Kamis, 03 April 2014

Mengapa Aku Menulis? (Sebuah Motivasi Menulis)



Ada banyak motivasi mengapa orang ingin menjadi seorang seorang penulis. Ada yang berkeinginan agar mendapatkan populiritas. Namanya dikenal dan disebut-disebut bak seorang selebritis. Dia ingin tampil memukau dihadapan para penggemarnya dalam acara-acara bedah buku. Setiap orang berebut berdesak-desakkan untuk meminta tanda tangannya atau sekedar foto bareng. Ada pula yang menjadikan profesi sebagai penulis sebagai pilihan profesi yang menghasilkan uang. Mengharapkan limpahan rezeki nomplok ketika karya yang ditulisnya 'best seller' atau mengharapkan royalti per 3 bulanan. Dan ada pula yang hanya ingin sekedar berbagi pengetahuan, atau sekedar hobi. Lama aku merenung, menelusuri alasan yang manakah yang mendasari mengapa aku menulis?
Aku kembali terpikir, seandainya aku menulis hanya menginginkan populiritas, seberapa besar populiritas itu? Jika aku menulis hanya untuk mencari kekayaan, maka seberapa banyak kekayaan yang akan kudapatkan? Sekiranya aku menulis hanya untuk sekedar hobi atau meluangkan waktu, maka sungguh aku rugi besar, sebab banyak waktuku yang terbuang hanya untuk sekedar hobi, padahal masih banyak kewajiban yang lebih utama aku lakukan. Aku tidak ingin terjebak dalam jebakan massa .

Menulis Adalah Proyek Peradaban Masa Depan
Dalam perenungan panjang, aku teringat dengan pertanyaan Imam Ghazali. Dalam satu majelis, Imam Ghazali pernah bertanya kepada murid-muridnya. "Apakah yang paling dekat dengan kita di dunia ini?" Masing-masing murid memberikan berbagai macam jawaban. Orang tua, guru, teman, istri, anak-anak, kerabat dan berbagai macam jawaban lainnya yang berbeda-beda. Imam Ghazali tersenyum. Beliau tidak menyalahkan jawaban-jawaban tersebut. Namun, beliau punya jawaban tersendiri. "Akan tetapi, yang paling dekat dengan kita adalah mati. Ya, itulah jawaban yang tepat! Jarak antara kita dengan kematian, sama dekatnya jarak antara keluar dan masuknya nafas yang sedang kita hirup saat ini.
Ya, kita semua akan mati! Lantas warisan apakah yang akan tetap mengabadi? Tak ada yang mengabadi, melainkan tulisan yang kita tinggalkan? Bukankah kita mengenal orang-orang hebat sebelum kita, lantaran mereka meninggalkan tulisan? Darimana kita mengenal bahwa Imam Ghazali pernah hidup di abad ke-5? Tentunya dari karya-karyanya, semisal Ihya Ulumuddin, Tahafut Falasifah, Kimia Sa'adah, Minhaj al-Abidîn. Kita mengenal tokoh-tokoh besar dalam sejarah, semisal: Ibnu Khaldun, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Ibnu Katsir, Ibnu Batutah, Ibnu Haitsam, Ibnu Thufail, Ibnu Nafis, dan ratusan ibnu-ibnu yang lainnya. Darimana kita mengetahui bahwa mereka adalah ilmuwan muslim? Ya, tentunya dari karya-karya mereka, bukan? Jasad mereka terkubur dalam perut bumi, namun nama mereka mengabadi lantaran mereka meninggalkan sesuatu yang tertulis. Allazî 'alama bil qalam (Dialah yang mengajarkan kamu dengan pena).
Ada baiknya, kita bercermin dengan para ulama kita terdahulu. Imam Ibnu Taymiyyah jumlah karangannya mencapai 500 jilid. Ibnu Qayyim muridnya juga mengarang tak kurang dari 500 jilid. Imam Baihaqi mengarang lebih dari 1000 juz. Ibnu Jauzi menulis lebih dari 500 buku. Imam Fakhrurazi meninggalkan karangan sebanyak 200 buku. Karangan Abu Ubaidah Ma'mar bin al-Mustanna mencapai 200 buku. Ibnu Suraij mencapai 400 buku. Dan masih ribuan ulama lain yang tak bisa saya sebutkan di sini.
Ya, pekerjaan menulis adalah upaya menuliskan nama si penulisnya di prasasti sejarah. Menulis adalah proyek peradaban masa depan. Jika Descartes mengatakan, "Jika aku berpikir, maka aku akan ada!" Maka di sini aku akan berkata, "Jika aku menulis, maka aku akan tetap ada!" Ya, itulah jawabannya, mengapa aku menulis? Sebab aku ingin abadi! Aku ingin dikenang! Tulisanlah yang akan mengabadikan si penulisnya, kendatipun tubuhnya sudah terkubur bersama tulang belulang yang berserak.
Jika menulis hanya diniatkan untuk populiritas dan materi semata, maka semuanya hanya akan menjadi siksaan. Betapa banyak penulis hebat yang bunuh diri, bukan lantaran mereka tidak mencapai tujuannya, namun mereka lupa bahwa menjadi seorang penulis tak sekedar menekuni dunia kepenulisan, namun di sana ada visi, cita-cita, dan idealisme yang harus diperjuangkan. Lihatlah Ernest Hemingway, misalnya, peraih Nobel Sastra bunuh diri di Ketchum. Idaho pada tahun 1961 dengan menembak dirinya. Atau, Hunter S. Thompson. Dia mengakhiri hidupnya dengan menembak kepalanya sendiri.
Ada lagi, Virginia Woolf menenggelamkan dirinya ke sungai dengan meninggalkan sepucuk surat kepada suaminya yang menjelaskan bahwa dia merasa akan menjadi gila dan tidak akan sembuh. Terus, Yukio Mishima pada usianya yang baru 45 tahun membunuh dirinya dengan merobek perutnya sendiri (Harakiri). Lalu, Yasunari Kawabata juga melakukan hal yang sama yaitu harakiri di usia 73 tahun dan dia adalah penerima hadiah Sastra Nobel. Masih banyak lagi daftar penulis bunuh diri. Na'udzubillah min dzalik! Mereka tidak abadi, sebab tujuan mereka hanya sekedar tujuan sesaat.
Tekanan batin yang lebih kecil dikala niat sudah tidak ikhlas adalah kekecewaan. Ada banyak penulis yang berhenti menulis, hanya lantaran kecewa naskahnya ditolak penerbit. Ada pemula yang tidak menulis lagi hanya disebabkan kecewa tulisannya dikritik orang lain. Tulisannya tidak dibaca atau diapresiasi. Semua bermula dari kekeroposan batin dan niat yang belum lurus.
Saya baru menyadari betapa dahsyatnya hadist Rasulullah Saw yang pernah diriwayatkan oleh Umar Ibnu Khatab. Redaksi haditsnya pendek, namun maknanya luar biasa hebatnya, sehingga dalam ilmu ushul fiqih redaksi ini menjadi landasan kewajiban dalam seluruh ibadah yang wajib. Hadits itu berbunyi: Innâma al-'amalu bin niyyât (Segala sesuatu harus dimulai dari niat). Indikasi niat seseorang, dapat dilihat dari perilakunya. Karya yang kau tuliskan, ada orang yang mau membaca atau tidak, ada orang yang memuji atau mencemooh, itu bukan urusanmu! Urusanmu adalah menulis dan terus menulis! Oleh karena itulah, prinsip pertama yang harus ada dalam diri seorang penulis adalah ketulusan niat. Wahai para penulis, luruskan niatmu, menulis hanya semata-mata karena berjuang li'la kalamatilllah!

Menulis Adalah Ibadah Sosial
Dalam satu kesempatan berjalan menelusuri kota Cairo (Jami'ah Wafa al- 'amal- Teknologi Mall, Nasr City ) pada malam hari bersama Udo Yamin Majdi (Penulis Quranic Qoutient), saya bertanya kepada beliau, "Udo kenapa sich antum memilih profesi sebagai penulis?" Dengan santai beliau menjawab, "Saya ini bukan orang yang ahli tahajud, saya ini bukan orang yang bisa berderma dengan harta, saya bukan orang da'i yang bisa mengajak orang lain berbuat kebaikan. Saya tidak punya sesuatu yang bisa saya berikan, kecuali saya berharap tulisan saya bisa bermanfaat dan memberikan pencerahan bagi orang lain. Barangkali di sanalah amal ibadah yang bisa saya lakukan." Ketika mendengar penuturan yang sederhana, namun sarat dengan makna itu, tiba-tiba dada saja tertohok.
Hal sama yang membuat saya terkesima adalah wasiat Mbah Neneng Mahendra kepada Udo Yamin (Direktur milis WSC ini). Saya tidak tahu persis berapa usia Neneng Mahendra sesungguhnya. Saya hanya bisa menduga, barangkali usia beliau lebih dari 60 tahunan. (Maaf Mbah kalau saya salah menyebutkan, hehe..) Beliau salah satu member teraktif di milis WSC saat ini.
Di sini saya hanya ingin memberikan contoh betapa orang yang berusia lanjut seperti beliau masih tetap bersemangat berkarya. Saya pernah membaca pesan yang beliau sampaikan kepada Udo Yamin melalui surat balasan email. Mbah Neneng mengatakan bahwa beliau mempunyai banyak naskah di koper besinya, dan suatu saat silahkan untuk diterbitkan. Beliau pernah berniat menulis cerpen, hingga akhirnya berkembang menjadi sebuah novel. Di sini saya sebagai anak muda merasa tersentil untuk terus memacu semangat agar bisa mengikuti jejak langkah beliau. Dan ternyata lagi, usia tidak membatasi seseorang untuk terus berkarya. Luar biasa!
Kembali ke cerita Udo tadi, jawaban beliau membuat hati saya benar-benar terenyuh. Iya ya. Ya, berarti menulis termasuk ibadah dong? Iya benar! Sejatinya ibadah tidak terbatas pada ibadah ritual di mesjid saja. Ibadah itu luas. Pekerjaan baik apaapun yang dilakukan semata-mata mengharapkan ridha Allah dapat kita kategorikan sebagai ibadah. Termasuk menulis yang membawa pembacanya kepada pencerahan dan mengingat Allah.
Saya teringat kepada perjuangan para ulama kita dahulu. Andaikan dahulu para ulama hanya mementingkan shalat sunat ribuan raka'at, berzikir jutaan kali, atau asyik dengan aktivitas ibadah mereka masing-masing, tanpa mereka mau meluangkan waktunya untuk mewariskan ilmu pada lembaran-lembaran kertas, tentunya kita akan kesulitan memahami agama ini. Sebab jarang sekali ada orang yang mau menuliskan tafsir al-Qur'an. Jarang sekali, ada orang yang mau mengkodifikasikan hadits. Sehingga kita tidak bisa mengenali mana hadits yang shahih, mana yang dhaif, mana hadits yang munkar dan mana hadits yang maudhu (palsu). Kita akan kesulitan memahami hukum-hukum syariat, sebab tidak ada orang mau menulis tentang ilmu fiqih dan cabang ilmu-ilmu bermanfaat lainnya.
Pantaslah di dalam al-Qur'an Allah sendiri bersumpah dengan nama pena. Nun. Wal qalami wa ma yasturûn (Nun. Demi yang dituliskan). Di sinilah Rasulullah memuji para penulis, yang aliran tinta mereka ditimbang dengan nilai darah para syuhada. Seorang penulis yang menggunakan penanya untuk berdakwah semata-mata karena Allah termasuk ibadah sosial yang bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain. Di sinilah salah satu aplikasi dari redaksi hadits Rasulullah yang mengatakan 'amal jariyyah'; amal senantiasa mengalir, kendatipun jasad si penulisnya telah bersatu dengan bumi. Di sini saya ingin mengajak generasi muda –khususnya para penuntut ilmu- agar meneruskan tradisi mengarang seperti ulama kita zaman dahulu! Jadikanlah aliran tinta penamu sebagai pengganti pedang para syuhada yang telah mengalirkan darah mereka demi menegakkan li'ila kalimatillah!
Goresan Pena : Miftah el-Banjary
Cairo, 28 Feb 2010
Pukul : 12. 52 AM
Wassalam

Sabtu, 29 Maret 2014

Keluarga Kita..^^

Beberapa bulan yang lalu, kita masih mengukir cerita itu. Dalam canda tawa, isak tangis, getir amarah, bahkan terkadang kebisuan yang menyiratkan keangkuhan. Dan sekarang, aku, kamu, kita hanya bisa tersenyum mengenangnya.

Suatu perjumpaan awal telah membawa kita pada sebuah ikatan, persaudaraan. Yah, nyatanya ikatan itulah yang menaungi kebersamaan kita selama kurang lebih 4 tahun berada di kampus ini. dan saat ini, aku ingin sejenak menuangkan cerita itu. Cerita kita, untuk kita.

Kita sangat berbeda, dan kita menyadari itu. Bukankah perbedaan akan selalu ada hampir dalam semua hal? Selalu akan tercipta kutub-kutub pemahaman yang tak akan bertemu jika tidak dijembatani. Apalagi jika menyangkut masalah karakter.

Aku tipe orang yang cenderung pendiem, dan jelas aku bukan tipe orang-orang sanguinis. Beruntunglah tuhan mempertemukanku denganmu cinta.. bahkan, di awal perkenalan kita kau telah bercerita panjang lebar. Kau tahu? Hal pertama yang membuatku takjub padamu? Saat kau bercerita bahwa kau telah mengenal pacaran sejak kelas 1 SD. Gilaa... ya meskipun ku tahu bahwa itu hanya sebatas saling suka jenis anak-anak. Tapi menurutku, untuk kita yang hidup di tahun 1990-n hal itu tergolong langka. Dan kau menceritakan itu padaku bahkan di saat awal perkenalan kita. Tak ku pungkiri, sikap terbuka mu membuatku nyaman berbagi cerita denganmu. Dari hari ke hari, jalinan pertemanan itu pun semakin dekat. Dari saking dekatnya, serta didukung oleh bentuk fisik yang hampir sama, ada julukan yang disematkan pada kita berdua. Nama yang sampai kapan pun mungkin tak akan pernah kita lupa. Upin dan Ipin. Aku upin, dan kamu ipin. Ibarat anak kembar yang kemana-mana selalu berdua. Anehnya, kita menerima saja dan bahkan cenderung enjoy menyandang nama itu. Bahkan di saat ulang tahunku di tahun pertama kuliah, kau menghadiahiku dengan boneka ipin. Oh dear... saat itu kau bilang, agar aku tak pernah lupa padamu.
 
Cinta... bagaimana aku bisa lupa padamu? Terlalu banyak kenangan yang telah kita ukir. Seringkali aku tertawa sendiri mengingatnya. Apalagi jika itu tentang cinta impian kita dulu, hahahaha... yach, meski hanya cinta dalam hati, tapi setidaknya cinta itu benar-benar menghadirkan aura positif untuk kita di awal kehidupan kampus. Mengingatnya, banyak hal-hal konyol yang telah kita buat ternyata. Oh my god... entah apa yang terpikir dalam benak mas-mas itu jika tahu hal ini. tapi, yang jelas.. seandainya tuhan benar-benar mengabulkan impian cinta itu, betapa bahagianya kita...^^ #ngarep.
Aku dan kamu memang terlahir dengan banyak kesamaan, latar belakang keluarga yang hampir sama, bentuk  fisik, hingga selera yang hampir 100% sama. Tapi, bukan berarti tak ada perbedaan diantara kita. Mulai dari kebiasaan, minat, karakter, hingga cerita cinta, sungguh sangat jauh berbeda. Nyatanya? Tak ada masalah besar dengan itu bukan? Itulah persahabatan...:) cinta, aku kangen dengan suaramu yang manja... apalagi kalo inget pas b’ma niruin suara manjamu...:P

Jika dalam film, Upin hanya memiliki saudara kembar Ipin, tapi tidak untuk cerita ini. Disini, Upin memiliki saudara lain yang diberi nama Upil. Sama, nama itu pun hasil ciptaan teman-teman seangkatan. Dari mana asalnya? Kita juga tidak tahu. Kemungkinan terbesar menyatakan bahwa karena seringnya sahabatku yang bernama Afril ini jalan sama upin dan ipin. Dan karena nama panggilannya berakhiran huful “L”, jadilah dia dipanggil si Upil.  Meski sebenarnya orangnya sendiri risih dipanggil dengan sebutan yang berdenotasi negatif ini. tapi tetap saja, nama itupun akhirnya populer.
Aku lupa sejak kapan tepatnya aku dan kamu menjadi sedemikian akrab. Di awal masa kuliah, bahkan aku tak mengenalmu sama sekali selain namamu yang cukup menonjol di kelas sebelah. Mungkinkah sejak LKMM-TD di batu? Atau saat PLK 1 di bangkalan dimana saat itu kita disatukan dalam satu kelompok? Entahlah, jalinan itu memang mengalir apa adanya. Seperti apa adanya dirimu.
Aku suka dirimu yang apa adanya. Termasuk Cintamu yang apa adanya. Aih, lagi-lagi masalah cinta. Tapi, beginilah adanya. Cerita cintamu memang membuat orang-orang kagum sekaligus iri. Iya, iri. Karena diantara kita banyak yang masih jomblo, dan mendamba mendapat cinta sepertimu. Semoga saja, cintamu yang tulus juga direstui tuhan ya cinta..:)
 
Beberapa bulan yang lalu, ada salah satu dosen yang bilang, “Orin dan Afril kok selalu berdua, apa-apa berdua, sekali-kali pisah gitu lho..” ujarnya. Aku pun berpikir, bener juga pernyataan itu. Selain rutinitas kampus, dari mulai berangkat-kuliah-pulang kita bersama, banyak kegiatan yang juga kita jalani bersama. Mulai dari kegiatan kepenulisan karya tulis, menjadi redaksi paradigma, hingga proyek riset terakhir pun kita dalam satu kelompok. Tak ayal, itu seringkali membuat kita begadang lembur bareng, tertidur di lantai dengan laptop yang masih menyala, hingga gugup dan gopoh bareng. Ah, masa-masa itu. Sesekali aku ingin mengulanginya lagi, hehehe. Apalagi kalo melihat gopohmu cinta...:P

Kau memang selalu tampil beginilah adanya dirimu. Bahkan saking apa adanya dirimu, kau tidak bisa berbohong tentang suasana hatimu. Disaat seperti itulah, kau memilih diam. Kebisuan menjebak kita dalam permainan dugaan, lingkaran tebak menebak. Tapi, seperti cuaca, itu tak pernah bertahan lama. Setelah cukup waktumu untuk membisu, dan seringkali kita merasa teracuhkan oleh sikap itu, kau dengan sendirinya menghampiri kita dengan maaf yang terucap dan cerita yang tumpah. Lalu, Cuaca yang semula mendung pun telah berganti. Dan kita semua akan tersenyum menyambutnya.
Upin, Ipin, dan Upil juga memiliki seorang kakak seperti halnya Upin dan Ipin dalam cerita film. Tapi, tidak seperti kak Ros yang galak, kakak ini sangat dewasa dan ngayomi. Itulah B’ma..... (manggilnya dengan nada panggilan yang manja..:P) Sebenarnya, dari segi usia dia masih sangat muda, tapi pembawaannya yang dewasa dan keibuan, menjadikan kita nyaman memanggilnya B’ma. B’ma... getir cerita hidupmu, sungguh telah membuktikan bahwa kau gadis yang kuat. Percayalah sayang... akan ada kisah ada yang disiapkan untukmu..:)

Aku belajar banyak darimu. Belajar bagaimana bersikap dewasa, tegas dalam menanggapi suatu hal serta mengambil keputusan. Sementara aku, hanya bisa merepotkanmu ya B’ma? Gak di pare, di tempat magang, di kampus, di kosan, hmmm.... maafkan aku yang selalu merepotkanmu ya B’ma..:(
 
Hal-hal konyol dan lucu pun tak lepas dari ceritaku bersamamu. Kejadian di Graha Pena misalnya. Sumpah, kita terlihat katrok banget waktu itu, hahahha. Selain itu, juga ada tragedi ala sinetron dengan salah satu peserta prajab yang kau suka (kau tentu masih inget kan kejadian ini?hihihi..) masa-masa magang yang sangat seru. Kita pun gak pernah menyangka, kita yang waktu itu saja belum lulus S1 diberi tugas untuk menjadi pengawas Diklat Prajab Dosen-dosen muda. Whahahaha... Curi pandang sana-sini dah akhirnya..:P aku juga masih ingat waktu itu kau bilang, “nanti, kita juga bisa ada disana yin..” dan nyatanya, satu tahun setelah peristiwa itu, saat ini kita sedang harap-harap cemas menunggu pengumuman Cpns. Yah.. semoga saja, kita sama-sama lolos, amin...:)

Tidak hanya memiliki seorang kakak perempuan, kita juga memiliki seorang abang yang paling baik sedunia. Yang rela direpotin oleh adik-adiknya (jadi inget pas buat film perubahan sosial, hahahha... apalagi pas akting di PTT4, Aktingnya B’ma ma abang Omen keren banget dah...:)). Kuakui bang, kau memang abang yang baik. Meskipun sering ngejek aku ma Nita anak kecil/liliput. Tapi, kita selalu puas jika berhasil membalas ejekanmu dengan badanmu yang semakin hari semakin gendut...:P
Kau memang terlihat layaknya abang kita beneran. Kau akan melakukan apa aja untuk membantu kita, melindungi kita. Malah, jika kita membutuhkan bantuan dan tidak menghubungimu, ujung-ujungnya kau pasti bilang, “kenapa gak ngubungin aku”. Itulah kamu bang, baik... sangat baik. Layaknya seorang kakak, kau juga sering menasehati, bahkan mengomeli aku ma nita kalo kita salah... tapi, lebih sering Nita sich yang kenal omel...:P Aku kan anak baik... hahahaha
 
Di balik sikapmu yang seringkali mengejek aku dan Nita yang katamu kecil, -tapi menurut kita, kita berdua itu imut, bukan kecil-, kita tidak memungkiri bahwa kau sangat perhatian. Dan salah satu wujud perhatianmu yang masih segar dalam ingatan adalah ketika tahun lalu kau menunaikan ibadah haji. Kita tahu, bahwa saat itu kau tidak bisa dihubungi lewat hp. Dan, siapa yang menyangka bahwa waktu itu, disaat aku, Nita, Afril, dan B’ma sedang PLK kemiskinan, tengah malam waktu indonesia, dengan nomor luar negeri kau meng-sms aku dan nita, yang isinya kurang lebih “Oyin Nita, baik-baik ya disana, jangan nakal. Nanti aku bawakan kado istimewa buat kalian..”  aih, kau benar-benar menganggap kita anak kecil. Tapi, gpp lah... aku benar-benar merasakan gimana rasanya punya abang...:) makasih ya bang, atas semuanya. Makasih juga kado-kado kembarnya buat aku ma nita...:) ditunggu yah kado kembar keempat tahun depan...:P

Ini hanya sekelumit cerita tentang kita. Masih banyak yang ingin kutorehkan, termasuk juga episode kita dan sahabat-sahabat lainnya. Sahabat-sahabatku lainnya, bukan aku melupakanmu, akan kuceritakan tentang kalian di lain episode...^^
Mungkin, memang ada baiknya rindu selalu memburu agar pena bisa bebas menuliskannya...:)

Rinai dan Pelangi



Sore ini, hujan turun kembali tuk membasahi bumi. Alunan syahdu gemericik hantarkan aroma tanah yang mengepul oleh timpaan rintik sang hujan. namun entah kenapa kali ini hujan datang seolah untuk mengenang engkau.. mengenang apa yang tertinggal seperti apa yang disebut kenangan. Yang berkisah tentang gelak, isak, jemari dan bahu yang selalu saling memberi, dulu…

 Dari balik kerai tipis, mataku tak henti memandang ketukan halus sang gerimis, bersama kenangan yang melukai hati, yang entah darimana ia datang kembali menghampiri. Yang jelas akupun tak pernah mengharapkan hadirnya. Aku hanya berharap akan bertemu indahnya sang pelangi. Berharap bersama pelangi ku kan mampu melukis kisah dalam sebaris indah tawa bahagia, walau tanpamu disini..
Kupandangi sepanjang jalan, namun yang kusaksikan hanyalah kabut tipis putih menyelimuti alunan titik-titik hujan yang saling menyusul menerjang apapun yang menghalangi turunnya. Tapi, titik-tik halus itu kini tak lagi menyentuh tubuhmu, seperti dulu. Tak ada lagi dirimu yang lewat depan rumahku, menjemputku tuk ikut berbaur bersama hujan. Ah… romantisme hujan ala anak-anak… dan ketika hujan telah di penghujung waktu, kau mengajakku ke tepi tanah lapang, menjauh dari teman-teman yang tetap asyik bermain di tengah sisa-sisa rintik hujan.

Kau bilang, sebentar lagi kita kan bertemu dengan sosok yang selalu siap memberikan warna-warni kehidupannya untuk kita. Saat hujan datang dengan awan kelabu, dan kita mampu sabar tuk menanti, dia akan datang dengan goresan cerah yang mampu mengembalikan perasaan seseorang yang sejenak kelam oleh kelabu sang hujan. Ya… dia adalah pelangi. Sebuah lengkung sempurna bernafaskan Cahaya indah yang terbias melalui sisa-sisa titik air hujan di udara. Dan ketika sayup pelangi telah menyapa, Torehan semu berwarna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu telah menggoresi langit dengan indahnya. kita kan berbaring di tanah lapang, merebah lelah, melepas penat, dan kita akan tersenyum, tertawa dan riang kembali selepas melukis kisah bersama pelangi.

 Ah, sungguh romantisme persahabatan masa kecil. Tidak….. tidak benar rasanya jika itu hanya disebut kenangan masa kecil, di usia remajapun pertemanan itu masih erat terjalin. Walau kita tak lagi bersama di satu sekolah menengah pertama, tapi itu tak mengapa…. Kita masih tetap saling bersandar atas segala keluh kesah, masih sering bermain bersama hujan, dan tentu… masih setia menunggu senyum pelangi…

“tapi sayang ya… cuaca mampu membuat kita sejenak terpisah” ucapku seiring menghilangnya sang pelangi
“hmm… mksudmu?” balasmu heran
“Ya…. Antara kita dan pelangi, pelangi hanya mampu menemani kita selepas hujan pergi. Padahal aku ingin setiap saat, setiap musim,setiap aku sedih, aku bahagia, pelangi ada bersamaku”
“hmmmmm… tau nggak kalo ada pelangi lain yang lebih setia dari pelangi itu?”
“hmmm …. Emang ada pelangi apa lagi?”
“persahabatan kita… bukankah sahabat akan selalu ada. Seperti yang kau bilang… Jika kita jatuh, sahabat akan membantu kita untuk bangun. Saat hati kita terluka, sahabat akan hadir obati luka dan menghapus air mata. saat kita hilang arah, sahabat akan membimbing sembari menerangi langkah. saat kita bersedih, sahabat akan tunjukkan kita bahagia, ajarkan kita tersenyum, dan memperlihatkan keceriaan kembali. Sama kan seperti pelangi? Malah lebih setia dari pelangi”
“iya…. Sama seperti pelangi, persahabatan juga memiliki warna-warni kehidupan yang berarti. Yang dengannya kita mampu menghapus luka dalam sebaris tawa bahagia”
“jadi, kau tak perlu takut kehilangan pelangi, karena aku pelangimu, dan kau pelangiku. Kau tak usah khawatir, karena aku akan selalu menemanimu…”
“tapi…. Bisa aja kan suatu saat waktu atau jarak membuat kita saling lupa?
“haha…. Konyol banget pertanyaanmu… gak mungkin lha aku melupakanmu, kau adalah bidadari special di hatiku. Sampai kapanpun, kau akan selalu bersemayam di hatiku…  dan kelak, jika waktu benar-benar memisahkan kita, hujan inilah yang akan bercerita tentang kisah yang pernah ada, jadi.. simpanlah baik-baik aku dan cerita hujan ini di hatimu, dan tersenyumlah saat pelangi ini kembali turun mengunjungimu, karena di saat itu aku juga akan tersenyum karena merindukanmu… ”
“ihhhhhhhhh…….. gombal banget dech kamu!! tapi janji ya… setiap hujan turun, dan pelangi telah menggantikan hujan. Kita nikmati saja alunan syahdu kisah kenangan, yang membawa kelindan bait-bait rindu akan masa lalu, denganku… janji!!!”
“janji”

Ah.. mungkinkah sekarang aku sedang ingin menikmati sebuah kenangan yang bahkan pada sekatpun ingin kubenamkan, jauh….. jauh di dasar hati.
Tak mungkin? Tapi aku ingin…

Bukankah hidup ini juga sebuah perputaran. Jika ada bahagia, juga pasti akan ada duka, begitupun halnya dengan cinta. Cinta memang indah, tapi juga bisa menyayat luka yang sangat pedih. Luka di hati yang tak tampak, terasa ada, terkatakan tiada…
Mata menadah menatap langit, perlahan… tetes demi tetes gerimis berubah kembali menjadi hujan deras. Tak bolehkah aku berharap, agar pelangi datang menemaniku yang tengah sendiri dalam pilu….

Rabu, 30 Oktober 2013

Dialog: Mimpi tak boleh kalah oleh ketakutan


Sebuah imajinasi mencuat dan membentang luas... Tapi apa yang menjadi jalan untuk dapat menapaki dan mewujudkannya? Seolah sebuah ruang dengan tebing kokoh menjadi penyekat para pemimpi memasuki dunia yang diharapkannya

Yah, memang seperti itulah mimpi. Tinggi.... seolah tak bisa dijangkau. Kalaupun bisa pastilah sangat sulit untuk mendaki puncaknya.

Tidak bisakah khayalan berubah menjadi nyata? Akankah ini hanya akan menjadi seberkas lamunan?

Kau bertanya padaku? Aku pun tak tahu dengan apa aku menjawab pertanyaanmu. Karena, aku pun manusia yang tak tahu akan ada apa di hari esok. Aku pun sama, gamang, takut. Ah, bukankah semua yang tidak terlihat selalu bisa membuat kita takut. Mungkin, itu juga berlaku untuk masa depan?

Benar, berbagai pertanyaan ini mewakili impian sekaligus ketakutanku. Tiada yang tahu hari esok, lusa bahkan 10 tahun mendatang. Jika impian tak tergapai, sedangkan jiwa telah terpanggil, tidakkah itu menjadi salah satu deret kepedihan?

Sejak kapan kau menjadi tuhan?? ada hal-hal yang memang di luar kendali kita. Sayangnya, terlalu memikirkannya pun tak dapat mengubah apa-apa. Jalanilah yang bisa kita jalani saat ini. sama halnya seperti aku, aku ingin kamu percaya, bahwa saat ini allah tengah mempersiapkan sesuatu yang indah itu untuk kita.

Kamis, 07 Maret 2013

Potret buram pendidikan indonesia


Buku yang dikemas dengan gaya fiksi-musikal ini kayaknya bagus dech... dengan untaian kata Fahd Djibran yang sederhana tapi mengena, diperkuat dengan lirik lirik lagu Bondan & Fade2Black yang membakar semangat, nampaknya buku ini mampu menggambarkan wajah pendidikan indonesia dengan cara yang berbeda.... ^^


Tak Sempurna lebih mewakili penulisnya sebagai individu. Ia memuat gagasan dan perasaan penulis yang lebih utuh dan jujur tentang banyak hal. Juga harapan dan kegelisahan-kegelisahan. Untuk mengungkapkan semua itu, penulis memilih dunia sekolah sebagai “medan bercerita”. Ya, boleh jadi penulis meminjam sekolah sebagai sudut pandang untuk melihat dunia yang lebih luas. Bagi penulis, sekolah adalah dunia yang sangat kompleks—miniatur kehidupan manusia. Kita bisa melihat banyak aspek penting kehidupan dari sana: Hubungan antar-manusia, anak-anak, keluarga, orangtua, birokrasi, politik, agama, masyarakat, harapan, kekecewaan, masa lalu, masa kini, masa depan, semuanya. Jadi, meskipun penulis bercerita tentang “sekolah” atau “anak sekolah”, sesungguhnya penulis sedang menceritakan sesuatu yang lebih luas lagi.

dalam Novel ini penulis bercerita tentang dunia pendidikan di suatu kota-yang-tak-disebutkan-namanya di Indonesia. Penulis lebih senang menyebutnya Gotham-nya Indonesia. Suatu kota di mana anak-anak dibesarkan di tengah keluarga yang tak memberikan kasih sayang, kehidupan bermasyarakat yang tak memberi harapan, dan kehidupan bernegara yang tak menjanjikan apa-apa kecuali perang-perang politik kepentingan memuakkan. Di kota semacam itu, sulit sekali menemukan contoh dan teladan yang baik, sekalipun dari kalangan tokoh-tokoh agama. Di kota itulah sekolah menjadi sekadar tempat “penitipan anak” bagi orangtua yang sibuk atau “tempat pembuangan anak” bagi orangtua yang tak peduli pada mereka. Juga ajang adu gengsi. Sementara itu, di tengah semua kekacauan sistem pendidikan, rekrutmen tenaga pengajar yang penuh kecurangan, dan kurikulum pendidikan yang berantakan, anak-anak ini masih ditekan dengan beban pelajaran yang kelebihan muatan, tugas-tugas, les panjang persiapan ujian, try out, ujian nasional, dan seterusnya.

Something has gone very wrong with our school! Itu kalimat kuncinya. Sudah bisa diduga, tentu saja, anak-anak seperti apa yang dihasilkan kehidupan kota semacam itu—sistem pendidikan semacam itu? Penulis terkejut mendapatkan sejumlah fakta mengerikan dalam riset sederhana yang penulis lakukan: Ratusan pelajar tewas setiap tahunnya akibat tawuran dan overdosisi obat-obatan terlarang. Para pelajar melakukan seks bebas sesering pesta minuman keras, aborsi di mana-mana, pembunuhan dan pemerkosaan sulit dihitung jumlah pastinya. Ya, semua itu dilakukan pelajar, remaja Indonesia di bawah usia 18 tahun! Anak-anak masa depan yang gelisah dan putus asa, tapi tak pernah diperhatikan! Anak-anak yang dibuang, ditekan, dibebani, untuk kelak dicaci-maki dan disalahkan!

Di novel tersebut, penulis meminjam sudut pandang seorang remaja biasa untuk bercerita berbagai hal tentang dirinya. Namanya Rama. Dia menceritakan banyak hal tentang sekolah dan segala hal yang bersinggungan dengannya. Dari hal-hal yang bisa kita bayangkan hingga hal-hal yang mungkin tak pernah kita bayangkan. Dari yang menyenangkan hingga yang menyedihkan. Dari harapan hingga kekecewaan. Semua tentang sekolah. Semua tentang kehidupan mereka—anak-anak bangsa: Miniatur bagi kehidupan kita sesungguhnya!

 Jika ingin tahu detilnya, tentu Anda semua harus membaca ceritanya. Penulis sudah tidak peduli lagi cerita itu akan melahirkan “pro” atau “kontra” di tengah masyarakat. Penulis hanya menceritakan kenyataan yang penulis tangkap apa adanya. Lagi pula, sebuah karya, ketika sudah dilemparkan ke hadapan sidang pembaca, sepenuhnya menjadi milik pembacanya. Tugas penulis sudah selesai, itu dia: Penulis sudah menuliskannya menjadi sebuah cerita sederhana—yang barangkali memang tak sempurna. Namun dari cerita itu, penulis berharap sesuatu: Semoga pikiran dan perasaan kita terbuka, ada jutaan anak-anak Indonesia yang harus kita perhatikan dan selamatkan masa depannya!

Bagaimana kisah ini dituliskan? Penulis tetap menyebutnya fiksi-musikal. Penulis tak peduli pada genre, sebenarnya. Tapi mungkin novel ini memang dituliskan dengan cara yang tidak biasa. Bacalah sambil mendegarkan lagu-lagunya (Bondan & Fade2Black). Cerita dan lirik-lirik lagu yang terdapat di dalamnya merupakan satu kesatuan utuh yang tak terpisahkan. Inilah yang disebut kolaborasi, sebuah karya yang dirancang dan dilahirkan dengan spirit saling melengkapi!

Mari akhiri semua kebodohan untuk menjadi generasi Tak Terkalahkan

Jumat, 08 Februari 2013

Jalan panjang itu...


Ketika ku duduk termenung menatap jalan panjang yang ada di hadapanku. Disoroti sinar mentari yang cukup menyengat.
Aku berpikir, aku yakin bahwa inilah jalan yang terbaik bagiku. Tapi aku takut untuk melaluinya. Aku tak tau adakah batu yang besar yang menghalangi jalanku, ataukah adakah jurang yang memutuskan jalan ini. Sehingga aku hanya duduk termenung menatap jalanku.

ketika aku sudah benar - benar yakin pada jalan ini. Aku yakin jalan ini adalah jalan yang akan membawaku ke tempat yang ku inginkan. Aku pun sudah tak peduli lagi akan apa yang mungkin ada di hadapanku nantinya. Yang terpenting aku jalani dan aku telusuri jalan lurus yang ada di hadapanku ini.

Aku pun mulai berjalan melangkahkan kakiku perlahan demi perlahan. Tapi aku merasa langkah kakiku ini begitu berat. Tapi aku terus berusaha untuk terus menelusuri jalan ini.

Suatu ketika aku merasa ada dorongan untuk keluar dari jalan ini, ada suatu yang membuatku memaksa diriku untuk berbelok arah. Aku tak tau apa ini.

Tapi setelah aku pandangi semua yang ada pada diriku aku baru menyadari. Aku baru menyadari kalau aku hanyalah boneka tali. Boneka tali yang selalu dikendalikan. Dikendalikan pikiran negatifku, dikendalikan rasa ketakutan semuku, dikendalikan oleh keragu - raguanku, dan dikendalikan oleh situasi yang ada disekitarku.

Aku tak tau apa yang harus aku lakukan untuk terus konsisten menelusuri jalan ini. Sementara tali - temali ini semakin mengendalikanku.

Hingga suatu ketika ku pun baru menyadari caranya. Ya, caranya. Caranya aku harus memutus teli - temali yang mengendalikanku. Aku harus buang rasa takut yang semu, aku harus buang semua keraguanku, dan aku harus kukuh pada pendirianku.
Hingga suatu saat aku pun menyadari kalau aku bisa berubah. Kalau aku bukan lagi boneka tali. Aku bisa menelusuri jalan hidupku dan biarkanlah langkah kakiku yang akan menuntunnya. Dan biarkanlah Yang Maha Kuasa yang mengatur takdirku....^^

Sukses itu harus diupayakan, bukan untuk ditunggu.
Fighting....!!

Selasa, 30 Oktober 2012

Novel Pertama, oh rasanya.....^^

Novel pertama nich....
pengalaman pertama menulis sebuah novel, susah-susah gimana gitu....^^
novel ini sebenarnya tugas matakuliah Pendidikan multikultur di jurusanku,,, aneh yaa??? dan pasti bertanya-tanya apakah aku jurusan sastra? owh.. tidak kawan, saya memang mencintai sastra tapi saat ini saya bukan anak sastra. saya memang mempunyai secercah mimpi untuk jadi penulis, tapi sekarang masih merangkak untuk menggapainya... -.- doakan yaa...^^



Disini aku menunggu waktu
Untuk membawaku pergi menuju mimpi indahku
Mengayung dayung melewati samudra hari yang penuh gelombang
Bersama mentari pagi aku menanti
Sinar matahari mencubit manja kulit wajahku
Membelai halus selembar nyawaku
Sejuk merasuk memberikan satu kedamaian
Rumput ranum bersenda gurau dengan sang bayu
Seperti halnya aku, dan dirimu….
Kini, Aku hidup di episode baru
Memiliki dialog baru yang kuyakin lebih indah dari yang dulu
Kita pun mulai bermain diatas pijakan mimpi
Mencoba nyalakan pelita
Gubah dunia dengan prestasi
Langitpun  masih biru sejak pertama kali ku melihatnya
Embun masih saja bening dan sejuk setiap kali hadir
            di dedaunan yang selalu merindunya tanpa henti
namamu pun rupanya tak mau kalah, masih tetap
            tersimpan di hati ini sejak waktu mempertemukannya 
Dan disaat ini, ingin  kupaparkan segalanya
Bahwa sebenarnya dalam tatapanku ada cinta untukmu
Telah kusematkan sabda-sabda cinta didalamnya
Ku beranikan bertanya kepadamu..
Adakah satu ruang di sudut hatimu untukku yang mendambamu?
            Namun, Bayang wajahmu perlahan lindap di selendang hari
Kutikam dengan pedang kasmaran
Lampu-lampu memilih padam menikmati kelam
Dan aku, hanya menjadi sebait puisi yang kesepian


itu dia novelku...:)
"Langitpun Bersaksi : Ketika mimpi, cinta, dan kehilangan harus berjalan beriringan"
novel ini memang lahir dari sebuah tuntutan, dan itu saya syukuri...^^
tuntutan memang selayaknya harus ada bersama adanya harapan, karena kalo nggk gitu pasti rasa malas selalu menyelimutiku.. hehehehhe
semoga esok hari, akan lahir pula novel-novel selanjutnya... amien...:)