Rabu, 10 Agustus 2016

it's our full day school



Beberapa hari ini, masyarakat, khususnya para orang tua, pelaku pendidikan, bahkan pemerhati pendidikan, sedang dibayang-bayangi oleh wacana “full day school”.

"Jadi kalau FDS (full day school) itu waktu sehari penuh itu kan nanti bisa menerjemahkan lebih lanjut dari program nawacita dari Beliau (Jokowi-JK) yang dimana pendidikan dasar SD dan SMP itu pendidikan karakter lebih banyak dibanding knowledge basenya dan banyak waktu memberikan kesempatan guru mendidik anaknya menanamkan pada siswanya karakter yang ada dalam nawacita itu," ungkap Muhadjir Effendy.

Sontak, pendapat Pak Menteri itupun menuai pro dan kontra di kalangan netizen, tidak saja para pemerhati pendidikan yang mengungkapkan pendapatnya, masyarakat umum pengguna social media pun turut menyampaikan uneg-uneg-nya. Cara pengungkapannya pun beragam, mulai dari yang sopan, satir, bahkan hingga ada yang “sarkastik”.

Ya, Kita semua tahu, bahwa segala sesuatu pasti memiliki dua sisi. Sisi lebih dan sisi kurang. Kedua sisi yang harus diakui sebagai satu hal yang sama.

Sejenak, saya ingin bercerita pengalaman saya sebagai salah satu produk dari fullday school, meski tidak pada tataran pendidikan yang sama. Karena jika yang dimaksud dengan Fullday School adalah seharian penuh berada di sekolah, saya rasa masa itu saya juga mengalaminya. Hanya saja di sekolah yang berbeda, pagi-siang di sekolah dasar, siang-sore di madrasah diniyah, sore menjelang maghrib berlanjut dengan mengaji di masjid, baru setelah isya’ saya bisa berada di rumah bersama keluarga. Capek? Tidak. Layaknya anak 90-an lainnya, justru itu adalah masa-masa terindah kami. Sekolah bagi kami saat itu adalah arena untuk bermain dan bersosialisasi bersama teman-teman sebaya. Belum ada gadget, belum ada dunia maya, belum ada permainan ini-itu, jadi wajar jika sekolah mempunyai daya tarik tersendiri sebagai tempat “bermain”.

Tujuan para orang tua –termasuk orang tua saya- menyekolahkan anaknya dengan model seperti itu (di zaman itu), tentu agar anaknya tidak hanya belajar ilmu pengetahuan umum, tapi juga berbekal ilmu agama. Keseimbangan antara keduanya itulah yang kemudian menjadi dasar terbentuknya sekolah-sekolah dasar terpadu (SDI/SDIT/sekolah alam), yang dalam perkembangannya juga lekat dengan kesan “bonafit” dan “mahal”.

Dua adik saya menjadi bagian dari system pendidikan yang demikian. Dulu, ketika Aank (adik saya) pertama kali masuk di RA sekolah Fullday tersebut, saya baru menginjak kelas satu SMP. Saya tidak terlalu paham, dan juga tidak ambil pusing waktu itu. Yang saya tahu, ketika saya bertanya pada orang tua saya, beliau hanya menjawab “biar sekalian belajar agamanya disitu, jadi gak usah tengah hari berjalan kaki ke desa sebelah untuk sekolah madrasah”. Sesimpel itu.

Waktu itu, saya juga melihat bahwa keputusan itu memang lebih baik, karena perlahan pilihan untuk sekolah di madrasah diniyah memang semakin ditinggalkan –utamanya di masyarakat perkotaan-. Alih-alih, perkembangan sekolah model seperti ini pun kian berkembang bak jamur di musim penghujan.

Baru di tahun 2012, ketika adik bungsu saya (Alfan) juga disekolahkan di sekolah RA-SDI yang sama, saya baru bisa melihat dengan jelas bagaimana lebih dan kurangnya system pendidikan dengan model seperti itu. Mahal, sudah pasti. Bagaimanapun, sarana prasarana belajar harus menunjang, dan untuk melengkapi itu tentu dibutuhkan biaya yang mahal, bukan? sungguh, sangat jauh berbeda dengan sekolah dasar dan madrasah diniyah saya dulu.

Tiap kelas yang berisikan kurang lebih 40 anak diampu oleh 4 orang ustadz/ustadzah, jadi setiap satu orang ustadz/ustadzah membawahi kurang lebih 10 anak yang harus diawasi dan dipantau perkembangannya. Dari segi pembentukan karakter, saya suka ketika melihat para guru menyambut siswa di pintu gerbang setiap pagi, adanya kantin kejujuran, anak yang diajari untuk bebas berpendapat dan akan selalu didengarkan oleh sang guru (karena memang guru hanya dan harus terkonsentrasi pada beberapa anak), setiap akhir pekan (jumat-sabtu) ada agenda rutin belajar di luar kelas, serta adanya hubungan dan komunikasi yang jelas antara guru dan orang tua. Hal-hal unggul seperti ini yang mungkin memang belum ada di sekolah kebanyakan. Hanya saja, Guru disini, memang dituntut untuk memiliki kesabaran dan kreatifitas yang ekstra, karena bagaimanapun pasti ada “tuntutan standar lulusan” disana.

Ya, memang, saya akui bahwa sekolah model seperti ini memiliki muatan pelajaran yang memang lebih berat dibandingkan dengan sekolah lain. Baik dalam hal waktu, ataupun kemampuan. Terkait kemampuan, stratifikasi kemampuan pasti sangat dikotak-kotakkan. Meskipun sejatinya, setiap anak memiliki kecerdasan dan kemampuan yang tidak bisa disamaratakan, apalagi dikotak-kotakkan. Saya sangat setuju ketika waktu itu adik saya masuk dalam list kelas internasional (ada beberapa jenis kelas di sekolah tersebut), tapi orang tua saya menolak dan lebih memilih tetap berada di kelas regular. Bukan karena apa, untuk anak seusia mereka, berada di sekolah fullday saja sudah berat, apalagi di kelas internasional?

Sebenarnya, tanpa menampik kelebihan-kelebihan yang diberikan, orang tua saya pun paham tekanan yang dialami oleh anak “Fullday School”, dan mereka berusaha mengimbanginya dengan tidak pernah melarang adik-adik saya untuk bermain selepas pulang sekolah (1-2 pulang jam 12.00, kelas 3 pulang jam 15.00, kelas 4-6 pulang jam 16.00). Setelah maghrib, mengaji bersama Ayah, belajar didampingi ibu, dan belajar tidak pernah lebih lebih dari jam delapan malam.

Dalam kasus keluarga saya, orang tua menempatkan anak di fullday school bukan karena orang tua yang bekerja dan sekedar “menitipkan anak” di sekolah. Karena nyatanya, ibu saya adalah seorang full time mother, yang harus mengupgrade ulang ilmu pengetahuannya tatkala mendampingi anak-anaknya belajar di rumah. Hasilnya akan menjadi seperti apa kita semua belum tahu, Alfan masih di kelas tiga SD, sedangkan Aang saat ini kelas 3 SMA. Alasan sekaligus harapan sederhana ayah ibu saya adalah bisa memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anaknya, baik secara kecerdasan intelektual, spiritual, maupun emosional. Tentu, tanpa bermaksud mengabaikan peran sentral orang tua dalam mendidik anak-anaknya.

Saya pribadi, baru mengalami bagaimana tekanan “sekolah plus-plus” itu pada tingkat SMA. Secara umum SMA saya memang bukan fullday school, hanya beberapa kelas saja yang bisa disebut dengan “kelas plus-plus”. Mengapa begitu? Ya, karena rutinitas yang harus kami jalani. Kami harus tinggal di asrama, setiap hari harus bangun sebelum shubuh, pagi-siang belajar di sekolah, sore-malam juga ada bimbingan belajar. Tidak ada waktu bagi kami untuk hanya sekedar mengikuti ekstrakurikuler sekolah, seperti anak-anak kelas lain. Tugas kami hanya belajar, belajar, dan belajar. Terlebih ketika menjelang musim olimpiade, kami benar-benar digenjot untuk belajar dan bahkan unggul di bidang pelajaran yang kami pilih. Karena rutinitas yang demikian, jadi tidak perlu heran jika banyak yang mengecap kami sebagai “kutu buku”, atau bahkan kami memang “ekslusif” (untuk tidak mengatakan kuper), karena tidak semua anak bisa bergaul bebas dengan kami.

Entah kami harus bangga atau tertekan dengan semua status yang melekat pada kami waktu itu. Kenyataan bahwa untuk bisa menjadi dan mendapat fasilitas seperti kami itu memang tidak mudah, dan mungkin juga “mahal”. Dan kami, mendapatkannya dengan gratis. Senang dan bangga, tentu. Bagi kami waktu itu, itu adalah salah satu jalan pembuka mimpi-mimpi.

Apakah kami stress dan merasa tertekan? Saya tidak bisa memungkiri bahwa rasa tertekan dan stress itu pernah ada, apalagi posisi kami waktu itu jauh dari keluarga. Tapi ada hal yang membuat kami bisa bertahan. Apa itu? Teman seperjuangan dan kecintaan kami pada belajar dan ilmu (apapun ilmu itu). Kami tahu, tuk mencapainya, ada lautan yang harus disebrangi, ada hujan yang akan melanda, atau bahkan mungkin badai dalam sebuah hubungan dan perjalanan ini. Tapi, kami percaya, selalu percaya, bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Hampir seluruh kenangan di masa putih abu-abu adalah kenangan bersama mereka (Einstein). Kami tersenyum, menangis dan bertengkar. Waktu pun berlalu sejak hari itu, di saat kami saling berbicara tentang impian masing-masing. Hampir seluruh kenangan ini adalah jejak kehidupan kami. Kami berjalan, berlari dan berhenti. Hingga akhirnya kami sadar, bahwa pasti akan ada masa dimana kami harus fokus mengejar impian masing-masing.

Ya, saya akui saya adalah salah satu produk fullday School. Pahit manis “sekolah plus-plus” atau lebih khusus “kelas plus-plus” telah kami rasakan. Hasilnya? Ya, seperti kami-kami ini.

Yang perlu saya tekankan di sini, tak perlu lhah kita terlalu menyempitkan arti “pendidikan”. Sekolah memang tempat belajar, tapi bukan satu-satunya tempat belajar. Jangan sampai karena terlalu mengagungkan sekolah, kita justru terjebak mendiskreditkan peran sentral orang tua, masyarakat, dan lingkungan.

Yah, barangkali ini bukan tentang lamanya jam pelajaran, namun lebih pada kebahagiaan anak secara sadar untuk berangkat ke sekolah. Karena sekali lagi, pendidikan itu proses. Jika memang “sekolah plus-plus” itu telah terbukti mampu bisa “membahagiakan” anak, bisa membantu anak menjawab nalar-nalar kritisnya, bisa menjadikan mereka peka dengan dunia alam dan sosialnya. Ya silahkan, dilanjutkan.

Lalu, bagaimana dengan sekolah lain yang belum menjadi “sekolah plus-plus”? dan jumlahnya masih menjadi mayoritas di Indonesia. Mungkin perombakan yang harus dilakukan bukan dari sisi itu, perbaiki saja kualitas proses pembelajarannya. Jika anak sudah “bahagia” belajar di sekolah, tidak perlu disuruh untuk “fullday” pun mereka akan selalu tertarik untuk belajar di manapun dan kapanpun.

Tidak percaya? Ya, silahkan dibuktikan.  

Surabaya, 10-08-2016

Minggu, 31 Juli 2016

Jika aku memang bagian dari mimpimu, suatu hari nanti kau pasti kembali.



Apa kabar dirimu? Beratkah hari-harimu belakangan ini? Cukup menyenangkan kah pekerjaan yang sedang kau jalani? Jika bisa, rasanya ingin aku duduk di sampingmu, menawarkan minuman hangat yang tak kalah menenangkan, khusus untukmu. Ingin kupandang wajahmu lekat-lekat. Ya, aku ingin menemanimu dalam menjalani hari-hari yang mungkin masih sangat berat bagimu.

Seandainya sekarang kita sudah bisa bersama, mungkin aku bisa sedikit menjadi penawar rasa lelahmu. Dan menjadi pemantik di tengah keringnya harapmu. Benar, Aku ingin menjadi alasan kau untuk selalu semangat, untuk selalu kuat, dan untuk bertahan dengan semua alasan yang bisa saja membuatmu menyerah.

Kau ingin bertanya alasanku memilihmu? Hanya ada satu alasan. Karena surga akan menjadi lebih dekat jika kita bersama. Semoga.

Sayang, aku mengerti bahwa saat ini kau tengah berjuang untuk masa depan kita. Kau tengah berjuang untuk membuktikan kedewasaan berpikir, dan tingginya rasa tanggung jawabmu. Hingga tak ada lagi ragu, ketika waktu kelak benar-benar menyatukan kita. Memang banyak orang yang telah berkomentar, bahwa perjuangan itu akan lebih nikmat jika dibangun bersama. Mereka tak salah, karena aku pun meyakini hal yang sama. Seandainya kau tahu, aku tak ingin kau datang ketika kau telah mapan. Tak masalah bagiku jika harus memulai dari bawah bersamamu, kita berjuang bersama.

Tapi mungkin, bukan itu yang menjadi alasan utamanya. Ya, kita sama-sama belum selesai dengan diri sendiri. Seperti yang kau bilang, masih ada mimpi yang ingin kau capai. Aku yakin kau juga tahu, bahwa aku juga memiliki mimpi yang masih harus diperjuangkan. Bukan, bukan berarti setelah kita bersama mimpi itu tak dapat diperjuangkan. Justru, kita sama-sama mengerti bahwa kelak ketika kita bersama adalah waktu untuk memperjuangkan mimpi-mimpi bersama, bukan lagi mimpi-mimpi pribadi.

Tenanglah, aku disini mengerti, sangat mengerti bahwa cinta sejati tak pernah menghalangi seseorang untuk memperjuangkan mimpinya. Meski tak kupungkiri jika rasa kecewa itu pasti ada. Karena layaknya wanita pada umumnya, aku juga menginginkan adanya kepastian. Tapi kau tak perlu khawatir, rasa kecewa ini tak akan menghapus keyakinanku padamu. Aku percaya, jika cinta ini memang cinta sejati, cinta ini pulalah yang akan mempertemukan dan menyatukan kita. Tak peduli seberapa jauh saat ini kau pergi memperjuangkan mimpimu. Aku yakin, kau akan kembali.  

Karena saat ini aku masih belum bisa di sisimu, biarlah doa dan harap ini yang mewakili kehadiranku. Kutitipkan salam dan keinginanku pada Tuhan, agar hidupmu baik-baik dan tak kekurangan. Semoga hari-harimu bahagia dan kau diberi kesehatan. Harapanku, agar doa-doa yang biasa kau rapal segera dapat jawaban. Semoga Dia berkenan mewujudkan mimpi-mimpimu jadi kenyataan. Percayalah, doaku tak putus-putus untukmu, kukirim dari sini.

Sampai hari itu tiba. Sama halnya seperti diriku, kumohon tabahkan dirimu. Semesta sedang berjingkat mengurus pertemuan kita di satu masa paling sempurna. Yakinlah ia akan segera ada di hadapan mata. Semoga, waktu itu tak lama.

Jumat, 29 Juli 2016

Padamu, yang kuyakini telah ditakdirkan. Namun tetap harus diperjuangkan.


Siapa sih yang gak ingin mendapat pasangan yang baik?

Dalam al-quran dijelaskan bahwa wanita yang baik hanya untuk laki-laki yang baik, dan begitu juga sebaliknya. Aku juga sering mendengar bahwa jodoh tidak pernah luput dari upaya seseorang untuk memantaskan dirinya. Orang yang pergaulannya bersama golongan orang-orang yang baik, tentu dia akan mendapat jodoh dari kalangan itu pula. Kata orang, jodoh juga perkara cermin diri. Seseorang yang tertakdirkan hanyalan pantulan dari diri kita.

Perkara jodoh memang tidak sepenuhnya perkara takdir. Benar memang, cinta sejati dan pasangan yang akan mendampingi kita hingga tua itu sudah dituliskan. Tapi, sebagai manusia, kita hanya patut berserah sambil tak putus-putus untuk mengusahakannya. Karena dia yang tertakdirkan, tak akan jauh dari upaya kita untuk memperbaiki diri agar menjadi manusia yang lebih baik.

Semua orang tentu ingin mendapatkan pasangan yang sepadan. Baik itu dalam hal keimanan, atau dalam hal lainnya. Tapi, sungguh tak patut rasanya jika keinginan tersebut hanya dibarengi dengan sikap pasrah, tanpa usaha keras yang sepadan dibaliknya. Logikanya, jika kita ingin mendapat pasangan yang pintar, gemar membaca dan lain-lain, tentu kita setidaknya juga harus berada di lingkungan yang serupa. Ketika kita mengharapkan pasangan dengan iman yang baik, tentu terlebih dahulu kita harus menengok diri, sudah sedekat apa hubungan kita dengan Allah?

Bukti nyata akan hal tersebut telah banyak bertebaran di muka bumi ini. Meski tentu tak bisa disama ratakan, kita tentu sering melihat pasangan yang sepadan baik secara keimanan maupun secara kemapanan. Lalu, masihkah kita ragu? 

Untukmu, yang saat ini juga tengah memantaskan dan memperbaiki diri.  Sama halnya seperti diriku, aku juga ingin kau yakin bahwa kita tertakdirkan untuk orang-orang yang baik. Tetaplah bersabar dalam penantian. Teruslah berupaya untuk kebaikan. Karena sebenarnya, kita hanya menunggu waktu. Allah tidak pernah main-main dengan janjinya. Bersabarlah, wahai hati.

Kamis, 14 April 2016

Selamat Jalan Mbah Oemar Bakrie ku



“Hidup memang bermula dengan B (Birth) dan berakhir dengan D (Death). Dan yang harus senantiasa diingat bahwa diantara B dan D, ada C (Choice). Hidup adalah pilihan. Mau jadi pahlawan atau pecundang. Numpang lewat atau menebar manfaat.”

Ya, hidup memang hanya sekali. Karenanya, pilihlah hidup yang penuh arti. Yang penuh prestasi dan kontribusi. Yang jasadnya mati tapi namanya tetap abadi. Yang hidupnya mulia, matinya dikenang sejarah. Yang di dunia bahagia, di akhirat meraih surga. Yang di dunia dicintai manusia, di akhirat hidup bersama ridha Tuhannya. Sejatinya, itulah hakikat hidup sejati seorang manusia.

Kau telah pergi, memoar hidup sejenak kembali, dan seperti halnya kau, perjalanan hidupmu juga mengajarkan banyak hal. “Mbah Guru”, Ya, begitulah masyarakat di desa ini memanggilmu. Dulu, sewaktu kecil aku sempat heran mengapa orang-orang di desa ini memanggilmu dengan sebutan “Mbah Guru”? mengapa tidak dipanggil “Mbah Madin” atau “Mbah Fagi” seperti halnya mbah-mbah kebanyakan di desa ini yang biasa dipanggil mbah dan diikuti langsung dengan namanya. Dan  lambat laun, aku pun tahu bahwa sebutan itu melekat karena kau, adalah guru pertama di desa ini. Sang pembabat hutan kegelapan dan kebodohan. 

Desa itu memang hanya sebuah desa kecil di pelosok Pamekasan, Madura. Tapi, desa itu pulalah yang menjadi saksi dari perjuangan dan pengabdianmu. Mungkin, aku memang tidak tahu persis bagaimana jerih payahmu, bagaimana kerasnya episode kehidupan yang kau lalui hingga kau dihormati dan mampu mengangkat derajat keluargamu dengan status pendidikanmu. Tapi, bukan berarti aku tak tahu. Terlalu banyak orang yang menyimpan episode hidupmu dalam sejarah pendidikan di desa ini. Hingga hari ini, di hari paska kepergianmu, aku masih bisa melihat, mendengar, dan merasakannya.

Dulu, tentu tak banyak orang yang akan menyangka jika anak kecil yang bernama Asmadin, yang sedari kecil berkeliling desa menjajakan ikan bersama ibunya, karena memang ibumu berprofesi sebagai penjual ikan keliling yang oleh orang Madura disebut “blijjeh”, akan menjadi orang yang berpengaruh. Tak pernah ada keluh terucap dari bibirmu, dengan penuh ikhlas kau menjalani semuanya. Kau tetap melangkah meski lelah, tetap tersenyum meski sulit, dan tetap sabar di tengah takdir, hingga Allah pun membuka jalan yang membawamu masuk indah rencana-Nya. Ya, ada seorang saudagar kaya di desa kelahiranmu itu yang melihat kegigihan dan semangatmu. Hingga akhirnya saudagar itu memutuskan untuk memilihmu sebagai pengganti putranya yang tidak mau sekolah, dan terlanjur sudah ia daftarkan. Ah, rasanya, jika melihat kondisi hidupmu seorang pun takkan pernah membayangkan jika kau akan menjadi guru pertama di desa kelahiranmu, mengingat di jaman sebelum kemerdekaan pendidikan seolah hanya untuk kaum bangsawan.

Namun, bukankah kita juga harus percaya, tak pernah ada yang tahu darimana Allah akan memberikan pertolongannya, bukan? Yang jelas, Allah tidak pernah tidur tuk melihat kegigihan, semangat dan mimpi orang-orang sepertimu, Mbah.

Kaupun tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Allah untukmu. Dengan semangat kau belajar bersama cerah mentari, dalam sore yang menanti senja, dan bersama malam yang sedikit menggoda untuk segera terlelap dalam hangatnya mimpi. Kau tidak pernah merasa minder dengan statusmu sebagai putra “cok gunong” (istilah untuk putra yang berasal dari daerah terpencil) meski teman-temanmu berasal dari seluruh kabupaten di Madura, bahkan ada yang dari luar Madura, yang tentu dengan status social jauh lebih tinggi darimu. Ya, begitulah kau. Hingga kaupun menjadi siswa kesayangan gurumu dan diminta tuk tinggal dirumahnya. Sejak itu pulalah, namamu diubah menjadi “Fagi WirjoAsmoro”. Nama pemberian dari guru yang selanjutnya terus melekat padamu.

Kau hidup bersamanya dalam didikannya tuk menjadi seorang guru. Hingga akhirnya, kaupun lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Banyak tawaran pekerjaan yang datang padamu, mulai dari Pegawai Pemerintahan, Bank, dan Guru. Dan rupanya, jiwa seorang guru telah melekat dalam dirimu. Selayaknya, profesi seorang guru memang tidak hanya didasarkan pada gaji guru yang akan dinaikkan atau akan menjadi PNS, bukan pula merupakan pilihan terakhir setelah tidak dapat berprofesi di bidang yang lain. Tapi, lebih pada sebuah idealisme luhur demi tercipta generasi indonesia yang berkualitas di masa yang akan datang. Itulah prinsipmu.

Menurutmu, guru adalah pekerjaan mulia. Bagimu dan juga bagi Oemar Bakri lainnya, kesuksesan hanya ada jika kita bisa menjadi jalan sukses orang lain, dan hal itu bisa  didapatkan dengan menjadi seorang guru dan pendidik yang mampu menjadi pembuka jalan kesuksesan bagi anak-anak didiknya. Tentu, sukses disini tidak hanya dalam artian kemampuan intelektual semata, tapi juga berpijak pada moralitas yang agung sebagai basisnya. Itulah harapan tulus seorang pahlawan tanpa tanda jasa sepertimu.

Awal-awal kariermu sebagai guru, kau ditempatkan di sebuah desa yang terletak di kabupaten lain di Pulau Madura. Kala itu, kau juga baru saja mempersunting seorang gadis yang bernama Nafiyah. Kewajibanmu sebagai guru dan jauhnya jarak tempat tinggal dan tempat tugas menuntutmu untuk menyewa sebuah rumah di desa tempat kau mengajar. Tak ayal, setiap senin pagi kau membonceng sang istri turut serta ke desa dimana kau mengajar, dan tiap sabtu sore  akan pulang ke desa dengan sepeda ontel kesayanganmu. Begitulah, rutinas berulang setiap minggunya hingga kau dikarunia seorang putra di pertengahan tahun 1954. 
Baru setelah kelahiran putra ketigamu, desamu itu baru mulai terjamah oleh pendidikan. Sekolah dasar mulai didirikan dan kau diangkat menjadi kepala sekolah disana. Itu artinya kau tak lagi harus mengontel sepeda sejauh itu demi melaksanakan kewajibanmu sebagai guru. Kau akan menjadi peretas pendidikan di kampung kelahiranmu. Menjadi kepala sekolah tentu tak membuatmu memilih berleyeh-leyeh menikmati fasilitas. Karena bagimu, kepala sekolah tetaplah guru, hanya saja tanggung jawab sekaligus godaannya lebih besar. Ibarat sebuah tanaman, bukankah makin tinggi tanaman, angin yang menerpanya juga akan semakin kencang? Begitupun halnya dengan Kepala Sekolah. Dengan tanggung jawab dan kuasa yang lebih besar, tapi jika tidak hati-hati tentu akan terlena, hingga akhirnya terpedaya oleh candu duniawi.

Menjadi guru sekaligus kepala sekolah di daerah yang baru saja terjamah oleh pendidikan formal, memang bukan hal yang mudah. Kau beserta guru-guru lainnya harus berjuang keras membangun kesadaran baru masyarakat setempat akan pentingnya pendidikan. Walau kau tahu itu tak mudah, namun jiwa seorang pendidik terus menyemangati diri tuk terus melangkah demi mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam harap, akan terciptanya Indonesia, dan Madura khususnya sebagai bumi manusia berkualitas dan bermakna di hari esok.

Menjadi seorang guru juga tidak hanya dituntut mempunyai kewajiban ilmu-ilmu akademis, tapi lebih dari itu seorang guru juga memiliki tanggung jawab moral akan anak didiknya. Guru tidak hanya sebatas mengajar di depan kelas, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku seorang guru adalah contoh dan suri tauladan bagi murid-muridnya. Bagaimana bisa seorang guru mengajar tentang nilai kejujuran jika sang guru, yang notabenenya adalah orang yang mengajari tidak bisa melakukan hal-hal yang berbau kejujuran? Adalah kau contoh seorang pendidik yang memegang teguh nilai pekerti tersebut. Tak sebatang kapurpun kau tuliskan diluar keperluan mengajar, tak sebatang kayu proyek bangunan sekolahpun kau bawa pulang meski hanya sekedar untuk kayu bakar. Ah… andai saja, anak-anak Indonesia telah terbiasa terdidik dengan nilai-nilai kejujuran, sejak kecil dan dimulai dari hal-hal kecil. Tentu yang lahir adalah generasi yang tidak akan menjadikan Indonesia sebagai Negara terkorup di Dunia seperti saat ini.

Selain itu, bagimu seorang guru juga harus mampu mendalami makna dan komitmen sebagai seorang pengajar dan pendidik. Tidak hanya sebatas dalam gedung-gedung sekolah, melainkan seluruh waktunya didekasikan untuk pendidikan, baik dalam keluarga, dan juga masyarakat. Keluargamu, kau anggap sebagai sebuah lahan percontohan dalam proses pemberian dan penanaman nilai-nilai pendidikan. Dimata putra-putrimu termasuk ayahku, kau adalah sosok ayah terbaik sedunia, tidak hanya Ikal Lascar Pelangi yang mempunyai ayah seperti itu, tapi ayahku pun memiliki bapak yang tidak hanya menjadi ayah super baginya, tapi juga bagi masyarakat di desanya.

Namun, siapa yang menyangka ayah super sepertimu, sedari kecil justru tidak pernah menikmati kasih sayang dan didikan seorang ayah. Ayahmu meninggalkanmu, ibu serta adikmu dan memilih pergi merantau ke luar pulau Madura tanpa ada kabar, bahkan tak pernah kembali. Menurut informasi dari saudara-saudara ayahmu, ayahmu menikah lagi dan telah meninggal di jawa. Hingga akhir hayat ayahmu pun kau tak sempat lagi melihat jasadnya, bahkan liang lahatnya pun kau tak tahu ada dimana. Pilu, tentu. Terasa sangat berat untuk diingat jika enggan tuk mengatakan terharu.

Tak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah bukan berarti kau tak mampu menjadi ayah dan pendidik bagi anak-anakmu. Kau memang mendidik anak-anakmu dengan penuh disiplin. Kau memiliki cara tersendiri untuk menunjukkan kasih sayangmu. Tidak hanya ayahku yang berkata demikian, paman dan bibi pun tak memungkirinya. Kau tidak akan segan-segan untuk mengikat anak-anakmu di pohon jati dekat persawahan belakang rumah semalaman, jika anak-anakmu ketahuan berbohong, melalaikan tugas, ataupun bertengkar dengan saudara sendiri maupun dengan orang lain. Kau selalu ajarkan mereka solidaritas dan empati yang tinggi terhadap sesama. Kala itu, memang anak-anakmu sudah bisa dikatakan anak orang terpandang, dan lebih mampu dibanding warga sekitarnya. Tapi kau tak pernah henti memupuk kemandirian dan kedisiplinan mereka sejak kecil. Tak ada satupun putramu yang kau manjakan. Mereka juga harus bisa melakukan aktifitas layaknya orang desa pada umumnya. Yang laki-laki harus berani dan bisa menggarap sawah. Sementara yang perempuan harus bisa melakukan pekerjaan rumah tangga dengan baik. 

Hanya saja, layaknya orang-orang di zamanmu, memang ada pembedaan perlakuan dalam hal pendidikan antara anak laki-laki dan anak perempuan. Karena memang, kultur di zaman itu mengatakan demikian. Hanya anak laki-laki yang berhak sekolah. Sementara untuk anak perempuan, cukuplah hanya mengerti ilmu agama dan ilmu-ilmu dasar rumah tangga. Namun, lambat laun  tepatnya di penghujung tahun 1980-an, pemikiranmu pun berubah, kau mulai menyadari pentingnya emansipasi wanita terutama dalam hal pendidikan. Putri bungsumu kau sekolahkan setara dengan putra-putramu, hingga perguruan tinggi. Dan kini, merekapun menjadi guru sepertimu, termasuk salah satunya adalah ayah terbaikku, yang darinya aku dengar alunan cerita hati masa lalu yang menginspirasiku tuk selalu bersyukur dan memanfaatkan kemudahan-kemudahan yang ku dapat saat ini untuk terus melangkah membangun kebermaknaan diri, bagi agama, masyarakat, dan negeri ini.

Kau memiliki orang-orang hebat yang mengantarkanmu menjadi bapak guru, baik dalam keluarga dan masyarakat desa Rang Perang Laok Kecamatan Proppo Kabupaten Pamekasan Madura. Dan kini kau menjadi orang hebat yang mengajarkanku tentang arti perjuangan, kejujuran, dan tanggung jawab. Belajar dari kisah perjalanan hidupmu, aku menjadi semakin mengerti bahwa Ilmu itu mengangkat derajat orang yang mempelajari. Memudahkan orang yang mengamalkan, makin bertambah jika dibagikan, dan akan abadi jika dituliskan. Ilmu itu, mencahayaii gelapnya peradaban, membalik nasib menuju keberkahan, dan memantik hadirnya kebahagiaan.

Sampai di penghujung akhir hayatmu, betapa kau masih sangat bangga dengan profesi gurumu. Kau masih ingin memakai baju PGRI kebanggaanmu, tak peduli baju itu telah sangat kusut dan kusam, bahkan berhias beberapa sobekan setelah hampir 26 tahun tersimpan selepas kau purna tugas. Saat terakhir kali aku bisa berbicara denganmu di ruang ICU, sehari sebelum kepergianmu, masih teringat jelas kau memintaku tuk mencarikan dan mengambilkan sandalmu. Ya, di tengah kondisimu yang tengah terbaring lemah berbalut banyak selang, kau masih ingin melangkah. Dan waktu itu, aku hanya bisa menangis.

Dan kini, kau telah benar-benar pergi.

Semoga segala amal ibadahmu diterima mbah, dan kau diberi tempat terbaik oleh-Nya. Doakan selalu cucumu, agar bisa menjadi orang bermanfaat sepertimu. Semoga, cucumu ini bisa meneruskan langkahmu, menjadi pejuang pendidikan. 

Selamat jalan Mbah Fagi, Mbah Oemar Bakrie.(02-09-1930 -  05-04-2016)