Beberapa bulan yang lalu, kita masih mengukir cerita itu. Dalam canda
tawa, isak tangis, getir amarah, bahkan terkadang kebisuan yang
menyiratkan keangkuhan. Dan sekarang, aku, kamu, kita hanya bisa
tersenyum mengenangnya.
Suatu perjumpaan awal telah
membawa kita pada sebuah ikatan, persaudaraan. Yah, nyatanya ikatan
itulah yang menaungi kebersamaan kita selama kurang lebih 4 tahun berada
di kampus ini. dan saat ini, aku ingin sejenak menuangkan cerita itu.
Cerita kita, untuk kita.
Kita sangat berbeda, dan kita
menyadari itu. Bukankah perbedaan akan selalu ada hampir dalam semua
hal? Selalu akan tercipta kutub-kutub pemahaman yang tak akan bertemu
jika tidak dijembatani. Apalagi jika menyangkut masalah karakter.
Aku
tipe orang yang cenderung pendiem, dan jelas aku bukan tipe orang-orang
sanguinis. Beruntunglah tuhan mempertemukanku denganmu cinta.. bahkan,
di awal perkenalan kita kau telah bercerita panjang lebar. Kau tahu? Hal
pertama yang membuatku takjub padamu? Saat kau bercerita bahwa kau
telah mengenal pacaran sejak kelas 1 SD. Gilaa... ya meskipun ku tahu
bahwa itu hanya sebatas saling suka jenis anak-anak. Tapi menurutku,
untuk kita yang hidup di tahun 1990-n hal itu tergolong langka. Dan kau
menceritakan itu padaku bahkan di saat awal perkenalan kita. Tak ku
pungkiri, sikap terbuka mu membuatku nyaman berbagi cerita denganmu.
Dari hari ke hari, jalinan pertemanan itu pun semakin dekat. Dari saking
dekatnya, serta didukung oleh bentuk fisik yang hampir sama, ada
julukan yang disematkan pada kita berdua. Nama yang sampai kapan pun
mungkin tak akan pernah kita lupa. Upin dan Ipin. Aku upin, dan kamu
ipin. Ibarat anak kembar yang kemana-mana selalu berdua. Anehnya, kita
menerima saja dan bahkan cenderung enjoy menyandang nama itu. Bahkan di
saat ulang tahunku di tahun pertama kuliah, kau menghadiahiku dengan
boneka ipin. Oh dear... saat itu kau bilang, agar aku tak pernah lupa
padamu.

Cinta... bagaimana aku bisa lupa padamu? Terlalu
banyak kenangan yang telah kita ukir. Seringkali aku tertawa sendiri
mengingatnya. Apalagi jika itu tentang cinta impian kita dulu,
hahahaha... yach, meski hanya cinta dalam hati, tapi setidaknya cinta
itu benar-benar menghadirkan aura positif untuk kita di awal kehidupan
kampus. Mengingatnya, banyak hal-hal konyol yang telah kita buat
ternyata. Oh my god... entah apa yang terpikir dalam benak mas-mas itu
jika tahu hal ini. tapi, yang jelas.. seandainya tuhan benar-benar
mengabulkan impian cinta itu, betapa bahagianya kita...^^ #ngarep.
Aku
dan kamu memang terlahir dengan banyak kesamaan, latar belakang
keluarga yang hampir sama, bentuk fisik, hingga selera yang hampir 100%
sama. Tapi, bukan berarti tak ada perbedaan diantara kita. Mulai dari
kebiasaan, minat, karakter, hingga cerita cinta, sungguh sangat jauh
berbeda. Nyatanya? Tak ada masalah besar dengan itu bukan? Itulah
persahabatan...:) cinta, aku kangen dengan suaramu yang manja... apalagi
kalo inget pas b’ma niruin suara manjamu...:P
Jika dalam
film, Upin hanya memiliki saudara kembar Ipin, tapi tidak untuk cerita
ini. Disini, Upin memiliki saudara lain yang diberi nama Upil. Sama,
nama itu pun hasil ciptaan teman-teman seangkatan. Dari mana asalnya?
Kita juga tidak tahu. Kemungkinan terbesar menyatakan bahwa karena
seringnya sahabatku yang bernama Afril ini jalan sama upin dan ipin. Dan
karena nama panggilannya berakhiran huful “L”, jadilah dia dipanggil si
Upil. Meski sebenarnya orangnya sendiri risih dipanggil dengan sebutan
yang berdenotasi negatif ini. tapi tetap saja, nama itupun akhirnya
populer.
Aku lupa sejak kapan tepatnya aku dan kamu menjadi
sedemikian akrab. Di awal masa kuliah, bahkan aku tak mengenalmu sama
sekali selain namamu yang cukup menonjol di kelas sebelah. Mungkinkah
sejak LKMM-TD di batu? Atau saat PLK 1 di bangkalan dimana saat itu kita
disatukan dalam satu kelompok? Entahlah, jalinan itu memang mengalir
apa adanya. Seperti apa adanya dirimu.
Aku suka dirimu yang apa
adanya. Termasuk Cintamu yang apa adanya. Aih, lagi-lagi masalah cinta.
Tapi, beginilah adanya. Cerita cintamu memang membuat orang-orang kagum
sekaligus iri. Iya, iri. Karena diantara kita banyak yang masih jomblo,
dan mendamba mendapat cinta sepertimu. Semoga saja, cintamu yang tulus
juga direstui tuhan ya cinta..:)

Beberapa bulan yang lalu,
ada salah satu dosen yang bilang, “Orin dan Afril kok selalu berdua,
apa-apa berdua, sekali-kali pisah gitu lho..” ujarnya. Aku pun berpikir,
bener juga pernyataan itu. Selain rutinitas kampus, dari mulai
berangkat-kuliah-pulang kita bersama, banyak kegiatan yang juga kita
jalani bersama. Mulai dari kegiatan kepenulisan karya tulis, menjadi
redaksi paradigma, hingga proyek riset terakhir pun kita dalam satu
kelompok. Tak ayal, itu seringkali membuat kita begadang lembur bareng,
tertidur di lantai dengan laptop yang masih menyala, hingga gugup dan
gopoh bareng. Ah, masa-masa itu. Sesekali aku ingin mengulanginya lagi,
hehehe. Apalagi kalo melihat gopohmu cinta...:P
Kau memang
selalu tampil beginilah adanya dirimu. Bahkan saking apa adanya dirimu,
kau tidak bisa berbohong tentang suasana hatimu. Disaat seperti itulah,
kau memilih diam. Kebisuan menjebak kita dalam permainan dugaan,
lingkaran tebak menebak. Tapi, seperti cuaca, itu tak pernah bertahan
lama. Setelah cukup waktumu untuk membisu, dan seringkali kita merasa
teracuhkan oleh sikap itu, kau dengan sendirinya menghampiri kita dengan
maaf yang terucap dan cerita yang tumpah. Lalu, Cuaca yang semula
mendung pun telah berganti. Dan kita semua akan tersenyum menyambutnya.
Upin,
Ipin, dan Upil juga memiliki seorang kakak seperti halnya Upin dan Ipin
dalam cerita film. Tapi, tidak seperti kak Ros yang galak, kakak ini
sangat dewasa dan ngayomi. Itulah B’ma..... (manggilnya dengan nada
panggilan yang manja..:P) Sebenarnya, dari segi usia dia masih sangat
muda, tapi pembawaannya yang dewasa dan keibuan, menjadikan kita nyaman
memanggilnya B’ma. B’ma... getir cerita hidupmu, sungguh telah
membuktikan bahwa kau gadis yang kuat. Percayalah sayang... akan ada
kisah ada yang disiapkan untukmu..:)
Aku belajar banyak
darimu. Belajar bagaimana bersikap dewasa, tegas dalam menanggapi suatu
hal serta mengambil keputusan. Sementara aku, hanya bisa merepotkanmu ya B’ma? Gak di pare, di tempat magang, di kampus, di kosan, hmmm....
maafkan aku yang selalu merepotkanmu ya B’ma..:(

Hal-hal
konyol dan lucu pun tak lepas dari ceritaku bersamamu. Kejadian di Graha
Pena misalnya. Sumpah, kita terlihat katrok banget waktu itu, hahahha.
Selain itu, juga ada tragedi ala sinetron dengan salah satu peserta
prajab yang kau suka (kau tentu masih inget kan kejadian ini?hihihi..)
masa-masa magang yang sangat seru. Kita pun gak pernah menyangka, kita
yang waktu itu saja belum lulus S1 diberi tugas untuk menjadi pengawas
Diklat Prajab Dosen-dosen muda. Whahahaha... Curi pandang sana-sini dah
akhirnya..:P aku juga masih ingat waktu itu kau bilang, “nanti, kita
juga bisa ada disana yin..” dan nyatanya, satu tahun setelah peristiwa
itu, saat ini kita sedang harap-harap cemas menunggu pengumuman Cpns.
Yah.. semoga saja, kita sama-sama lolos, amin...:)
Tidak
hanya memiliki seorang kakak perempuan, kita juga memiliki seorang abang
yang paling baik sedunia. Yang rela direpotin oleh adik-adiknya (jadi
inget pas buat film perubahan sosial, hahahha... apalagi pas akting di
PTT4, Aktingnya B’ma ma abang Omen keren banget dah...:)). Kuakui bang,
kau memang abang yang baik. Meskipun sering ngejek aku ma Nita anak
kecil/liliput. Tapi, kita selalu puas jika berhasil membalas ejekanmu
dengan badanmu yang semakin hari semakin gendut...:P
Kau memang
terlihat layaknya abang kita beneran. Kau akan melakukan apa aja untuk
membantu kita, melindungi kita. Malah, jika kita membutuhkan bantuan dan
tidak menghubungimu, ujung-ujungnya kau pasti bilang, “kenapa gak
ngubungin aku”. Itulah kamu bang, baik... sangat baik. Layaknya seorang
kakak, kau juga sering menasehati, bahkan mengomeli aku ma nita kalo
kita salah... tapi, lebih sering Nita sich yang kenal omel...:P Aku kan
anak baik... hahahaha

Di balik sikapmu yang seringkali
mengejek aku dan Nita yang katamu kecil, -tapi menurut kita, kita berdua
itu imut, bukan kecil-, kita tidak memungkiri bahwa kau sangat
perhatian. Dan salah satu wujud perhatianmu yang masih segar dalam
ingatan adalah ketika tahun lalu kau menunaikan ibadah haji. Kita tahu,
bahwa saat itu kau tidak bisa dihubungi lewat hp. Dan, siapa yang
menyangka bahwa waktu itu, disaat aku, Nita, Afril, dan B’ma sedang PLK
kemiskinan, tengah malam waktu indonesia, dengan nomor luar negeri kau
meng-sms aku dan nita, yang isinya kurang lebih “Oyin Nita, baik-baik ya
disana, jangan nakal. Nanti aku bawakan kado istimewa buat kalian..”
aih, kau benar-benar menganggap kita anak kecil. Tapi, gpp lah... aku
benar-benar merasakan gimana rasanya punya abang...:) makasih ya bang,
atas semuanya. Makasih juga kado-kado kembarnya buat aku ma nita...:)
ditunggu yah kado kembar keempat tahun depan...:P
Ini
hanya sekelumit cerita tentang kita. Masih banyak yang ingin kutorehkan,
termasuk juga episode kita dan sahabat-sahabat lainnya.
Sahabat-sahabatku lainnya, bukan aku melupakanmu, akan kuceritakan
tentang kalian di lain episode...^^
Mungkin, memang ada baiknya rindu selalu memburu agar pena bisa bebas menuliskannya...:)