Selasa, 31 Desember 2019

Jalan Keluar Itu, Kuncinya Satu; Berserah Diri Kepada Allah


Mengenai masa lalu kita belajar ikhlas
Mengenai masa depan kita belajar berserah
Tentang hari ini kita belajar sabar atas kepayahan
Tentang hari ini kita belajar bersyukur atas anugerah sesederhana apapun
Pada semua hal, intinya, kita bergantung pada-Nya agar senantiasa damai dan tenteram (Muslimah Mengaji)


Page 365 of 365

Biasanya, di detik-detik menjelang pergantian tahun seperti ini, orang akan sibuk melihat kembali resolusi awal tahun. Ya, meskipun seringnya banyak yang nggak tercapai, sih :D. Tapi, gak papa, setidaknya setelah itu akan ada momen refleksi, 'setahun ini sudah ngapain aja?'

Bagi saya pribadi, sebenarnya momen refleksi dan resolusi biasa dilakukan di bulan Mei; bulan kelahiran. Tetapi, karena di awal tahun kemarin saya sempat ikut kelas Muslimah Institute yang mengharuskan untuk membuat 'Target Plan 2019', jadi semacam keharusan untuk merefleksi apa yang sudah saya lakukan di tahun ini. Atau, setidaknya apa pelajaran yang saya dapat untuk kemudian menjadi bekal pendewasaan.

Sebagai orang yang sangat menghargai proses, yang yakin bahwa selama niatnya baik, prosesnya baik, maka hasilnya juga insha Allah baik, ada satu kesimpulan 'ketika kita berserah diri hanya kepada Allah, maka Dia akan datangkan nikmat yang bertubi-tubi'.

Sedikit bercerita, tahun 2018 lalu ibarat hospital trip bagi saya dan keluarga. Bagaimana tidak, di sepanjang tahun itu, ibu harus bolak balik ke rumah sakit bahkan hingga masuk ruang operasi 4 kali. Belum lagi, di pertengahan tahun, adek saya yang niat awalnya pulang dari Jakarta karena ibu yang sakit, ternyata juga harus melakukan operasi ginjal ESWL ke RSAL Surabaya, dan yah.. meski akhirnya juga harus menjalani operasi bedah dan itu berbarengan dengan operasi ibu yang ketiga kalinya.

Bingung, pasti. Tidak saja karena masalah dana, tetapi juga lebih pada bagaimana caranya untuk tetap survive dan tersenyum. Untuk tetap yakin bahwa apa yang terjadi pada saya dan keluarga adalah yang terbaik, menurut Allah. Untuk tidak berburuk sangka. Untuk selalu memegang teguh ayat-ayat suci, yang salah satu isinya menyatakan bahwa segala sesuatu yang terjadi sama kita selalu 'Liman Aroda', kaitkan semua sama Allah.

Minimal kita bisa bersabar, ucap Ayah waktu itu. Syukur-syukur kalau bisa naik ke level 'Ridho' atas ketentuan Allah, atau bahkan hingga level tertinggi yakni bersyukur. Bersyukur atas segala yang terjadi, baik suka maupun duka. Dan Allahuakbar, maha benar Allah dengan segala firman-Nya. Ketika kita bersyukur dan bertaqwa atas apa yang terjadi dalam hidup, maka akan ada jalan keluar yang tidak disangka-sangka (At-Thalaq: 2).

Menjelang pergantian tahun 2019, dokter kembali merujuk ibu untuk operasi yang ke-5 di RS ternama di SBY. Tetapi, waktu itu ibu memilih berpasrah, menyerahkan semua pada Allah. Akhirnya, awal tahun 2019 benar-benar kami awali dengan kepasrahan dan khusnudzan kepada Allah. Sembari terus berbenah diri, termasuk untuk urusan kesehatan yang sebenarnya juga Islam telah mengajarkan semuanya. Mulai dari pengobatan ala Rasulullah dengan bekam, rutin mengonsumsi madu dan kurma, olahraga, dan lainnya.

Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu, kesehatan beliau pun membaik. Hingga di suatu waktu, ada orang yang menjadi perantara untuk ibu mendapatkan kacamata khusus penderita Glaukoma dari WHO. Alhamdulillah, saat ini ibu bisa beraktivitas seperti semula, bahkan bisa mengaji hingga 3 jus per hari, sebuah hal yang dulu sempat dianggap  mustahil untuk dilakukan kembali. Sungguh, nikmat manakah yang kau dustakan?

Bisa dibilang, ini hanyalah secuil contoh kisah yang harus saya syukuri. Selain itu, tentu banyak hal mengagumkan yang tentunya wajib disyukuri, namun tak perlu dijelaskan. Ketika memikirkan proses kehidupan yang sudah atau sedang dijalani seperti ini, tidak bisa tidak, untuk kita mengaitkan niat awal dengan hasil akhir.

Bismillah.. Apapun resolusimu di tahun 2020, tetaplah selalu berbaik sangka pada ketetapan Allah. Bismillah.. untuk semua yang terbaik menurut Allah. Percayalah, ketika kita hanya berserah pada-Nya, hikmah dan jalan keluar akan benar-benar terbuka.

Dan sebagai manusia, tak perlu lah kita sok tau... Karena sejatinya, yang kita sukai belum tentu baik dan membawa kebaikan untuk hidup dalam jangka panjang. Begitupun sebaliknya. Bisa jadi, justru dengan cara jatuh-bangun ini, adalah cara Tuhan untuk memperbaiki hidupmu.

Oh ya, satu lagi, jangan sampai seringnya aktivitas scroll di medsos atau melihat kehidupan orang lain, memengaruhi cara berpikir dan merasa. Jangan sampai kita merasa hidup si A lebih enak, sedangkan hidup kita jauh kekurangan atau begini-begini saja. Ingat, kamu hanya tidak tahu perjuangannya yang berdarah-darah, karena yang ditampilkan hanyalah kebahagiaan atau pencapaian.

Bagaimana kalau dari sekarang, kita mulai bersyukur banyak-banyak atas pencapaian atau apapun yang ada dalam hidup kita. Tak perlu kecewa jika ada doa yang belum menjadi kenyataan, karena Allah lebih tahu waktu terbaik untuk mewujudkan. Yakini saja kalau akhir dari semua ini pasti bahagia. Aamiin..

Untuk diri, terima kasih telah mengambil banyak peran. Jatuh - bangun, patah - tumbuh; semua jadi pelajaran. Jangan lupa terima kasih pada Tuhan karena telah menguatkan. Semoga harapan dan doa yang dihaturkan, segera menjadi kenyataan. 

Selamat datang tahun yang baru, semoga Allah senantiasa melindungi kita dalam keteguhan iman dan Islam. 

Pamekasan, 31 Desember 2019

Senin, 24 Juni 2019

Bertumbuh bersama Masalah


Bukan dunia namanya jika tidak ada suka dan duka. Karena memang seperti itulah tujuan dunia ini dicipta. Keduanya akan tiba silih berganti sesuai masa. Pun percuma jika kau berusaha tuk mengingkari, karena segalanya telah tertakdirkan dengan pasti.
-----
Sewaktu SMA, entah kenapa berbeda dengan kebanyakan kelas lain yang umumnya akan meng-quote kata bernada semangat atau motivasi, kelas saya justru menampilkan tajuk 'Bersahabatlah dengan masalah'. Sebuah tulisan yang terpampang nyata di dinding kelas untuk selalu mengingatkan bahwa sejatinya hidup itu sendiri adalah masalah, dan tidak ada pilihan lain selain mencoba bersahabat dengannya.

Tentu, makna 'masalah' yang dulu kami pahami sangat jauh berbeda dengan pemaknaan yang telah berproses oleh waktu. Karena sejatinya, masalah memang demikian bukan? Diberikan sesuai kemampuan.

Yah, ini juga tentang bersyukur dan sudut pandang masing-masing.

Setiap orang pasti punya masalah, punya sedihnya masing-masing. Pun demikian dengan bahagia. Jadi, seberat apapun masalahmu, jangan mengira semesta jahat padamu. Kamu hanya sedang diuji!

Mengeluh, boleh saja. Karena itu menandakan kita sebagai manusia yang lemah dan penuh kekurangan. Tapi, jangan sampai karena saking seringnya mengeluh kita sampai lupa untuk berterima kasih. Padahal sebenarnya, jika kita jeli, nikmat Allah pun tetap ada di setiap masalah itu sendiri.

Saya pribadi, dari segala masalah dan ujian yang hadir --baik bagi diri sendiri, keluarga, ataupun teman terdekat-- hingga proses ketika melewati setiap perjalanannya, kian percaya akan kasih sayang Allah SWT yang senantiasa menemani.

Sama halnya seperti saya, pahami baik-baik kalimat di bawah ini, dear.

Kamu tidak harus berubah. Banyak yang memaksakan diri untuk berubah, ujung-ujungnya malah kembali kepada dirinya yang semula --diri yang penuh cela, diri yang ingin diganti.

Namun, kamu harus bertumbuh. Pilihlah untuk menjadikan masalah dan perjalanan sebagai pelajaran hidup yang membuat dirimu semakin 'kaya'. Biarkan rangkaian perjalanan itu membuat dirimu dipahamkan --mengubah dirimu.

Tumbuhlah besar; besar ilmu, besar amal, besar cita-cita, besar cinta, besar ikhlas, besar tawakkal, sabar, dan syukurmu. Dan, bukan besar kepalamu.


Tumbuhlah dewasa. Kamu tak pernah terlalu muda untuk itu.
Dan benar, selama hidup kita memang harus bersahabat dengan masalah dan dari sanalah kamu bisa bertumbuh. ;)

Nb. Foto adalah cover salah satu buku antologi saya. Kurang lebih isinya juga tentang bagaimana orang-orang akhirnya bisa memahami bahwa ada pelangi selepas hujan, bahwa pasti ada hikmah di balik ujian. 

Senin, 28 Januari 2019

Berhenti Berbicara Negatif kepada Diri Anda, Sekarang!

"Berprasangka baik bisa memunculkan yang tak terlihat, merasakan yang tak berwujud, dan mendapatkan yang tak mungkin. Berita baiknya, prasangka baik bisa dilatih!"

Percaya nggak kalo kata-kata itu punya kekuatan?

Ya, ternyata ini nggak hanya bualan para motivator atau pakar komunikasi, lo. Ada sebuah penelitian yang menjelaskan kekuatan kata-kata ini melalui medium air. Sang peneliti, Dr. Masaru Emoto menguji relasi antara pikiran dan materi ini dengan menggunakan kristal-kristal air. Dari hasil penelitian, ditemukan bahwa kristal air bisa berubah ketika pikiran yang spesifik dan terpusat diarahkan ke air tersebut. Hasilnya pun cukup mencengangkan. Ketika dipaparkan kata-kata positif atau indah, seperti cantik, terima kasih, atau yang lainnya, kristal air akan membentuk pola yang kompleks, berwarna-warni, dan membentuk heksagonal yang sempurna. Sebaliknya, ketika dipaparkan kata bernada negatif seperti jelek, takut, atau yang lain, maka akan terbentuk kristal yang tak beraturan dan buram.

Lalu, apa hubungannya dengan kita? Itu kan air... Yah, benar itu hanya air. Tapi, jangan lupa bahwa 70% dari tubuh manusia adalah air. Masya Allah...

Jadi, nggak heran banyak pakar komunikasi yang menyebutkan bahwa kata-kata yang diucapkan atau bahkan hanya dipikirkan secara berulang-ulang --untuk diri sendiri maupun orang lain-- akan membentuk mindset. Itu artinya, kata-kata memiliki daya. Kata-kata bisa membentuk masa depan dan mentransformasi diri kita ke dalam hal-hal yang menakjubkan. Disadari atau tidak, kata-kata yang diucapkan untuk diri sendiri bisa menentukan hasil serta tujuan yang hendak dicapai. Jika kita kerap menggunakan kata-kata positif, tentu kita juga akan dipenuhi energi positif. Begitupun sebaliknya.

Nah, karena kata-kata bisa menjadi motivasi sekaligus mendemotivasi, tentu kita nggak boleh dong asal ngomong. Sama halnya seperti kata 'terima kasih', 'tolong', atau kata-kata lain yang dianjurkan untuk diucapkan, terdapat pula kata-kata yang sebaiknya kita hindari. Apa saja? Yuk, cekidot!

1. Tapi

Sebagian besar dari kita pasti pernah atau bahkan sering menggunakan kata 'tapi'. Misalnya, "... Tapi kan, aku masih capek. "... Tapi kan, aku dari keluarga biasa-biasa aja...", "... Tapi kan, kita masih muda....", "Tapi kan, aku belum punya ilmunya", etc. Ya, ternyata dalam beberapa kasus --dalam hal ini kalimat--, kata "tapi/tetapi" tidak hanya berfungsi sebagai kata penghubung intrakalimat untuk menyatakan hal yang bertentangan, tetapi juga bisa bermakna negatif. Coba deh dipahami lebih saksama, contoh-contoh tadi cenderung membuat kita down atau menurunkan semangat nggak sih? Iya.

Solusinya, coba ganti atau pasangkan kata tersebut dengan 'walaupun atau meskipun'. Jadi, "Walaupun aku dari keluarga biasa-biasa aja, tapi aku harus menjadi pribadi yang luar biasa", "meskipun kita masih muda, kita tetap bisa kok berkontribusi", dll. Maknanya jadi berbeda, bukan?

2. Seandainya/Andai

"Seandainya aja aku tidak terlambat"
"Coba seandainya aku hijrah dari dulu yaa..."
"Andai yaa aku jadi anak orang kaya"

Sebenarnya, jika dilihat dari satu sisi, kalimat pengandaian yang pertama dan kedua itu bisa bermakna positif. Menyiratkan rasa penyesalan, yang jika kita bisa memanaje-nya itu bisa menjadi cambuk untuk memperbaiki diri. Tapi, sebaliknya, alih-alih bisa menjadi kalimat positif, kata 'seandainya' juga rentan bermakna penyesalan yang cenderung merutuki diri atau nasib. Nauzubillah, sikap seperti ini bisa membuat terputusnya kita dari Rahmat Allah. Belum lagi, berangan-angan atau berandai-andai itu juga merupakan pintu masuknya setan, Lo. Ngeri kan...

Jadi, harus bagaimana? Ganti kata pengandaian tersebut dengan "Qodarullah", sudah menjadi takdir Allah. Percayalah, tak ada apa-apa yang ditakdirkan Allah selain untuk kebaikan. Bisa jadi, kita tidak ditakdirkan untuk menjadi anak orang kaya agar kita tahu manisnya perjuangan. Bisa jadi Allah membuat kita datang terlambat, karena ingin menyelamatkan kita dari suatu hal. Wallahu'alam.

3. Kebetulan

Pernah nggak kita mengalami suatu momen atau peristiwa yang memang kita inginkan dan semesta juga mendukung.

"Yaa Allah.. Kebetulan banget yaa kita ketemu di sini"

Pernah? Saya sih iya.

Tahukah kita bahwa segala kejadian yang kita sebut kebetulan sebenarnya bukanlah sebuah kebetulan. Melainkan sebuah kebenaran yang 100% telah dirancang oleh Allah SWT. Banyak sekali kebetulan yang hadir dalam kehidupan kita dan sebenarnya itu merupakan God's Sign. Semisal, pertemuan kita dengan seseorang --entah itu teman lama atau orang baru--, bisa jadi itu juga God's Sign yang menyimpan suatu tujuan dari Allah. Apa tujuannya? Entahlah... Bisa jadi agar kita kembali bersilaturahmi, bisa menjadi jalan pembuka rezeki, atau bahkan bisa menjadi jodoh, hahaha.. yang jelas, God's Sign itu pasti merupakan hal yang baik.

So, mulai saat ini kita harus peka ya terhadap kebetulan yang hadir dalam hidup kita. Barangkali itu merupakan petunjuk dari-Nya yang sengaja dihadirkan untuk mengarahkan kita kepada tujuan baik yang tidak kita persiapkan sebelumnya. Dan apabila kebaikan itu telah terjadi, segeralah berterima kasih kepada Allah atas segala petunjuk yang telah diberikan. Semoga kita menjadi orang yang peka, yang mampu memaknai segala petunjuk-Nya. Aamiin...


Tulisan ini disarikan dari materi video "Emosional Power" di Muslimah Institute. Karena videonya hanya durasi pendek, dan saya harus menjabarkannya melalui tulisan panjang lebar, 4 kata lainnya di postingan selanjutnya yaa... :) Harus diramu dulu biar jadi tulisan yang renyah. 

Minggu, 08 Juli 2018

Kunci Bahagia Itu Bernama Syukur


Ketika Allah beri ujian dengan kesulitan dan kesempitan, kita sering bertanya; kenapa saya mendapat ujian ini? Namun, kita jarang bertanya kenapa Allah beri nikmat sebesar ini? Dikala Allah beri karunia yang besar, justru kita tenggelam di dalamnya dan lupa untuk berterima kasih kepada Sang Pemberi nikmat. Pun kita jarang menyadari, bahwa soal nikmat, rahmat, dan karunia, tak melulu hal yang tampak. Seringnya, kita pun abai terhadap hal-hal kecil dan kasat mata, yang sebenarnya juga merupakan nikmat dari Allah yang sangat patut untuk disyukuri.

Menjadi hamba yang ahli syukur memang tak mudah. Barangkali itulah mengapa kalimat 'Maka nikmat Allah manakah yang kamu dustakan' diulang hingga 31 kali dalam satu Surah Alquran. Tak lain, untuk mengingatkan kita atas rahmat dan nikmat-Nya.

Bagaimanapun, sudah menjadi kodrat manusia untuk memiliki sifat tak pernah puas ketika diberi nikmat, tak pandai bersyukur ketika dilimpahkan rahmat, namun sangat mudah berkeluh kesah jika Allah beri ujian berupa kesulitan dan kesempitan. Bahkan tak jarang, sampai pada tingkatan mengeluh tertinggi dengan menganggap Allah tidak adil atau tidak sayang padanya. Hal ini pun rentan membuat dirinya berputus asa atas rahmat dan karunia Allah SWT. Naudzubillah min dzalik...

Karenanya, saya selalu salut pada mereka yang meski dalam keadaan sesusah apapun, masih bisa tetap bersyukur. Mereka pun masih bisa tersenyum, tertawa, serta menikmati hidupnya dengan tenang, bahagia, dan seolah tanpa beban. Orang kaya yang bersyukur, itu wajar. Karena ada banyak hal nyata yang memang patut disyukuri. Namun, ketika orang yang penuh dengan keterbatasan itu bersyukur, bukankah hal tersebut sangat menakjubkan sekaligus menyentil? Sudahkah kita yang dalam kondisi lebih baik ini bersyukur?

Benar kata orang bijak, agar kita terhindar dari sifat dan sikap kufur, lihatlah selalu ke bawah. Di sanalah kita bisa belajar untuk mensyukuri apapun yang kita miliki saat ini.
Ada sebuah peristiwa yang pernah menampar keluarga saya berkaitan dengan hakikat syukur ini. Di suatu waktu, seorang kyai sufi yang memang rutin bertamu ke rumah tiba-tiba memberi satu tas plastik kepada ibu saya. Beliau berkata, 'ini buah kedondong buat keluarga Ibu'. Ibu saya menerimanya, dan sekilas melihat isi dari tas plastik. Dan ternyata, isinya hanya 6 buah kedondong!! Lalu, batin ibu saya berkata, "hmm... Hanya 6 kedondong ini" dengan kesan meremehkan.
Tak lama kemudian, di tengah perbincangan, beliau menyinggung perkara syukur yang intinya, tak pernah ada kata 'cuma' untuk sebuah nikmat. Sekecil apapun yang kita terima, itu patut disyukuri. Karena yang penting bukan banyaknya, tapi berkahnya. Jika kita mematok nikmat hanya pada ukuran jumlah, itu relatif. Belum tentu sesuatu yang 'banyak atau lebih' itu yang kita butuhkan. Bisa jadi itu menjadi penyebab kita terjebak pada rasa tak pernah puas, selalu ingin lebih, dan tak bersyukur dengan nikmat yang ada.

Yang penting itu berkah. Keberkahan itulah yang bisa membuat hidup menjadi tenang dan bahagia, meski dalam kesederhanaan. Sejak saat itu, saya pun langsung ditegur oleh orang tua ketika secara tidak sengaja bilang, 'cuma segini' untuk beragam hal atau peristiwa. Dan di tengah segala macam ujian di tahun ini, saya pun banyak merenung; berapa banyak nikmat yang telah Allah karuniakan. Entah itu nikmat sehat, harta, kesempatan belajar dan menempuh pendidikan, keluarga yang utuh dan hangat, teman atau sahabat yang baik, dan tentunya nikmat yang paling besar yaitu nikmat iman dan islam.  Dengan merenung seperti itu, saya merasa malu jika harus mengeluh. Allah telah begitu sayang pada saya, bahkan meski saya masih tergolong hamba-Nya yang nakal dan sering lalai.
Jadi, jika hari ini kita masih sering mengeluh, sering-seringlah bertanya pada diri sendiri atau jika perlu tulislah satu persatu nikmat yang telah Allah beri. Sungguh, bahkan jika kita menjadikan air laut sebagai tinta, hal tersebut juga takkan pernah cukup untuk menggambarkan besarnya nikmat dan karunia Allah.

"Sebesar-besarnya nikmat Allah adalah ketika kita bisa menikmati indahnya rasa syukur".
Semoga kita bisa menjadi hamba-Nya yang penuh dengan rasa syukur.


Selasa, 18 Juli 2017

Jodoh, Antara Keinginan dan Pengetahuan

"Kita hanya mempunyai keinginan, dan Allah yang mempunyai pengetahuan"

Dulu, ada teman kos saya yang bisa dikatakan dia adalah relationship goals kami semua --anak kos. Bagaimana tidak, dia cantik si cowok ganteng. Si cewek calon pendidik, si cowok calon dokter. Kedua pihak keluarga pun telah menyetujui, menerima dan bahkan mendukung banget hubungan mereka. Hubungan itu pun langgeng hingga 4-5 tahun. 

Baru beberapa waktu yang lalu, di akun media sosialnya dia memposting video di mana dia sedang membaca lantunan ayat inti Surah Ar-Rahman, yang kurang lebih isinya, 'Nikmat mana pula yang kau dustakan?'.

Dari sana dan dari beberapa caption n komentar orang-orang terdekatnya,  kemudian tersiar kabar bahwa hubungannya bersama sang kekasih telah kandas. Sontak, berita itu pun membuat saya dan teman-teman kos saya dulu kaget bukan main. Pertanyaan semacam 'kok bisa?' langsung memenuhi benak kami. 

Akhirnya, teman saya itu pun mengakui secara pribadi, meski waktu itu dia belum siap menceritakan apa masalah dan penyebabnya. Ya sudahlah, yang penting hubungan itu diakhiri dengan cara baik-baik, dan pasti yang terbaik untuk keduanya. Meski saya akui, pasti itu berat.

Tentunya, telah banyak kenangan kebersamaan yang tercipta. Telah banyak harapan-harapan yang dirajut bersama. Dan kemudian, itu harus hancur.
Meski di sisi lain, mereka sama-sama meyakini bahwa itu adalah keputusan yang terbaik bagi keduanya. Namun, yang namanya perasaan, rasa sesak dan berat itu pasti ada bukan?

Dari sana saya belajar, bahwa sesuatu yang terjadi sering kali jauh melenceng dari apa yang kita rencanakan. Ukuran mengenal secara lebih dalam --pacaran-- dalam waktu yang lama ternyata bukan menjadi tolak ukur dari keberhasilan sebuah hubungan. Pun keserasian dan kepantasan yang kita yakini sebagai janji Tuhan, terkadang menyimpan sejuta rahasia. Tidak hanya dari faktor fisik, kemapanan, atau hal-hal duniawi semata, karena nyatanya ada sejuta hal yang tidak kita ketahui sebagai manusia, yang hanya menjadi kuasa-Nya.

Di lain cerita, ada sepupu saya yang dulu memutuskan untuk menikah dengan hanya menempuh proses mengenal yang sangat singkat. Padahal, dulunya saya tahu dia pernah beberapa kali memiliki pacar dalam waktu yang cukup lama, meski akhirnya putus.
"Ya bagus sih mbak.. Berarti dia setidaknya ada niat serius dengan sampeyan" komentar saya dulu
"Iya dek... Wes capek pacaran suwi-suwi"
"Tapi harus juga diliat lho mbak backgroundnya, agamanya, jangan cuma mapan aja, heheheh"
"Iya dek, dia dulu pernah mondok juga kok"

Lalu, beberapa tahun kemudian, berbagai masalah bahkan isu perpecahan rumah tangga mereka mulai terdengar. Mulai dari masalah prinsip, ketegasan, materi, hingga agama, menjadi pemicu retaknya hubungan mereka. Entahlah... Saya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mbak saya itu. Semoga dia senantiasa kuat untuk menghadapinya.

Dari kasus mbak sepupu itu pun kita bisa mengambil pelajaran, bahwa lelaki saleh tak selalu didapat dari koko putih berkopiah hitam. Lelaki baik tak selalu diperoleh dari mereka yang lulusan pesantren. Allah lebih tahu laki-laki baik seperti apa yang cocok untuk kita. 

Bukan berarti pula, semua hubungan yang singkat pasti akan berujung pada kegagalan. Karena nyatanya, banyak orang yang telah menikmati bagaimana indahnya pacaran setelah menikah. Ketika aktivitas kebersamaan --sesedikit apapun itu-- dinilai sebagai ibadah.

Saya juga tidak sependapat ketika salah satu teman saya mengutarakan ketakutannya untuk memilih jalan 'jomblo sampai halal' ini. Takut nanti beli kucing dalam karung, begitu menurutnya.
Tentu, kekhawatiran itu pun tak sepenuhnya salah. Karena nyatanya, 'dia' adalah orang baru yang belum kita kenal lama. Tapi, bukankah kita bisa mengetahui segala seluk beluk tentangnya dari orang-orang terdekatnya? Itulah mengapa dalam agama pun ada ajaran dan tata cara ta'aruf (perkenalan), bukan?

Tulisan saya ini tidak bermaksud untuk menjudge atau menyinggung mereka yang memilih jalan pacaran. Karena saya pun memiliki banyak teman, bahkan saudara sepupu yang dulunya memilih jalan ini. Ini hanyalah masalah prinsip bukan? Tak perlu dipaksakan untuk dianut semua orang.

Pun saya tak menganggap bahwa diri atau langkah saya yang paling benar. Nyatanya, saya pun masih dalam proses belajar.

Dari mereka yang berada di sekitar, saya belajar. Bahwa perkara jodoh adalah perkara di luar kendali kita. Ada tangan dan rencana Tuhan yang mengatur baik buruknya. Karenanya, melibatkan Dia Yang Maha Tahu dalam setiap keputusan yang akan kita ambil, adalah hal yang penting untuk dilakukan.

Tak selamanya yang kita anggap baik, itu baik, pun sebaliknya. Bisa jadi, di awal memang terasa indah, terasa pantas, atau yang lainnya, tapi bukankah kita tidak tahu apa yang akan terjadi di esok hari? 

Duhai diri, berdoalah dengan penuh kekhusyu'an..

"Allah... Jodohkanlah hamba dengan orang baik menurut-Mu, bukan menurutku. Karena aku hanya punya keinginan, tapi Engkau mempunyai pengetahuan"


Jumat, 07 Juli 2017

Masa Depan Anak, Seperti Apa?

A: "Aang kuliah di mana? Jurusan apa?"
Ibu: "jurusan Hukum Islam di UIN Semarang"
A: "Ooh... Anak saya mah kuliahnya di teknik semua"
B: "Nggak kuliah di STAIN aja deket, toh jurusannya juga cuma gitu, bla bla..."

B: "Alfan rangking berapa?"
Ibu: "Nggak ada rangkingnya.."
B: "Oh...bla bla bla..."
Padahal, si tante B ini belum tahu saja kalau memang sekolahnya Alfan tidak menganut sistem rangking. Dan Ibu juga malas yang mau menjelaskan.

Realita semacam ini pasti akan selalu menyeruak di musim-musim libur sekolah. Meski tak bermaksud untuk berprasangka negatif, nyatanya tak sedikit nada membandingkan dan meremehkan yang terselubung di balik basa-basi pertanyaan.

Karena kita pun tidak bisa memungkiri, bahwa mayoritas orang tua di Indonesia masih menganggap kecerdasan kognitif adalah yang utama. Dan rangking, dianggap sebagai salah satu indikatornya. Lebih lanjut, dalam tataran yang lebih tinggi, tak sedikit pula masyarakat 'awam' yang beranggapan bahwa pilihan jurusan --SMA dan kuliah-- adalah penentu kesuksesan seseorang. Jurusan IPA dengan teknik dan kedokterannya memang masih menjadi primadona yang diagungkan sekaligus menggiurkan. Sementara yang lain, --sebut saja beberapa jurusan IPS, bahasa, dan seni-- acapkali dipandang sebelah mata, atau bahkan mungkin sarat dengan pertanyaan, "Mau jadi apa?".

Tak ayal, banyak dari kita --utamanya para orang tua-- yang menuntut anak-anaknya untuk berada di jalur yang dianggap "bergengsi" tersebut. Meski terkadang harus mengabaikan bakat dan kemampuan yang dimiliki anak. Padahal, semua anak istimewa. Semua anak memiliki keunggulan di bidangnya masing-masing. Bukankah beragam penelitian juga telah menyebutkan bahwa kecerdasan ada bermacam-macam?

Jadi, jika seorang anak lemah di bidang matematika, bukan lantas dia bodoh. Hanya saja, kecerdasan dan keistimewaannya ada di bidang lain. Dan tugas orang tualah --juga guru dan masyarakat-- untuk membantu mengembangkannya. Bukan malah memaksakan kehendak agar anak bisa menjadi seperti yang diinginkan. Apalagi, hanya demi menuruti gengsi. Duh...

Menjadi orang tua sejatinya adalah proses belajar. Belajar menerima titipan Allah, belajar menjaga pertumbuhan dan perkembangannya. Serta belajar untuk menyiapkan dan mendukung pendidikan terbaik baginya. Dan proses belajar itu pun adalah proses sepanjang hayat. Tidak lantas berhenti atau saklek dengan itu-itu saja. Karena bagaimanapun, antara anak pertama, kedua, ketiga, atau seterusnya, takkan pernah sama. Selalu ada keunikan dan keistimewaan masing-masing dalam diri anak. Meski bagi mereka yang terlahir dari rahim yang sama.

Dulu, orang tua saya pun juga begitu, terlalu mengagungkan kecerdasan kognitif dan rangking. Bisa jadi saya beruntung, karena sejak kecil saya memang menyukai matematika dan ilmu alam lainnya. Prestasi saya pun selalu berada di jajaran atas,  hingga tak ada alasan bagi orang tua saya untuk tidak berbangga. Berbeda dengan adik saya --yang hanya berjarak usia 1.5 tahun--, yang sejak kecil telah menunjukkan bakatnya di bidang seni. Sayangnya, bakat tersebut dianggap sebagai suatu hal 'main-main' dan tidak serius. Parahnya lagi, dengan jarak usia yang sangat dekat, menjadikan adik saya selalu dituntut untuk menjadi bayang-bayang saya. Dituntut untuk memiliki kemampuan yang sama, dan prestasi yang setara. Tidak hanya dari orang tua, tapi juga dari guru-guru di sekolah kami. Adik saya itu bahkan harus mengalami tekanan tersebut hingga di jenjang SMP. Bisa dibayangkan  bagaimana tersiksanya anak-anak seperti adik saya. Yang harus menjalani hari-hari dengan menjadi orang lain, dan mengabaikan apa yang menjadi minatnya.

Meski tidak seberat tekanan yang dialami adik saya, saya pun mengalami tekanan dalam tataran yang berbeda. Saya memang menyukai matematika dan ilmu alam, namun sikap selalu dibanggakan menjadikan saya tertekan. Saya seolah dituntut untuk selalu menduduki posisi 1 atau 2, bisa masuk kelas unggulan, hingga dituntut untuk bisa memenuhi harapan orang tua untuk bisa menjadi dokter.

Jika adik saya diatur untuk senantiasa belajar dan tidak menggambar atau aktivitas seni lainnya. Maka saya diatur untuk membatasi kebiasaan membaca saya. Ya, kala itu orang tua saya melarang saya untuk membaca buku-buku sastra. Menurut mereka, buku-buku itu tidak berguna, dan lebih baik saya membaca buku-buku pelajaran atau buku-buku agama yang banyak tersedia di rumah. Jadi, jika adik saya harus sembunyi-sembunyi ketika menggambar, saya pun hanya bisa memuaskan hasrat membaca karya sastra ketika saya berkunjung ke rumah kakek di akhir pekan. Di sanalah saya bebas membaca koleksi buku cerita dan sastra koleksi kakek saya yang notabenenya adalah mantan kepala sekolah dan pegiat literasi.

Adik saya bisa bebas melangkah di jalannya sejak dia memutuskan untuk tidak lagi berada satu sekolah dengan saya. Dia memilih menamatkan SMA-nya di pondok pesantren terbaik di Madura. Dan dari sanalah dia bisa berkembang hingga saat ini bisa menjadi calon hafidz dan sarjana Alquran.

Sementara saya, baru bisa menjadi diri saya sendiri setelah memasuki dunia kuliah. Saat di mana Allah memilihkan tempat terbaik, meski sangat jauh melenceng dari dunia saya sebelumnya. Meski banyak cemooh dan nyinyiran yang saya dapatkan kala itu --krn memilih jurusan tersebut-- nyatanya saya bisa bertahan dan berkembang di dalamnya. Toh mereka hanya bisa berkomentar, yang menjalani dan bertanggung jawab kan tetap saya.

Sejak saat itu, sejak saya mulai bisa melejit dengan dunia kepenulisan saya di kampus, dan sejak adik saya juga betah dan berkembang di jalannya sendiri, orang tua saya mulai berbenah untuk mengubah mindset. Bahwa apa-apa yang diyakini masyarakat umum sebagai sesuatu yang terbaik, belum tentu terbaik untuk semua orang. Semua orang, semua anak berhak untuk mengukir kisah perjalanannya sendiri. Orang tua hanya bertugas untuk mengarahkan, membimbing dan memfasilitasi.

Kini, Aang bebas untuk memilih tempat untuk mengembangkan dirinya. Bebas untuk membaca buku apa yang disukainya, dan bebas untuk memilih minat dan jurusan yang diinginkannya. Tentunya, tanpa mengabaikan rambu-rambu dan pengawasan orang tua, serta rasa tanggung jawab yang harus tertanam dalam dirinya.

Dan Alfan, menjelang usia 10 tahun --kelas 4-- ini, bakat-bakat dan minatnya mulai terlihat. Tinggal bagaimana nantinya dipilihkan tempat dan sarana terbaik untuk mengembangkannya.

Ya, dengan mengenali bakat, minat, dan potensi anak sejak dini, kewajiban orang tua untuk mengawal dan mendidik anak bisa dijalankan dengan baik. Anak bisa menemukan jati dirinya sedini dan sebaik mungkin.

Tak perlu risau dengan cemooh atau ejekan orang karena anak kita memilih jalur yang berbeda dengan orang kebanyakan. Yang terpenting bagaimana kita mendidik dan mengembangkannya. Hingga kelak potensi tersebut bisa bermanfaat bagi anak dan juga bagi kemaslahatan umat.

Ya, di atas segalanya, ada Allah pengatur segala kehidupan. Asal anak telah berbekal keimanan, ketakwaan, dan kedekatan dengan Sang Pencipta, bukankah tidak ada yang perlu dirisaukan lagi?

The Quest for Love

Barangkali, dulu kita pernah berdoa.
"Ya Allah, jika dia yang terbaik untuk dunia akhiratku, maka satukanlah kami dalam pernikahan. Namun Yaa Rahmaan, jika dia bukan yang terbaik untuk dunia akhiratku, maka pisahkanlah kami dalam kebaikan"

Duhai hati yang sedang menimbun harapan. Saat dia pergi meninggalkan kita, atau menolak uluran rasa dari kita, dan atau memilih yang lain selain kita, maka tersenyumlah...

Tersenyumlah dengan sunggingan paling indah. Jangan bersedih. Karena mungkin, itulah jawaban dari doa-doa kita. Bahwa memang dia bukan yang terbaik untuk dunia dan akhirat kita. Sesak di dada, pasti. Nyeri di hati, iya. Tapi, insyafi segera, bahwa berharaplah hanya pada Allah semata. Agar kita tidak menelan kekecewaan yang teramat pahit.

Kepada dia, katakan...
"Terima kasih atas pertemuan sekejap itu. Jika seandainya ada setitik rasa di antara kita, doakan semoga rasa itu bukanlah sebuah dosa.
Pergilah...
Kuikhlaskan semua ini karena Dia..."

Wahai Rabbi, Ampuni saat diri ini lebih sibuk meratapi rasa, hingga lupa membersihkan dosa. Tuntun hamba selalu untuk senantiasa ikhlas dengan semua rencana indah-Mu.

~Rintihan Jemari