Senin, 29 Oktober 2012

Mahasiswa Indonesia, Growing with Character


Kita bisa mengantar orang memasuki universitas, tapi belum tentu bisa membuatnya berpikir.
(Finley Fater Dunoe)
“Mahasiswa”.  Adakah hal lain yang dirasa, jika enggan tuk meluapkan kebanggaan dan kesenangan bahwa kini “aku telah menjadi “maha””siswa”. Ya, mahasiswa! golongan tertinggi dari kaum pelajar, bukan siswa biasa atau lebih sederhananya seseorang yang sedang menempuh pendidikan di “perguruan tinggi”. Lalu, sudahkah kita memaknai hakikat status kebanggaan yang telah melekat dalam diri? Dan rasanya terlalu naïf jika hanya mengenal mahasiswa sesederhana makna kamus belaka. mungkinkah mahasiswa adalah sosok kaum muda berintelektual yang miskin oleh moral? Yang menghalalkan segala cara untuk hanya mencapai tujuan – tujuan akademik (nilai/ijasah), Yang menggunakan suara dan pergerakannya dengan apatis dan anarkis, atau yang muda yang hanya berpusat pada kehidupan hedonis dan konsumtif, layaknya cerita-cerita dalam sinetron. Itukah mahasiswa?
Nyatanya, Itu hanya sebagian cermin dari tumpukan cermin-cermin retak yang memantulkan permasalahan bangsa kita terkait dunia kampus dan mahasiswa. Dari masa ke masa, kian beraneka karakter mahasiswa menghiasi bahkan bisa dikatakan mendominasi dinamika pergaulan dunia kampus. Kampus yang dulu menjadi tempat pelepas dahaga, bagi mereka yang haus akan ilmu. Kini, seolah hal tersebut hanya menjadi ikon kuno sebuah kampus. Kampus di era kekinian, tak ubahnya sebagai pusat kebobrokan moral, elitism, anti-kerakyatan, dan lahan bisnis ala dunia pendidikan. Dunia kampuspun kini telah menjadi korban dari intervensi budaya luar yang penuh kepentingan kapitalistik. Menjadikan mahasiswa lupa bahwa kampus adalah tempat yang memang dimaksudkan untuk kegiatan akademis. Mereka telah terlena diatas kepuasan yang diberikan oleh budaya hedonistic.
Adalah mahasiswa yang tengah berada pada masa transisi, masa dimana mereka mulai meninggalkan tahap kehidupan yang lalu yaitu remaja, dan mulai menuju tahap selanjutnya yaitu tahap kedewasaan. Dalam masa ini, mereka tengah berada dalam situasi yang anomie, di satu sisi mereka belum memiliki pegangan yang kuat, sementara di sisi lain kepribadian mereka tengah mengalami pembentukan. Dalam masa ini mereka seringkali terombang-ambing tak tentu arah oleh gempuran modernisasi. Jiwa mereka  masih labil, sehingga seringkali di isi oleh hal-hal yang hanya bersifat kesenangan dan kepuasan diri. Jika dinalar dengan paham Freudian, maka hasrat tersebut secara mendasar adalah sesuatu yang bersifat instingtual. Ia berada dalam fase pertama perkembangan struktur psikis manusia: yaitu id. Pada fase id ini semua tindakan mengacu atau didasari oleh prinsip kesenangan-kesenangan yang bersifat spontan. Disadari atau tidak, jika aspek ini dibiarkan untuk terus tumbuh justru akan memperlemah kepekaan humanisme seorang mahasiswa.
Dan bukan tidak mungkin jika nantinya mahasiswa sebagai Agent of Change, Generasi yang diharapkan bisa memberi titik tolak perubahan kondisi masyarakat ke arah yang lebih baik,  justru menjadi golongan yang sangat pasif dan tidak peka terhadap isu-isu terkini. Mahasiswa lebih tertarik untuk meng”update” status facebook, twitter, atau jaringan social lainnya,  daripada mendengarkan suara rakyat yang menderita karena kebijakan pemerintah. Memang, Gerakan kemahasiswaan memang tidak sepenuhnya mati. Gejala turun ke jalan dan melakukan aktivitas social-politik masih menjadi pilihan utama bagi sebagian mahasiswa. Namun, sadarkah kita bahwa mereka yang menyandang predikat sebagai kaum intelektual, justru seringkali menjadikan kekerasan sebagai solusi untuk menyelesaikan sebuah masalah.
Menjadi sebuah ironi, tatkala melihat apa yang senyatanya justru berbanding terbalik dengan apa yang seharusnya. Pendidikan selama ini diharapkan mampu menempatkan prinsip-prinsip moralitas agung sebagai basisnya, sehingga hasil pendidikan tidak hanya individu dengan intelektual namun juga dengan kepribadian dan karakter yang baik. Namun nyatanya, fenomena-fenomena tersebut telah mampu menggambarkan realitas. Lalu, Adakah yang salah dengan pendidikan kita? Ya… pendidikan Indonesia tengah mengalami ketidakseimbangan pengembangan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual.
Fakta tak terbantahkan, Pendidikan di Indonesia selama ini masih berorientasi pada pengembangan kecerdasan intelektual (IQ) dan cenderung mengabaikan kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Pendidikan di Indonesia selama ini seolah hanya berisi hafalan dan cara cepat membabat soal tanpa ada pembentukan sikap mental yang positif. Perhatian Pemerintah dan dinas pendidikan saat ini hanya cenderung fokus pada peningkatan nilai-nilai setiap mata pelajaran atau yang berhubungan dengan IQ saja. Sementara hal-hal yang berhubungan dengan pendidikan moral, akhlak dan kepribadian pelajar atau yang berhubungan dengan EQ (kecerdasan emosional) masih kurang diperhatikan.
Memang, pada umumnya masyarakat Indonesia masih menganggap kecerdasan intelektual adalah yang paling utama yang harus dimiliki oleh anak didik dalam proses pendidikan. Pendidikan kita selama ini juga terlalu mengedepankan sains dan teknologi, dan cenderung mengabaikan serta menggeser aspek-aspek humaniora. Bidang-bidang seperti budaya, seni dan sastra merupakan bidang-bidang yang cenderung dianak tirikan. Padahal, melalui bidang-bidang inilah kepribadian dan kemanusiaan kita, kepekaan sosial, religi, kehalusan rasa, pembangunan nilai, moral, budi pekerti, dan sejenisnya,  dapat terolah dan terasah.
Pengabaian terhadap cabang ilmu sastra jelas sangat terlihat dari sedikitnya porsi pembelajaran sastra sejak jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga sekolah Menengah Atas bahkan di perguruan tinggi. Pada jenjang-jenjang pendidikan, sastra merupakan bagian dari mata pelajaran Bahasa Indonesia. Akan tetapi, kenyataan di lapangan memperlihatkan mata pelajaran ini lebih didominasi oleh pelajaran tata bahasa. pembelajaran lebih ditekankan pada aspek pengetahuan (kognitif), bukan afektif (pendalaman rasa). Siswa hanya diperkenalkan dengan karya sastra dan penulis angkatan pujangga lama, sastra melayu lama, balai pustaka, pujangga baru, dan angkatan-angkatan selanjutnya. Siswa hanya tahu novel siti nurbaya sebatas marah rusli pengarangnya, seolah siswa hanya dipersiapkan untuk bisa menjawab hal-hal yang bersifat hafalan. mereka tidak diajak untuk mendalami, memahami dan menghayati unsur kehidupan dan nilai-nilai yang tersirat di dalamnya.
Tak heran jika moral dan rasa kemanusiaan di negeri ini kian mundur seiring dengan pembentukan karakter humanis generasi muda melalui pendidikan sastra yang kian mundur. Seperti yang diistilahkan oleh Taufik Ismail “Kerabunan membaca dan kelumpuhan Menulis” telah menjadi tanda kemunduran bangsa. 
Humanisme Melalui Pembelajaran Sastra
Hanya dengan jalan membaca roman orang dapat memperoleh pengalaman-pengalaman lain dan hanya dengan membaca sajak orang dapat mengenal pelbagai perasaan murni yang ada pada manusia tetapi yang sering disembunyikan.
(asrul sani)
Belajar sastra pada hakikatnya adalah belajar tentang hidup dan kehidupan. Melalui karya sastra, manusia akan memperoleh siraman batin yang mencerahkan sisi-sisi gelap dalam hidup dan kehidupannya melalui kristalisasi nilai yang terkandung dalam karya sastra. Teks sastra tak ubahnya seperti layar ditampilkannya rekaman kehidupan yang dibangun oleh sebuah model yang diciptakan oleh sastrawan untuk menjelaskan berbagai kemungkinan kehidupan dari model tersebut.  Karya sastra adalah sebuah karya dengan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial yang mencangkup hubungan antar manusia yang terjadi dalam dunia nyata. Sastra adalah karya yang tidak bisa lepas dari masyarakat. Karena antara masyarakat dengan sastra terbuka sebuah hubungan yang dialektik atau hubungan timbal balik.
Sastra pada dasarnya adalah ungkapan, pandangan, dan penghayatan seorang sastrawan terhadap kehidupan. Kehidupan itu sendiri sangat luas, meliputi persoalan-persoalan kemanusiaan, baik yang sifatnya individual, maupun persoalan sosial, politik, dan budaya dengan berbagai dimensi dan berbagai nilainya didalamnya. Dan seorang penulis atau sastrawan mencoba melukis itu semua dalam dunia imajiner, yakni dalam wujud karya sastra. Sastra juga senantiasa kritis terhadap persoalan-persoalan kehidupan dan selalu berupaya memancarkan pandangan-pandangan untuk membantu pembacanya agar lebih memahami kehidupan dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Pemahaman kehidupan dan nilai-nilai kemanusiaan melalui sastra tentu tidak sama dengan pemahaman melalui ilmu-ilmu lain, karena sastra menyampaikannya melalui unsur-unsur estetika.
Dengan karakteristik sastra tersebut, sudah sepatutnya pembelajaran sastra diarahkan untuk mereguk manfaat-manfaat sastra, yakni untuk lebih memahami dan memperkaya wawasan kehidupan, mempertajam watak dan kepribadian, memperhalus budi pekerti, cipta, rasa, karsa, kepekaan sosial, budaya, religi, dan kepekaan pada nilai nilai kemanusiaan. Ini semua akan tumbuh jika pembelajaran sastra diarahkan pada apresiasi sastra dengan lebih banyak menyentuh segi afeksi. Dalam hal ini, siswa diajak untuk menikmati, memahami, dan menghayati karya sastra. Dan misi pendidikan untuk memanusiakan manusia akan menjadi lebih ringan jika pembelajaran sastra bisa diterapkan dengan baik. Dan bersama, Indonesia growing with character.
DAFTAR PUSTAKA
Faruk. 1999. Pengantar Sosiologi sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Soyomukti, Nurani. 2008. Pendidikan Berperspektif Globalisasi. Yogyakarta: Ar-ruzz Media

Jumat, 09 Maret 2012

Kunci hati



Dalam raga ada hati, dalam hati ada satu ruang tak bernama. Dan di tangnmu tergengam kunci pintunya.

Ruang itu mungil, isinya lebih halus dari serat sutera. Berkata-kata dengan bahasa yang hanya di[ahami oleh nurani.

Begitu lemahnya ia berbisik, sampai kadang-kadang engkau tak terusik. Hanya kehadirannya yang terus terasa, dan bila ada apa-apa dengannya duniamu runtuh bagai pelangi meluruh usai gerimis.

Tahukah engkau bahwa cinta yang tersesat adalah pembuta dunia? Sinarnya menyilaukan hingga kau terperangkap dan hatimu menjadi sasaran sekalinya engkau tersekap. Banyak garis batas memuai begitu engkau terbuai, dan dalam puja kau sedia serahkan segalanya. Kunci kecil itu kau anggap pemberian paling berharga.
Satu garis jangan sampai kau tepis: membuka diri tidak sama dengn menyerahkannya.
Di ruang kecil itu, ada teras untuk tamu. Dan hanya engkau yang berhak ada di dalam inti hatimu sendiri.

copas dari "Filosofi Kopi" Dewi Dee Lestari

Kamis, 01 Maret 2012

sebab mekarmu hanya sekali

Ilalang yang terhampar
Desau angin dan dengung kumbang-kumbang
Angin zaman memang telah berubah arah
Sampai waktu milikmu akan tiba
Jangan pernah hilang wangimu tersia-sia

Ketika angin zaman menerpamu
Di atas cadas ataupun lumpur cemar
Teruslah mewangi wahai kuntumku
Tetaplah indah di padang liar
Hingga kaulah yang akan dipetik
Sebab mekarmu hanya sekali!

Hari ini, waktu telah mengantarmu pada kedewasaan yang begitu mempesona. Masa berganti rupa dan usia menapak dewasa. Tak terasa, kau telah tumbuh menjadi seorang gadis remaja. tiba-tiba baru kusadari bahwa tak lama lagi kau akan lepas dari sisiku. Karena sudah tiba waktunya kau harus pergi. Menjemput kehidupan milikmu sendiri. Ya, sudah saatnya kau harus kulepaskan menuju kehidupan baru di luar sana.

Di depan sana, gerbang dunia luar yang terbuka lebar-lebar telah siap menyambutmu dengan segenap kegenitan serta gemerlap yang menggoda. Dunia luar, Adalah sebuah tempat yang sama sekali tak ramah, putriku. Sebuah ruang di mana kau harus mampu untuk tetap bertahan di tengah-tengah segala ancaman yang bakal terus menghadangmu. Dengan bumi yang semakin tua serta dipenuhi oleh beragam fasilitas yang seharusnya bisa lebih memudahkan kehidupan. Tapi ternyata semua itu justru membuat realitas kehidupan makin bertambah kacau dan carut marut. Hari-hari terakhir ini, segala bentuk kekerasan dan tindak jahiliyah sudah menampakkan diri secara terangterangan.

Semuanya seolah untuk menampilkan sisi bengis dan buram wajah kehidupan. Kejahatan dan kemaksiatan di lingkungan sekitar kita hanyalah masalah waktu. Tak ada lagi sebuah tempat pun yang benar-benar aman. Dan lagi-lagi, kaum wanita seperti dirimu adalah yang pertama kali akan merasakan ancaman dan akibatnya, langsung maupun tidak.

Ketika hari ini aku kembali lagi menatap dunia yang liar itu melalui jendela rumah kita. Sungguh,
melepaskanmu di tengah masyarakat selalu membuatku bimbang. Menyadari bahwa taring taring tajam kehidupan yang menganga itu selalu siap menerkammu, memaksaku untuk sekali lagi mengingatkanmu. Tapi kau pun harus tetap melangkah ke depan. Oleh sebab itu, dengarkanlah pesanku, wahai putri tercinta! Perhatikanlah segala fenomena di sekelilingmu yang jika kau lengah bisa membuatmu kalah oleh kehidupan. Sudahkah kau menyadarinya?

Kau sedang hidup pada sebuah zaman di mana waktu dan tempat yang seolah telah menjadi sebuah dimensi yang serba mudah diakses. Tak ada yang tak diketahui oleh siapa pun tentang sesuatu yang sedang terjadi di belahan bumi lain pada saat bersamaan. Berbagai macam kecanggihan teknologi telah memungkinkan siapa pun untuk menyampaikan apa yang diinginkannya pada orang lain. Teknologi informasi dan telekomunikasi telah berkembang dengan sedemikian cepatnya. Arus informasi yang berasal dari segala macam sumber dan kepentingan akan sangat mudah membentuk kepribadian serta pola pikirmu bila kau tak memiliki benteng yang kuat.

Jumat, 23 Desember 2011

Pahlawan “Semesta Mendukung” Untuk “Senyum Indonesia”


Nama               :  Yohanes Surya
Lahir                :  Jakarta, 6 November 1963
Profesi             :  Pelopor dan Inovator, Penulis, peneliti, pendidik, dan motivator.
Pasangan         :  Christina 
Anak               :  Chrisanthy Rebecca Surya   
                           Marie Felicia Surya     
                           Marcia Ann Surya  
Situs web        :  Yohanessurya.com
                           Suryainstitute.org
                           Mestakung.com

“Keterbatasan bukan untuk dikeluhkan, tapi dengan kesungguhan maka semesta akan mendukung kesuksesan anda.”
            Seuntai kata motivasi yang menginspirasi. Mengajak kita menyelami makna akan self organizing, dan pentingnya rasa hormat kepada diri sendiri yang merupakan sumber keikhlasan untuk selalu berupaya mem”baik”kan kehidupan. Tak perlu takut ketika kita berada pada kondisi kritis, karena semestapun akan turut bereaksi mengatur diri tuk membantu kita melewati kondisi tersebut. Sebuah prinsip hidup yang dibangun atas dasar konsep ilmu fisika, oleh ahli fisika kebanggaan Indonesia Prof. Yohanes Surya Ph.D. Dan MESTAKUNG (Semesta Mendukung), begitulah prinsip itu dinamai.
Profesor Kelahiran Jakarta 6 November 1963 ini, mulai memperdalam ilmu fisika pada jurusan Fisika FMIPA Universitas Indonesia hingga tahun 1986, yang dilanjutkan dengan menempuh program master dan doktornya di College of William and Mary, Virginia, Amerika Serikat. Setelah mendapatkan gelar M.Sc. dan Ph.D., Yohanes Surya menjadi Consultant of Theoretical Physics di TJNAF/CEBAF (Continous Electron Beam Accelerator Facility) Virginia – Amerika Serikat di tahun 1994. Sebelum akhirnya, pekerjaan mapan tersebut beliau lepas demi kembali ke tanah air bersama visi besarnya, yaitu mewujudkan cita-citanya tuk mengharumkan nama bangsa dengan Semboyannya kala itu adalah “Go Get Gold” untuk Indonesia.
Tak mudah memang, butuh keyakinan dan kesungguhan yang kuat dalam menapaki arena perjuangan. Dan keyakinan harus ada ketika kita berada pada kondisi kritis, keyakinan merupakan pijakan awal tuk melangkah menapaki perjalanan mimpi. Lalu, Melangkahlah! walau itu hanya langkah kecil. Bergeraklah menuju sasaran, hingga akhirnya langkah itu berhasil membawa kita keluar dari kondisi kritis tersebut. Dan professor yohanes surya bersama siswa-siswa binaanya di TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia) telah membuktikan keampuhan Mestakung. Walau dalam kondisi pendidikan yang masih sangat terbatas, dengan keyakinan dan kerja keras, dari tahun 1994 hingga 2007 indonesia berhasil menyabet 54 medali emas, 33 medali perak dan 42 medali perunggu dalam berbagai kompetisi Sains/Fisika Internasional. Bahkan di tahun 2006, seorang siswa berhasil meraih predikat Absolute Winner (Juara Dunia) dalam International Physics Olympiad (IphO) XXXVII di Singapura.
Selain menjadi pimpinan dan Pembina TOFI, yohanes surya juga menjadi pengajar dan peneliti pada program pasca sarjana UI untuk bidang fisika nuklir. Beliau juga merupakan penulis produktif untuk bidang Fisika dan Matematika. Terhitung telah Ada 68 buku untuk siswa SD hingga SMA. Selain itu, juga telah lahir ratusan artikel Fisika di jurnal ilmiah baik nasional maupun internasional, di harian KOMPAS, TEMPO, Media Indonesia serta media lainnya. Selain aktif di dunia kampus dan kepenulisan, beliau juga seringkali mengadakan pelatihan bagi guru-guru Fisika di seluruh pelosok Nusantara yang diwadahi oleh “Surya Institute”. Dan di tahun 2009 beliau mulai mengembangkan pembelajaran Gasing (Gampang, Asyik, Menyenangkan),  serta mengkampanyekan “Cinta Fisika” di seluruh pelosok Indonesia.  Sedangkan di Tahun 2010 Profesor yang biasa dipanggil “Pak Yo” ini mendirikan STKIP (Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan) SURYA, guna mencetak guru-guru yang berkualitas dari berbagai daerah tertinggal di Indonesia. Dan beliau juga sedang mempersiapkan pendirian Surya University, sebuah universitas yang fokus pada pendidikan, energi dan ilmu hayati/life sciences.
            Berkat pengabdiannya yang tinggi terhadap dunia pendidikan, di tahun 2008 beliau mendapat award sebagai Pahlawan Masa Kini pilihan Modernisator dan majalah TEMPO. Dan di tahun 2009 beliau juga dinobatkan sebagai “tokoh perubahan” versi harian republika. Sedangkan di tahun 2011 beliau mendapat penghargaan dari Seputar Indonesia Awards, untuk kategori Social Transformer 2011. Serta masih banyak lagi penghargaan-penghargaan yang beliau peroleh di bidang pengembangan ilmu khususnya fisika dan matematika. Diantara berbagai penghargaan yang beliau dapat, ada sebuah penghargaan terhadap karya fenomenal yang sangat inspiratif, yang mampu mengembalikan semangat tuk membangun masa depan, yaitu lahirnya buku "Mestakung: Rahasia Sukses Juara Dunia" dimana beliau mendapatkan penghargaan sebagai penulis Best Seller tercepat di Indonesia.
            Dengan Prinsip “Mestakung”, semua orang bisa menjadi the most, the best and the first. Asalkan orang tersebut mampu membayar harga dari sebuah mimpi dengan pengorbanan. Dan, “mestakung” akan menunjukkan cara kerjanya. Dengan melalui tiga tahapan, yaitu hukum kritis, hukum langkah, dan hukum tekun (Krilangkun).
            Dalam hukum kritis, percayalah di setiap kondisi kritis pasti ada jalan keluar. Tak perlu khawatir karenanya, justru kita harus bersyukur karena dengan kita berada dalam kondisi kritis kita bisa melihat jalan keluar, dan akan berusaha melangkah tuk menggapainya. Bahkan, akan jauh lebih baik jika kita menempatkan diri pada kondisi kritis, dengan keluar dari zona kenyamanan. Menempatkan diri pada kondisi kritis dapat dilakukan dengan bermimpi sesuatu yang besar. Menciptakan kondisi kalau kita sedang berada dalam titik point  of no return. Dimana jika kita tidak mendapatkan hal yang kita impikan, semua usaha kita selama ini akan sia-sia dan kita akan malu besar. Disini, kita harus benar-benar merasa kritis maka seluruh sel-sel tubuh akan bekerja bersama-sama menghasilkan suatu motivasi dari dalam, dan yang ada hanya kerja keras, keikhlasan, dan keteguhan hati. Disaat seperti inilah, semesta mulai bereaksi. Kondisi kritis seolah menarik segala sesuatu disekeliling kita untuk mendukung kita keluar dari kondisi kritis ini. Dalam hal ini semesta dapat berupa sel-sel tubuh, lingkungan dan segala sesuatu disekitar kita.
            Tahap kedua dari mestakung adalah “langkah”. Kita harus melangkah walaupun langkah itu kecil sekalipun, karena kalau kita tidak melangkah kita akan binasa dalam kondisi kritis itu sendiri. Melangkah bisa dilakukan dengan membuat strategi, mensharingkan ide, dan yang terpenting kita harus bergerak menuju sasaran. Segala sesuatu tidak akan pernah terjadi jika tidak ada langkah pertama. Kita melangkah, maka jalan keluar perlahan akan terbuka, dan semesta akan bersiap  mengatur diri untuk membantu kita keluar dari kondisi kritis.
Seperti yang pernah dialami oleh beliau ketika berniat untuk mengembangkan pendidikan fisika yang asyik, mudah, dan menyenangkan di Indonesia. Namun, Kala itu beliau merasa ilmu yang diperoleh dari S1 masih sangat kurang. Dan beliau berkeinginan untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Walau beliau tahu Orang tua tidak akan mampu membiayainya, mengingat kuliah S1 di UI saja beliau dibiayai oleh beasiswa supersemar. Namun, Tekad ke luar negeri itu begitu kuat. “saya pasti bisa dan saya harus melangkah”, kalimat itulah yang terus dipegang teguh oleh pak yo. Kemudian beliau memberi les privat dan uang les privat itu beliau kumpulkan sedikit demi sedikit untuk membuat passport. Sangat aneh kedengarannya, Ke luar negeri saja belum ada kepastian, kok tiba-tiba dengan penuh percaya diri sudah membuat pasport. Tapi, menurut beliau, bukankah kita harus berani melangkah. Dan ternyata di tahun berikutnya, semesta benar-benar menunjukkan dukungannya. Fisikawan Amerika Serikat datang ke Indonesia untuk meng-interview mahasiswa-mahasiswa Indonesia dan salah satu mahasiswa Indonesia yang lulus interview adalah prof. Yohanes surya, dan beliaupun mendapat beasiswa di Department of Physics The College of William and Mary Virginia.
            Setelah kita berhasil menentukan langkah awal, di tengah perjalanan pastilah kita akan berhadapan dengan ombak dan terpaan angin. Janganlah takut. Kita harus terus melangkah dengan tekun. Ketika kita tekun melangkah itulah Mestakung akan bekerja habis-habisan untuk kita. Ketekunan dan konsistensi dalam melangkah, Tekun dan maju terus sampai garis finish, dan jangan berhenti atau menyerah di tengah jalan. Kita harus  melupakan apa pun yang tengah menghambat kita, kita hanya perlu memfokuskan pikiran dan langkah kita pada apa yang ada di depan kita. Maju dan maju terus ! Hingga, tujuan itu pun dapat kita genggam.
            Kesuksesan memang tidak begitu saja jatuh dari langit. Sebelum menuai panen besar, bukankah harus ada benih yang ditabur dan harus pula disertai ketekunan dan pengorbanan. Dan percayalah, tidak ada jerih payah yang akan sia-sia. Hargai apapun mimpi-mimpi kita, tak ada mimpi yang tak berharga. Maka Jagalah mimpi itu agar tetap hidup. Semai selalu dengan keyakinan, visi, kerja keras, kekuatan dan dedikasi. Seperti yang telah dicontohkan oleh profesor yohanes surya. Ada banyak cara untuk menunjukkan kecintaan terhadap bangsa, sudah selayaknya kita “Bangga sebagai Bangsa Indonesia“. Melangkahlah tuk menuju impianmu, dan buatlah “Indonesia Tersenyum bersama senyummu“.

Kamis, 08 September 2011

Lomba Menulis Essay

(Info Lomba) Lomba Menulis Essay
Lomba ini bertujuan untuk menumbuhkan (membangkitkan kembali) karakter ke-Indonesiaan yang positif, yang kini sudah banyak hilang dari jiwa masyarakatnya, meningkatkan kebanggaan & kecintaan terhadap tanah air Indonesia, membuktikan rasa bangga & cinta tanah air dengan berkontribusi nyata bagi perubahan dan kemajuan Republik Indonesia. 
Tulisan bisa berupa kisah pribadi atau orang lain yang menceritakan karakter-karakter positif, pengabdian, dan kontribusi bagi negeri. Tulisan tidak harus berupa kisah-kisah heroik atau perjuangan besar dan massif.  Kisah-kisah sederhana yang menceritakan nilai-nilai kejujuran, integritas, semangat berkorban, serta ketulusan yang inspiratif, bermanfaat dan berkontribusi positif bagi negeri, sangat layak Anda tuliskan! ^_^
1. Waktu Pelaksanaan Lomba:
 a. Penjaringan naskah dibuka pada tanggal 29 Juni – 16 September 2011.
 b. Pengumuman pemenang dilakukan pada tanggal 25 September 2011.
 2. Tata Cara Perlombaan   Syarat dan Ketentuan Peserta:
 a. Peserta merupakan Warga Negara Indonesia (WNI).
 b. Peserta tidak dibatasi usia, jenis kelamin, dan tempat tinggal.
 c. Tiap peserta hanya diperbolehkan mengirimkan satu naskah.
 d. Tiap peserta wajib mem-posting informasi ini melalui note akun facebook-nya (bila memiliki FB) dan men-tag 20 orang temannya, atau mem-posting di blog-nya (bila memiliki blog).
 
Syarat dan Ketentuan Naskah:
  a. Naskah yang diperlombakan merupakan naskah original, bukan saduran maupun plagiat, dan tidak pernah dikirim atau dipublikasikan di media mana pun.
 b. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik (bukan bahasa alay).
 c. Naskah tidak mengandung unsur pornografi, pornoaksi, bahasa vulgar, dan pertentangan SARA.
 d. Naskah diketik pada kertas A4, font Times New Roman, 12 pt, spasi 1.5, justify, minimal 5000 karakter.
  e. Melampirkan naskah dengan biodata yang berisi: nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, nomor identitas (KTP/SIM/ Paspor/ Kartu Pelajar/Mahasiswa), alamat lengkap, nomor telp/HP, nomor rekening yang masih berlaku, alamat FB (bila memiliki FB), alamat blog (bila memiliki blog). Boleh juga ditambahkan narasi singkat kegiatan saat ini atau prestasi yang dimiliki (optional).
 f. Naskah dikirim ke alamat email: mujahidah_87@yahoo.com & nuryazidi@gmail.com, dengan format: ESSAI_NAMA PENGIRIM_JUDUL.
 g. Naskah diterima oleh penyelenggara selambatnya tanggal 16 September 2011, pukul 23.00 WIB
 h. Pengumuman pemenang akan disampaikan di akun facebook Asti Latifa Sofi & Mohammad Nuryazidi, page Gerakan “Aku Anak Indonesia”, serta akan dikirimkan ke alamat email masing-masing peserta pada tanggal 25 September 2011.
 i. Keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat.
 
   -Hadiah-
 Juara 1: Uang senilai Rp300.000,00
Juara 2: Uang senilai Rp200.000,00
 Juara 3: Uang senilai Rp100.000,00
 Juara Harapan 1 (sebanyak 3 orang): masing-masing akan mendapatkan bingkisan buku
 Juara Harapan 2 (sebanyak 19 orang): masing-masing akan mendapatkan piagam penghargaan
 
* 25 naskah terpilih akan dikompilasikan menjadi satu buku yang insya Allah akan diterbitkan.   SELAMAT BERLOMBA! ^_^

Jumat, 02 September 2011

Rinduku Untukmu...


Disaat ini, saat kulihat jiwaku sangat rindu… biarkanlah aku bicara kerinduan hanya pada sebatang pena dan selembar kertas. Setidaknya mereka mampu menjadi cawan rindu tatkala rasa ini amat mendera..
Adakah hal lain yang bisa kulakukan selain itu…? Haruskah aku bersenandung laksana burung yang merindu? Namun, bilakah lantaran kau kan mampu mendengar alunan cicit cericit kerinduan ini, mungkin aku kan rela menjelma laksana burung kecil yang berdendang bersama nyanyian angin. Hingga… yang dirindupun terbang menerjang awan demi sang penyemai rindu.

Tapi… ah, rasanya… kala jarak tak lagi dekat, alunan bahkan raungan desah rasa sulit tuk tertangkap. Jadi, biarlah… biarkanlah kukirim bait-bait rindu dalam sepucuk coretan sederhana, untukmu…
Walau aku,,, aku memang bukan pujangga yang pandai menyulam larik-larik rindu romantic nan dramatis.
Tapi aku,,, aku hanyalah insane yang sedang merindu. Mencoba menggores berbagai cerita, menuai selaksa makna dalam nyata coretan pena. Bukankah  jika manusia tengah dimabuk rindu, ia akan setia menggulirkan potongan-potongan perasaannya, ya… aku pun begitu..

Kau tahu? Ada satu alasan mengapa kalian akan selalu kurekam dalam memoar hidupku. Karena…. Sungguh, kalian amat berharga, kawan! Sejarah telah mencatat bagaimana kita bersama melukis mimpi sileut cakrawala dalam sebaris tawa canda bahagia, tuk menghapus bulir-bulir hati nan duka. Masih ingatkah kalian?, bagaimana kita memulai pijakan awal menuju masa depan dibawah naungan persahabatan ini, bersama dalam suka dan duka, dan kita masih bisa saling berpacu dalam prestasi. Dengan semangat kita senantiasa belajar beriringan dalam sore yang merindu senja, dan diantara gelap yang sedikit menggoda.   tapi, ah… ternyata kini itu hanyalah apa yang disebut kenangan. Terasa sangat berat untuk diingat jika enggan tuk mengatakan terharu.. karena, memang… Waktu telah membawanya pergi dan takkan pernah kembali.

Jujur, akupun pernah berharap agar waktu itu tak berlalu. Tapi, apalah dayaku? Waktu tetap saja berlalu, dan tak ada guna ku menyalahkan waktu. Dalam hati, aku yakin takkan pernah habis waktu untuk sebuah jalinan persahabatan, walau waktu menjadikannnya dalam sebuah keterpisahan. Bukankah tidak semua keterpisahan menunjukkan keterpisahan hati??

Adakalanya sebuah keterpisahan menjadikan kita lebih dewasa dan lebih mengerti makna persahabatan itu sendiri. bukankah begitu kawand?

 adalah aku saat ini, yg merindu akan hadirmu, aku rindu kau disisiku… aku rindu, saat ku  terjatuh,kau kan membantu ku tuk bangun. Saat hati ku terluka, kau kan hadir obati luka dan menghapus air mata. saat ku hilang arah, kau kan datang membawakan lilin, menuntunku sembari menerangi langkah hingga aku tak lagi takut berjalan sendirian. saat ku dalam sedih yg terasa sangat sulit dilepas, kau kan tunjukkan ku bahagia, dan ajarkan ku tersenyum. Dan… kau ajarkanku tuk berani menatap langit, tuk berani membentangkan mimpi seluas samudra, walau seringkali hati ini surut oleh misteri masa depan,. Terima kasih sahabatku….terima kasih telah membawaku dalam warna-warni kehidupan yang berarti..:)