Sabtu, 09 Agustus 2014

Aku, kau, Kita Tumbuh bersama Lagu



Hari ini, waktu telah mengantarmu pada dunia anak-anak yang identik dengan wajah ceria penuh derai tawa. Saat kau menapakinya, kau mungkin belum pernah tahu seperti apa duniamu saat ini. Yang kau tahu hanyalah bermain, bermain, dan bermain. Senyum dan tawamu seolah mengisyaratkan bahwa kau sangat menikmati duniamu saat ini.  Ah.. ya, dulu aku pun begitu. Tapi... itu semua telah berbeda. Waktu... mungkinkah semua itu karena waktu? Entahlah, yang jelas semua itu hanyalah apa yang disebut kenangan. Bagiku.

Masa telah berganti rupa adikku.. masaku dan masamu adalah dua masa yang sudah sangat jauh berbeda. Memang, Semuanya tak harus sama. Itulah alasan mengapa Tuhan menciptakan dan mengatur semuanya serba berbeda. Tuhan memenuhi dunia dengan berbagai warna, bukan sekedar hitam, putih atau abu-abu tidak lain agar makhluknya mengenal berbagai macam manusia dengan berbagai sisi kehidupannya. Termasuk aku, yang harus memandang nanar duniamu saat ini. 

Kau tahu? Dunia ini tak lagi ramah dalam menyambutmu. Hal hal sederhana di sekelilingmu sudah menampakkan taringnya tuk menerkammu. Seolah tak rela membiarkanmu tumbuh normal secara mental dan psikologis. Mereka tengah berdiam diri menunggumu dalam keriuhan budaya semu. Ya.. mereka tahu bahwa aku, kau, kita, pasti tumbuh bersama lagu. Entah lagu apapun itu, yang jelas ia juga mampu membentuk gaya hidup dan pola pikir kita. Semua hanya karena lagu. 

Sederhana memang, tapi mereka terlalu pintar untuk menganggap otak anak-anak sepertimu layaknya Super spon. Yang bisa menyerap apa saja termasuk lirik lagu sebagai sesuatu yang paling mudah untuk diserap oleh otak super spon tersebut. Bagaimana tidak, beragamnya acara musik tiap hari menyuguhimu tontonan, pendengaranmu di desak oleh bising lagu-lagu yang sarat dengan kata cinta, sakit hati, dan perselingkuhan. Dan alhasil kau hafal. Kau mulai asyik hidup dengan senandung lagu-lagu orang dewasa, tanpa mengerti apa makna dari lagu tersebut.

Bukan.. bukan tidak adanya anak/penyanyi cilik yang menjadi penyebabnya. Lebih tepatnya, tidak adanya lagu anak-anak yang dinyanyikan oleh anak-anak. bukankah begitu? Kau lihat bukan, tidak sedikit anak-anak seusiamu yang nongol dan bernyanyi di televisi. Tapi, yaa... begitulah. adakah hal lain yang dirasa jika enggan tuk mengatakan, miris. 

Mungkin mereka lebih tertarik untuk menuruti cita rasa dan kemauan publik daripada harus memikirkan perkembanganmu yang jelas-jelas tidak akan memberi keuntungan ekonomis. Meminjam istilah Theodor Adorno sebagai “Budak Irama” untuk mereka penikmat musik yang telah dikomoditaskan oleh industri sebagai korban banalitas budaya massa. Dimana musik adalah salah satu produknya. Sesuatu yang ironis memang, tatkala produk kebudayaan yang ada direncanakan dan dibuat tidak lagi menurut dorongan kreatif dari lubuk hati seorang seniman, melainkan didorong menurut cita-rasa dan kemauan publik, untuk mampu memenuhi permintaan massa akan kepuasan kultural.

Lalu, terlalu naifkah jika ada yang bilang kau dewasa terlalu dini? Rasanya tidak. Kau memang telah terserat ke dunia yang belum saatnya untuk kau kunjungi. Dunia orang dewasa. Tanpa meninggalkan tapak-tapak istimewa di masa kanak-kanakmu? Ah, jika kau sadar, kau pasti akan sangat iri dengan masa kecilku. masa kecilku memang terlalu seru jika dibandingkan dengan masa kecilmu saat ini. lagu-lagu itu tidak hanya mengajakku tuk bernyanyi, tapi juga belajar. Belajar tentang apa yang aku lihat, aku rasakan, dan aku dengar. Andai saja kau tahu lagu Trio Kwek-kwek yang judulnya “Katanya”, dimana liriknya sangat berisi pengetahun “Australia negeri wol, aborigin sukunya, bumerang senjatanya, kangguru binatangnya…”
Berbicara tentang lirik lagu, bukankah kata/kalimat yang sering diucapkan juga memiliki kekuatan untuk men-sugesti. Jika lisan telah terbiasa mengucapkan kata kata yang baik, niscaya orang itupun juga akan baik. Begitu juga sebaliknya. Bisa kita bayangkan, apa yang terjadi dengan Indonesia 20 tahun mendatang, jika kini para seniman dan pencipta lagu mulai kembali menghias wajah lirik lagu anak-anak Indonesia dengan pengetahuan, dan nilai-nilai karakter.  

Dalam riuhnya perayaan hari musik nasional yang baru saja kita peringati di tanggal 9 maret ini, sama seperti diriku, aku ingin kau percaya bahwa bangsa ini masih punya hati untuk memperbaiki semuanya. Semoga...

Selasa, 17 Juni 2014

Perjalanan Mata, Hari, dan Hati



"Jalan apa yang aku tempuh? Jalur mana yang aku ambil? Sampai ke mana tujuan yang aku ingin capai? Entahlah, semuanya terasa kabur".

Fase setelah lulus kuliah seperti menjadi sebuah tonggak sejarah yang penting dalam perjalanan hidup seorang sarjana baru. Mencari pekerjaan yang pas, seperti halnya menjadi jodoh. Apalagi mencari pekerjaan atau karier yang berhubungan dengan passion, tujuan, dan mimpi-mimpi hidup yang kadang kala menjadi tertawaan orang lain.

Memang bukan hal yang mudah untuk memantapkan diri selesai kuliah. Begitu banyak keinginan dan tuntutan yang terus hadir dalam kehidupan. Tuntutan dari diri sendiri, keluarga, lingkungan,dan kadang tuntutan yang berasal dari cermin social. Dilema orang yang sudah lulus kuliah adalah menentukan arah hidupnya. Tahun-tahun pertama akan menjadi tahun pembuktian diri. Tahun tahun selanjutnya akan diikuti oleh pertanyaan,sudah benarkah jalan yang dipilih ini? Tapi, selama masih bernafas, selama itu pulalah pertanyaan demi pertanyaan tentang hidup akan bergulir. Ketika berhenti bertanya, hanya ada dua kemungkinan, orang itu tidak peduli atau mati.

Rasanya hari-hari terlalu berharga jika hanya diisi dengan keluhan atau merutuki nasib tentang pekerjaan. Pekerjaan yang sudah ditukar dengan separuh waktu yang dimiliki setiap orang dalam sehari adalah  sesuatu yang harus disyukuri lebih dari sekedar nilai rupiah atau satuan mata uang yang ada. Ketulusan dalam melakukan pekerjaan bukan hanya akan memberikan efek kilau pada pekerjaan yang sedang dilakukan, tapi juga memberikan ruh agar ia bernyawa dan terlihat oleh dunia.

Setiap orang mengukir perjuangannnya sendiri. Dan, selalu ada kisah-kisah yang terserak tentang perjuangan dalam meraih banyak hal. Saat seorang siswa berjuang lulus ujian. Saat seorang mahasiswa berjuang untuk bisa lulus sidang. Ketika seorang lulusan sarjana berjuang untuk mendapatkan pekerjaan. Saat seorang pekerja berjuang mempertahankan pekerjaannya, pekerja lainnya sedang berjuang mengubah nasib untuk mencari peluang yang lebih baik. Disaat seorang pekerja berjuang meningkatkan pendapatannya, ada seorang pekerja lainnya sedang berusaha mencari makna kenapa ia harus bekerja? Saat seorang pekerja memiliki target untuk mengejar kenaikan pangkat dan jabatan, seorang lainnya sedang berjuang untuk mengejar kepuasan kerja. Setiap orang bebas menentukan arah kariernya. Setiap orang bebas memperjuangkan apa yang diyakininya. Tapi, pada akhirnya orang-orang yang punya komitmen, merasa cinta dengan apa yang ia lakukan, dan selalu berangkat kerja dengan penuh semangat adalah orang-orang yang sedang membuat perubahan. Dengan energy yang dimilikinya, mereka berbagi dan mendorong orang lain untuk merasakan hal yang sama, kebahagiaan – dalam bentuk apapun. Termasuk meneruskan apa yang pernah didapatkan dalam hidup ini. Meneruskan kesempatan dan kepercayaan.

Mungkin, saat ini kita sibuk memperdebatkan tentang karier dan hidup. Tapi, beberapa tahun lagi tak ada lagi yang perlu diperdebatkan. Bahwa ternyata perjalanan inilah yang membuat pertemuan itu hadir dalam sebuah ruang dan waktu yang berbeda. Perjalanan mata, hari, dan hati.



Jumat, 16 Mei 2014

Kenangan Skripsweet bersama MC

Mei kembali menyapa.. Jika mei tahun lalu menjadi akhir dari perjuanganku bersama kalian, maka kali ini aku ingin mengajak kalian menikmati nostalgia kebersamaan kita walau hanya dalam nyata coretan pena

Apa kabar kalian sekarang? Ada yang rindu papi gak?
Kalo ada, yuk… duduk sini denganku…seperti yang biasa dulu kita lakukan bersama papi. Dalam senyum dan tawa yang tak palsu. Ah, bukankah itu salah satu yang paling kita sukai dari waktu-waktu bersama papi. Dan kini, menjadi salah satu potongan episode hidup yang paling aku rindukan… hehehe

Yaa.. kisah itu bermula di awal tahun keempat kita menjadi mahasiswa. Lazimnya mahasiswa tingkat akhir pada umumnya, kitapun diselimuti aneka kegalauan. Terlebih, setelah pembagian dosen pembimbing diumumkan. Waktu dimana kita ber-enam disatukan. Memang bukan hal baru bertemu dengan kalian, karena kita sudah terbiasa satu kelas di konsentrasi pendidikan. Tapi, saling dekat satu sama lain? Rasanya tidak.

Diantara nama-nama yang masuk dalam bimbingan dosen –yang kemudian kita sebut papi- hanya nita lah yang memang dekat denganku. Bukan.. berarti aku tidak menganggap yang lain. Hanya saja memang pada awalnya hubunganku dengan kalian tidak sedekat persahabatanku dengan Nita. Jadi wajar kan, ketika pertama kali pengumuman itu ditempel, yang ada dalam benakku hanya, mensyukuri keberadaan Nita yang satu bimbingan denganku. Setidaknya, aku akan memiliki teman bimbingan dan teman sharing.Mengingat masa-masa semester tua adalah masa dimana kita dituntut dengan tugas individu yang sangat berat.

Aku pun merasakan, kadang-kadang aku takut berjalan sendirian.. bertanya-tanya apa yang tidak aku miliki dibandingkan dengan teman lain yang lebih menonjol. Namun tidak akan ada yang berubah jika aku tetap berdiri di sini bukan?

Hingga tiba suatu waktu dimana Papi mengumpulkan kita semua, kita ber-enam untuk pertama kalinya. Dan waktu itupula kita mengutarakan bahwa kita ingin lulus juni bareng-bareng. Masih ingatkah kalian?

Pola bimbingan yang diterapkan oleh papi juga bisa dikatakan sedikit berbeda dari yang lain. Bisa dibilang seperti bimbingan bersama. Kita berenam masuk berbarengan ke ruang referensi, kadang ruang prodi, atau ruang jurusan. Selama kurang lebih 3-4 jam masing-masing dari kita konsultasi secara intens secara bergantian. Disaat menunggu giliran itulah kebersamaan itu mulai terjalin. Dalam suasana hangat berselingan canda tawa,kita bisa saling merasakan kesulitan satu sama lain, atau bahkan tersulut motivasi ketika salah satu diantara kita selangkah lebih maju.
Ditambah lagi dengan tawa khas papi yang selalu mampu mengugurkan kebekuan dan ketegangan. Bener-bener kangen masa-masa itu…L

Yang aku tahu dan aku rasakan, Papi adalah sosok yang berusaha membawa seseorang menuju pertimbangan.. beliau selalu berusaha membukakan pintu itu untukmu.. sampai kamu yakin untuk melangkah.

Masih sangat jelas dalam ingatanku, diantara kita, aku, Nita, Renata, Nina, Layyin, dan Dini. Akulah yang justru paling bimbang di detik-detik awal. Beberapa kali aku mengganti kajianku, padahal papi sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda tidak setuju. Papi justru tertawa melihatku bingung dengan kebingunganku. Beliau seolah tahu kalau aku masih belum memantapkan hati. Perlahan, berbekal pencerahan dan pertimbangan-pertimbangan dari papi, akhirnya aku pun mantap memilih kajian tersebut. Walaupun, itu artinya aku harus berangkat dari awal mempelajari pemikiran-pemikiran Pierre Bourdieu.

Hari-hari mulai terasa berat kita lalui. Kita harus membaca buku-buku referensi, jurnal-jurnal,  memahami teori-teori yang memusingkan, hingga mencari penelitian terdahulu bahkan ke universitas di kota lain. Layyin, jangan lupakan kenangan kita di malang waktu itu yaa…J

Bersama kesulitan itulah kita mulai menyadari bahwa saling memerlukan adalah hal yang indah..
Lihatlah kehangatan itu..mampu menghapus semua kesedihanmu kan?
Tak sadarkah kalian? Ketika kita merasa perjalanan itu sangat berat. Dimana seringkali hasil kerja kita semalaman ngelembur, masih belum dianggap apa-apa atau bahkan sia-sia dan harus ganti total. Disaat itulah justru papi menganggap kita bukanlah seseorang yang selemah itu.

Lalu, ketika kalian merasa dipermalukan di depan kita yang lain? Saat itulah papi seolah hendak berkata jangan pernah takut bila kalian terluka.. dan cobalah untuk mempercayai orang-orang yang ada disini. Yang akan memperlihatkan jalan baru di kehidupanmu.. lebih dari yang kamu bayangkan.

Mungkin dulu kita belum menyadari, kenapa harus bimbingan bersama? Bukankah itu akan menunjukkan kekurangan didepan yang lain? Belum lagi kalo dibanding-bandingkan, secara dosen muda itu selalu mintanya serba perfect dan idealis.
Tapi akhirnya, kita menyadari kan adanya kehangatan diantara kita? Adanya tangan-tangan yang lain disaat kita butuh bantuan? 

Aku tahu, kalian menganggap aku yang paling di istimewakan oleh papi. Walaupun sebenarnya, semuanya sama saja. Yang berbeda hanyalah, intensitas perjumpaanku dengan beliau lebih sering, baik dalam pertemuan-pertemuan redaksi, atau pun tim riset.

Jujur, ketika hanya aku yang berhasil ikut wisuda juni dari bimbingan beliau, sempat terbesit rasa tak enak hati pada kalian. Terutama pada kamu, Nina. Bagaimana tidak? Sejak awal bimbingan kita sama-sama sepakat bahwa kita akan lulus bareng di bulan juni. Tapi, di tengah-tengah perjalanan Nita, Renata, Layyin, dan Dini memutuskan untuk tidak terlalu memaksakan diri. Hanya aku dan Nina yang terus maju.Walaupun akhirnya, hanya aku yang diijinkan maju oleh beliau.

Saat itu, aku ingin sekali berkata padamu bahwa giliran kesempatan selanjutnya akan datang kepadamu..Lakukan segalanya yang kamu bisa.. dan giliran kesempatan itu suatu saat pasti datang. Mungkin akan terlihat jauh, namun sebenarnya semakin dekat. Nyatanya, kalian bisa kan wisuda bareng-bareng bulan oktober?? J


Teman… Aku dekat dengamu di MC.
Hingga pada saat itu.. dimana kita harus melangkah pada jalan masing-masing.
Perpisahan adalah proses pembaruan dari tekad kita. Bahkan ketika kebersamaan itu telah lenyap.. kalian akan tetap berharga untukku.. MC..^^
salam sukses untuk kalian semua...^^

Rabu, 16 April 2014

Sebuah Penemuan, Oleh Waktu…



Saat semua tak sama, kadang aku terjatuh di dasar rasa. Hati lemahku begitu memancar. Namun dalam hati aku juga bertanya apa iya ketika semuanya sama, akankah menjadi indah dan seperti yang ku bayangkan? Belum tentu, bahkan mungkin, Tidak!

Bukankah semua orang memiliki jalannya masing-masing? dan ini jalanku. Jalan yang dipilihkan tuhan untukku.  

Barangkali aku terlalu terjebak dalam ketakutanku sendiri. Ketakutan akan masa depan. Ah, bukannya semua yang tidak terlihat selalu bisa menimbulkan rasa takut? Apalagi misteri masa depan. Yang tidak satu pun orang tahu atau setidaknya sedikit memberikan rasa ketenangan untuk menghadapinya.  Masa muda memang masa dalam kecemasan yang memprihatinkan.

Dan itu benar. Masa ini merupakan masa pergulatan antara mimpi, hati nurani, dan tuntutan orang lain. Memilih menuruti hati nurani, kata egoisme bisa jadi akan menempel dalam diri. Sedangkan jika pilihan itu kita jatuhkan pada tuntutan di luar diri, kita tak lebih dari seorang yang tidak memiliki arah yang jelas. Melangkah setengah hati. 

Aku pun pernah mengalaminya. Terkadang, aku juga bingung dengan diriku sendiri. Apa sebenarnya yang aku mau dan aku inginkan?

Cita-cita? Kau bertanya apa cita-citaku? Aih, menanggapi pertanyaan seperti ini, seolah jawabannya sudah bisa ditebak. Bagaimana tidak, hampir semua anak saat ditanya apa cita-cita mereka, jawaban paling populer adalah dokter dan guru, setidaknya bagi anak perempuan di zamanku dulu.
Dokter. Ya dokter. Bagi orien kecil ibarat bintang yang harus ia gapai. Yang nantinya bisa menerangi banyak orang dengan cahayanya. Harapan itu terus ia pegang hingga masa remaja mulai menapak. Beruntung, Tuhan juga menganugrahinya dengan otak yang memang sudah terbiasa bermain dengan angka-angka. Dunia eksak seolah memang benar-benar dunianya. 

Bisa menempuh masa putih abu-abu di kelas unggulan seolah membuka jalan itu semakin lebar. Tapi, apa yang terjadi kemudian tidak selamanya sama seperti yang manusia rencanakan. Ada kuasa Sang perencana kehidupan disana.

 Hatiku mulai goyah. Aku seolah tersadar bahwa ada dunia lain yang lebih kuminati. Di dunia itu, aku bisa menuai selaksa makna dalam nyata coretan pena. Aku mencintai dunia sastra, dan dunia tulis menulis pada umumnya.

Aku yakin jalan ini adalah jalan yang akan membawaku ke tempat yang ku inginkan. Menjadi bintang yang mampu menerangi dan memberikan cahayanya bagi semesta. Aku pun sudah tak peduli lagi akan apa yang mungkin ada di hadapanku nantinya. Yang terpenting aku jalani dan aku telusuri jalan lurus yang ada di hadapanku.

Aku pun mulai berjalan melangkahkan kakiku perlahan demi perlahan. Tapi aku merasa langkah kakiku ini begitu berat. Tapi aku terus berusaha untuk terus menelusuri jalan ini.  Aku mulai menulis, mengirimkannya di majalah sekolah, hingga menjadi redaksi majalah sekolah. Aku lebih menikmati waktuku bersama deretan kata-kata dibandingkan dengan harus bermain dengan angka-angka. aku mulai dihinggapi rasa malas, padahal ini adalah dunia yang telah membesarkanku hingga kini.
Ah, entahlah.

Yang jelas, satu hal yang sangat kusadari waktu itu. Minat sangat berpengaruh terhadap prestasi. Sekeras apapun aku bertahan di dunia eksak, tapi minatku sudah tidak lagi bersemayam di sana. Semuanya menjadi percuma, sia-sia.  Prestasiku stagnan, bahkan cenderung menurun.
Bingung, pasti! Seperti berada di persimpangan jalan, dan aku harus memilih jalan mana yang akan kulewati. Haruskah aku memilih jalan yang dipilih hatiku? Tapi, aku juga tak kuasa mengecewakan harapan keluargaku yang selama ini berharap aku bisa menjadi dokter. 

Dan kau tahu apa yang kemudian terjadi?
Aku memang menuruti keinginan orang tua untuk mengikuti tes masuk fakultas kedokteran. Aku tak kuasa untuk menolak, ya.. aku tidak ingin mengecewakan harapan mereka. Dengan bekal doa orang tua yang senantiasa mengalir, berangkatlah aku bersama keenam temanku ke kota Yogyakarta. Kita mengikuti UM-UGM. Banyak harapan kita gantungkan di kota itu. Namun sayang, tidak ada satupun diantara kita yang berhasil menjemput mimpinya di kota pendidikan itu. 

Tuhan pasti telah mengatur rencana lain. Dan aku yakin dengan hal itu.
Mungkin beberapa orang akan bertanya, kenapa kok gak masuk ITS aja? Anak SMAN 3 apalagi yang unggulan kan banyak yang disana?

Alasan yang pertama, karena aku sudah merasa aku tidak bisa lagi bertahan di dunia eksak. Memang, dulu aku sangat menyukai matematika, kimia, dan fisika. Tapi, seiring berjalannya waktu, berkurangnya minat, berkuranglah pula kemampuanku di bidang itu. Jadi, tidak..tidak, terima kasih.
Alasan yang kedua, yang mungkin jika tidak ada alasan ini, bisa jadi alasan pertama tidak pernah diperhitungkan. Ayahku tidak ingin putri satu-satunya berkecimpung di dunia teknik. Kesannya patriarki banget yaa.. tapi menurutku sah-sah aja. Bagi beliau, pekerjaan yang paling ideal bagi seorang wanita adalah guru atau tenaga kesehatan. dan otomatis, gugurlah pilihan untuk masuk di teknik.

Kodratku sebagai anak IPA seolah menuntutku untuk tetap menjadikan jurusan-jurusan eksak sebagai prioritas. Waktu itu aku masih merasa kalaupun aku harus keluar dari dunia eksak, aku harus kemana? Haruskah aku terjun di dunia IPS? Atau bahasa? Sastra?
Entahlah.. yang jelas waktu itu aku bertekad dimanapun aku nantinya, minat itu kan tetap ku pelihara.yaa.. kau benar, waktu itu aku masih terlalu takut untuk mengambil keputusan.

SNMPTN pun tiba. LBB tempatku mempersiapkan ujian masuk universitas ini mewajibkan anak didiknya untuk mengambil IPC. Padahal, hampir semua pesertanya berasal dari sekolah-sekolah unggulan di Madura, dan mayoritas adalah anak IPA. Dan lagi-lagi, saya bingung menentukan pilihan jurusan selain jurusan ipa. Lalu, berbekal pedoman buku SNMPTN 2009, ibuku menyarankan untuk memilih “Sosiologi”.
Kenapa harus sosiologi? Kenapa tidak ekonomi yang setidaknya masih berhubungan dengan angka? Ketika ku tanya, ibu pun tidak tahu pasti alasannya. Beliau hanya menjawab “kok kayaknya gampang gitu pelajarannya” 

Kau tentu bisa menebak jalan cerita selanjutnya. Ya.. aku masuk di jurusan Sosiologi. Jangan kau Tanya gimana rasanya terdampar, tersesat, atau salah alamat, karena aku tahu dengan jelas susahnya beradaptasi di dunia yang sebelumnya tidak pernah aku bayangkan.
Jika kau mau, kau bisa bayangkan gimana rasanya menjadi diriku. Dengan segala basic keunggulan di dunia eksak sedari kecil, dengan rutinitas penggemblengan di kelas unggulan IPA1, dan pergaulan yang selama ini hanya berkutat dengan anak-anak dari golongan tertinggi di dunia eksak, sekarang harus berada di ranah anak social. Serasa berubah 180 derajat. Aku tidak hanya masuk ke dunia social, tapi terjerembab sedalam-dalamnya ke jurusan yang paling social. Sungguh, dunia yang benar-benar baru.

“Allah memilihkan tempat untukmu, bukan karena kebetulan, pasti ada sesuatu di depan sana..” begitu pesan ayahku di malam pengumuman SNMPTN. “jalanilah.. mungkin memang jalannya” lanjutnya.

Penerimaan yang ikhlas dari kedua orang tuaku, bukan berarti jalan menjadi benar-benar lapang. Ada banyak cibiran dan ejekan yang tertuju padaku. Bahkan tidak jarang suara itu juga datang dari orang di lingkaran terdekat. “unggulan kok masuk sosiologi? Unesa lagi.” Atau “mau jadi apa itu?” “ya iya keterima di snmptn, jurusan yang ecek-ecek kan gampang masuknya. Tapi belum jelas juga nantinya jadi apa?” atau yang lebih halus “owh.. sosiologi yaa, tak pikir psikologi”

Belum lagi di kalangan teman-teman unggulan lain dengan jurusan dan universitas terkenal masing-masing. Minder, pasti. Bukan.. bukan karena masuk di jurusan IPS. Karena nyatanya tidak sedikit temanku yang beralih jalur ke dunia itu. Hanya saja, jurusan ini memang dianggap sebelah mata, cenderung membosankan, gak jelas, hanya teori, dan seolah gak banget dech buat anak unggulan IPA di SMA ku. Gak seperti ekonomi, manajemen, atau akutansi. Belum lagi, universitas tempat ku bernaung, meskipun negeri tapi universitas ini tidak se-populer Unair, ITS, ataupun UGM. Alhasil, minder sangat sangat… terutama ketika reuni tahunan, atau reuni unggulan antar angkatan.

Oh tuhan… aku benar-benar butuh kekuatan untuk berdiri tegak.
Kau bertanya kenapa aku tidak mencoba tes-tes penerimaan lain, dengan jurusan dan universitas yang lebih bonafit? Memang masih banyak kesempatan terbuka untukku setelah SNMPTN. Tapi, entahlah.. aku sudah tidak minat lagi mengikuti serangkaian tes. Seolah pasrah dan menerima jalan yang diberikan tuhan.

“sekolah itu bukan untuk pamer-pameran, jurusan mana yang bonafit, atau universitas yang terkenal, yang terpenting itu niat mencari ilmunya. Tugasmu mencari ilmu setinggi-tingginya, ibadah sedekat-dekatnya dengan allah. Jadi apa nantinya? Allah yang bertugas menata masa depanmu..” nasehat ibu seolah menjadi oase di tengah keringnya kepercayaan diriku menjalani hari. 

Sejak saat itu aku mulai bangkit. aku benar-benar merasakan arti kasih sayang orang tua. Bukan.. bukan berarti selama ini orang tua ku tidak menyayangiku. Hanya saja, saat itu aku benar-benar merasa mengecewakan mereka. Selama ini aku selalu bisa mempersembahkan yang terbaik. Mulai dari SD, Madrasah, SMP, Prestasiku selalu gemilang. Hingga SMA pun aku berhasil masuk di Kelas unggulan dengan segala fasilitas dan beasiswanya. Dan saat itu, aku menggugurkan harapan terbesar mereka. Menjadi dokter. Tapi, apa yang mereka lakukan? Tetap mendukungku. Meyakinkanku bahwa ini semua yang terbaik, dan aku masih bisa untuk menjadi yang terbaik.  

Hari demi hari aku lalui. Jujur, aspek yang paling sulit bagiku untuk beradaptasi adalah pergaulan. Semua orang pun sudah mengakui bahwa anak IPA dan IPS itu memang benar-benar berbeda. Kesan negative, membatasi pergaulan, sudah pasti pernah dilakukan oleh orang awam sepertiku. Maafkan aku teman-teman… ada beberapa kesan negative yang sempat bersarang di kepalaku, dulu.. tapi, sekarang semua itu sudah terhapus dengan rasa solidaritas, kecintaan akan keilmuan dan kemanusiaan yang kalian ajarkan.

Dan, rasa pasrah itu perlahan berubah jadi rasa syukur. Terima kasih tuhan, telah memilihkan tempat untukku belajar. 

Dunia tempat dimana aku belajar membuka mata, hati, dan hari bersama semua golongan. Mulai dari golongan yang selama ini dianggap golongan menengah atas dan berpendidikan, hingga golongan yang seringkali termarginalkan oleh struktur yang berkuasa, serta golongan yang acapkali dianggap sampah dan dijauhi oleh masyarakat pada umumnya. Mereka semua mengajarkanku bagaimana melihat dunia, melihat Indonesia, yang tidak hanya bisa dilihat dari hasil pendataan angka-angka.

Disana, aku juga menemukan sesuatu. Passion.
Sejak semester awal, aku sudah leluasa mengembangkan minatku di dunia tulis menulis. Mulai dari SSC, PKM dan LKTM, FLP Surabaya, redaksi tabloid kampus, hingga redaksi jurnal Paradigma. Tuntutan tugas-tugas mata kuliah yang mayoritas berbasis riset juga berpengaruh terhadap minat menulisku. Ditambah lagi dengan kesempatan mengikuti beberapa proyek penelitian dosen semakin membuatku yakin bahwa dunia ini sangat mengasyikkan. Dunia dimana kita tidak hanya menggali ilmu, tapi juga menebar ilmu dan pengetahuan melalui pena.

Kini, aku menemukan jawabannya. Benang merah dari episode kehidupan ini.
Terkadang, ada pertanyaan dalam hidup yang jawabannya tidak bisa ditemukan saat itu juga. Jawaban yang baru bisa ditemukan saat jiwa terus melangkah. Sebuah penemuan, oleh waktu..
Jika dulu aku sempat iri dengan teman-teman yang bisa kuliah di Unair, UGM, UB, dan UI. Sekarang… aku masih iri dengan temanku yang mendapat beasiswa S2 di luar negeri. Pengeennn…
Aku tahu, jalan hidupku masih panjang…. Dan aku yakin aku juga bisa... sepanjang aku tidak pernah berhenti percaya akan masa depanku yang penuh dengan kesempatan…:)