara-saudaraku yang memang hidup dan besar di era dahsyatnya teknologi komunikasi. Tapi, perlahan seiring bertambahnya usia dan pengetahuan, aku menjadi mengerti, bahwa waktu itu sangat penting untuk hanya sekedar dihabiskan di depan layar smartphone. Ada waktu atas segala sesuatu.

Karena masalah kita bukanlah bagaimana mengelakkan teknologi, melainkan bagaimana menjinakkannya, bagaimana belajar hidup berteknologi secara kreatif, produktif, dan prospektif. Semoga, kita bisa.  

Surabaya, 24 Februari 2015

Mereka, yang ku sebut Sahabat



http://kartun.co/wp-content/uploads/2014/06/kata-mutiara-persahabatan-arti-sahabat.jpg
Aku tidak terlalu mengerti bagaimana mendefinisikan kebahagiaan. Namun, aku merasa bahwa hidup memang lebih kaya dan menyenangkan dengan adanya sahabat-sahabat di sepanjang perjalanan. Beruntunglah orang-orang yang mengenal arti “sahabat” di sepanjang alur kehidupannya. Karena bersama “sahabat” lah kita mampu merajut mimpi dan indahnya hidup di atas garis warna-warni dunia fana. Mungkin, sahabat memiliki makna layaknya bintang yang setia menemani malam, walau terkadang dia tak tampak bukan berarti dia menghilang, dia tetap ada, karena dialah sahabat sang malam. Ya, bersahabat dengan mereka membuatku menjadi tahu, rasa sayang bukan hanya soal mata yang saling menatap. Tapi juga hati yang tak pernah berhenti mendoakan.
Bisa dibilang, aku termasuk dalam golongan yang beruntung itu. Hari-hari dalam menikmati indahnya dunia selalu aku jalani bersama mereka. Kenangan, mari satu persatu kita buka pintu waktu. Karena sejatinya, kita selalu, selalu bersama.
 Sahabat yang pertama kali ada dalam hidupku adalah saudara sepupu seusiaku dari garis keturunan ayah. Ya, sejak kecil kami telah tumbuh bersama, ibarat anak kembar malah. Semua serba serupa. Mulai dari barang-barang kepunyaan, seperti baju, tas, dan sepatu, hingga gaya penampilan dan pendidikan. Namun, se-betapa-pun kami dimiripkan, kami tetaplah dua manusia yang meski sangat rekat tetaplah memiliki perbedaan. Jika kata orang aku memiliki keunggulan dalam prestasi akademik, menurutku dia memiliki keunggulan dalam kesederhanaan dan kebersahajaannya. Sungguh, menurutku dia hebat. Di usia kami yang masih kanak-kanak, dia telah memiliki tingkat kedewasaan di atas rata-rata.
Dia begitu bersahaja. Dia selalu tabah dan senantiasa ikhlas dalam menjalani hari-harinya. Bahagianya itu dari sebuah kesederhanaannya, Tawanya itu dari sikap sederhanannya. Ya, diantara saudara ayahku yang mayoritas berprofesi sebagai guru, memang hanya orang tua dialah yang harus bekerja lebih keras menggarap sawah. Seringkali, di hari libur aku turut menemaninya ke sawah. Walau kami hanya sekedar bermain ilalang, atau mencari ulat yang mulai menggerogoti tanaman. Tidak hanya itu, jika mayoritas anak-anak seusia kami hanya bisa meminta uang pada orang tua, dia justru selalu berusaha agar bisa menghasilkan uang sendiri. Terkadang, aku juga turut membantunya mencari dan mengumpulkan buah asam, ketika kami berangkat atau pulang sekolah bersama. Buah asam itu lalu dikuliti, dijemur, dan nantinya bisa dijual. Atau, ketika musim panen tembakau, dia dan anak-anak di desa itu membantu para petani dari satu rumah ke rumah secara bergantian. Uang-uang itu ia simpan dengan baik. Tidak seperti aku yang sangat susah untuk menabung.
Terkadang, aku merasa tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dia. Aku memang lebih tua beberapa bulan darinya, aku anak pertama dan dia anak terakhir, seharusnya aku jauh lebih dewasa kan? Nyatanya, aku justru belajar banyak darinya. Dia, saudara sekaligus sahabatku. Kami bersama hingga masa sekolah dasar dan madrasah kami berakhir. Setelah itu, dia lebih memilih untuk memperdalam ilmu agama. Dia selalu bilang padaku, bahwa “kebahagiaan itu tak akan pernah bisa di ukur dari seberapa banyak harta di dunia. Tak apa jika Allah tidak memberi kesempatan kita untuk kaya di dunia, yang terpenting kita selalu berusaha agar nanti kita bisa bahagia dan kaya di akhirat.” Selepas menamatkan Madrasah Aliyah, dia menikah dengan seorang laki-laki soleh. Sungguh, dia pantas untuk mendapatkannya, karena dia wanita sholehah, seperti nama belakangnya. Saudariku, tak peduli tangan dan tubuh yang makin jarang bisa rekat, kita akan tetap punya ikatan yang kuat.     
Di SMP, aku tak lagi bersamanya. Hari-hari mulai dihiasi dengan hadirnya teman-teman baru. Beberapa ada yang mendekat karena kepentingan. Tapi, ada juga yang karena ketulusan. Seperti mereka. Dua orang ini mulai memasuki kehidupanku di tahun kedua masa ini. Meski di dua tahun itu pula kita tak pernah berada dalam satu kelas. Baru di tahun terakhirlah, kami benar-benar bisa menikmati hari-hari putih-biru bersama setiap saat. Tak ada kata sebentar dalam sebuah persahabatan sejati bukan? Ya, saat kami telah memasuki masa SMA, dimana diantara kami bertiga ada yang berbeda sekolah, persahabatan ini tetap terjalin dengan baik. Bahkan, hingga mereka berdua bekerja, dan aku masih berkutat dengan materi di bangku kuliah, ketulusan hati mereka tetap terpancar. Bahwa mereka tidak pernah memandang persahabatan sebatas status, materi, ataupun sebatas prestasi akademik.
Jika di dua jenjang pendidikan sebelumnya aku telah terbiasa berada di atas, maka di jenjang SMA aku berada diantara mereka yang juga memiliki kemauan, mimpi, dan kemampuan di atas rata-rata. Ya, selama tiga tahun kami disatukan dalam satu ikatan yang tidak hanya sebatas kelas formal. Tapi, sebuah ikatan dimana kami saling merangkul tuk menuju ranah impian. Meski kami tahu, tuk mencapainya, ada lautan yang harus di sebrangi, ada hujan yang akan melanda, atau bahkan mungkin badai dalam sebuah hubungan dan perjalanan ini. Tapi, kami percaya, selalu percaya, bahwa semuanya akan baik-baik saja. Kami biasa menyebut diri kami Einsteiner, karena kami disatukan oleh sebuah ikatan bernama Einstein.
Hampir seluruh kenangan di masa putih abu-abu adalah kenangan bersama mereka. Kami tersenyum, menangis dan bertengkar. Waktu pun berlalu sejak hari itu, di saat kami saling berbicara tentang impian masing-masing. Hampir seluruh kenangan ini adalah jejak kehidupan kami. Kami berjalan, berlari dan berhenti. Hingga akhirnya kami sadar, bahwa pasti akan ada masa dimana kami harus fokus mengejar impian masing-masing. Hari pun berlalu sejak hari itu.
Di bangku kuliah, semuanya memang tak lagi sama. Kehidupan mulai menuntut untuk menjadi lebih mandiri. Berada di tanah rantau, menjadikan kita sangat mengerti hadirnya teman seperjuangan. Aku pun kembali dipertemukan dengan mereka, dan telah mengukir cerita yang tak kalah indah tuk dikenang. Aku bersyukur bisa melalui masa ini bersama kalian. Kuakui, menjalani perjuangan di kota besar seperti Surabaya memang tidak mudah. Tapi, kalian telah berhasil menjadikan hari-hari itu berwarna dan bermakna. Ah, aku membayangkan bagaimana rasanya jika suatu saat kita mengulang ceritanya? Mengenangnya saja telah mampu menghadirkan senyum, apalagi nanti jika kita mampu bernostalgia. Pasti, yang tersisa dari semua kenangan kebersamaan itu hanyalah canda tawa. Tak peduli itu tangis, rasa kecewa, semangat yang membara, ataupun sikap konyol dan kegilaan, kita hanya akan mengenangnya dalam senyum dan tawa yang tak pernah palsu.
Aku memiliki beberapa sahabat di masa ini. Nita, abang Omen, b.ma dan Afril adalah mereka yang menemani hari-hari perkuliahan sejak awal masa itu dimulai. Ibarat keluarga, kami telah menganggap satu sama lain sebagai saudara. Selain mereka, aku juga memiliki sahabat sekaligus partner-partner dalam dunia literasi kampus. Ya, mereka adalah orang-orang dalam keredaksian jurnal kampus yang juga tergabung dalam tim riset. Bersama mereka, aku semakin mengenal diriku, mengerti apa pilihan hatiku, yaitu dunia akademisi dan literasi. Bersama mereka, aku menjadi sangat paham bahwa jika ada orang yang mengatakan padamu bahwa perbedaan tidak dapat berjalan beriringan, jangan sepenuhnya percaya. Karena, seperti halnya pelangi, kami bersatu, tumbuh dan berkembang dengan warna masing-masing. Dunia menjadi lebih terbuka bersama mereka, karena selalu ada cara untuk belajar dan mempelajari sesuatu. Kebersamaan itu tercipta dan terjalin dengan sangat baik berkat dosen-dosen muda yang penuh integritas, dedikasi dan loyalitas. Beribu-ribu terima kasih patut kami haturkan untuk beliau-beliau, atas semua kesempatan, keahlian, dan perhatian yang telah ditularkan. Kawan, kau perlu tahu, tak ada yang berbeda meski kita telah terpisah jarak, ruang, maupun waktu. Dukunganku selalu bisa kau dapat, walau hanya melalui doa. Semoga, tidak hanya di hari itu, tapi juga hari ini dan hari-hari esok, kita akan senantiasa menjadi pegiat literasi.
Sepanjang perjalanan ini, aku juga memiliki sahabat-sahabat lain, diantaranya Olive, Dyah, Tanti dan Winda. Persahabatan ini memang baru terjalin beberapa semester menjelang kelulusanku. Tapi percayalah sahabat, aku takkan pernah melupakan kau sebagai kawan terbaikku. Berjanjilah. Jangan pernah merasa sendiri. Semisal kau tak sanggup menanggung bebanmu, kau paham bahwa aku selalu siap tuk diajak berbagi.
Sahabat-sahabatku, lewat tulisan ini, aku hanya ingin mengirim ucapan terima kasih kepadamu. Kau tentu tahu jika lisanku tak lihai berkata-kata. Jadi, Maafkan aku yang hanya mampu melukiskannya melalui kata-kata sederhana ini. Tapi yang jelas, itu tak sedikitpun mengurangi rasa syukurku karena memilikimu. Sahabat-sahabat terbaikku.
Jika hari ini aku bisa menerima hari-hari seperti ini, itu semua berkat orang-orang yang mendukungku. Termasuk kau, sahabatku. Sekali lagi, terima kasih telah berkenan ambil bagian dalam hidupku.

Surabaya, Februari 2015

Senin, 15 Desember 2014

“Pendidikan tanpa kelas, mungkinkah?

Pendidikan merupakan sektor yang sangat penting bagi perkembangan serta peradaban sebuah negara. Di indonesia, pentingnya pendidikan telah dituangkan dalam janji kemerdekaan yang termaktub dalam UUD 1945 yaitu Mencerdaskan kehidupan bangsa. “Mencerdaskan kehidupan bangsa” diletakkan sebagai salah satu janji kemerdekaan. Ia disejajarkan dengan ketiga janji lainnya, yaitu: “Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia”, “Memajukan kesejahteraan umum”, serta “Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”. Penempatan pendidikan sebagai salah satu janji kemerdekaan menekankan bahwa janji lain yang meliputi keamanan, ekonomi dan peran internasional, tidak mungkin dapat terwujud tanpa memberikan perhatian yang baik pada pendidikan. Pembangunan yang dilakukan harus berpusat pada manusia, dan pendidikan adalah kunci untuk menciptakan manusia yang berkualitas.
            Jika kita memperhatikan sistem pendidikan yang berlangsung di Indonesia sekarang ini, masih banyak aspek yang perlu dievaluasi untuk memperbaiki kondisi pendidikan di negeri ini.  Ada tiga masalah pokok yang harus segera diselesaikan demi terciptanya sistem pendidikan yang mampu mewujudkan cita-cita sekaligus janji kemerdekaan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Yaitu berkaitan dengan keadilan pendidikan, mutu pendidikan, dan pengelolaan pendidikan.
            Hal-hal yang berkaitan dengan keadilan pendidikan di indonesia sudah bukan lagi suatu hal yang baru, dan bahkan sudah sangat jelas terjadi. Perbedaan kualitas pendidikan antara Jawa dan pulau-pulau lainnya di Indonesia serta kesenjangan pendidikan antara pendidikan di kota besar dengan yang ada di pedesaan. Padahal, pendidikan yang baik dan berkualitas menjadi hak semua warga Indonesia, tidak terkecuali. Ketika keterbatasan atas pemenuhan hak-hak telah terjadi, maka konsekuensi logis yang akan tercipta adalah kesenjangan. Dan semakin kesenjangan itu tercipta atau semakin melebar, hal tersebut semakin akan membatasi atau menghalangi upaya pengentasan kemiskinan yang juga merupakan masalah akut yang tengah dihadapi bangsa ini.
            Pendidikan seringkali dianggap sebagai salah satu cara untuk memutus rantai kemiskinan. Tidak salah memang, karena pendidikan yang baik dan tepat dapat memberi pengetahuan dan keterampilan sehingga individu terdidik dapat meningkatkan taraf hidupnya melalui peningkatan produktivitas serta pemerolehan akses dan sumber daya. Namun nyatanya, akses untuk sekedar mendapatkan pendidikan yang baik saja sudah terbatas bagi beberapa golongan. Lalu, bagaimana mereka bisa terlepas dari belenggu kebodohan dan kemiskinan? Tidakkah ini semacam ironi atas peran pendidikan dalam upaya pengentasan kemiskinan? Pendidikan yang diharapkan mampu mengatasi masalah, justru memperbesar masalah dan kesenjangan yang selama ini telah ada.
            Tidak bisa dipungkiri jika dari hari ke hari pendidikan menjadi semakin mahal. Meskipun juga tidak bisa ditampik bahwa janji-janji pendidikan gratis seringkali bergema. Tapi, bukankah keduanya memang berbeda? Ketika biaya pendidikan berkualitas harus ditanggung oleh peserta didik, atau orang tua peserta didik, pendidikan justru akan menjadi alat seleksi untuk naik kelas. Golongan yang secara keadaan sosial ekonominya mampu, tentu akan berpendidikan yang baik, otomatis akses akan sumber daya juga menjadi lebih mudah dan mereka akan lebih mudah untuk sejahtera. Sementara golongan dengan tingkat sosial ekonomi rendah, keterbatasan akses akan pendidikan yang berkualitas tentu akan menjadi masalah dari sekian masalah mereka. Padahal, pendidikan bermutu adalah salah satu hak dasar anak yang harus dipenuhi dan negara wajib menjamin pemenuhan hak ini bagi semua anak tanpa terkecuali.
            Barangkali, pendidikan di Indonesia saat ini memang telah berbasis kelas. Disparitas mutu antarsekolah seolah tidak bisa dihindari lagi. Ada segelintir sekolah yang dimungkinkan untuk mencapai keunggulan dengan sebagian anak yang akan menikmati pendidikan kelas dunia. Sementara yang lain, harus berpuas diri dengan pendidikan seadanya atau bahkan mungkin tidak sama sekali. Nyatanya, untuk mendapatkan pendidikan mereka telah terbatasi oleh kelas sosial, dalam proses pendidikan pun mereka akan terkelas-kelas. Kastanisasi sekolah SBI, RSBI, SSN, dan Sekolah reguler memang telah dihapus. Embel-embel sekolah internasional, sekolah unggulan, juga telah disarankan untuk tidak digunakan. Tapi, selama tidak diimbangi dengan adanya perbaikan dan pemerataan kualitas, tidakkah hal itu hanya kebohongan belaka?
            Proses pembelajaran pun juga telah terbagi dalam kelas-kelas. Adanya beragam tes, standarisasi dan sistem perangkingan menjadi salah satu caranya. Serangkaian tes atau aneka ujian telah mengaburkan hakikat dan tujuan pendidikan yang seharusnya mengedepankan proses. Sekolah cenderung mengajarkan siswa untuk semata-mata bisa lulus dari ujian yang harus mereka jalani. Terlepas dari hakikat belajar yang sesungguhnya. Penetapan standarisasi pendidikan pun semakin tidak jelas dasarnya. Jika harus ada standarisasi, berdasarkan standarisasi atau patokan dari yang mana? Bukankah semuanya memang berbeda dan tidak bisa begitu saja disamaratakan? Dan sistem perangkingan menjadi titik akhir sekaligus titik tembak pembagian kelas dalam proses pembelajaran. Siswa akan terkotak-kotak menjadi rangking atas-rangking bawah, lulus-tidak lulus, dan yang paling sederhana bisa-tidak bisa. Ketika kelas-kelas telah tercipta, akses akan sumber daya yang dalam hal ini adalah pengetahuan dan kemampuan (Skill) juga akan berbeda. Anak yang berada di golongan atas akan jauh lebih mudah untuk mendapatkannya karena seringkali guru di indonesia lebih memusatkan perhatiannya pada mereka yang bisa, dan cenderung mengabaikan atau setengah hati dalam mendampingi mereka yang terkategori “tidak bisa”.
            Jika ditelisik lebih jauh lagi, latar belakang keluarga terutama status sosial ekonomi juga memiliki peran besar dalam membentuk kemampuan anak. Anak dari golongan mampu, dengan segala fasilitas yang tersedia, serta kemampuan untuk memperdalam kemampuan melalui bimbingan belajar, tentu bukan hal yang sulit bagi mereka untuk bisa lulus ujian dan berada di rangking atas. Berbeda halnya dengan anak yang berlatar belakang menengah-bawah, selain keterbatasan fasilitas, seringkali mereka juga dihadapkan pada kondisi dimana psikologis mereka telah terbagi antara peran mereka sebagai peserta didik, dan peran mereka dalam keluarga. Proses belajar mereka seringkali terpengaruh oleh hal-hal di luar batas kapasitas mereka sebagai anak. Sehingga tidak heran jika seringkali kemampuan mereka kalah jauh. Dalam kasus ini, tidakkah pendidikan menjadi proses pelanggengan kesenjangan?
            Pendidikan akan mampu memutus mata rantai kemiskinan tatkala keadilan dan kesetaraan pendidikan telah tercipta di bumi Indonesia. Barangkali, reformasi pendidikan memang sudah saatnya dilakukan. Pendidikan untuk semua sudah seharusnya digalakkan dan diterapkan. Adanya diskriminasi dalam dunia pendidikan memang lebih baik diminimalisir, agar semua siswa bisa memperoleh perlakuan yang sama. Kemampuan antar siswa memang bisa jadi beragam, tapi ketika guru bisa mendampingi, membimbing, dan mengarahkannya sesuai kemampuan masing-masing siswa, tentu proses dan hasil pendidikan jauh akan lebih baik. Sedangkan untuk evaluasi, alangkah lebih baik jika penilaian lebih mengedepankan progres atau kemajuan belajar dari masing-masing siswa. Jadi, siswa tidak lagi diuji kemampuan dengan siswa lain, atau hanya untuk sekedar memenuhi standar nilai yang telah ditetapkan. Penilaian untuk mengukur kemampuan memang diperlukan, tapi jika dilakukan terlalu sering juga akan menimbulkan tekanan, dan mengaburkan proses belajar minus pemahaman, penerapan, dan pengembangan kreativitas siswa. Ketika generasi muda telah tumbuh tanpa tekanan, maka tidak akan lagi kita temui anak Indonesia yang besar dan tumbuh tanpa pernah menggunakan otaknya untuk kreativitas. Dan ketika pendidikan untuk semua telah mampu dilaksanakan, kesenjangan (kastanisasi) dalam pendidikan telah dihapuskan, maka secara perlahan kemiskinan dan kesenjangan ekonomi juga akan teratasi.