Senin, 27 Desember 2010

Cintaku bersama Senja

Hingga hari ini, di detik waktu yang makin renta. Dia masih setia menemui sang senja. Dengan langkah kaki gontai semampunya, dia berjuang tuk merengkuh senja. Senja yang sangat dia cintai, senja yang sangat berarti.
Senja... selalu saja mengantar sang surya tuk menutup hari dan merayu akan malam kelam. Di ufuk barat, rona mentari mulai memerah menanti detik-detik pergantian waktu dinas dengan bulan penjaga malam. Sileut senyum senja mulai terkembang, memberi keteduhan, ketenangan dan kebahagiaan. Menatapnya, hilanglah rasa penat yang menghiasi hari dan terganti oleh kesejukan angin pekat malam. Dunia seakan terbuai oleh semburat senyumnya. Senja yang indah, mempesona, dan senja yang selalu dinanti.
Tapi baginya, indahnya senja tak seindah senja miliknya. Dalam hidupnya, dia hanya mencintai satu senja. Senja yang telah demikian menyatu dengan hatinya. Walau senyum senjanya telah tenggelam sejak 37 tahun yang lalu. Namun, senyum itu, kan terus ada dan menerangi hatinya. Begitupun dirinya, hati dan raganya kan terus menemani sang senja dengan cintanya.
Bibirnya merekah melihat senja telah menunggunya di tempat biasa. Tercipta sebuah senyum indah menyiratkan kebahagiaan. Disusul keinginan tuk segera menghamburkan doa dan kata-kata cinta, seraya menikmati indahnya senja bersama senja terindahnya.
Setelah sekian menit dia tenggelam dalam doa, untaian kata-kata cinta perlahan mulai menghiasi hening peraduan senja.
senja.... apa kabarmu hari ini? Baik-baik sajakah kau sayang?”
Hening, tak ada jawaban. Dia pun melanjutkan rangkaian kata-kata yang terucap tulus dari bibirnya yang indah. Bunga kamboja berjatuhan satu demi satu, mewarnai peraduan sang senja yang selalu terlihat bersih dan baru. Tangan dialah, yang tak pernah mengenal bosan dalam hari tuk membersihkannya.
Sayang... tentu kau tahu, aku tak pernah bisa melupakan bayangmu, aku tak bisa berhenti merindukanmu. Karena hati, cinta dan rinduku hanya tercipta untukmu. Walau saat ini kau telah jauh meninggalkanku. Tapi, kau kan selalu terasa ada di dekatku. Karena kau telah berada dihatiku, untuk selamanya...
Senja... setelah kepergianmu, tak ada lagi yang tersisa untukku selain kenangan-kenangan indah bersamamu. Dan disaat ini, ingin rasanya ku memandang keindahan matamu. Mata yang dulu dengannya aku bisa melihat cinta. Ingin kupegang erat jemari tanganmu, yang bersamanya aku bisa melukis indah pelangi kehidupan. Namun, yang ada hanyalah senja yang lain. Sosok terang dalam remang kegelapan yang tengah menghidupkan sinar untuk menyinari kehidupan setiap insan. Tapi, sinarnya hanya mampu menerangi fisik semata. Dia tak mampu menyinari dan menghangatkan perasaanku. Karena, telah ada sinarmu dalam hatiku. Sinar yang menerangi langkahku dalam hidup, dan sinar itu, takkan pernah padam ataupun terganti.
Sayang, aku memang tak pernah menyesali kepergianmu, karena itu adalah kehendak tuhan. Dan aku tak mempunyai kuasa tuk melarangmu meninggalkanku. Tapi, percayalah... cinta ini akan selalu ada hingga akhir hayatku, bahkan setelah kematianku. seperti cintaku padamu, doaku juga kan terus mengalir untukmu. aku akan terus menjagamu dalam doa-doaku”
Tanpa disadari, bulir-bulir bening itupun pecah mengalir diantara rangkaian doa dan kata-kata yang teralun lembut dari bibirnya.
cinta telah membuatnya gila”
Itulah kata yang sering dilontarkan untuknya, kala melihat tingkahnya yang setia mendatangi dan berbincang-bincang dengan sebuah batu nisan selama 37 tahun terakhir. Tapi bagiku, dia adalah laki-laki yang hebat, setia, sabar dan penyayang. Sosok yang hebat bagi anak-anaknya, ataupun bagi orang yang sangat mengenalnya.
Aku memang tak tahu bagaimana dia berjuang mengasuh, mendidik dan membesarkan tiga orang buah hatinya. Bagaimana dia membagi waktu antara mencari nafkah, membagi kasih sayang pada anaknya, dan memberi cinta pada senjanya yang telah terbang ke surga di 14tahun usia perkawinannya, Tanpa ada keluh. Tapi, bukan berarti aku tak tahu tentangnya.
Karena, Hingga disaat ini, disaat waktu semakin memberinya umur. Disaat Putra-putri kebanggaannya telah berhasil tumbuh menggapai bintang, untuknya dan untuk senjanya. Dia masih senantiasa memberi cinta pada senja, dan untukku.
kita hidup karena tuhan mencintai kita, dan kita hidup untuk mencintai tuhan. Maka, tak ada alasan bagi kita untuk mengingkari takdir dan nikmat-NYA. Dan bila nanti kau telah dihadiahi seorang pendamping hidup, jagalah cintanya. Yakinlah, dia adalah yang terbaik untukmu. yakinlah dia adalah cinta sejatimu, cinta dunia akhiratmu. Seperti aku yang menjaga cinta senja, nenekmu..”
Dan pecahlah air mataku, indah berkilau, berkelip bagai mutiara sesegar embun pagi. Rasa haru mulai menyeruak menyesaki dada.
Nenek...aku yakin kau bahagia disana. Karena kami disini, akan selalu menjaga cintamu dalam doa.”
Darinya ku belajar tentang arti mencintai dan kesetiaan. Tentang makna hidup dan pemberian tuhan. Dan tentang perjuangan. Tak pernah ada keluh terucap dari bibirmu, dengan penuh ikhlas kau menjalani semuanya. Kau tetap melangkah meski lelah, tetap tersenyum meski sulit, dan tetap sabar di tengah takdir. Dan.... kau berhasil kek, kau berhasil mengantarkan anak-anakmu menuju pintu kesuksesan, kau berhasil menjaga cinta kasihmu untuk senja dan anak-anakmu. Kau adalah kakek terhebatku. Tetaplah bertahan kek, semoga tuhan memberi hadiah terindah atas kesabaranmu. Yakni, surga untuk cintamu dan senja. Karena di surga, menara-menara cahaya menjulang untuk hati yang saling mencinta karena-NYA.

Selasa, 07 Desember 2010

Amatilah diri anda

Amatilah pikiranmu karena itu yang akan menjadi ucapanmu.

Amatilah ucapanmu ,karena itulah yang akan menjadi tindakanmu.

Amatilah tindakanmu karena itu yang akan menjadi kebiasaanmu.

Amatilah kebiaasaanmu karena itulah yang akan menjadi karaktermu.

Amatilah karaktermu, karena itulah yang akan menjadi nasibmu,

Dan amatilah Nasibmu karena itulah yang akan menjadi kesuksesanmu


Amatilah diri anda. Karena hanya mereka yang mengenal dirinyalah yang akan mencapai ketenangan diri yang sesungguhnya.

Jumat, 12 November 2010

Tuhan...
Rahasia hidupku hanya Kau yang tahu. Hanya padamulah ku memohon penuh harap dalam setiap sujudku.
Wahai penilai hati, lihatlah batin ini... Jauh di lubuk hati masih ada ruang hampa yang merindukan setetes cinta Suci_Mu
Ya rabbi... maafkan aku...Usahaku tuk mencapai ridho-Mu, tak sebanding dengan pekat nikmat-Mu
Ampuni aku ya Rabbi... ucap syukurku jarang menggetarkan hidupku. Hanya ego yang berkuasa kala kebahagiaan menghampiri.
Tuntun aku ya rabbi... tuntun aku, agar aku tak mendustakan nikmat-MU. agar aku, bersyukur dalam setiap senyum bibirku dan tetes tangis mataku.

Minggu, 07 November 2010

Oh tuhan, izinkan ku mencintai-Mu. Menerima kehidupan ini dengan penuh ketulusan, seperti gemericik air di pematang sawah, seperti cicit cericit burung yang bercendai. Alam telah mengajariku tuk menerima setiap lembaran kasih-Mu bersama sebuah permohonan.
Tuhan, sayangi aku dalam anugrahmu. Aku tak punya apa-apa, selain hati yang akan selalu menunggu sapa-Mu. Rengkuh aku dalam hangat cinta-Mu. Hingga waktu kan menyapa, dan akhirnya aku terlelap dalam penyerahan sempurna dalam pelukan bumi.

Curahan hati seorang A_rin

Ingin rasanya aku berkisah Tentang semua cerita hatiku, Tentang semua harapanku, tuk bersamamu...Tentang semua anganku, Tuk menjadi seseorang yang terindah dihatimu..
Namun, di saat ini aku masih sulit mencari. Dermaga yang berairkan tinta emas dan pena antik untuk menuliskannya. Aku masih ragu tuk melangkah... aku takut, terdampar di lembah ketidakpastian. Dan, aku hanya bisa mengukirnya dalam selaksa rindu hatiku dan mengalirkannya dalam setiap doaku...^^

Rabu, 03 November 2010

Pamekasan dalam kota pendidikan, budaya, gerbang salam, dan kota Batik


Pamekasan, merupakan salah satu kota ternama yang ada di madura. Kota dengan wilayah mencapai 792,30 kilometer, dan berada diantara kota Sampang dan Sumenep, pada tanggal 3 November 2010 kemarin merayakan hari jadinya yang ke-480.


Pamekasan adalah sebuah kota yang sedang merajut masa depan yang meluas. Mulai dari kabupaten dengan predikat kota pendidikan Madura, kota budaya, kota gerbang salam, hingga Pamekasan sebagai kota batik.
Pamekasan sebagai kota pendidikan muncul sejak era tahun 2000-an awal. Hal ini dikarenakan, Pamekasan memiliki lembaga-lembaga pendidikan terbanyak dibanding kabupaten lain yang ada di Madura. Mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga tingkat perguruan tinggi. Bahkan, perguruan tinggi swasta tertua dan perguruan tinggi negeri yang pertama di Madura berada di kota Pamekasan. Yaitu Universitas Madura (UNIRA) dan STAIN, yang dulu masih bernama IAIN. Dari segi prestasi, putra-putri kabupaten ini juga sering menyabet prestasi yang gemilang, baik di tingkat regional, nasional dan internasional. Sehingga tidak heran jika banyak putra-putri kabupaten lain di madura, yang memilih “mengadu” otak ke kota Pamekasan daripada di kotanya sendiri.

Kota budaya, simbol ini lahir sejak puluhan tahun yang lalu untuk kota Pamekasan dengan segala aset budayanya. Banyak produk budaya lahir dan dipentaskan di kota ini. Pamekasan menjadi kota pusat perayaan karapan sapi, sape sonok, dan semalam di Madura. Tak berhenti disitu, proses kebudayaan ini juga melahirkan berbagai kesenian lainnya. Seperti topeng gettak, rondhing, dan ul-daul (tog-tong).
Dan pada tahun 2003, Pamekasan memiliki predikat baru, yakni kota gerbang salam (gerakan pembangunan masyarakat islam). Sejak saat itu, kebudayaan yang ada sebelumnya, mulai disetir sesuai dengan syariat agama islam. Pertunjukan-pertunjukan yang berbau erotis tidak diijinkan lagi untuk tampil di kota ini. Yang ada hanyalah pementasan islami. Seperti, sammanan (pembacaan shalawat dan yang sejenis yang diiringi musik klasik dan dimainkan oleh kaum Adam), samrohan (pembacaan shalawat dan yang sejenis yang diirngi musik klasik dan dimainkan oleh kaum Hawa), macopatan (pembaaan cerita-cerita terdahulu dengan gaya khas khusus tersendiri) dan musik-musik religius lainnya. Kegiatan-kegiatan para budayawan lokal pun tetap terlaksana dengan simbolisasi islam. peragaan busana, fashion, lagu, tarian daerah, tetap ada hanya saja terbungkus secara islami. Tidak hanya dalam dunia seni dan budaya, dunia pendidikan pun juga mendapat pengaruh gerakan pembangunan masyarakat islam ini. Salah satu caranya dengan mewajibkan pemakain jilbab untuk siswi SMP/SMA sederajat, serta penambahan pelajaran agama di sekolah-sekolah.

Tidak cukup dengan gelar kota pendidikan, kota budaya, dan kota gerbang salam. Pamekasan di tahun 2009 kembali memproklamirkan dirinya sebagai kota batik. Pemproklamiran itu ditandai pada peringatan hari jadinya yang ke-479 (tahun 2009 yang lalu), tema yang diangkat adalah tema tentang batik; “Mempertegas Pamekasan sebagai Kota Batik (di Jawa Timur)”. Tidak cukup dengan itu, ikon bahwa Pamekasan sebagai kota batik ditandai dengan digelarnya “Pamekasan membatik” di jantung kota Pamekasan, monumen arek lancor. Kegiatan ini melibatkan 600 perempuan pengrajin batik tulis yang tersebar di empat kecamatan, yakni proppo, palengaan, pegantenan, dan Pamekasan. Kegiatan membatik sepanjang 1530 meter ini, merupakan kegiatan terbesar dan masuk dalam catatan Museum Rekor Indonesia (MURI).
Selain itu, banyak baliho terpajang yang mencerminkan pemproklamasian Kota Batik tersebut. Seperti, kalau kita berkunjung ke sana, maka akan ditemukan di berbagai sudut kota, baliho-baiho yang bergambar dan bertuliskan “Terima Kasih Anda Telah Berbusana Sopan di Kabupaten Gerbang Salam Pamekasan” dengan gambar dua insan kebanggaan Pamekasan (Kacong dan Jepping Pamekasan) yang berpakain batik. Termasuk juga dengan dihiasinya dinding-dinding kota Pamekasan dengan nuansa batik ala Pamekasan.

Lalu, apakah masa depan yang dicita-citakan Pamekasan itu hanyalah mimpi?

Semoga saja tidak. gelar-gelar yang disandang oleh Pamekasan sudah mulai didukung oleh simbol-simbol bangunan. Pamekasan sebagai kota Gerbang Salam ditopang oleh adanya Majid Syuhada’ dan islamic center. Gedung islamic center (GIC) adalah gedung yang diharapkan mampu menjadi pusat pembagunan peradaban masyarakat yang Islami, maju, beriman dan berdaya saing seiring dengan lahirnya program Gerbang Salam (Gerakan Pembangunan Masyarakat Islam) di Pamekasan
Dalam hal pendidikan, didukung oleh sekolah-sekolah di Pamekasan yang mulai menjadi sekolah RSBI (rintisan sekolah berstandart nasional), dan prestasi putra-putri Pamekasan yang mulai merambah dunia internasional.
Sedangkan dalam perindustrian batik. Beberapa daerah sudah ditetapkan sebagai daerah sentral batik Pamekasan, seperti desa Klampar. Industri batik tulis ini, juga sebagai sarana untuk mengurangi jumlah pengangguran yang ada di kota ini. Dan Pamekasan sebagai kota budayapun akan tetap ada, walau Pamekasan berada dalam gelar kota Gerbang Salam.
Namun, bukan berarti Pamekasan telah berhasil seutuhnya. Pamekasan masih butuh waktu untuk belajar menjadi kota pendidikan, budaya, Gerbang Salam, dan kota batik. Mungkin, Pamekasan perlu belajar dan mendalami kota jogjakarta sebelum Pamekasan menjadi kota Jogja di Madura.
Jika gelar-gelar tersebut tercapai, maka sempurnalah kota Pamekasan. Kota Pendidikan untuk masadepan para pemudanya. Kota Budaya, untuk masadepan para punggawa kreatifnya. Kota Gerbang Salam untuk mereka semua. Dan Kota Batik untuk meningkatkan tingkat perekonomian masyarakatnya. sehingga terciptalah Pamekasan dengan masyarakat yang bermoral (Pendidikan), berbudaya (Budaya), bersyariat (Gerbang Salam) dan berindustri (Batik).

Rabu, 27 Oktober 2010

Senyum Duka di Langit Kota



Masih seperti hari yang lalu. Bulan selalu saja berbagi tugas dan waktu dinas dengan mentari. Jika Bulan datang pada pekat malam gulita, maka matahari datang pertanda fajar kan menyapa. Ayam jantan mulai meneriaki penghuni bumi tuk segera terjaga dari mimpi alam bawah sadar. Cicit cericit burung nan merdu perlahan hadir mengalunkan syair indah di pagi sunyi.
Hari yang cerah kembali membangunkan semangat yang sempat istirahat dalam lelah hari yang lalu. Hmmm... semoga cerahnya mentari juga menyinari hati insan di bumi. Harapku....
Hari ini, hari yang jauh berbeda dalam memoar hari hidupku. Ya.... hari ini aku menjadi anak jalanan. Tak pernah terbesit dalam benak, episode kehidupan ditengah kerasnya jalanan. Tapi, apa mau dikata. Pergantian waktu tak dapat dielak, perubahan adalah sebuah realitas yang harus dihadapi sebagai konsekuensi logis atas akhir dari sebuah langkah.
Bagaimanapun juga, aku hanyalah manusia yang tak kuasa atas jalan hidupku...
Dengan gontai, langkah kaki mulai menapak panasnya aspal jalanan. Rambut tanpa sisir, dan baju kumal menambah kelabu tubuhku dalam kemuraman. Kuberanikan diri bergabung dengan komunitas baruku. Walau canggung, dan takut bersembunyi di balik gagahnya langkah. langkah yang sebenarnya penuh dengan ketakutan akan ganasnya jalanan lepas.
Asing... begitulah yang kurasa. Harus kuhabiskan hari ini disini, bergumul dengan para pejuang jalanan yang berjarak agak jauh dari keberadaanku. Aku hanya bisa diam dalam fokus pandangan. Pandangan akan realita hidup jalanan sebuah kota besar. Kota dengan segala kemegahan, keindahan dan kompleksitasnya. Dari kerling gemerlapan hingga sudut-sudut gelap gulita penuh kemuraman. Huh... barangkali inilah uniknya kota. Semuanya serba ada disini. mulai dari golongan berduit yang bisa menikmati indahnya suguhan sang kota, hingga golongan proletar yang hidup di sudut-sudut pemukiman yang kumuh, layaknya sampah. Termasuk aku saat ini.

XXXXX

Terjaga tanpa gerak. Sesosok gadis dengan rambut ikal dan kulit sawo matangnya, menghampiriku yang hanyut dalam lamunan riuh medan raya.
“ hey... ngapaen kamu bengong disini?”
“Hmmmm....”
“ ditanya kok malah diem... anak baru ya?”
“i..iya....”
“gak usah takut gitu, aku santi.”
“a...aku vista.”
“ow... vista. Kamu kenapa takut? Emangnya aku nyeremin ya?trus napa tuch kamu kok murung segala?”
“aku gak tau aku harus gimana?”
“ udah gak usah sedih gitu, yuk ikut aku aja....
Aku kasik tau ya... terkadang hidup memang memaksa kita tuk menangis, tapi... kita harus tunjukkan bahwa kita memiliki sejuta cara tuk tersenyum bersamanya. Ok... gak ada yang namanya anak jalanan cengengdan penakut !!!” ucapnya.

XXXXXX

Matahari tegak dalam birunya langit. Menyaksikan aku menaruh takdir hidupku di jalanan keras. Santi mengajakku bergabung dalam sekawanan mereka. Lihatlah pemandangan ketika lampu lalu lintas mengisyaratkan warna merah, pemandangan di perempatan jalan layaknya semut yang berhamburan menghampiri gula, seperti itulah pemandangan di beberapa sudut kota besar di indonesia. Anak-anak jalanan menghampiri orang-orang yang terpaksa berhenti karena aturan, mereka menjulurkan tangan dengan wajah memelas, mengelus-elus perut kecil mereka. sebuah interaksi yang mengisyaratkan bahwa mereka sedang kelaparan dan berharap belas kasihan demi sesuap nasi.

“Pak... kasihanilah kami, kami belum makan” atau
“Mbak... ayo mbak buat beli makan mbak.”

Dan aku, bersama santi tentunya. dengan bermodalkan sebatang kayu yang dihiasi beberapa tutup botol, hingga bisa mengeluarkan bunyi tiap kali dipukul. Ecrek-ecrek begitu orang memanggilnya. Dan Dengan begitu percaya diri kita menyenandungkan lagu-lagu hits layaknya musisi di depan para fansnya, berusaha menarik perhatian para pengguna jalan agar mau menbayar suara cempreng ini meski dengan uang receh.
Hadir sebuah kepuasan tersendiri setelah beraksi di jalanan. Terlebih lagi selalu tercipta senda gurau dengan teman-teman.
Tapi.... oh, tidak. Kami tersentak oleh segerombolan pria dewasa. Berpakaian hitam, celana bolong-bolong, rambut gondong, plus wajah sangar yang menambah kebringasan. Firasatku, akan terjadi sebuah peristiwa. Kekhawatiran menyelimuti, pikiran berkecamuk tiada henti. Keteguhan hati memintaku tuk diam. Bagaimanapun juga aku sedang bertugas tuk meneliti ini semua. Jangan sampai semua ini terungkap. Bukan saatnya.
Segerombolan itu makin mendekat, menghampiri dan mengelilingi kami. Mereka mulai menggerayangi kantong-kantong atau tempat persembunyian lain. Diam, kami hanya bisa diam melihat senyum sungging bahagia mereka. Sejumlah uang yang kami dapat dengan susah payah, harus leyap dalam sekejap oleh preman-preman itu.
Raut sedih anak jalanan menghantar kepergian preman-preman jalanan itu. Mereka terdiam. Lampu merah kembali menyala. Alat musik dibawa turun ke jalan. Aku tersenyum. Penderitaan telah habis terjadi. Semangat mereka masih menetes dalam cucuran keringat panas sang kota. Namun, tak lama setelah itu. Suara mobil patroli polisi membahana. Kami berhamburan menyelamatkan diri dari terjangan aparat tersebut.

“ Makin sering saja gerombolan itu mengganggu, kalo gak dijalanan darimana kami dapat makan.” Ucap salah satu anak dalam sekawanan baruku itu.

Beginilah hidup dalam kerasnya jalanan. Walau aku tau kesengsaraan menyelimuti. tawa, canda ceria dan senyum manis tak pernah hilang dalam raut wajah polos. Kesana kemari mengarungi jalanan tanpa beban, ringan dan lincah. Keceriaan mereka tak ubahnya seperti keceriaan anak-anak yang bisa menikmati indahnya bermain di lapangan bersama gerimis kecil yang menanti pelangi. Bersama derap langkah yang saling mencipta pelangi dalam sebaris tawa bahagia.
Oh... andai saja mereka bisa menikmati itu, tentu bahagia lebih kan menyelimuti mereka. Lalu, Adilkah ini bagi mereka? Apa salah mereka? Yang jelas, mereka tak pernah meminta dilahirkan dalam keadaan seperti ini.
Ya tuhan... sungguh besar kuasamu. Kau semaikan ketegaran dalam diri anak-anak yang hidup dalam ketidaksempurnaan ini. Hingga mereka menjelma bak batu karang yang kokoh walau terhempas ombak kehidupan. Walau sedih tengah remuk dalam benak, hanya senyumanlah yang jatuh dalam hari.
Sangat jauh berbeda denganku dan mayoritas putra-putri kota yang lain. Yang hanya bisa menikmati kehidupan dalam suka, dunia hedonis, dan kemegahan sang kota itu sendiri.

XXXXXX

Setelah puas bergelut dengan debu dan panasnya kota. Mega pun mulai mengantar sang senja ke peraduannya, tanda tirai malam kan tersibak. Menutup hari para insan yang kaya akan makna. Begitupun dengan mereka, lelah telah menutup hari. Menanggalkan segala rasa yang tercipta di arena medan raya. Dan terganti oleh waktu tuk merebah lelah.
Teman-teman seperjuanganku mulai peduli akan kehidupan cacing-cacing dalam perutnya. Begitupula aku dan santi. Bersama kami menikmati indahnya dinner dibawah cahaya bulan tengah kota.
Malam semakin larut, dinginpun makin menusuk. Biasanya, begitu berat kelopak mata ini tuk bertahan. Tapi tidak untuk malam ini, untukku dan santi. Kita semakin larut dalam cahaya bulan yang berkisah. Setelah tiga hari aku bersamanya mengarungi jalanan hidup ini, aku semakin mengenal sosok sahabat baruku ini.
Santi, gadis berusia 16 tahun. Wah.... aku baru merasa lebih berumur bersamanya. Dia 3 tahun lebih mudah dariku. Tapi untunglah aku dianugrahi sebuah wajah babyface plus postur tubuh yg tidak terlalu tinggi. Jadi... selalu kelihatan seperti anak smp, hehe....
kembali ke santi. Dia mulai bercerita tentang kisah kelabu hidupnya yang dimulai sejak dia dan keluarganya menginjakkan kaki di kota ini.

“Aku ke kota ini bersama bapak, ibu, dan kakak perempuanku. Kami merantau ke kota ini dengan harapan bisa mendapat kehidupan yang lebih baik daripada di desa yang hanya bisa jadi petani. Atas dasar itulah keluargaku nekat menerjang gagahnya kota ini. Tapi sayang, nasib baik tak pernah berpihak pada kita. Bapak tak kunjung memperoleh pekerjaan, begitupun dengan ibu. Sementara uang simpanan yang kami bawa dari desa semakin menipis oleh kebutuhan dan biaya sekolah aku dan kakakku. Hingga akhirnya, bapak dan ibuku terpaksa menekuni pekerjaan sebagai pemulung. Penderitaan tak berhenti hanya disitu, ibuku terjangkit demam berdarah akut, maklum kami hanya tinggal di kolong jembatan yang kumuh bersama riak-riak air tempat nyamuk bersarang. Waktu itu....hiks...hiks...”

santi menangis... seakan duka sangat menusuk hatinya. Tapi, dia mencoba tuk menampik itu semua.

“ waktu itu, kami membawa ibu kerumah sakit. Tapi apa? Dengan sejuta alasan mereka menolak kami. Kami tidak dilayani. Mungkin mereka takut merugi menolong orang bawah seperti kami, yang tak berduit... hiks...hiks.... hingga, ibuku menghembuskan nafas terakhirnya. Aku tak habis pikir, bukankah mereka ada untuk menolong orang sakit? Tapi mengapa tidak untuk ibuku? Hiks...hiks...
tangisnya makin menjadi. Jujur, aku juga tak mampu menahan bulir-bulir air mataku.
“ Sabar ya san.... tuhan tidak akan menguji hambanya diluar batas kemampuannya”
“Dan kau tau? Tuhan tak juga menghentikan ujiannya kepadaku. Setelah kepergian ibu,aku dan kakakku putus sekolah. Tak ada lagi kesempatan bagi orang miskin seperti kami untuk ikut mengenyam pendidikan. Dan kakak perempuanku mulai tak tahan dengan kehidupan ini, dan dia.... melacur...!
dan bapakku, dia tak bisa menerima semua takdir ini. Kehilangan dua orang terkasih dalam waktu singkat. Bapakku mulai hidup sendiri dalam dunia mayanya, dia gila. Hiks....
aku sering bertanya, tapi tak pernah ada yang memberiku jawaban. Mengapa aku ditakdirkan seperti ini? Apa salahku? Mengapa semuanya tak adil? Hiks...hiks...”

Tuhan.... santi, teman baruku yang kelihatannya penuh ketegaran dan keceriaan. Ternyata, episode hidupnya sarat akan tangis.
Aku hanya bisa membisu, tak mampu berucap jawaban itu. Aku tenggelam dalam tanyanya.
Kota....tahukah kau akan hal itu? Dibalik kegagahan yang kau tunjukkan, ternyata banyak luka yang menggerogotimu. Kau di desain untuk menjadi pusat dari segala kegiatan masyarakat, semuanya serba ada dan berkembang sangat cepat. Pertumbuhan ekonomi lebih bersifat dinamis, berbeda dengan di desa yang cenderung statis. Pembangunan nasional yang dilaksanakan juga lebih tersentral hanya padamu, desa hanya menjadi anak tiri dari pembangunan negeri ini. Desa hanya dipandang sebuah hamparan sawah yang terpelosok yang hanya layak ditanami padi.
Industrialisasipun semakin menjamur di tempat yang bernama kota, dan berhasil menghegemoni masyarakat desa untuk merantau, menantang hidup di wilayah orang dengan harapan penghidupan yang lebih baik dari kehidupan di desa yang notabenenya hanya akan bekerja sebagai petani. Sehingga tingkat Urbanisasi terus meninggi tiap tahunnya, menambah sesaknya kehidupan kota sedangkan tidak semua dari mereka akan tertampung dan mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak.
Dan ketika industrialisasi mulai tumbuh, dan teknologi sudah menjadi surat kabar yang setiap hari menawarkan sesuatu yang baru, membuat kita menjadi masyarakat yang tak bisa hidup tanpa teknologi. Menuntut individu untuk mengubah pola solidaritasnya menjadi pola solidaritas yang lebih rasional secara materi, semuanya dilihat dari kacamata untung ruginya. Seperti yang dialami santi dan keluarganya. Dan mungkin, masih banyak keluarga dalam nasib hidup yang sama.

“ Kau tidak salah san... kau hanya korban dari keegoisan keadaan. Tapi, tahukah kau? Kau menang... kau tidak kalah oleh keadaan, kau tidak tunduk padanya. Kau kuat...
Kau mampu tetap tersenyum walau sebenarnya hidup ini sangat berat bagimu. Ingat gak san, kau pernah bilang, terkadang hidup memang memaksa kita tuk menangis, tapi... kita harus tunjukkan bahwa kita memiliki sejuta cara tuk tersenyum bersamanya.”
“hiks... kau benar vis....
Aku hidup karena tuhan, dan untuk tuhan. Tak ada alasan bagiku tuk mengingkari takdirnya. Aku harus tetap terenyum menerimanya.”

Rembulan tersenyum melihat dua gadis larut dalam peluk hangat sang malam.
Tuhan... sekarang aku tahu rahasia dibalik jalan takdirku. Kau telah mengirimku tuk belajar banyak dari keadaan ini. Sesungguhnya semua yang kau gariskan tuk hambamu adalah jalan hidup yang terbaik, walaupun itu pahit. Didalamnya pasti terdapat sebuah hikmah akan kebesaran kuasamu. Puji syukurku untuk kehadirat_Mu selalu...
Oh dosenku, tugasku... kau yang ku kira akan menyiksa hariku, ternyata kau mengantarkanku untuk masuk dalam episode hidup ini... Terima kasih ^^
Santi.... terimakasih atas semuanya. kau orang terkuat yang pernah menghiasi episode hidupku. Darimu ku belajar ketegaran, arti sebuah hidup, dan perjuangan. Dan sekarang, izinkanlah aku memberi secercah mimpi indah dalam senyum hidupmu, wahai adik baruku....

XXXXX