Minggu, 17 Januari 2016

Arti sebuah kesetiaan, kucoba bertahan



Suara ombak terus memukul telinga. Tampak menghantam karang lalu pecah menjadi bulir-bulir udara, sebagian menerpa wajahnya, membuat basah. Mungkin sebasah hatinya yang sedang digelayuti rasa tak tentu. Angin terus menghempas, kaki-kakinya yang diselonjorkan ke karang-karang kecil juga terlihat mulai dingin dan pucat karena basah. 


“Aku akan menikah,” ucapnya.


Ia tersenyum. Semakin lama senyumnya semakin lebar, hingga menampakkan seluruh gigi-giginya.  Biasanya selepas itu ia akan berteriak. Tapi entah kenapa saat ini ia pendam saja rasa senangnya itu dalam dada. Apa karena begitu banyak orang di sekitar sini? Ah, rasanya tidak. Dia bukan tipe gadis pemalu, juga bukan pula seseorang yang selalu menjaga citra. Dia yang kukenal adalah gadis yang penuh percaya diri, ekspresif dan selalu apa adanya. Setidaknya dalam enam tahun usia persahabatan kami.


“Aku turut senang mendengarnya. Akhirnya, kau berlabuh juga.” Sambutku turut tersenyum


 “Hmm… ya, berlabuh tuk pada akhirnya berlayar mengarungi samudra, dengan segala rintangan dan tantangannya.”


Aku menangkap sedikit nada satir di balik ucapannya. “Tak masalah, karena memang seperti itulah hidup, bukan? Kau telah memilih nahkodanya, jadi bekerja samalah tuk mencapai tujuan. Percayalah padanya.”


“Kau benar. Tidak seharusnya aku kembali meragu.” Dia kembali tersenyum. Kali ini semacam senyum menertawakan diri sendiri, sekaligus menguatkan diri.


“Alia, apa kau ada masalah? Tidak seperti biasanya kau seperti ini? Apa ini syndrome perempuan yang akan menikah?” godaku.


Dia terdiam.


“Entahlah, syndrome apa yang sedang menjangkitiku, aku pun tak tahu. Yang kutahu saat ini pada dasarnya kita pasti memiliki ironi dalam diri masing-masing; mungkin juga paradoks, kemunafikan, atau ambiguitas. Sesuatu yang kita benci untuk kita sukai. Sesuatu yang sebenarnya baik untuk tidak kita pilih. Atau sesuatu yang berusaha kita sembunyikan dari siapapun, tetapi kita katakan sebaliknya di hadapan orang lain.” Dia menunduk sejenak, sebelum akhirnya kembali menatap ke depan. Laut biru, kesukaannya.


“Ya, entah bagaimana kita memiliki wilayah-wilayah yang memaksa kita untuk mendua. Perasaan dan pikiran yang sering membuat kita letih dan sedih. Tetapi sekaligus penting untuk kita miliki agar kita bisa seutuhnya menjadi manusia, yang terbatas dan tidak sempurna.”


Aku mengalihkan pandanganku padanya, “Aku melihat ada ketakutan dalam hatimu, mengintip melalui celah-celah masa lalu. Benar begitu?” dia bergeming.


“Alia, meragukan cinta memang manusiawi. Tapi, aku rasa ini bukan lagi saatnya. Kalian sudah melangkah sejauh ini. Mantapkanlah hatimu, ada banyak doa yang tengah dipersiapkan untukmu.” 


“Aku belum pernah mencintai sebesar ini, belum pernah kecuali dengannya. Hingga akhirnya kuputuskan akan kuakhiri di hatinya. Seperti saat ini. Tapi..” dia mulai menoleh ke arahku, “Sudahlah, Di, mungkin kau benar, aku hanya perlu memantapkan hati. Aku hanya perlu meyakinkan hati ini bahwa dia akan tetap di sini, menetap di hati. Sampai segalanya Tuhan sendiri yang menghabisi.”


Matahari mulai runtuh di ufuk barat. Gadis itu kembali menatap bola merah jingga yang menyala itu dengan khidmat. Matanya memicing, melonggar. Menarik napas dalam lalu menghembuskannya pelan. Ia tersenyum. Senyum yang berusaha percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja. 

----------------------

 

Meski telah membungkus tubuhnya dengan jaket yang cukup tebal, dingin angin malam masih menembus ke dadanya juga. Laki-laki itu merapatkan jaketnya. Di depannya, ada perempuan itu. Ia tampak begitu khusyuk menyeruput secangkir kopi hitam, lalu membetulkan helai rambutnya yang terjatuh ke permukaan meja. Dengan gerakan lembut dan menawan, perempuan itu mengikat rambut panjangnya dan membentuknya menjadi sanggul kecil.


Perempuan itu menyeruput kopinya lagi. Kali ini ia memegang cangkir dengan kedua tangannya. Seolah hendak menyerap panas cangkir ke telapak tangannya yang putih dan tampak halus. Laki-laki itu kembali memperhatikan perempuan itu.


“Kau masih sama seperti dulu, De. Selalu seperti ini jika sedang galau.” Ucap laki-laki itu sambil tersenyum melihat perempuan di hadapannya.


Perempuan itu menyunggingkan senyum tipis, “Ada yang pernah bilang padaku, sakit dan sembuh mempunyai waktunya sendiri, dan kita hanya perlu tahu cara merawat luka. Seperti halnya aku saat ini, barangkali itu ada benarnya,..


Kali ini giliran laki-laki itu yang menyeruput kopi hitam di hadapannya yang masih mengepulkan asap.


“Bisa jadi memang benar..” ucapnya kemudian setelah meletakkan cangkir itu kembali pada tempatnya, 


“Tapi ada juga yang pernah bilang, bahwa terkadang peringatan Tuhan memang melalui sesuatu yang membuat kita begitu kesakitan, namun hasil akhirnya adalah sebuah penyatuan yang lebih baik. Dan sama halnya seperti aku, aku ingin kau percaya itu, De.”


“Kau pun masih sama seperti dulu, Ran. Selalu menenangkan dan berpikir positif.” Perempuan itu sejenak terdiam, “Seandainya saja dia seperti kamu. Tentu tak akan ada yang namanya sakit.” Ucapnya.  


Suasana kafe pinggir pantai itu semakin dingin. Lalu lalang pengunjung yang tadi terdengar berisik kini melengang. Siklus alam. Ya, selalu saja orang akan kembali pulang saat malam kian kencang menorehkan lelah. Barangkali, siklus seperti ini juga berlaku dalam sebuah hubungan percintaan?


Laki-laki itu memperhatikan garis-garis wajah perempuan itu lagi. Ada segurat rasa sakit di sana.


“Di atas segala yang telah digariskan Tuhan, di atas segala kebahagian yang terus aku perjuangkan untuknya, aku masih terus mencoba untuk bertahan. Tapi, jika itu semua tidak dihargai, aku bisa apa?”  nada bicaranya mulai sedikit terisak. Bagaimanapun, perempuan selalu tak pandai menyembunyikan suasana hati. Begitupun juga dengan Dea. Perempuan yang masih menunduk sedih di hadapannya.


“Aku kira kamu telah bahagia dengannya, De. Maafkan aku yang sangat jarang menanyakan keadaanmu. Jarang menyediakan waktu untuk sekedar mendengar keluh kesahmu. Melihat kau yang selalu tampak tersenyum dari jauh, membuatku yakin bahwa kau selalu diselimuti kebahagiaan. Dan sebagai sahabatmu, jujur, aku selalu tenang jika melihat kau tersenyum.”


Perempuan itu tersenyum sambil menggigit bibirnya, “Senyuman itu seperti perban, Ran. Menutupi luka, meski sakitnya masih terasa.”


Dan setelah itu, hening, sepi, tak ada suara. Dan entah kenapa langit begitu menentramkan, malam itu.

-------------------------------

 

Laki-laki bernama Randi itu sedang membaca buku di beranda rumahnya sambil menyeruput segelas kopi hitam tanpa gula, ketika matahari tengah lindap ke telapak kaki langit di ufuk barat, dan senja mulai memamerkan kecantikannya seperti biasa. Pada halaman dua puluh lima dari buku yang sedang ia baca, ia memicingkan mata. Entah kenapa ada sesuatu yang mendesir dalam hatinya tatkala ia menghujamkan pandangan pada halaman pembukaan bab yang secara kebetulan berjudul, “Setia”.


Lalu, dalam waktu sepersekian detik telah ada kekuatan yang menariknya, menjadikannya seonggok manusia yang terdampar dalam memoar masa lalu.  


“Jadilah laki-laki yang bisa memberi kepastian, pun kesetiaan. Karena dua hal itulah yang paling berarti bagi seorang wanita.” Nasehat mendiang ayahnya yang selalu ia pegang hingga saat ini. Meski nyatanya saat ini, ia pun tengah menjadi pesakitan karena sebuah kata itu. “Setia”.


Terkadang, memilih setia memang menyakitkan, bukan?


Setia yang tak berbalas, lama-lama hanya akan jadi siksa. Dan manusia yang mencinta seperti dirinya, hanya bisa menahannya mati-matian. Sembari menunggu keajaiban, barangkali. Ya, dia hanya bisa melihat keindahan dalam bayang-bayang yang diciptakannya sendiri.


Banyak orang bilang, menunggu itu membosankan. Ah, siapa bilang? Bagi orang yang setia, justru menunggu akan selalu menjadi hal yang menyenangkan.


Seperti barisan kata yang sederhana untuk dibaca, memang hanya sebab itulah dia merindukan apa yang sudah lama ia tahan sendirian. Tak peduli salah atau benar, dia tetap saja merasa rindu itu tetap hadir di hatinya. Setahun sudah. Seperti sebuah ngilu waktu, di mana dia hanya bisa berucap tanpa ada yang mendengar.


Suara-suara sahabatnya terngiang-ngiang memenuhi isi kepala.


“Aku hanya perlu meyakinkan hati ini bahwa dia akan tetap di sini, menetap di hati. Sampai segalanya Tuhan sendiri yang menghabisi.”


Alia, masa itu memang pernah ada, tapi bukan untuk hidup di hari ini, apalagi hari esok. Ia hanya datang sebagai bayang-bayang, penguji keteguhan hati atas cintamu. Dan ketika kau yakin atas cintanya, berdamailah dengan masa lalunya, bagaimanapun, itu juga bagian dari hidupnya, bukan? lalu, percayalah, masa depan itu hanya milik kalian berdua. Barangkali, dengan begitu, selain kau bisa meredam suara-suara sumbang di sekelilingmu, kau bisa sepenuhnya percaya padanya. Kau dan dia juga bisa melangkah dengan senyum bahagia. Semoga. 


“Diatas segala yang telah digariskan Tuhan, diatas segala kebahagian yang terus aku perjuangkan untuknya, aku masih terus mencoba untuk bertahan. Tapi, jika itu semua tidak dihargai, aku bisa apa?”


Dea, aku mengerti bagaimana perasaaanmu. Bagaimanapun, kesempurnaan seorang perempuan akan terasa lengkap tatkala ia bisa menjadi seorang istri dan ibu, bukan? dan ketika saat ini Tuhan belum memberimu kesempatan untuk menjadi salah satunya, kau tahu, bukan karena kau tidak pantas. Hanya saja, barangkali ini semacam ujian kedewasaan, sebelum akhirnya kalian akan naik tingkat menjadi orang tua.


Dan hari ini, Alia, Dea, rasa sakit dan kekecewaan masa lalu telah membuat hidup kalian lebih istimewa, bukan? Tetaplah menjadi seseorang yang selalu berharap doanya makbul. Sebab hakikat tertinggi dari cinta adalah doa.


Meski nyatanya tak ada yang sanggup mendengar lirihnya doaku, yang berharap dia memang tercipta untuk melengkapi tulang rusukku, pun aku yang memang terlahir untuknya.

Kini, saat kalian berdua bertanya tentangnya, aku pun tak bisa menjawab apa-apa, selain, “Semuanya telah berakhir.”


Sabtu, 14 November 2015

Nasehat Seorang Sahabat untuk kita…^_^




Sahabatku...
Janganlah kau cemberut saat merasa sedih, karena kau tidak tahu kapan seseorang suka pada senyummu. Mungkin bagi dunia, kau hanyalah seseorang. Tapi bagi seseorang, mungkin kau adalah dunia. Maka nikmatilah rasa sedihmu, dengan berfikir positif dan memanfaatkan apa yang kau miliki dengan lebih baik lagi agar besok menjadi sesuatu yang berguna dan lebih berarti.

Sahabatku...
Jika sampai saat ini kau masih sendiri, menjadi manusia paling sepi, janganlah kau merasa terpuruk dan rendah diri. Lihatlah, bukankah jari-jemarimu dipisahkan oleh sela-sela kosong? Ya, karena Tuhan tahu, bahwa suatu saat pasti akan ada yang mengisi kekosongan itu, menggenggam erat jemarimu dan berkata : "Aku akan selalu menjagamu dan akan selalu ada untukmu..."

Sahabatku...
Tuhan terlalu bijak, sehingga Ia menciptakan seorang sahabat tanpa harga sepeser pun. Karena jika Tuhan mematok harga, sungguh, aku takkan pernah sanggup membeli sahabat berharga seperti dirimu. Di dunia ini tak ada sesuatu yang sempurna, termasuk juga sahabatmu. Maka seburuk dan sebenci apa pun kau pada seseorang, berusahalah untuk meredamnya, lalu menasehatinya, karena bisa jadi saat sudah kau lepaskan, penyesalanmu menjadi sesuatu yang sia-sia. Ternyata begitu banyak kebaikan yang tidak kau lihat sebelumnya. Ternyata begitu banyak keindahan yang terlewat dan tak sempat kau nikmati bersamanya.

Sahabatku...
Setiap awal membuka mata, bersyukur adalah hal pertama yang harus kau lakukan, atas kehidupan yang telah memberikan kesempatan, atas keberadaan senyum dan semangat dari orang-orang yang menyayangi dan kau sayangi, serta atas keyakinan bahwa rentetan hari akan menjadi hari yang menakjubkan. Percayalah, hidup itu indah jika kita tahu bagaimana cara menjalaninya.

Sahabatku...
Tak ada yang lebih merindukan kita setulus kematian. Kita tidak bisa menjamin, 1 kali 24 jam setelah membaca goresan tak berarti ini, kita masih bisa bernafas. Maka Rasul pun bersabda : "Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia tertipu oleh keduanya: kesehatan dan kesempatan". Selagi masih ada kesempatan dan kesehatan, berbuatlah, karena sekecil apapun yang kau yakini kebenaranya, ia akan tetap memiliki makna.

Sahabatku...
Konon, hidup ini cuma sesaat, maka jadikan ia lebih bermanfaat. Jika air mata adalah beban, jadikan senyum sebagai penawarnya. Jangan katakan apa yang kau ketahui, tapi ketahuilah apa yang kau katakan. Orang seringkali menilai dari apa yang mereka lihat, bukan dari apa yang mereka ketahui. Jadikan dirimu senyuman bagi sesama dan buatlah mereka selalu bahagia bila bersamamu....

Rabu, 11 November 2015

Hagia Sophia, Senja, dan Cinta yang Setia



 
 
“Perbedaan antara keteguhan hati dengan keras kepala hanyalah terletak pada kemauan dan ketidakmauan.”

Cerita pendek dalam kumpulan cerpen (kumcer) “Hujan Pertama Untuk Aysila” ini, sebagai salah satu genre sastra, hakikatnya dikelompokkan dalam kategori sastra interpretif  (Interpretive Literature). Yakni genre sastra yang sering dikonotasikan dengan sastra serius, sastra yang untuk ditafsirkan dan direnungkan.

Dalam perspektif sosiologi sastra, cerpen tidak dipandang dari estetikanya, melainkan lebih pada sastra sebagai produk budaya. Karena itu, kumcer ini dapat diposisikan dalam dua dimensi tulisan atau karya budaya (cultural writings) entah itu produk budaya atau pembentuk budaya. Karya ini sebagai produk budaya yang telah dihasilkan oleh penulisnya, namun juga merupakan entitas pembentuk (pengonstruksi) budaya bagi pembacanya, mengingat proses pembacaan adalah juga proses kreatif untuk merespon dan mereproduksi budaya yang baru –entah dalam tingkat idea, aksi, maupun produk budaya berikutnya.

Setelah membaca 12 cerpen yang ada dalam kumcer berjudul “Hujan pertama untuk Aysila” ini, dapat ditarik benang merah bahwa tema besar karya ini adalah tentang keteguhan hati. Ada beberapa kluster “keteguhan hati” disini, yakni tentang keteguhan akan pilihan hati dalam cinta, keyakinan, pola pikir, dan keputusan serta dalam pengabdian yang tentu diyakini sebagai suatu kebenaran. Meski nyatanya, kebenaran pun memiliki banyak sisi, sebanyak orang yang memaknainya.

Ada sembilan buah cerpen yang menggelitik pembaca dengan isu cinta, kesetiaan, dan masalah hati yang pantas untuk dijadikan cermin.  Dalam cerpen “Hujan Pertama Untuk Aysila”, “Kue Tart Yang Setia Dijaganya”, dan “Cerita Kesetiaan Gadis Berponi Curly”, terlihat bahwa cerpen-cerpen ini berusaha mengajak pembaca untuk mengerti bahwa mencintai selalu sepaket dengan keikhlasan melepaskan selama yang dicintainya mendapatkan kebahagiaan. Tapi, layaknya manusia yang mencinta, tak berdosa rasanya jika harapan tuk mendapatkan cinta dengan porsi yang sama masih tetap tumbuh di tengah kenyataan yang memang terasa menyesakkan. Karena itulah, dalam cinta selalu ada pilihan untuk “menunggu”. Menunggu atau menanti dalam kesetiaan adalah juga perkara melebarkan kesabaran. Namun, juga tak ada alasan untuk percaya bah'wa penantian itu akan sia-sia.

Seperti Aysila, “Ia hidup hanya untuk setia”. Ya, kesetiaan. Gadis-gadis yang selalu bersedia menunggu dengan setia, para lelaki mereka. Meski terkadang, ada risau akan kesetiaan yang sama dari para lelaki, gadis-gadis itu tetap menjadi bagian dari betapa berharganya arti kesetiaan. “Adakah yang lebih berharga dalam hidup seorang gadis kecuali kesetiaan?”.

“Hagia Sophia, senja, dan cinta yang setia” seolah ingin menunjukkan bahwa kesetiaan masih menjadi bagian dari hidup Aysila, bahkan di usianya yang telah senja. Cerpen yang berjudul “Ku Tunggu Kamu Di Hagia Sophia”, mengajak pembaca untuk mengerti bahwa Cinta tak pernah datang dengan kepastian. Setiap hubungan pun pasti punya dua kemungkinan, antara berhasil atau justru nihil. Menunggu pun demikian. Selalu berada diantara dia yang datang untuk pergi, dan dia yang pergi untuk kembali.

Perpisahan, apapun bentuknya memang selalu menyisakan duka. Dan seringnya, menjadikan seseorang limbung, seperti tercerabut dari akarnya. Selalu butuh waktu untuk kembali tegak berdiri. “Menangkap Nawang Wulan” dan “Lelaki Yang Penuh Kenangan” kurang lebih ingin berbicara tentang hal itu. Urusan cinta juga bukan tentang menang dan kalah. Tak pernah ada giliran untuk saling menyakiti. Karena sejatinya, Cinta adalah perjuangan mempertahankan kenyamanan. Sedangkan kenyamanan, sama halnya seperti siklus kehidupan yang perlahan bisa tergantikan. Sesuatu yang dulu kita anggap sebagai rumah, tempat untuk melunasi rindu dan menyemai bahagia, kini semuanya tidak lagi seperti dulu. Sesuatu yang dulu kita akrabi, sekarang tidak lagi kita kenali. Semuanya telah berubah, semuanya telah berbeda.

Lebih jauh, pembaca juga diajak untuk menyelami aspirasi dan kritik social. Cerpen “Madame Tussaud” ingin berbicara bahwa aspirasi memang perlu dikumandangkan, kendati kemungkinan untuk membuahkan hasil sangat kecil. Cerpen ini juga berbicara tentang keteguhan hati akan pengabdian seorang bawahan terhadap majikannya. Pengabdian yang tetap dia persembahkan meski nyawa sekalipun yang akan menjadi taruhannya. Memang ada jarak social-psikologis antara bawahan yang tersubordinasi dan atasan yang mensubordinasi. Hal ini juga terlihat dalam cerpen “Orang-Orang yang mengganti Hatinya dengan Batu”, keduanya sama-sama berbicara tentang keteguhan hati untuk mengabdi pada atasan, meski konteks keduanya sangat jauh berbeda. Cerpen “Orang-Orang yang mengganti Hatinya dengan Batu” lebih terasa kritik social dan dunia liar yang seolah memang menyelimuti ranah tersebut.

Dalam beberapa cerpen, utamanya dalam cerpen “Cara Mudah Untuk Bahagia” yang sangat kental dengan pergulatan pemikiran dan keyakinan para tokohnya, penulis seringkali membahas ide-ide dan filosofi-filosofi Derrida, Barthes, Habermas, Baudrilard, Foucault, bahkan Sartre. Tidak saja dari segi substansi gagasan tapi juga dalam kecerdasan cara menyajikannya. Ia mendiskusikan nama-nama penting dalam jagad pemikiran tokoh social barat tersebut bukan dengan kualitas “ngalor ngidul” atau dienteng-entengkan, tapi justru sebaliknya, menukik tajam. Sehingga tidak heran, jika dalam beberapa cerpen seperti “Orang-Orang Yang Mengganti Hatinya Dengan Batu”, “Lelaki Yang Penuh Kenangan”, dan “Tukang Cerita Yang Tak Lagi Jatuh Cinta Pada Telepon Genggamnya”, penulis tidak hanya menyajikan tafsiran yang padat, kaya nuansa, tapi juga “Liar”.

Penulis memang tak memberi peluang pada pembacanya untuk ikut menimbang atau menguji ide orang-orang yang dikutipnya, dengan cara memaparkan gagasan itu secara cukup lengkap, sistematis, dan tertib. Sehingga bukan tidak mungkin, jika pembaca yang kurang akrab dengan pemikiran tokoh-tokoh tersebut, mereka akan sedikit mengalami kesulitan untuk mengikuti dinamika obrolannya. Sampai disini, sepertinya penulis memang memperlakukan mereka sepenuhnya sebagai rekan ngobrol. Bagai berbincang akrab dengan teman dekat yang setingkat dalam pengetahuan tentang data elementer di seputar pokok bahasan. Cara ini memang ampuh untuk menangkal tendensi yang amat dihindari oleh para penulis pada umumnya, yakni sikap menggurui.
 
Secara keseluruhan, cerpen-cerpen dalam buku ini memang dibentuk oleh pondasi berpikir, kompleksitas sudut pandang, dan analisis logis-argumentatif. Dan gaya surealis yang digunakan oleh penulis telah berhasil mengajak pembaca untuk berpikir reflektif, kontemplatif, dan analitis.

Hiduplah dengan penuh kesyukuran, Nak!








Sudah menjadi sifat dasar manusia terlahir dengan nafsu, yang menjadikannya tidak pernah puas dengan segala yang dimilikinya. Setelah memiliki sesuatu, tentu akan menginginkan yang lain. Setelah mencapai suatu target tertentu, tercipta target-target baru yang harus dicapai selanjutnya. Apa itu salah? Menurutku, memang tak sepenuhnya salah. Karena itu juga pertanda bahwa hidup kita terus bergerak dan berkembang. Tapi tentu, kita juga harus paham bagaimana cara mengendalikannya. Karena jika tidak, nafsu itu bisa membabi buta, bergerak menyerusuk tanpa terkendali. Dan seringnya, justru akan memupuk kemudharatan. Membutakan hati. Lalu, apa yang tersisa jika hati telah buta selain ukuran kebahagian dunia yang sebenarnya fana?

“Selalu ada tangan Allah di balik hidupmu. Jika kau sedang berada di bawah, jangan pernah kau putus asa dan berburuk sangka. Dan jika kau sedang berada di atas, sungguh sangat tak patut rasanya untuk berpuas dan berbangga diri. Apapun itu, syukurilah. ”

 Jika hidupmu saat ini masih terasa begitu menyesakkan, itu artinya Allah masih ingin mengajarimu arti perjuangan. Bukankah takkan pernah ada rasa manis jika sebelumnya kita belum tahu rasanya pahit? Ya, tetap jalanilah hidupmu. Jalanilah dengan penuh kesyukuran. Karena itulah sumber kebahagiaan yang sejati. Nikmat Allah tidak hanya berupa materi yang harus melimpah bukan? Sungguh, jika kita mampu membuka mata, betapa besar nikmat Allah yang Ia karuniakan pada umatnya di setiap waktu. Nikmat sehat, nikmat waktu, nikmat kesempatan, dan nikmat-nikmat lainnya yang acapkali tak terlihat, dan seringkali terlupa untuk disyukuri.

“Hidup itu tidak hanya harus melihat ke atas Nak, sesekali melihatlah ke bawah, agar kau benar-benar bisa memahami apa arti hidup sebenarnya.”

Sejak kecil, kita sudah dididik untuk menggantungkan mimpi setinggi langit. Itu artinya, kita telah diajarkan untuk mengejar sesuatu. Tidak lain, agar kita senantiasa memiliki semangat untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari yang sebelumnya. Bukan justru menjadikan “atas” sebagai ukuran atau patokan dari sebuah kebahagiaan hidup. Karena jika itu terjadi, betapa meruginya kita karena telah lalai untuk mensyukuri nikmat-Nya yang jarang kita sadari karena terlalu focus untuk melihat mereka yang berada di atas. Sesekali lihatlah mereka yang berada di bawah, agar kau tahu betapa  sebenarnya kau sangat beruntung. Mereka akan mengajarimu cara mensyukuri kehidupan.

Idealnya, segala sesuatu memang harus seimbang. Boleh saja kita mengejar kehidupan duniawi, asal kita tak lupa mendekat pada-Nya, Sang pemberi. Cara yang paling sederhana, adalah dengan bersyukur. Bersyukur adalah ungkapan rasa terima kasih seorang hamba pada Tuhannya. Dengan bersyukur, kita menyadari bahwa kita hanyalah manusia yang lemah, yang tak memiliki kuasa tanpa bantuan dan pertolongan-Nya. Syukur juga pertanda bahwa kita yakin, bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hambanya. Barang sedetikpun, tidak.

“Bersyukurlah Nak, maka kau akan bahagia.”

Wujud syukur pun ada bermacam-macam. Wujud paling sederhana, dengan ucapan “Alhamdulillah”. Lebih atas lagi, bisa juga dengan mengamalkan apa yang kita punya, baik itu rizki ataupun ilmu. Sederhananya, kita sedang meneruskan kesempatan. Cara seperti ini adalah salah satu cara ampuh untuk menghindarkan hati dari bahaya kufur nikmat. Yang jika dibiarkan, akan merembes menjadi sifat serakah, sombong diri, dan takabbur. Sungguh, semoga kita dijauhkan.

Salah satu CEO Penerbit di kota Jogjakarta, pernah mengungkapkan alasannya mengapa ia sangat getol menularkan semangat literasi pada calon-calon penulis muda, menyediakan ruang untuk mereka, dan membantu rumah-rumah baca dengan menyuplai buku-buku. Dan semuanya, gratis. Beliau mengatakan, bahwa itu adalah salah satu cara untuk senantiasa membersihkan hati. Utamanya, hati ketika kita sudah diberi kesuksesan. Karena, sudah menjadi sifat setan untuk selalu menggoda manusia. Dan hati adalah sasaran yang paling rawan akan godaan setan yang begitu halus menelusup. Karena hidup, hakikatnya adalah tentang ujian hati.

Maka, mari kita hidupi hati ini dengan penuh rasa kesyukuran. Tak peduli itu dalam keadaan sempit atau lapang, jika hati telah berhias syukur, kebahagiaan hidup pun akan teraih. Percayalah.