Kamis, 14 April 2016

Selamat Jalan Mbah Oemar Bakrie ku



“Hidup memang bermula dengan B (Birth) dan berakhir dengan D (Death). Dan yang harus senantiasa diingat bahwa diantara B dan D, ada C (Choice). Hidup adalah pilihan. Mau jadi pahlawan atau pecundang. Numpang lewat atau menebar manfaat.”

Ya, hidup memang hanya sekali. Karenanya, pilihlah hidup yang penuh arti. Yang penuh prestasi dan kontribusi. Yang jasadnya mati tapi namanya tetap abadi. Yang hidupnya mulia, matinya dikenang sejarah. Yang di dunia bahagia, di akhirat meraih surga. Yang di dunia dicintai manusia, di akhirat hidup bersama ridha Tuhannya. Sejatinya, itulah hakikat hidup sejati seorang manusia.

Kau telah pergi, memoar hidup sejenak kembali, dan seperti halnya kau, perjalanan hidupmu juga mengajarkan banyak hal. “Mbah Guru”, Ya, begitulah masyarakat di desa ini memanggilmu. Dulu, sewaktu kecil aku sempat heran mengapa orang-orang di desa ini memanggilmu dengan sebutan “Mbah Guru”? mengapa tidak dipanggil “Mbah Madin” atau “Mbah Fagi” seperti halnya mbah-mbah kebanyakan di desa ini yang biasa dipanggil mbah dan diikuti langsung dengan namanya. Dan  lambat laun, aku pun tahu bahwa sebutan itu melekat karena kau, adalah guru pertama di desa ini. Sang pembabat hutan kegelapan dan kebodohan. 

Desa itu memang hanya sebuah desa kecil di pelosok Pamekasan, Madura. Tapi, desa itu pulalah yang menjadi saksi dari perjuangan dan pengabdianmu. Mungkin, aku memang tidak tahu persis bagaimana jerih payahmu, bagaimana kerasnya episode kehidupan yang kau lalui hingga kau dihormati dan mampu mengangkat derajat keluargamu dengan status pendidikanmu. Tapi, bukan berarti aku tak tahu. Terlalu banyak orang yang menyimpan episode hidupmu dalam sejarah pendidikan di desa ini. Hingga hari ini, di hari paska kepergianmu, aku masih bisa melihat, mendengar, dan merasakannya.

Dulu, tentu tak banyak orang yang akan menyangka jika anak kecil yang bernama Asmadin, yang sedari kecil berkeliling desa menjajakan ikan bersama ibunya, karena memang ibumu berprofesi sebagai penjual ikan keliling yang oleh orang Madura disebut “blijjeh”, akan menjadi orang yang berpengaruh. Tak pernah ada keluh terucap dari bibirmu, dengan penuh ikhlas kau menjalani semuanya. Kau tetap melangkah meski lelah, tetap tersenyum meski sulit, dan tetap sabar di tengah takdir, hingga Allah pun membuka jalan yang membawamu masuk indah rencana-Nya. Ya, ada seorang saudagar kaya di desa kelahiranmu itu yang melihat kegigihan dan semangatmu. Hingga akhirnya saudagar itu memutuskan untuk memilihmu sebagai pengganti putranya yang tidak mau sekolah, dan terlanjur sudah ia daftarkan. Ah, rasanya, jika melihat kondisi hidupmu seorang pun takkan pernah membayangkan jika kau akan menjadi guru pertama di desa kelahiranmu, mengingat di jaman sebelum kemerdekaan pendidikan seolah hanya untuk kaum bangsawan.

Namun, bukankah kita juga harus percaya, tak pernah ada yang tahu darimana Allah akan memberikan pertolongannya, bukan? Yang jelas, Allah tidak pernah tidur tuk melihat kegigihan, semangat dan mimpi orang-orang sepertimu, Mbah.

Kaupun tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Allah untukmu. Dengan semangat kau belajar bersama cerah mentari, dalam sore yang menanti senja, dan bersama malam yang sedikit menggoda untuk segera terlelap dalam hangatnya mimpi. Kau tidak pernah merasa minder dengan statusmu sebagai putra “cok gunong” (istilah untuk putra yang berasal dari daerah terpencil) meski teman-temanmu berasal dari seluruh kabupaten di Madura, bahkan ada yang dari luar Madura, yang tentu dengan status social jauh lebih tinggi darimu. Ya, begitulah kau. Hingga kaupun menjadi siswa kesayangan gurumu dan diminta tuk tinggal dirumahnya. Sejak itu pulalah, namamu diubah menjadi “Fagi WirjoAsmoro”. Nama pemberian dari guru yang selanjutnya terus melekat padamu.

Kau hidup bersamanya dalam didikannya tuk menjadi seorang guru. Hingga akhirnya, kaupun lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Banyak tawaran pekerjaan yang datang padamu, mulai dari Pegawai Pemerintahan, Bank, dan Guru. Dan rupanya, jiwa seorang guru telah melekat dalam dirimu. Selayaknya, profesi seorang guru memang tidak hanya didasarkan pada gaji guru yang akan dinaikkan atau akan menjadi PNS, bukan pula merupakan pilihan terakhir setelah tidak dapat berprofesi di bidang yang lain. Tapi, lebih pada sebuah idealisme luhur demi tercipta generasi indonesia yang berkualitas di masa yang akan datang. Itulah prinsipmu.

Menurutmu, guru adalah pekerjaan mulia. Bagimu dan juga bagi Oemar Bakri lainnya, kesuksesan hanya ada jika kita bisa menjadi jalan sukses orang lain, dan hal itu bisa  didapatkan dengan menjadi seorang guru dan pendidik yang mampu menjadi pembuka jalan kesuksesan bagi anak-anak didiknya. Tentu, sukses disini tidak hanya dalam artian kemampuan intelektual semata, tapi juga berpijak pada moralitas yang agung sebagai basisnya. Itulah harapan tulus seorang pahlawan tanpa tanda jasa sepertimu.

Awal-awal kariermu sebagai guru, kau ditempatkan di sebuah desa yang terletak di kabupaten lain di Pulau Madura. Kala itu, kau juga baru saja mempersunting seorang gadis yang bernama Nafiyah. Kewajibanmu sebagai guru dan jauhnya jarak tempat tinggal dan tempat tugas menuntutmu untuk menyewa sebuah rumah di desa tempat kau mengajar. Tak ayal, setiap senin pagi kau membonceng sang istri turut serta ke desa dimana kau mengajar, dan tiap sabtu sore  akan pulang ke desa dengan sepeda ontel kesayanganmu. Begitulah, rutinas berulang setiap minggunya hingga kau dikarunia seorang putra di pertengahan tahun 1954. 
Baru setelah kelahiran putra ketigamu, desamu itu baru mulai terjamah oleh pendidikan. Sekolah dasar mulai didirikan dan kau diangkat menjadi kepala sekolah disana. Itu artinya kau tak lagi harus mengontel sepeda sejauh itu demi melaksanakan kewajibanmu sebagai guru. Kau akan menjadi peretas pendidikan di kampung kelahiranmu. Menjadi kepala sekolah tentu tak membuatmu memilih berleyeh-leyeh menikmati fasilitas. Karena bagimu, kepala sekolah tetaplah guru, hanya saja tanggung jawab sekaligus godaannya lebih besar. Ibarat sebuah tanaman, bukankah makin tinggi tanaman, angin yang menerpanya juga akan semakin kencang? Begitupun halnya dengan Kepala Sekolah. Dengan tanggung jawab dan kuasa yang lebih besar, tapi jika tidak hati-hati tentu akan terlena, hingga akhirnya terpedaya oleh candu duniawi.

Menjadi guru sekaligus kepala sekolah di daerah yang baru saja terjamah oleh pendidikan formal, memang bukan hal yang mudah. Kau beserta guru-guru lainnya harus berjuang keras membangun kesadaran baru masyarakat setempat akan pentingnya pendidikan. Walau kau tahu itu tak mudah, namun jiwa seorang pendidik terus menyemangati diri tuk terus melangkah demi mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam harap, akan terciptanya Indonesia, dan Madura khususnya sebagai bumi manusia berkualitas dan bermakna di hari esok.

Menjadi seorang guru juga tidak hanya dituntut mempunyai kewajiban ilmu-ilmu akademis, tapi lebih dari itu seorang guru juga memiliki tanggung jawab moral akan anak didiknya. Guru tidak hanya sebatas mengajar di depan kelas, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku seorang guru adalah contoh dan suri tauladan bagi murid-muridnya. Bagaimana bisa seorang guru mengajar tentang nilai kejujuran jika sang guru, yang notabenenya adalah orang yang mengajari tidak bisa melakukan hal-hal yang berbau kejujuran? Adalah kau contoh seorang pendidik yang memegang teguh nilai pekerti tersebut. Tak sebatang kapurpun kau tuliskan diluar keperluan mengajar, tak sebatang kayu proyek bangunan sekolahpun kau bawa pulang meski hanya sekedar untuk kayu bakar. Ah… andai saja, anak-anak Indonesia telah terbiasa terdidik dengan nilai-nilai kejujuran, sejak kecil dan dimulai dari hal-hal kecil. Tentu yang lahir adalah generasi yang tidak akan menjadikan Indonesia sebagai Negara terkorup di Dunia seperti saat ini.

Selain itu, bagimu seorang guru juga harus mampu mendalami makna dan komitmen sebagai seorang pengajar dan pendidik. Tidak hanya sebatas dalam gedung-gedung sekolah, melainkan seluruh waktunya didekasikan untuk pendidikan, baik dalam keluarga, dan juga masyarakat. Keluargamu, kau anggap sebagai sebuah lahan percontohan dalam proses pemberian dan penanaman nilai-nilai pendidikan. Dimata putra-putrimu termasuk ayahku, kau adalah sosok ayah terbaik sedunia, tidak hanya Ikal Lascar Pelangi yang mempunyai ayah seperti itu, tapi ayahku pun memiliki bapak yang tidak hanya menjadi ayah super baginya, tapi juga bagi masyarakat di desanya.

Namun, siapa yang menyangka ayah super sepertimu, sedari kecil justru tidak pernah menikmati kasih sayang dan didikan seorang ayah. Ayahmu meninggalkanmu, ibu serta adikmu dan memilih pergi merantau ke luar pulau Madura tanpa ada kabar, bahkan tak pernah kembali. Menurut informasi dari saudara-saudara ayahmu, ayahmu menikah lagi dan telah meninggal di jawa. Hingga akhir hayat ayahmu pun kau tak sempat lagi melihat jasadnya, bahkan liang lahatnya pun kau tak tahu ada dimana. Pilu, tentu. Terasa sangat berat untuk diingat jika enggan tuk mengatakan terharu.

Tak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah bukan berarti kau tak mampu menjadi ayah dan pendidik bagi anak-anakmu. Kau memang mendidik anak-anakmu dengan penuh disiplin. Kau memiliki cara tersendiri untuk menunjukkan kasih sayangmu. Tidak hanya ayahku yang berkata demikian, paman dan bibi pun tak memungkirinya. Kau tidak akan segan-segan untuk mengikat anak-anakmu di pohon jati dekat persawahan belakang rumah semalaman, jika anak-anakmu ketahuan berbohong, melalaikan tugas, ataupun bertengkar dengan saudara sendiri maupun dengan orang lain. Kau selalu ajarkan mereka solidaritas dan empati yang tinggi terhadap sesama. Kala itu, memang anak-anakmu sudah bisa dikatakan anak orang terpandang, dan lebih mampu dibanding warga sekitarnya. Tapi kau tak pernah henti memupuk kemandirian dan kedisiplinan mereka sejak kecil. Tak ada satupun putramu yang kau manjakan. Mereka juga harus bisa melakukan aktifitas layaknya orang desa pada umumnya. Yang laki-laki harus berani dan bisa menggarap sawah. Sementara yang perempuan harus bisa melakukan pekerjaan rumah tangga dengan baik. 

Hanya saja, layaknya orang-orang di zamanmu, memang ada pembedaan perlakuan dalam hal pendidikan antara anak laki-laki dan anak perempuan. Karena memang, kultur di zaman itu mengatakan demikian. Hanya anak laki-laki yang berhak sekolah. Sementara untuk anak perempuan, cukuplah hanya mengerti ilmu agama dan ilmu-ilmu dasar rumah tangga. Namun, lambat laun  tepatnya di penghujung tahun 1980-an, pemikiranmu pun berubah, kau mulai menyadari pentingnya emansipasi wanita terutama dalam hal pendidikan. Putri bungsumu kau sekolahkan setara dengan putra-putramu, hingga perguruan tinggi. Dan kini, merekapun menjadi guru sepertimu, termasuk salah satunya adalah ayah terbaikku, yang darinya aku dengar alunan cerita hati masa lalu yang menginspirasiku tuk selalu bersyukur dan memanfaatkan kemudahan-kemudahan yang ku dapat saat ini untuk terus melangkah membangun kebermaknaan diri, bagi agama, masyarakat, dan negeri ini.

Kau memiliki orang-orang hebat yang mengantarkanmu menjadi bapak guru, baik dalam keluarga dan masyarakat desa Rang Perang Laok Kecamatan Proppo Kabupaten Pamekasan Madura. Dan kini kau menjadi orang hebat yang mengajarkanku tentang arti perjuangan, kejujuran, dan tanggung jawab. Belajar dari kisah perjalanan hidupmu, aku menjadi semakin mengerti bahwa Ilmu itu mengangkat derajat orang yang mempelajari. Memudahkan orang yang mengamalkan, makin bertambah jika dibagikan, dan akan abadi jika dituliskan. Ilmu itu, mencahayaii gelapnya peradaban, membalik nasib menuju keberkahan, dan memantik hadirnya kebahagiaan.

Sampai di penghujung akhir hayatmu, betapa kau masih sangat bangga dengan profesi gurumu. Kau masih ingin memakai baju PGRI kebanggaanmu, tak peduli baju itu telah sangat kusut dan kusam, bahkan berhias beberapa sobekan setelah hampir 26 tahun tersimpan selepas kau purna tugas. Saat terakhir kali aku bisa berbicara denganmu di ruang ICU, sehari sebelum kepergianmu, masih teringat jelas kau memintaku tuk mencarikan dan mengambilkan sandalmu. Ya, di tengah kondisimu yang tengah terbaring lemah berbalut banyak selang, kau masih ingin melangkah. Dan waktu itu, aku hanya bisa menangis.

Dan kini, kau telah benar-benar pergi.

Semoga segala amal ibadahmu diterima mbah, dan kau diberi tempat terbaik oleh-Nya. Doakan selalu cucumu, agar bisa menjadi orang bermanfaat sepertimu. Semoga, cucumu ini bisa meneruskan langkahmu, menjadi pejuang pendidikan. 

Selamat jalan Mbah Fagi, Mbah Oemar Bakrie.(02-09-1930 -  05-04-2016)


Jumat, 05 Februari 2016

Pohon Keluarga


Keluarga memang memiliki peran yang sangat penting dalam alur kehidupan manusia. Bahkan kita tahu, sejak lahir, kita senantiasa memiliki ketergantungan dengan keluarga. Meski pada awalnya, manusia, kita, memang tidak pernah memiliki kuasa untuk menentukan kita akan lahir dan hidup dalam keluarga yang seperti apa. Saya pribadi sangat bersyukur bisa lahir, tumbuh, dan berkembang dalam sebuah keluarga yang hangat. Sebuah keluarga, dimana cinta kasih orang tua ibarat air terjun yang selalu tercurah ke bawah.

Sebenarnya, jika dilihat dari luar, tak ada yang benar-benar special dari keluarga ini. Hanya sebuah keluarga biasa, seperti halnya keluarga kebanyakan di Indonesia. Ayah hanya berprofesi sebagai tenaga pendidik, sedangkan ibu memilih focus untuk mengurus rumah dan keluarga, menjadi ibu rumah tangga. Sungguh, sangat biasa bukan?

Tapi, bagi saya, yang menjadikannya tidak biasa adalah kesadaran dua insan yang dipersatukan oleh Allah dalam ikatan cinta suci itu, untuk menjadikan keluarga tersebut ibarat pohon. Ya, pohon yang kuat, tinggi menjulang, dan berakar kukuh.

Keluarga, pohon, apa hubungannya?

Baiklah. Kalian tahu? Bagi seseorang yang memahami pohon atau tanaman dengan baik, tentu ia tidak akan menyiram tanaman itu dengan sembarangan, bukan? Oleh karena itu, dibutuhkan pupuk, nutrisi, bahkan zat-zat lain agar tanaman atau pohon itu tumbuh dengan subur. Untuk itu, sama halnya dengan sebuah keluarga, nutrisi atau pupuk terbaik yang harus diberikan kepada keluarga adalah iman, cinta kasih, semangat belajar, kerja keras, keceriaan, serta sikap optimis.

Dan kini, ketika saya telah berada di persimpangan jalan, untuk pada akhirnya memilih membangun sebuah keluarga. Tentu, saya berharap juga bisa membangun keluarga seperti dimana saya tumbuh besar. Saya berharap bisa menjadi seperti ibu saya, dengan segala ketulusan, kesabaran, kesederhanaan, dan ketegasannya dalam mendidik. Saya juga berharap bisa bersanding, membangun keluarga dengan laki-laki, yang tidak jauh beda seperti ayah saya.

Terlalu naïf jika saya mengatakan ayah dan ibu saya adalah sosok yang ideal atau sempurna, karena nyatanya saya pun tahu mereka juga penuh dengan kekurangan. Ah, bukannya manusia memang tempatnya salah dan dosa, pun kesempurnaan hanya ada pada-Nya? Yang terpenting, tugas kita sebagai manusia adalah senantiasa bersedia untuk belajar dan memperbaiki diri. Bukan begitu?

Ya, dibalik harapan tuk membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah, saya pun paham betul bahwa tidak selamanya perjalanan tersebut akan indah. Kau benar, dalam hidup kita senantiasa harus berjalan dan berjumpa dengan berbagai dimensi dan sisi, seperti halnya baik dan buruk, atau kelebihan dan kekurangan. Jika kita hanya melihat satu komponen dari dua entitas tadi, dengan sendirinya kita akan kecewa dan justru mengingkari realitas.

Karenanya, saya pun sadar, manusia yang penuh kekurangan seperti kita tidak pantas rasanya untuk mendamba sesuatu yang sempurna dari pasangan hidupnya. Justru kehadiran kita yang sama-sama memiliki kekurangan inilah, yang akan berpadu menjadi kesempurnaan yang memesona, yang satu melengkapi yang lain.

Saya rasa, perbedaan karakter kita dengan orang lain, termasuk dengan pasangan kita, hanyalah sebagai bukti akan keragaman ciptaan-Nya. Untuk itu, yang dibutuhkan dari kita adalah sikap dan cara pandang. Kita semua tahu, bahwa pernikahan adalah penyatuan dua insan yang berbeda. Karenanya, kita harus melihat dan menerima mereka secara utuh. Yaitu sisi lebih dan sisi kurang. Kedua sisi yang harus diakui sebagai satu hal yang sama. Itu pasangan kita.

Pada pohon yang tumbuh, selalu saja ada daun yang rontok, selalu saja ada batang yang kian kerontang. Namun, kita justru terpanggil untuk tulus menyirami dan membelai lembut pohon itu. Itulah rahmat. Ketekunan untuk merawat rahmat dalam keluarga adalah sakinah.

Ah, terlalu banyak analogi dengan pohon, padahal saya tidak terlalu mengerti seluk beluk merawat pohon atau tanaman. Yang paham betul akan hal itu adalah ayah saya, karena nyatanya, Ayahlah yang merawat tanaman di pekarangan rumah. Tanyalah beliau, maka akan dijelaskannya panjang lebar.

Perbedaan, Why Not?




Keragaman agama, ideology, dan etnis menjadi kekayaan budaya manusia, maka bersikaplah lapang dan arif agar ketiganya bersinergi menjadi mozaik yang indah.

Dalam pergaulan, seringkali kita mempunyai banyak teman yang beragam. Baik itu dalam hal karakter, latar belakang, minat, hingga SARA. Karena penuh dengan ragam itu pulalah, seringkali sebuah jalinan pertemanan dibumbui dengan keangkuhan dan rasa egoisme. Jika itu sudah menyergap dalam pergaulan, apa yang akan terjadi?

Tentu, masing-masing akan merasa lebih dan ingin menang sendiri. Ketika satu diantara yang lain telah merasa lebih baik, lebih tinggi, atau lebih lebih lainnya, maka tidak bisa tidak, perselisihan akan segera menyeruak. Seperti yang saat ini tengah lindap. Terjebak dalam hawa perselisihan yang membeku.

Terhitung baru 1.5 tahun kita disatukan dalam sebuah ikatan, satu angkatan kelas Magister Sosiologi di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Jawa Timur. Bagi saya pribadi, kelas ini memang menjadi berbeda dari kelas-kelas sebelumnya yang pernah saya ikuti semasa menempuh strata 1, karena beberapa hal. Diantaranya, jumlah mahasiswa yang hanya berjumlah 20-an, memungkinkan untuk kita saling mengenal lebih dalam juga lebih besar, bukan? juga, karena kelas ini menawarkan perbedaan-perbedaan, seperti perbedaan agama, perbedaan etnis yang tidak lagi hanya berkutat jawa-madura, serta perbedaan usia, pengalaman, serta keahlian yang juga beragam. 

Bagi saya, teman memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan. Setidaknya, jalinan tersebut mencerminkan nilai-nilai saling menjaga dan memiliki. Saya tidak pernah berharap penuh akan dikelilingi oleh teman-teman yang setia. Karena bagi saya, sayalah yang harus terlebih dulu memulai dan menjadikan diri kita sendiri sebagai teman yang baik bagi orang lain.

Dalam kasus ini, saya juga tidak bisa memungkiri bahwa sejak lama telah terdapat keangkuhan di dalamnya. Dan yang membuatnya masih bisa bertahan dan masih berlangsung hingga beberapa waktu yang lalu, mungkin karena diantara kami, termasuk saya, masih mau mengalah, bersikap masa bodoh, dan tidak berani mengambil tindakan dengan resiko perpecahan. 

Jika diibaratkan, mungkin jalinan pertemanan ini telah mirip seperti gelombang radio. Ketika frekuensi tidak lagi tersambung dengan baik, maka tidak akan pernah muncul suara dengan jelas, hanya nggeremmeng, dan itulah yang akhirnya menjadi awal kesalahpahaman, pemicu perselisihan. Ah, kau benar. Ini juga seperti bom waktu, yang siap meledak kapan saja.

Ketika saya tengah berada di tengah situasi seperti ini, saya kemudian merenung, saya, dan dua pihak yang berkonflik sama-sama telah belajar beraneka teori konflik. Mulai dari pemicu, hingga proses rekonsiliasi. Tapi, ketika di dunia nyata, di dunia dimana kita terlibat di dalamnya, kenapa semua pemahaman seolah telah hilang tak berbekas? Kita sama-sama tahu, bahwa sekecil atau sekasat apapun konflik tetap harus segera diselesaikan. Karena jika tidak, hanya tertimbun dan tertimbun. Seolah baik-baik saja memang, tapi, tinggal menunggu waktu, sekaligus pematik, yang sekecil apapun itu tetap akan terjadi ledakan konflik yang lebih besar. 

Mungkin, seperti saat ini.

Satu hal lain yang tidak kalah membuat hati saya miris, untuk tidak mengatakan ini sebuah ironi, adalah karena perselisihan ini telah menyeret-nyeret perbedaan yang seharusnya menjadi harmoni. Ya, perbedaan etnis, agama, hingga status social, turut disertakan sebagai bumbu pertengkaran. Oh dear, ayolah. Kita bukan lagi anak kecil yang masih mengeja arti perbedaan, pun bukan lagi remaja yang masih alay dan ababil di media social. Ingatlah, usia kita tak lagi muda, terlebih kita adalah mahasiswa sosiologi yang notabenenya adalah orang yang mengerti dan telah terbiasa dengan segala perbedaan.

Ah, iya. Diatas segalanya, kita hanyalah manusia. Dan mungkin sudah menjadi sifat dasar manusia untuk selalu bisa menjadi pengacara bagi dirinya, dan menjadi hakim bagi orang lain. Kalau tidak demikian, bukankah tidak akan pernah ada peribahasa, “Gajah di pelupuk mata tidak nampak, sedangkan kuman di seberang lautan selalu nampak”. Iya, kan?  

Ya Tuhan, mengapa hati kita menjadi begitu sempit untuk menerima kebenaran dari orang lain. Seringnya, kita memaksakan diri agar orang lain mengikuti apa yang kita yakini. Seakan kita yakin bahwa apa yang kita pahami adalah satu-satunya kebenaran. Padahal, bisa jadi kita sama-sama salah. Jika tidak begitu, bukankah tidak akan terjadi pertengkaran? 

pada akhirnya, kita tidak bisa lagi menutup mata akan kenyataan keragaman yang natural dari Tuhan. bukankah  berteman itu artinya kita menghargai identitas dan perbedaan orang lain.identitas bahwa kita berbeda, tetapi tentu saja bukan ke"aku"an yang diunggulkan. disinilah, kemudian dibutuhkan kesadaran dan kejujuran untuk sama-sama introspeksi diri.

Minggu, 17 Januari 2016

Arti sebuah kesetiaan, kucoba bertahan



Suara ombak terus memukul telinga. Tampak menghantam karang lalu pecah menjadi bulir-bulir udara, sebagian menerpa wajahnya, membuat basah. Mungkin sebasah hatinya yang sedang digelayuti rasa tak tentu. Angin terus menghempas, kaki-kakinya yang diselonjorkan ke karang-karang kecil juga terlihat mulai dingin dan pucat karena basah. 


“Aku akan menikah,” ucapnya.


Ia tersenyum. Semakin lama senyumnya semakin lebar, hingga menampakkan seluruh gigi-giginya.  Biasanya selepas itu ia akan berteriak. Tapi entah kenapa saat ini ia pendam saja rasa senangnya itu dalam dada. Apa karena begitu banyak orang di sekitar sini? Ah, rasanya tidak. Dia bukan tipe gadis pemalu, juga bukan pula seseorang yang selalu menjaga citra. Dia yang kukenal adalah gadis yang penuh percaya diri, ekspresif dan selalu apa adanya. Setidaknya dalam enam tahun usia persahabatan kami.


“Aku turut senang mendengarnya. Akhirnya, kau berlabuh juga.” Sambutku turut tersenyum


 “Hmm… ya, berlabuh tuk pada akhirnya berlayar mengarungi samudra, dengan segala rintangan dan tantangannya.”


Aku menangkap sedikit nada satir di balik ucapannya. “Tak masalah, karena memang seperti itulah hidup, bukan? Kau telah memilih nahkodanya, jadi bekerja samalah tuk mencapai tujuan. Percayalah padanya.”


“Kau benar. Tidak seharusnya aku kembali meragu.” Dia kembali tersenyum. Kali ini semacam senyum menertawakan diri sendiri, sekaligus menguatkan diri.


“Alia, apa kau ada masalah? Tidak seperti biasanya kau seperti ini? Apa ini syndrome perempuan yang akan menikah?” godaku.


Dia terdiam.


“Entahlah, syndrome apa yang sedang menjangkitiku, aku pun tak tahu. Yang kutahu saat ini pada dasarnya kita pasti memiliki ironi dalam diri masing-masing; mungkin juga paradoks, kemunafikan, atau ambiguitas. Sesuatu yang kita benci untuk kita sukai. Sesuatu yang sebenarnya baik untuk tidak kita pilih. Atau sesuatu yang berusaha kita sembunyikan dari siapapun, tetapi kita katakan sebaliknya di hadapan orang lain.” Dia menunduk sejenak, sebelum akhirnya kembali menatap ke depan. Laut biru, kesukaannya.


“Ya, entah bagaimana kita memiliki wilayah-wilayah yang memaksa kita untuk mendua. Perasaan dan pikiran yang sering membuat kita letih dan sedih. Tetapi sekaligus penting untuk kita miliki agar kita bisa seutuhnya menjadi manusia, yang terbatas dan tidak sempurna.”


Aku mengalihkan pandanganku padanya, “Aku melihat ada ketakutan dalam hatimu, mengintip melalui celah-celah masa lalu. Benar begitu?” dia bergeming.


“Alia, meragukan cinta memang manusiawi. Tapi, aku rasa ini bukan lagi saatnya. Kalian sudah melangkah sejauh ini. Mantapkanlah hatimu, ada banyak doa yang tengah dipersiapkan untukmu.” 


“Aku belum pernah mencintai sebesar ini, belum pernah kecuali dengannya. Hingga akhirnya kuputuskan akan kuakhiri di hatinya. Seperti saat ini. Tapi..” dia mulai menoleh ke arahku, “Sudahlah, Di, mungkin kau benar, aku hanya perlu memantapkan hati. Aku hanya perlu meyakinkan hati ini bahwa dia akan tetap di sini, menetap di hati. Sampai segalanya Tuhan sendiri yang menghabisi.”


Matahari mulai runtuh di ufuk barat. Gadis itu kembali menatap bola merah jingga yang menyala itu dengan khidmat. Matanya memicing, melonggar. Menarik napas dalam lalu menghembuskannya pelan. Ia tersenyum. Senyum yang berusaha percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja. 

----------------------

 

Meski telah membungkus tubuhnya dengan jaket yang cukup tebal, dingin angin malam masih menembus ke dadanya juga. Laki-laki itu merapatkan jaketnya. Di depannya, ada perempuan itu. Ia tampak begitu khusyuk menyeruput secangkir kopi hitam, lalu membetulkan helai rambutnya yang terjatuh ke permukaan meja. Dengan gerakan lembut dan menawan, perempuan itu mengikat rambut panjangnya dan membentuknya menjadi sanggul kecil.


Perempuan itu menyeruput kopinya lagi. Kali ini ia memegang cangkir dengan kedua tangannya. Seolah hendak menyerap panas cangkir ke telapak tangannya yang putih dan tampak halus. Laki-laki itu kembali memperhatikan perempuan itu.


“Kau masih sama seperti dulu, De. Selalu seperti ini jika sedang galau.” Ucap laki-laki itu sambil tersenyum melihat perempuan di hadapannya.


Perempuan itu menyunggingkan senyum tipis, “Ada yang pernah bilang padaku, sakit dan sembuh mempunyai waktunya sendiri, dan kita hanya perlu tahu cara merawat luka. Seperti halnya aku saat ini, barangkali itu ada benarnya,..


Kali ini giliran laki-laki itu yang menyeruput kopi hitam di hadapannya yang masih mengepulkan asap.


“Bisa jadi memang benar..” ucapnya kemudian setelah meletakkan cangkir itu kembali pada tempatnya, 


“Tapi ada juga yang pernah bilang, bahwa terkadang peringatan Tuhan memang melalui sesuatu yang membuat kita begitu kesakitan, namun hasil akhirnya adalah sebuah penyatuan yang lebih baik. Dan sama halnya seperti aku, aku ingin kau percaya itu, De.”


“Kau pun masih sama seperti dulu, Ran. Selalu menenangkan dan berpikir positif.” Perempuan itu sejenak terdiam, “Seandainya saja dia seperti kamu. Tentu tak akan ada yang namanya sakit.” Ucapnya.  


Suasana kafe pinggir pantai itu semakin dingin. Lalu lalang pengunjung yang tadi terdengar berisik kini melengang. Siklus alam. Ya, selalu saja orang akan kembali pulang saat malam kian kencang menorehkan lelah. Barangkali, siklus seperti ini juga berlaku dalam sebuah hubungan percintaan?


Laki-laki itu memperhatikan garis-garis wajah perempuan itu lagi. Ada segurat rasa sakit di sana.


“Di atas segala yang telah digariskan Tuhan, di atas segala kebahagian yang terus aku perjuangkan untuknya, aku masih terus mencoba untuk bertahan. Tapi, jika itu semua tidak dihargai, aku bisa apa?”  nada bicaranya mulai sedikit terisak. Bagaimanapun, perempuan selalu tak pandai menyembunyikan suasana hati. Begitupun juga dengan Dea. Perempuan yang masih menunduk sedih di hadapannya.


“Aku kira kamu telah bahagia dengannya, De. Maafkan aku yang sangat jarang menanyakan keadaanmu. Jarang menyediakan waktu untuk sekedar mendengar keluh kesahmu. Melihat kau yang selalu tampak tersenyum dari jauh, membuatku yakin bahwa kau selalu diselimuti kebahagiaan. Dan sebagai sahabatmu, jujur, aku selalu tenang jika melihat kau tersenyum.”


Perempuan itu tersenyum sambil menggigit bibirnya, “Senyuman itu seperti perban, Ran. Menutupi luka, meski sakitnya masih terasa.”


Dan setelah itu, hening, sepi, tak ada suara. Dan entah kenapa langit begitu menentramkan, malam itu.

-------------------------------

 

Laki-laki bernama Randi itu sedang membaca buku di beranda rumahnya sambil menyeruput segelas kopi hitam tanpa gula, ketika matahari tengah lindap ke telapak kaki langit di ufuk barat, dan senja mulai memamerkan kecantikannya seperti biasa. Pada halaman dua puluh lima dari buku yang sedang ia baca, ia memicingkan mata. Entah kenapa ada sesuatu yang mendesir dalam hatinya tatkala ia menghujamkan pandangan pada halaman pembukaan bab yang secara kebetulan berjudul, “Setia”.


Lalu, dalam waktu sepersekian detik telah ada kekuatan yang menariknya, menjadikannya seonggok manusia yang terdampar dalam memoar masa lalu.  


“Jadilah laki-laki yang bisa memberi kepastian, pun kesetiaan. Karena dua hal itulah yang paling berarti bagi seorang wanita.” Nasehat mendiang ayahnya yang selalu ia pegang hingga saat ini. Meski nyatanya saat ini, ia pun tengah menjadi pesakitan karena sebuah kata itu. “Setia”.


Terkadang, memilih setia memang menyakitkan, bukan?


Setia yang tak berbalas, lama-lama hanya akan jadi siksa. Dan manusia yang mencinta seperti dirinya, hanya bisa menahannya mati-matian. Sembari menunggu keajaiban, barangkali. Ya, dia hanya bisa melihat keindahan dalam bayang-bayang yang diciptakannya sendiri.


Banyak orang bilang, menunggu itu membosankan. Ah, siapa bilang? Bagi orang yang setia, justru menunggu akan selalu menjadi hal yang menyenangkan.


Seperti barisan kata yang sederhana untuk dibaca, memang hanya sebab itulah dia merindukan apa yang sudah lama ia tahan sendirian. Tak peduli salah atau benar, dia tetap saja merasa rindu itu tetap hadir di hatinya. Setahun sudah. Seperti sebuah ngilu waktu, di mana dia hanya bisa berucap tanpa ada yang mendengar.


Suara-suara sahabatnya terngiang-ngiang memenuhi isi kepala.


“Aku hanya perlu meyakinkan hati ini bahwa dia akan tetap di sini, menetap di hati. Sampai segalanya Tuhan sendiri yang menghabisi.”


Alia, masa itu memang pernah ada, tapi bukan untuk hidup di hari ini, apalagi hari esok. Ia hanya datang sebagai bayang-bayang, penguji keteguhan hati atas cintamu. Dan ketika kau yakin atas cintanya, berdamailah dengan masa lalunya, bagaimanapun, itu juga bagian dari hidupnya, bukan? lalu, percayalah, masa depan itu hanya milik kalian berdua. Barangkali, dengan begitu, selain kau bisa meredam suara-suara sumbang di sekelilingmu, kau bisa sepenuhnya percaya padanya. Kau dan dia juga bisa melangkah dengan senyum bahagia. Semoga. 


“Diatas segala yang telah digariskan Tuhan, diatas segala kebahagian yang terus aku perjuangkan untuknya, aku masih terus mencoba untuk bertahan. Tapi, jika itu semua tidak dihargai, aku bisa apa?”


Dea, aku mengerti bagaimana perasaaanmu. Bagaimanapun, kesempurnaan seorang perempuan akan terasa lengkap tatkala ia bisa menjadi seorang istri dan ibu, bukan? dan ketika saat ini Tuhan belum memberimu kesempatan untuk menjadi salah satunya, kau tahu, bukan karena kau tidak pantas. Hanya saja, barangkali ini semacam ujian kedewasaan, sebelum akhirnya kalian akan naik tingkat menjadi orang tua.


Dan hari ini, Alia, Dea, rasa sakit dan kekecewaan masa lalu telah membuat hidup kalian lebih istimewa, bukan? Tetaplah menjadi seseorang yang selalu berharap doanya makbul. Sebab hakikat tertinggi dari cinta adalah doa.


Meski nyatanya tak ada yang sanggup mendengar lirihnya doaku, yang berharap dia memang tercipta untuk melengkapi tulang rusukku, pun aku yang memang terlahir untuknya.

Kini, saat kalian berdua bertanya tentangnya, aku pun tak bisa menjawab apa-apa, selain, “Semuanya telah berakhir.”