Jumat, 01 Juli 2011

“Sekolah Bertaraf Internasional: modernisasi atau kastanisasi pendidikan?”


ABSTRAK
Dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945 menjelaskan bahwa salah satu tujuan nasional adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa” yang menyiratkan sebuah makna bahwa kemajuan suatu bangsa terletak pada kualitas sumber daya manusianya (SDM), dan SDM dapat dikembangkan melalui pendidikan. Dalam rangka peningkatan mutu dan kualitas pendidikan nasional, pemerintah berupaya untuk membawa pendidikan ke ranah “modernisasi pendidikan” yang dituntut untuk sejalan dengan arus globalisasi yang sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan teknologi. Upaya pemerintah tersebut tertuang dalam UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 50 Ayat (2) dan (3) yang melahirkan adanya sekolah-sekolah dengan internasionalisasi di dalamnya. SBI, RSBI, SSN, dan sekolah reguler adalah strata sekolah yang lahir seiring dijalankannya amanat  UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Ironisnya, pengkotakan kelas-kelas tersebut berujung pada kemampuan financial pembayaran pendidikan. yang akhirnya, akan semakin memarginalkan kaum bawah dalam dunia pendidikan yang seharusnya juga menjadi hak mereka. Seperti yang menjadi amanat UUD 1945 pasal 31 bahwa setiap warga negara berhak untuk mendapat pendidikan. Pendidikan disini tentu dalam arti pendidikan yang layak dan tanpa diskriminasi. Namun, berdasarkan fakta yang ada sejalan dengan terbaginya sekolah menjadi SBI, RSBI, SSN, dan sekolah reguler semakin menegaskan bahwa pendidikan nasional telah terjadi sebuah “kastanisasi pendidikan”.
Kata kunci: pendidikan, kualitas, internasionalisasi, stratifikasi.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
            Pendidikan adalah sebuah proses pembelajaran yang terencana agar tercipta peserta didik yang secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri dan kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan lain yang diharapkan memberikan manfaat bagi dirinya, dan orang lain[1]. Pendidikan adalah hak setiap manusia, begitupun halnya dengan warga negara Indonesia. Negara menjamin dalam UUD 1945 pasal 31 bahwa setiap warga negara berhak untuk mendapat pendidikan[2]. Karena Pendidikan merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan kualitas suatu bangsa. Dan tentunya, pendidikan yang diharapkan adalah pendidikan yang bermutu dan berkualitas.
 Salah satu upaya pemerintah untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas tersurat dalam UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 50 Ayat (2) dan (3), yaitu dengan mencetuskan sekolah berstandart nasional, dan bahkan bertaraf internasional. Di satu sisi, pengembangan sekolah menjadi sekolah bertaraf internasional memang membantu peningkatan kualitas SDM (sumber daya manusia) indonesia yang akan sangat berguna dalam menopang pembangunan negeri.  tapi di sisi lain juga lahir kenyataan pahit tatkala tidak semua masyarakat indonesia bisa menikmati indahnya dunia pendidikan yang berkualitas tersebut.
Mimpi mereka untuk bisa menikmati sarana prasarana belajar yang memadai dan tenaga pengajar yang berkualitas dengan segudang pengalaman dan kemampuan, harus dihadapkan pada kondisi nyata bahwa pendidikan bermutu harus ditukar dengan biaya yang tidak sedikit. Hasrat itu terpendam oleh serentetan biaya yang harus ditanggung. Karena sekolah dengan status Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) ataupun sekolah yang telah menyandang status Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) dilegalkan  untuk menarik  iuran dari siswa. Status sekolah yang dituntut untuk bisa mencapai standart internasional memaksa sekolah untuk menarik biaya pendidikan yang tidak bisa murah seperti sekolah-sekolah negeri pada umumnya yang hanya berstatus “sekolah reguler”. Dengan kata lain,  sekolah SBI hanya ada untuk mereka dengan kemampuan finansial yang cukup[3]. Sedangkan mereka yang tidak didukung oleh materi, hanya bisa pasrah berucap syukur dalam menitip impian pada lembaga pendidikan dengan kualitas apa adanya.
Pembagian status sekolah menjadi SBI, RSBI, SSN, dan sekolah reguler yang lahir dari UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional memang membawa sistem pendidikan nasional selangkah mulai memasuki “modernisasi pendidikan, namun secara tersirat juga telah membawa pendidikan indonesia ke ranah “kastanisasi pendidikan”. Dalam dunia pendidikan telah lahir kasta-kasta berdasarkan sisi finansial dalam pembayaran pendidikan. Hal yang sangat tidak relevan dengan amanat UUD 1945 yang memberikan hak kepada semua warga negara untuk mendapatkan pelayanan pendidikan, termasuk pelayanan SBI, RSBI, dan SSN. Adanya stratifikasi sekolah mulai dari strata tertinggi SBI, hingga strata terendah sekolah reguler pada dasarnya memang tidak dibenarkan jika dilihat dari UU No.20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 5 ayat (1) dan pasal 11 ayat (1) yang telah sangat jelas mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhak untuk memperoleh pendidikan yang bermutu tanpa ada diskrimasi.
Para bapak bangsa indonesia menyatakan bahwa “pendidikan yang bagus  adalah kunci untuk memutus rantai kemiskinan”[4]. Secara tersirat, kalimat tersebut menyatakan bahwa semua warga khususnya orang miskin berhak mendapatkan pendidikan yang bagus. Modernisasi pendidikan seharusnya wajib masuk hingga pelosok negeri. Tidak hanya tersentral di kota dan hanya pada salah satu sekolah saja. Apabila pendidikan bagus hanya bisa dinikmati segelintir orang dan sebagian besar rakyat Indonesia lainnya harus menikmati pendidikan apa adanya, bisa dibayangkan jika indonesia akan tetap tenggelam dengan penduduk miskin yang kian hari makin miskin oleh pendidikan yang kian mahal.

B. Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang  masalah, maka dirumuskan rumusan masalah sebagai berikut:
a. bagaimana kesetaraan hak antara orang kaya dan orang miskin dalam hal memperoleh pendidikan yang berkualitas?
b. apakah kehadiran Sekolah Bertaraf Internasional merupakan suatu upaya modernisasi pendidikan atau kastanisasi pendidikan?

C. Tujuan
            Berdasarkan rumusan masalah yang telah ditentukan, maka tujuan penelitian adalah sebagai berikut:
a. untuk mengetahui kesetaraan hak antara orang kaya dan orang miskin dalam hal memperoleh pendidikan yang berkualitas?
b. untuk mengetahui kehadiran Sekolah Bertaraf Internasional merupakan suatu upaya modernisasi pendidikan atau kastanisasi pendidikan.

LANDASAN TEORITIS
            Fenomena merebaknya sekolah bertaraf internasional yang akhir-akhir ini mulai menghiasi dunia pendidikan nasional memang membawa angin segar dalam upaya peningkatan mutu dan kualitas pendidikan di Indonesia. Adanya sekolah bertaraf internasional (SBI) merupakan salah satu langkah untuk membawa pendidikan nasional kearah modernisasi. Modernisasi pendidikan menjadi wacana yang sering diperbincangan seiring lahirnya kebijakan dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang menjadi dasar lahirnya internasionalisasi dalam pendidikan. Internasionalisasi dalam pendidikan dianggap salah satu cara untuk membawa pendidikan nasional kearah modernisasi pendidikan. Modernisasi pendidikan itu sendiri dapat diartikan sebagai upaya pergeseran sikap dan mentalitas untuk dapat hidup di tengah tuntunan zaman yang saat ini tengah berada di era globalisasi, zaman dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi yang kian hari kian maju[5].
 Dengan dicetuskannya sekolah bertaraf internasional (SBI) yang merupakan wujud dari upaya internasionalisasi dalam pendidikan, diharapkan generasi penerus bangsa akan mampu menjadi bagian dari “masyarakat dunia”. Dalam arti, putra-putri Indonesia dapat berperan aktif  dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia, yang tentu juga akan membawa Indonesia kearah yang lebih maju.
            Namun, dibalik wacana “modernisasi pendidikan” yang digaungkan pemerintah melalui lahirnya sekolah bertaraf internasional, juga diikuti lahirnya sekolah dengan status Rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI), sekolah berstandart nasional (SSN), dan sekolah reguler. Keempat jenis sekolah ini lahir dengan segala hal yang membedakannya. Baik itu dari fasilitas, tenaga pendidik, bahkan pembayaran pendidikannya. dari segi biaya, sekolah reguler menduduki posisi sekolah ternurah bahkan sekolah gratis, yang kemudian disusul SSN, RSBI, dan SBI. Sedangkan dari segi fasilitas, cara pembelajaran dan tenaga pendidik, sekolah reguler pula yang menduduki kualitas terakhir, yang kemudian disusul oleh SSN, RSBI, dan SBI. 
            Adanya pebedaan antara keempat jenis sekolah tersebut, menegaskan bahwa dunia pendidikan telah terbagi menjadi strata-strata dari bawah hingga keatas. Seolah Ada sebuah kelas-kelas tersendiri bagi setiap jenis sekolah ini, yang secara tidak langsung juga semakin mempertegas sekat-sekat antara orang kaya, menengah dan orang miskin. Orang kaya untuk sekolah RSBI, dan SBI. Orang dari golongan menengah untuk sekolah SSN, dan orang miskin untuk sekolah reguler. Dengan arti lain, pemilahan jenis sekolah itu ditentukan berdasarkan sisi financial belaka. Yang tentu akan sangat berpengaruh terhadap kualitas pendidikan yang akan mereka peroleh. Secara tersirat, pemerintah telah melakukan diskriminasi dalam hal pemenuhan hak akan pendidikan yang layak antara orang miskin dan orang kaya.
            Hal ini senada dengan yang diungkapkan karl marx bahwa pada masyarakat kapitalis, terbagi kedalam kelas-kelas tertentu yang didasarkan pada kepemilikan materi[6]. Dalam era kapitalisme, marx menyebut ada kelas borjuis dan kelas proletar. Kelas borjuis adalah kelas untuk mereka yang memiliki alat-alat produksi atau dengan kata lain orang kaya. Sedangkan proletar adalah kelas untuk orang yang tidak memiliki materi, atau orang miskin. Diantara keduanya terdapat jurang pemisah yang sudah tentu juga akan berpengaruh terhadap pemenuhan hak-hak mereka. Dan pendidikan Indonesia, tengah berada dalam pengkotak-kotakan kelas tersebut. Dalam Pendidikan Indonesia telah ada tingkatan-tingkatan layaknya kasta yang membedakan golongan-golongan tersebut. Sehingga, bisa dikatakan bahwa kehadiran SBI, RSBI. SSN, dan sekolah reguler telah membawa pendidikan nasional ke ranah “kastanisasi pendidikan”.

PEMBAHASAN
A. Sekolah Bertaraf Internasional VS Sekolah Reguler dan orang kaya VS orang miskin
Pada dasarnya, pendidikan diselenggarakan dalam rangka untuk mendidik dan mencerdaskan rakyat untuk menuju taraf hidup yang layak, makmur dan sejahtera, serta mampu menopang pembangunan bangsa untuk terus berkembang sesuai tuntutan zaman. Dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945 menjelaskan bahwa salah satu tujuan nasional adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa” yang menyiratkan sebuah makna bahwa kemajuan suatu bangsa terletak pada kualitas sumber daya manusianya (SDM), dan SDM dapat dikembangkan melalui pendidikan.
Pemerintah sebagai salah satu pihak yang berperan dalam penyelenggaraan pendidikan, di tahun 2003 telah melahirkan UU No.20 tentang sistem pendidikan nasional yang menjadi cikal bakal munculnya sekolah bertaraf internasional. Pasal 50 ayat (3) menyatakan bahwa di setiap daerah setidaknya harus dikembangkan satu sekolah yang sesuai dengan standart internasional, dan pengembangan tersebut harus merata pada semua jenjang pendidikan.
Adanya Sekolah bertaraf internasional (SBI) memang diharapkan mampu memperbaiki kualitas pendidikan, dan mampu melahirkan output atau lulusan yang mampu bersaing dalam modernisasi pembangunan yang sangat mengedepankan aspek IT dan penguasaan bahasa asing. Oleh karena itu, proses pendidikan di SBI didukung oleh sarana prasarana yang maju dan canggih, tenaga pendidik yang berkualitas, perangkat ICT (information communication and technology) yang lengkap, dan penggunaan bahasa asing dalam setiap proses pembelajaran.
 Sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah negeri biasa yang hanya bergelar “sekolah reguler”. Sekolah dengan fasilitas seadanya, tenaga pendidik berkualitas yang terbatas,  bahkan dengan gedung yang sebenarnya sudah tidak layak pakai. Sekolah dengan atapnya yang bocor, ataupun sekolah yang atapnya ambruk seperti yang sering diberitakan, baik karena terjangan angin puting beliung ataupun karena rongrongan rayap kayu pada penopang atap. Belum lagi terkait masalah pendukung pembelajaran lainnya, seperti laboratorium dan pembekalan IT yang bisa dikatakan sangat minim. Sungguh, Dua wujud sekolah yang sangat berbeda.
Perbedaan diantara sekolah bertaraf  internasional (SBI) dengan sekolah reguler tentu tidak hanya dari fasilitas dan pembelajaran. Tetapi juga dari segi finansial pembayaran pendidikan. Di sekolah negeri reguler, para siswa bisa terlepas dari jeratan biaya karena adanya sokongan dari pemerintah berupa bantuan operasional sekolah (BOS). Lain sekolah reguler, lain lagi dengan sekolah bertaraf internasional. dari segi namanya saja, sudah terdapat makna bahasa yang jelas berbeda. Sekolah bertaraf internasional yang dilengkapi dengan sarana prasarana yang lengkap dan canggih, serta tenaga didik yang bermutu tentu lebih baik, bagus, dan berkualitas. Sekolah yang dituntut untuk sesuai dengan standart internasional inipun memaksa siswa untuk membayar ilmu dan layanan yang mereka peroleh dengan biaya yang tidak sedikit.
Sudah menjadi rahasia umum jika seseorang ingin bisa bersekolah di sekolah bertaraf internasional, mereka harus mau dan rela merogoh kantong dengan biaya yang bisa saja “tidak terkira” jika dibandingkan dengan sekolah negeri biasa pada umumnya. biaya pendidikan tertinggi dan terendah yang dibebankan kepada orangtua untuk sumbangan pembinaan pendidikan(SPP) per bulan tertinggi untuk SD Rp.150 ribu, SMP Rp.600 ribu, SMA Rp.450 ribu dan SMK Rp.250 ribu. Untuk sumbangan sukarela tertinggi untuk SD Rp.1 juta, SMP Rp.12,5 juta , SMA Rp.15 juta dan SMK Rp.2,7 juta[7]. mahalnya biaya yang harus dikeluarkan, seolah makin menegaskan bahwa sekolah ini hanya tercipta untuk dihuni oleh anak-anak dari golongan menengah keatas. Sedangkan mereka, anak-anak yang dilahirkan dalam status sosial yang rendah seolah hanya patut mengenyam pendidikan di “sekolah reguler”.
Ironis memang, jika melihat banyak anak yang pandai tapi tidak mampu menikmati fasilitas pendidikan yang bagus dan lengkap karena terkendala oleh status mereka yang miskin. Walaupun di dalam SBI juga disediakan kursi sebanyak 20% dari quota, untuk diduduki anak dari golongan tidak mampu. Tapi, tetap saja tidak semua anak negeri bisa menikmati fasilitas pendidikan yang bagus. Jumlah itu hanya untuk segelintir orang saja, sedangkan mayoritas penduduk indonesia saat ini tengah berada di bawah garis kemiskinan. Dan akhirnya, harus kembali pada kenyataan, bahwa orang miskin hanya layak mengenyam pendidikan sekelas “sekolah reguler”.
B. Kajian Fenomena Sekolah Bertaraf Internasional dengan biaya Mahal
 Sekolah bertaraf Internasional (SBI) adalah sekolah yang dituntut untuk bisa memiliki kualitas setara dengan kualitas internasional yang berstandart pada negara-negara maju dalam pendidikan seperti Amerika Serikat dan Australia. Sekolah yang bisa masuk kategori sekolah bertaraf internasional ini memiliki kriteria dan standart-standart tertentu, diantaranya:
·      Input
Input di dalam sebuah sekolah terdiri dari: siswa, dan tenaga pendidik.
§  Siswa
Siswa baru di sekolah bertaraf internasional diseleksi secara ketat melalui nilai rapor, Ujian akhir sekolah, ujian masuk SBI, tes kesehatan fisik dan wawancara.
§  Tenaga Didik
1. memiliki kemampuan profesional, kepribadian, dan sosial yang baik.
2. memiliki kemampuan berkomunikasi dalam bahasa asing khususnya bahasa inggris.
3. memiliki kemampuan untuk menggunakan alat pembelajaran yang berbasis ICT (information communication and technology).
·      Proses pembelajaran
Proses pembelajaran dalam sekolah bertaraf internasional menggunakan sistem billingual atau bahasa pengantar dalam dua bahasa yaitu Indonesia dan Inggris. Selain itu, juga menggunakan media pendidikan yang berbasis teknologi.
·      Sarana dan prasarana
Sarana dan prasarana dalam sekolah bertaraf internasional pada umumnya berbasis ICT. Ruangan kelas ber-AC, kelas dipenuhi dengan media pembelajaran multimedia, serta fasilitas olahraga dan seni.
Beragam standarisasi dengan fasilitas mewah tersebut membawa pada konsekuensi nyata bahwa kenyamanan itu harus dibayar dengan biaya pendidikan yang mahal.
Untuk memenuhi beragam kebutuhan penunjang pendidikan, sekolah memiliki wewenang dan dihalalkan oleh pemerintah untuk menarik biaya dari siswa. Jumlah biaya itupun tidak tanggung-tanggung, mencapai hingga jutaan bahkan puluhan juta rupiah.
C. Modernisasi pendidikan, Kastanisasi pendidikan dan peran pemerintah
Lahirnya sekolah bertaraf internasional di satu sisi merupakan bagian dari upaya “modernisasi pendidikan” yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional seiring tuntutan arus globalisasi yang membawa perkembangan ilmu dan teknologi yang kian maju.
 Namun, di sisi lain Pembagian status sekolah menjadi SBI, RSBI, SSN dan sekolah reguler juga telah menandakan bahwa pendidikan telah mengenal sistem kasta. Telah ada diskriminasi untuk anak-anak dari golongan atas, menengah, dan bawah. Anak dengan ekonomi yang memadai layak untuk masuk kesekolah bertaraf internasional. sedangkan yang dengan ekonomi pas-pasan harus puas dengan sekolah berstandart Nasional (SSN). Dan, golongan yang paling bawah harus pasrah pada takdir bahwa mereka hanya layak merajut mimpi di sekolah reguler.
Sistem kasta dalam dunia pendidikan saat ini, seolah mengembalikan indonesia seperti pada saat penjajahan kolonial belanda. Dimana penduduk pribumi dibatasi dalam memperoleh pendidikan. pemerintahan belanda mengkotak-kotakan sekolah menjadi sekolah untuk kaum pribumi, kaum kulit putih, dan china. Atau dengan kata lain, sekolah khusus untuk melayani orang kaya, sekolah khusus untuk orang pintar, dan sekolah khusus untuk orang melarat. Penyekatan sekolah-sekolah berdasarkan status sosial, makin menepis hakikat sekolah sebagai tempat akulturasi antara orang miskin dan orang kaya.   
Padahal dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 telah diamanatkan bahwa pendidikan adalah hak setiap warga negara, dan pemerintah memiliki kewajiban  untuk menyelenggarakan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai dan terjangkau oleh semua rakyat indonesia, mulai dari tingkat dasar hingga tingkat perguruan tinggi. Dalam UU No.20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 5 ayat (1) dan pasal 11 ayat (1) juga  mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhak untuk memperoleh pendidikan yang bermutu “tanpa ada diskrimasi”. Pengertian “hak” menunjukkan bahwa akan ada jaminan pemenuhan, adanya pihak yang berperan dan terlibat sebagai aktor yang bertanggung jawab. Dan dalam masalah ini actor itu adalah pemerintah.
Seiring munculnya “kastanisasi pendidikan”, janji negara dalam hal pemenuhan hak pendidikan yang layak tanpa diskrimasi mulai dipertanyakan. Pendidikan yang baik dan berkualitas memang  membutuhkan biaya. namun, bukan berarti rakyat miskin yang harus kembali disengsarakan. Haruskah mereka kembali dibebankan dengan ketidakadilan dalam hal pemenuhan hak akan pendidikan yang layak tanpa diskriminasi.
Jika pemerintah memang berniat untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan nasional, seharusnya modernisasi pendidikan itu ada serentak untuk semua sekolah, baik yang diperkotaan ataupun di pelosok negeri di indonesia. Pemerintah tidak seharusnya hanya me”wah”kan sekolah-sekolah dikota, dan hanya beberapa sekolah saja. Sedangkan sekolah lain di pelosok negeri berada di bawah standart kelayakan. Karena pendidikan yang layak, bagus, dan berkualitas adalah hak semua warga Negara bukan hanya menjadi milik sebagian orang. Dengan pendidikan yang berkualitas, maka rantai kemiskinan yang lama diderita negeri ini akan mudah untuk dilepaskan.
Di tengah carut-marutnya perekonomian Indonesia, kendala biaya memang akan sangat berpengaruh terhadap upaya modernisasi pendidikan ke seluruh pelosok negeri. Namun, hal itu bukan menjadi sebuah hambatan tatkala pemerintah memang bersungguh-sungguh untuk mewujudkannya. Pemerintah harus benar-benar mengalirkan dana pendidikan sebesar 20% dari APBN dan APBD seperti yang diungkapkan dalam UUD 1945 pasal 31 ayat (4) murni untuk kegiatan pendidikan. Bukan untuk dinikmati oleh kalangan pejabat itu sendiri. Karena pendidikan adalah salah satu hal yang paling esensi dari berdirinya dan berkembangnya suatu Negara. Jika pendidikan di suatu Negara baik, maka Negara tersebut akan semakin mudah untuk berkembang, begitupun sebaliknya.
Upaya modernisasi pendidikan itupun dapat dilakukan secara bertahap. Dimulai dengan upaya modernisasi pendidikan berbasis local, artinya sekolah baik yang di desa ataupun dikota mendapatkan perlakuan yang sama dari segi sarana prasarana, tenaga pendidik, ataupun cara pembelajaran. Sehingga tidak akan ada lagi perbedaan kualitas dan tidak akan dikenal lagi istilah sekolah “maju/unggulan” dan “sekolah pinggiran”. Dan sekolah yang bagus, bermutu dan berkualitas akan ada tidak hanya untuk orang kaya, tapi untuk semua anak negeri ini.
Dan untuk mewujudkan hal tersebut dibutuhkan kerja sama dan kesungguhan dari pemerintah, baik pemerintah pusat ataupun pemerintah daerah beserta masyarakat indonesia pada umumnya. Sehingga tujuan Negara untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa” akan segera terwujud.

KESIMPULAN

 Sekolah bertaraf internasional (SBI) merupakan wujud upaya pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional dengan cara proses internasionalisasi pendidikan. Sekolah ini dituntut untuk menjadi sekolah yang sesuai dengan standart sekolah internasional di Negara-negara maju yang mengedepankan teknologi dan penguasaan bahasa asing. Keunggulan-keunggulan yang dimiliki SBI, menuntut adanya sebuah hubungan timbal balik dengan sisi financial pembayaran pendidikan yang tergolong sangat mahal. Sehingga, saat ini SBI masih dikatakan sekolah  milik anak-anak dari golongan atas. Sedangkan mereka dari golongan bawah, yang jika didasarkan pada amanat UUD 1945 pasal 31 juga berhak atas pendidikan yang layak, justru saat ini memiliki peluang yang sangat sedikit untuk bisa menikmati pendidikan yang layak dan bermutu sekelas SBI. Dan tentu, hambatan itu terkait dengan beban biaya yang harus ditanggung.
Upaya pemerintah untuk membawa pendidikan nasional ke ranah “modernisasi pendidikan” dengan cara melahirkan SBI, yang kemudian diikuti RSBI, SSN, dan sekolah reguler secara tidak langsung juga membawa pendidikan nasional ke arah “kastanisasi pendidikan”. Yaitu, pembagian kelas-kelas sekolah yang didasarkan pada kualitas dan mutu pendidikan yang juga berujung pada pengelompokan strata berdasarkan kemampuan financial dalam pembayaran pendidikan. Anak dengan kemampuan materi berlimpah untuk sekolah SBI dan RSBI, golongan menengah untuk SSN, dan golongan bawah untuk sekolah reguler. Pengkotakan-kotakan kelas-kelas sekolah ini menyiratkan sebuah makna bahwa sekolah yang bagus, bermutu, dan berkualitas hanya ada untuk anak-anak orang kaya. Dan bisa dikatakan bahwa pendidikan nasional saat ini telah melanggar amanat UUD 1945 yang menyatakan bahwa setiap warga Negara berhak untuk memperoleh pendidikan yang layak tanpa ada diskrimasi.


[1] Undang-Undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (online)http://downloads.ziddu.com/downloadfile/3395384/UUSikdiknas.PDF.html diakses pada tanggal 31 desember 2010

[2] Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945. 2004. Surabaya: penerbit Apollo

[3] Kompas. 2010. 7 mei. “kastanisasi pendidikan”. Halaman 11

[4] Ibid.,
[5]Thamita. 2006. Modernisasi pendidikan. (Online) (http://thamita.multiply.com/journal/item/45/Modernisasi_Pendidikan diakses pada tanggal 3 januari 2011.

[6] Ritzer, George dan Dogman, douglas. 2010. Teori sosiologi: dari teori klasik sampai perkembangan mutakhir teori social post modern. Bantul: kreasi wacana.

[7] Wardoyo, cipto. 2010. Orang miskin dilarang sekolah!.(online). http://soulofcipta.blogspot.com/item/32/orang-miskin-dilarang-sekolah.html diakses pada tanggal 2 januari 2011

Kamis, 16 Juni 2011

“Doa surga bidadari dunia”


“Indah dunia terasa mendekap hampa hati. lelah kaki melangkah, suara hatiku pun makin lemah.  Masih adakah cinta yang tersisa untukku, jiwa yang sepi”.
“Astaghfirullah…. Apa yang aku pikirkan? Ya allah, ampuni hamba. Saat ini, Aku tengah di lorong gelisah. Terkulai lemah dalam keputusasaan. Aku tiada berdaya tanpa pertolonganmu… Tiada daya kuatnya jiwa tanpa anugrahmu ya allah… dunia membawaku larut dalam deritanya, dan aku terjebak hingga lupa bersyukur padaMu walau dalam setiap tetes tangis mataku. Maafkan hamba ya Ilahi.. izinkan ku mencintai-Mu dan cinta ini hanya akan ku persembahkan untuk-Mu. Bantulah diri ini agar mampu menerima setiap lembaran kasih kehidupan dengan penuh ketulusan ya Rabb..”.
Bulir air mata jatuh membasahi kertas merah jambu tempat dimana ia biasa menuangkan segala keluh kesah sang hati. Entah kenapa. Hatinya tergerak untuk mengirimkan impuls pada saraf untuk menggerakkan tangan, dan membuka laci meja tempat ia menulis sedari tadi. Tangannya bergerak mengambil sebuah kotak merah yang bertuliskan “Fajri & Nurfa” di kedua sisi sebuah gambar hati. Perlahan, dia membukanya. Tanpa ia hiraukan air mata yang terus jatuh bak gerimis di padang pasir.
Secarik kertas tergulung rapi ia ambil setelah terlebih dulu memeluk dengan hati foto-foto dalam kotak, yang tak lain adalah fotonya bersama pangeran hati yang sangat ia cinta.
                                   
                                                                                                Baghdad, 19 Maret 2004
Assalamualaikum warahmah wabarakah
Teruntuk bidadari dunia, yang ku harap juga akan menjadi bidadari surgaku kelak

Hatiku mengucap rindu padamu dinda, sangat…. Diri ini sangat merindukanmu dan bidadari-bidadari kecil kita. Disini, Aku menunggu waktu untuk mempertemukanmu denganku, dan aku menanti hari, saat dapat kuuungkapkan seluruh rindu dan cintaku padamu. Walau aku tak tahu, adakah hari itu untukku.
Dinda…   maafkan aku jika aku tak lagi mampu memberimu sabda-sabda cinta. Bukan karena aku tak lagi mencintaimu, tapi karena kita hanyalah manusia yang tak kuasa atas segala sesuatu yang akan terjadi. Aku yakin, kaupun mengerti bahwa cinta ilahi harus ada di atas segalanya. Karena Allah lah pemilik kita. kita hidup karena tuhan mencintai kita, dan kita hidup untuk mencintai tuhan. Bukankah begitu sayang? Dan karenanya, tiada kuasa kita dalam urusan kelahiran dan kematian.
Cahayaku, seribu puisi ku tulis ditengah ancaman bom, meriam, dan suara tembakan. Namun, ku pastikan akan tersimpan rapi di selaksa hatiku, dan tahukah kau? Semua puisiku berkisah tentang seorang perempuan yang dari teduhnya pandangan, manisnya senyuman, dan halusnya tutur kata selalu menenangkan jiwaku. Wanita yang selalu menjaga kehormatan diri dan suaminya. Serta Wanita yang selalu mengantarkanku dengan doa dan senyuman setiap hari, hingga akhirnya aku harus bertugas di daerah dengan hawa anyir dan suara rintih isak tangis ini, kaupun mengantarkanku dengan doa, senyuman, dan kau berkata “mas… hati-hati ya,semoga tugas disana dapat berjalan lancar dan semoga kehadiranmu selalu membawa kebaikan. bersama mentari ku menunggumu disini. walau sebenarnya aku selalu tak ingin bermain berlama-lama dalam kuntum rindu yang amat besar terhadapmu. tapi inilah salah satu cara merangkai kehidupan bermakna bukan? kala kita mampu hidup berdampingan tidak hanya dengan ego, tapi juga dengan kewajiban, tugas, hak, ukhuwah dan amalan.”dan ku kecup keningmu waktu itu.semoga itu tidak untuk yang terakhir kalinya.
 Sayang.. Aku yakin kaupun berat untuk melepasku ke tanah perang ini, tapi aku tahu dirimu wanita yang tegar yang rela melepasku demi kewajiban yang mulia walau hatimu harus menangis untuk itu. tapi tenanglah sayang… aku disini baik-baik saja dalam lindungan-Nya. Dan jika Allah menghendaki aku untuk pulang ke rumah, tentu aku sangat mengharapkan itu… aku rindu sambutan kemesraan olehmu untukku. Dan disaat ini, sungguh ingin rasanya ku memandang keindahan matamu. Mata yang dulu dengannya aku bisa melihat cinta. Ingin kupegang erat jemari tanganmu, yang bersamanya aku bisa melukis indah pelangi kehidupan.
Sayang….  Indahmu selalu menghiasi diriku, engkau adalah anugrah terindah tuhan untukku. Begitu juga halnya dengan bidadari-bidadari kecil kita, amalia dan zulfa. Didiklah mereka tuk menjadi sepertimu, berbalut ilmu dan berselimut akhlak, serta menjadi seseorang dengan ketulusan hati dan keikhlasan jiwa. Tentu, akupun mengharapkan mereka untuk menjadi bidadari dunia sepertimu.

Dinda…. Jika aku tak mampu kembali, aku tetap merindukan kalian, merindu untuk berkumpul bersama kalian. Dan semoga Allah kan mengabulkan kerinduan ini, di surga nanti, dan semoga kebahagiaan dihadiahkan untuk kita wahai bidadariku…
Akhir kata, peluk cinta kasihku untuk bidadari-bidadariku selalu….
Wassalamualaikum warahmah wabarakah
Tanpa disadari, bulir-bulir bening itupun kian pecah mengalir diantara kepingan  memoar masa lalu. Peristiwa yang membawanya pada episode baru kehidupan. Ya… hanya sepucuk surat itu, kenangan terakhir antara dirinya dengan laki-laki itu.
“ya allah… hanya Kau yang sanggup bawa diriku masuk indah rencanamu. kuatkan hatiku untuk selalu berpegang teguh pada cinta ilahi. Ku mencintainya karena-Mu, dan kini ku ikhlaskan dia tuk bersama-Mu.”
Sebuah alunan kata hati mengalir indah dari bibir ranum yang sayu. Ya… kecantikan hati yang terpancar, keteduhan jiwa yang menenangkan, sejenak syahdu oleh kabar mengenai meninggalnya journalist asal Indonesia, dan orang itu tak lain adalah laki-laki yang paling ia cintai, fajri. Tembakan dan bom telah mengantarkannya mati syahid bersama tugas yang diembannya sebagai journalist berita salah satu media massa.
 Perlahan…teratur, dia terjatuh. Tenggelam dalam riak tangisnya. Namun itu tak lama, diapun langsung memeluk dua putrinya. Berusaha menenangkan keduanya.
“Lia…zulfa… ayah sayang sama kalian. ayah orang yang baik, sangat baik… hingga allah pun menyayanginya dan cepat-cepat memanggilnya ke surga. Sayang…kita hanyalah manusia, yang hidup karena cinta Allah dan hidup untuk cinta kepada Allah pula. Sehingga setiap manusia pasti akan mengalami apa itu kelahiran dan kematian, Termasuk ayah. Tentu, kalau manusia bisa menolak kematian, ayah pasti akan menolaknya karena ayahpun pasti masih ingin melukis pelangi dalam sebaris tawa bersama kalian dan menyaksikan kalian menapaki perjalanan mimpi seindah pelangi. Lia.. zulfa… jangan lupa rangkai doa untuk ayah ya sayang…”
Ya… kesedihan itu tak bertahan lama. Adalah ia yang tak ingin berlama-lama dalam jerit pahit kehidupan. Adalah ia yang kan segera mengubur pahit takdir sedalam waktu. Ia percaya walau gerimis menghujani hidupnya saat ini, pasti akan ada pelangi jika mau bersabar nanti. Sungguh, rencana tuhan jauh lebih indah dari segala rencana manusia. Walau dia tak setegar batu karang, tapi dia tak ingin orang lain terutama bidadari-bidadari kecilnya melihat kesedihan, dan turut berduka atas adanya.
 Alunan cerita hidupnya mulai menapaki episode baru, dia harus berjuang sendiri mendidik dan membesarkan putri-putrinya. Amalia Sabrina fajri, putri pertamanya yang kala itu tengah duduk di bangku kelas 6 SD, dan Alanis Zulfania fajri di kelas 3 SD. Saat itu, Tentu dia takkan mampu menopang ekonomi keluarga hanya dengan mengandalkan gajinya sebagai guru SD. Dan hal itu menuntut dia untuk mulai merintis usaha dari bawah. dia membuka usaha kue-kue kering. Di awal perjalanan usahanya, ia titipkan di toko-toko terdekat sembari menunggu modal terkumpul, dan ketika hal itu terwujud ia melebarkan sayap hingga ke segala jenis roti, dan ia pun mulai membuka toko kue-roti sendiri, yang perlahan mulai berkembang sangat pesat hingga kini.
Walaupun waktunya selama ini memang benar-benar telah terbagi, antara jadwal mengajar, membuat kue, dan waktu bersama putri-putrinya. waktu yang paling berharga adalah waktu bersama putrinya, sesibuk apapun dia, dia selalu menyempatkan diri tuk makan bersama, menemani mereka belajar, mendengarkan keluh kesah sang buah hati, serta shalat berjamaah dan mengaji bersama di hampir setiap waktu shalat. dengan penuh ikhlas dia menjalani semuanya. dia tetap melangkah meski lelah, tetap tersenyum meski sulit, dan tetap sabar di tengah takdir.

“Mas… Hari telah berganti, waktupun berlalu setelah kepergianmu. Enam tahun sudah kau pergi meninggalkanku, sebuah kado terpahit yang tak pernah ku bayangkan akan hadir di hari kelahiranku, tanpa aku bisa melihat wajahmu tuk yang terakhir kali. Namun, yakinlah, Kisah yang telah kau berikan kepadaku kini kubingkai indah Seperti kau membingkai hari untukku. Tak mau kuhapus, walau kini kita telah berada di dunia yang berbeda
Angin malam…Dengarlah …Tentu kau bisa cium wanginya bait-bait kesepianku. Terbangkanlah hingga ia menciumnya. Bawalah pula rasa rindu ini untukknya. Katakan padanya, bersama mentari aku menanti cintanya dalam fananya  Dunia dan kekalnya akhirat.”

Air mata kian menderas, oleh kenangan sedih yang tak mampu terlukis oleh kata-kata. Dia mencoba untuk bisa mengendalikan diri. Beranjak dan menuju kamar mandi di luar kamarnya. Dan seiring mengalirnya air dari kran, perlahan ada sebuah kejernihan hati yang berhasil mengalahkan emosi kewanitaannya. Ia mulai Menangkupkan kedua telapak tangannya dalam dingin dan sejuknya air wudhu di pertengahan malam itu. Khusyu’ ia basuhkan air itu di wajahnya. Ia biarkan dinginnya meresap hingga ke dalam hatinya. Biarkan tetesan air suci ini membersihkan kotornya tubuh dan hati.
Maha Suci Engkau Ya Rabb..
Sungguh wanita penuh dosa ini kembali lagi mencari kesempurnaan dalam mata air Kesucian-Mu.. Dan dalam kekerdilan dan kerapuhan diri ini, izinkan hamba berlindung dalam Ketinggian dan Kesempurnaan cinta yang utuh menjadi milik-Mu..”
Rahasia hidupku hanya Kau yang tahu. Hanya pada-Mu ku memohon penuh harap dalam setiap sujudku.  Hamba bermohon dengan segala Kemahabesaran-Mu agar Engkau berkenan melapangkan hati hamba.. Menyamuderakan cinta hamba.. Meluaskan kemaafan dan kesyukuran hamba.. Hingga hamba sanggup menerima segala beban penggelayut jiwa ini dengan segala sikap dan amalan yang Engkau Ridhoi saja..
Ya Rabb…., sayangi aku dalam anugrahmu. Aku tak punya apa-apa, selain hati yang akan selalu menunggu sapa-Mu. Rengkuh aku dalam hangat cinta-Mu. Hingga waktu kan menyapa, dan akhirnya aku terlelap dalam penyerahan sempurna dalam pelukan bumi.
Rembulan makin elok dalam keteduhan sang malam. dalam gelap, senyumnya laksana sayap-sayap malam yang ramah, masuk melalui tingkap-tingkap tertutup membawa cahaya yang ia pinjam dari mentari. Dalam harap, cahayanya mampu membawa secercah sinar walau dalam bayangan gelap hidup sang malam. Berharap mampu menghapus jejak-jejak aliran air mata kenangan.  Cahaya itupun mencubit manja wajah perempuan bernama nurfa yang terkulai dalam lelap mimpi. Mimpi yang manis nan indah dari kenyataan yang akan ditemuinya saat terjaga. Beruntunglah cahaya dikarunia kemampuan tuk mampu menelusup tingkap-tingkap kaca, hingga ia mampu menjadi teman malam dalam kesendiriannya bermimpi. Hingga, batas waktu dinas rembulan pun berakhir, dengan harap mentari pagi kan membawa senyum bersamanya.
xxxxxxxxxxx
sebuah kecup hangat melayang di pipi ranum sang hawa, perlahan… dia tersadar.
“bunda…. Selamat ulang tahun.” Ucap dua gadis yang telah berdiri di hadapannya dengan sebuah kue tart.
“sayang…. Makasich ya…” ucapnya haru
“maaf bunda… kita gak punya hadiah special buat bunda, tapi kue cinta buatan tangan kita ini, serta doa khusus dan special teruntuk bunda tercinta” ucap lia
“bunda kan pernah bilang, ngebahagiain seseorang gak harus dengan sesuatu yang bernilai materi, yang penting dengan ketulusan hati dan keikhlasan jiwa, ya kan bunda?” lanjut zulfa
“dan kue cinta ini terangkai dari tangan-tangan tulus yang dilandasi cinta kasih kami tuk bunda”
“serta doa agar bunda tetap bersinar walau telah memasuki kepala empat, diperpanjang umurnya, dipermudah rezekinya, diberkahi kesehatan, dan….”
“semoga harapan bunda yang juga menjadi harapan lia dan dek zulfa, akan ayah, bunda, dan kita dihadiahi allah untuk menjadi sebuah keluarga bahagia di surga kelak dikabulkan oleh Allah.  
“amien….. makasich lia, zulfa… kehadiran kalian, prestasi-prestasi kalian, serta keshalihan kalian, adalah sesuatu yang paling indah buat bunda.” Seraya memeluk kedua putrinya
“kita tak akan bisa seperti ini tanpa bunda..”  
“doakan kami ya bunda…. Doakan lia agar lia bisa betah di mesir dan bisa memanfaatkan beasiswa itu untuk  menambah ilmu yang bermanfaat, memperbaiki akhlak, budi pekerti dan kepribadian lia”
“tanpa lia mintapun, doa bunda akan selalu terangkai untukmu dan zulfa. Lia di mesir hati-hati ya, jaga kehormatanmu sebagai seorang wanita. Timbalah ilmu sedalam-dalamnya, serta tingkatkan amal ibadah dan akhlakmu. Jika kau sedang sendiri dalam sepi, dan hanya ada rindu yang menemanimu. Lia tahu kan apa yang harus dilakukan?”
“ya bunda… penguasaan atas emosi yang terbaik dengan wudhu dan shalat, bersujud kepada sang pemilik Rindu”
“bunda… doain zulfa juga” oceh zulfa tak mau kalah
“wah… dek zulfa takut gak kebagian ya doanya bunda, hehehe….”
“ah… mbak lia..
Bunda… doaian zulfa semoga zulfa bisa lulus dengan nilai terbaik, dan bisa diterima di sma favorit zulfa. Terus… semoga zulfa juga bisa berprestasi seperti mbak lia, bahkan bisa lebih dari mbak lia”
“huuu…. Maunya..”
“doa bunda juga akan terus ada untuk zulfa. Bunda yakin zulfa bisa menggapai mimpi-mimpi zulfa asalkan dibarengi dengan usaha, ikhtiar dan doa.
Doa bunda akan selalu untuk kalian, bunda sayang putri-putri bunda. Ayahpun begitu, pasti ayah juga tersenyum bangga pada kalian. Semoga, doa kalian juga dikabulkan oleh Allah. Semoga kelak kita dihadiahi allah untuk menjadi sebuah keluarga bahagia di surga. Semoga kerinduan ini akan dipertemukan di surga. Karena di surga, menara-menara cahaya menjulang untuk hati yang saling mencinta karena-NYA.
“amien” ucap mereka serentak.


Selasa, 14 Juni 2011

“You are what you think” dalam “Limit” dan “Border”

 
 “You are what you think”. Kamu adalah apa yang kamu pikirkan. Pandangan kita terhadap ihwal diri kitalah yang akan menjadi kenyataan untuk kita. Baik itu masalah keberhasilan ataupun kegagalan dari berbagai usaha pencapaian hidup.
Hal senada juga diungkapkan oleh Stephen R. Covey dalam bukunya The 7 Habits of Highly Effective People bahwa kita melihat dunia, bukan sebagaimana dunia apa adanya, melainkan sebagaimana kita adanya atau sebagaimana kita dikondisikan untuk melihatnya. Jadi, dunia masa depan semuanya tergantung dari bagaimana kondisi dan kemampuan kita dalam menyambut kedatangannya. Terkait kondisi dan kemampuan dalam usaha menapaki mimpi, saya teringat pada seseorang yang mengaitkannya dengan konsep “limit” dan “border”. Apa hubungannya dengan dua kata itu?? jujur, saya pun bertanya-tanya,  tapi syukurlah allah memberikan jalan bagi pikiran saya untuk menelaahnya, dan semoga hal itu mampu mengubah saya dan sahabat…..
Limit dan border jika hanya dilihat secara kasat mata memang hanya sebuah kata sederhana. Limit hanya berarti “batas” dan border dengan “perbatasan”. Sederhananya, Batas merupakan sesuatu yang memang tidak bisa kita lampaui. Sedangkan perbatasan adalah sesuatu yang harus kita lewati.
Tapi, tahukah sahabat? Bahwa  dua kata ini memiliki makna yang tidak sesederhana makna kamus belaka, lebih dari itu keduanya memiliki makna yang mendalam dalam diri kita…
 Coba kita perhatikan orang-orang yang kita idolakan. Saya sendiri misalnya, saya seorang  penggemar sastra, dan sangat mengidolakan pramodya ananta toer dan asma nadia. Orang-orang besar  seperti mereka adalah orang yang mampu melintasi perbatasan mereka sendiri. Tak ada kesuksesan yang datang sendiri bukan?, hanya dengan perjuangan dan doa lah allah akan mengirimkan kesuksesan itu untuk kita.
Melintasi perbatasan diri sendiri erat kaitannya dengan perjuangan. Nah… hal ini yang cukup berat tuk dijalankan, termasuk bagi saya…. Jujur, saya sendiri masih sering dihinggapi rasa malas, dan tetap enjoy dengan kehadirannya… selain itu, juga sering hadir sikap suka menunda sesuatu. “Ah… masih ada hari esok..” kalimat itu yang sering hadir dalam benak saya ketika hendak membuat suatu karya, dan akhirnya…. Karya itupun gak pernah ada yang terwujud. Klopun terwujud mungkin masih  akan lebih bagus jika saya langsung menuliskannya ketika inspirasi itu datang. Huhft…. Sifat yang buruk memang…
Kita juga  seringkali menciptakan batas bagi kemampuan kita sendiri. Kita meyakininya sebagai garis yang yang tidak mungkin kita lintasi. Padahal, sejatinya ia adalah perbatasan, sesuatu yang mestinya kita ciptakan untuk suatu saat kita lampaui. Memang selalu ada batas untuk kemampuan kita, tetapi barangkali kita tidak pernah dan tidak perlu tahu di mana batas itu. Kadang-kadang kita gagal mengembangkan diri lantaran terlampau yakin bahwa kita sudah sampai di garis batas.  Berangkat dari pengalaman saya sendiri saja, dulu pas sma saya sangat lemah dan kesulitan dalam segala mata pelajaran, khususnya fisika. itu karena saya dulu menciptakan batas yang terlalu sempit untuk kemampuan saya. ”aku gak bisa”  ”aku gak ada bakat disini” dan saya juga berpikir bahwa saya tidak akan bisa menjadi seperti teman-teman saya yang menguasai bidang ilmu itu. Padahal sebenarnya, tepat pada saat saya berpikir semacam itu, sesungguhnya saya telah menetapkan batas yang mengungkung dan mengerdilkan diri saya sendiri.
Dan syukurlah allah mempertemukan saya dengan orang yang menyadarkan dan menginspirasi saya. Allah tentu tidak ingin saya dan umatnya yang lain berlama-lama berada dalam ranah ini.
Hingga saat ini saya senantiasa berupaya meyakinkan diri saya bahwa hari ini kita belum mencapai batas akhir kemampuan kita. Oleh karenanya, kita harus senantiasa beribadah, belajar, dan berlatih. Karena dalam beribadah kita menjadi sadar bahwa kita bisa lebih baik dari hari ini. Dalam belajar, kita menjadi yakin bahwa kita bisa lebih cerdas dari hari ini. Dalam berlatih, kita menjadi tahu bahwa kita bisa lebih terampil dari hari ini.
Teruslah bermimpi sahabat,,, teruslah berkarya. berpikirlah positif terhadap masa depan, janganlah takut membentangkan permadani mimpi seluas samudera, karena dengan bermimpilah kita bisa memiliki masa depan. Dan yakinkan diri bahwa kita bisa menggapainya, karena keyakinan adalah sebagian dari kenyataan. Keyakinan adalah pijakan awal kita dalam langkah menapaki perjalanan mimpi. Tanpa mimpi, tak akan ada yang namanya masa depan. Dan tak ada keyakinan, juga takkan ada mimpi itu di masa depan. Semoga mentari esok masih bersinar saat waktu mempertemukan kita dalam kesuksesan mimpi....;)

Hanya secarik coretan tuk motivasi diri saya, dan semoga juga berarti bagi kalian sahabatku….^^

Senin, 02 Mei 2011

Review Film “ORPHAN”


Film ini diawali dengan kisah sedih yang melanda keluarga coleman. Pasangan kate coleman dan john coleman tengah berada di masa-masa sulit mahligai pernikahan mereka. Kate coleman mengalami keguguran di rumah sakit. Dan sejak saat itu kate mengalami depresi, dan gangguan psikologis, karena Kehilangan seorang anak merupakan sebuah pukulan berat bagi seorang ibu, termasuk baginya. Kate dan john tentu tidak mau terus terpuruk dalam mimpi buruk terkait kehilangan calon anak mereka, dan akhirnya mereka sepakat untuk mengadopsi seorang anak dari panti asuhan. Meskipun sebenarnya mereka sudah memiliki dua orang anak, yaitu Daniel dan Max yang bisu dan tuli sejak lahir.
Di panti asuhan mereka bertemu dengan gadis cilik yang manis dan pandai serta memiliki kemampuan melukis. Kate dan john langsung jatuh hati padanya. Dia bernama esther, berusia 9 tahun dan berasal dari Rusia. Menurut katerangan dari suster perawat panti, keluarga terakhir yang  mengadopsinya tewas dalam sebuah kebakaran. Dan akhirnya, kate dan john resmi mengadopsi esther dan membawanya ke rumah mereka dan diperkenalkan dengan max dan daniel. Max langsung menyambut gembira kedatangan Esther, tapi Daniel sangat membencinya. Karena gaya berpakaian Esther yang kolot dan caranya memandang yang tidak biasa.
Setelah kehadiran esther, keluarga yang harmonis itu perlahan-lahan mulai diliputi masalah. Harapan akan kehadiran esther yang mampu memberikan suasana baru dalam keluarga coleman sirna oleh perilaku Esther yang misterius dan cenderung sadis. Esther juga berhasil menyakiti salah seorang teman sekelasnya yang sering mengganggunya. Dia mendorongnya dari tempat permainan hingga mengalami patah tulang. Selain itu, Ketika suster Abigail yang bekerja di panti asuhan tempat esther dulu dirawat menelepon, Kate langsung menceritakan kejadian itu kepadanya. Keesokan harinya, suster Abigail datang ke rumah mereka untuk membicarakan sesuatu. Ia mengatakan kalau mungkin Esther memiliki keanehan. Karena dimana ada keributan atau kecelakaan, dia selalu ada disana. Dia menawarkan untuk membawa Esther kembali ke panti asuhan.  Dan Esther yang mengetahui niat suster Abigail untuk membawanya ke panti, dia memaksa max untuk membantunya menggagalkan rencana tersebut dengan cara mencelakai suster abigail. Esther berhasil membunuhnya dengan menghantam kepalanya. Max yang ketakutan hanya bisa menurut, dia diancam dan diminta untuk merahasiakan peristiwa tersebut. Esther lalu menyembunyikan bukti-bukti pembunuhan di rumah pohon milik Daniel.
Kate mulai melihat keanehan-keanehan ini, tapi usahanya untuk memberitahu john gagal. John menganggap sikap Kate hanyalah reaksi dari kegelisahan yang berlebihan dan sebagai efek dari ketidakstabilan jiwa yang pernah kate alami dulu. Dan esther, sadar bahwa kate telah mulai curiga hingga ia mengadu pada john bahwa ibunya (kate) kurang menyukainya. John mencoba meyakinkan esther bahwa kate juga sangat menyayangi dia, dan john juga menganjurkan esther untuk melakukan suatu hal yang mampu membuat kate senang. Tapi, esther justru menyakiti hati kate  dengan membingkainya dengan usaha ingin menyenangkan hati kate melalui sebuah pemberian. dia memotong semua mawar putih yang ditanamnya di makam Jessica, anak perempuannya yang meninggal waktu dia keguguran. Kate menarik lengan Esther, Dia menjerit kesakitan dan untuk menarik perhatian John dengan sengaja dia menjepit lengannya hingga patah untuk mengesankan karena kate lah tangannya patah.
Kate berusaha untuk melindungi keluarganya dari ancaman esther. Dia mencari tahu latar belakang Esther yang ternyata dia dulu tinggal di Saarne Institute, sebuah rumah sakit jiwa di Estonia. Dia menghubungi rumah sakit itu tapi mereka mengatakan tidak mengenal pasien bernama Esther. Kate lalu mengirimkan fotonya melalui email dan menunggu mereka mengecek lebih jauh. Kate khawatir esther akan menyakiti anak-anaknya, max dan daniel. Dan esther memang akan terus mengancam keselamatan keluarga coleman. Di saat kate mengantarkan daniel, max dan esther ke sekolah, esther mencoba mencelakai max yang berada dalam mobil sendirian dengan mematikan rem mobil, dan mnegsankan bahwa kecelakaan itu adalah karena kelalaian kate.
Dan Daniel akhirnya nekad untuk membongkar kejahatan Esther. Dari Max dia mengetahui kalau Esther menyimpan barang bukti pembunuhan suster Abigail di rumah pohon. Diam-diam dia naik dan memeriksa tempat itu, tapi ternyata Esther sudah menunggunya dan membakar rumah itu agar Daniel tewas terbakar. Tapi Daniel berhasil melompat dan terjatuh, Esther berniat menghantam kepalanya dengan batu, Max muncul dan mendorong Esther hingga jatuh. Kate dan Jack membawa Daniel ke rumah sakit dan daniel harus masuk ICU.
Di rumah sakit, Esther masih juga berusaha membunuh Daniel dan menutup wajahnya dengan bantal. Alat penanda sudah menunjukkan garis datar dan ia keluar dari ruangan itu dengan tersenyum. Tapi ternyata dokter berhasil menyelamatkan Daniel. Kate langsung mengetahui kalau itu adalah ulah Esther. Di depan banyak orang ia menampar Esther hingga terjatuh dan berdarah. Akhirnya Kate dibius dan harus tinggal di rumah sakit malam itu. John meyakinkan kate bahwa semuanya akan baik-baik saja. John, max dan esther pulang kerumah malam itu. Setelah max tertidur, Esther sangat senang begitu menyadari dia akan berduaan di rumah dengan John. Dan dia berdandan layaknya wanita dewasa. Dia menggunakan kesempatan itu untuk menggoda John agar tidur dengannya. John menolak dan menyuruhnya naik ke kamarnya. John menekankan bahwa cintanya pada esther hanya sebatas cinta ayah kepada anaknya. Esther sangat marah karena merasa ditolak. Dia pun mengambil pisau dan pistol yang didapatnya dari lemari besi.
Pada saat yang sama, di rumah sakit, Kate menerima telepon dari Saarne Institution. Dokter yang menghubunginya mengatakan kalau nama asli Esther adalah Leena Klammer. Dia sebenarnya bukan seorang anak-anak lagi. Dia adalah wanita dewasa yang berusia 33 tahun. Dia mengidap penyakit kelainan hormon Hypopituitarism yang membuat tubuhnya berhenti berkembang secara fisik. Jadi, meskipun usianya sudah dewasa, dia tetap terlihat seperti anak yang berusia 9 tahun. Leena adalah seorang psikopat yang sangat berbahaya. Dia berhasil melarikan diri dari rumah sakit itu setelah membunuh beberapa pegawai.
Kate menyadari bahwa keadaan di rumah sedang dalam bahaya. Dia bergegas untuk pulang dan mencoba menghubungi john, tapi tidak bisa karena aliran listrik telah diputus oleh esther. Dan akhirnya, kate mendapati john sudah tewas dengan banyak luka bacokan di tubuhnya. Dan ia harus kucing-kucingan dengan Esther yang membawa pistol, untuk bisa naik dan menjemput Max yang bersembunyi di dalam lemari. Dalam perkelahian, dia berhasil memuat Esther pingsan dan membawa lari Max. Tapi ternyata, Esther berhasil menyusul dan mereka bergulat di atas danau yang membeku karena lapisan es. Pecahan es itu retak dan mereka berdua terjun ke dalam air yang dingin.Kate berhasil menghantam wajah Esther dan naik terlebih dahulu ke permukaan. Esther menyusul di belakangnya sambil berkata:
“Jangan biarkan aku mati, bu.”
Kate memandangnya dengan marah lalu menendangnya sekuat tenaga sambil berkata:
“Aku bukan ibumu!”
Dan akhirnya, esther tenggelam kedalam air danau tersebut.


 Analisis Film
            Ditinjau dari sosiologi keluarga, dalam keluarga ini awalnya memang terlihat harmonis, tapi sejak kedatangan esther dan segala keanehannya. Hubungan antara john dan kate mulai renggang. Kesalahpahaman dalam berkomunikasi, dan ketidaksalingpercayaan antara john dan kate menyebabkan keluarga mereka terancam oleh bahaya. Dalam film ini, john terkesan lebih percaya pada esther, anak angkatnya dan cenderung menganggap sikap Kate hanyalah reaksi dari kegelisahan yang berlebihan dan sebagai efek dari ketidakstabilan jiwa yang pernah kate alami dulu. Padahal, dalam sebuah hubungan, khususnya hubungan rumah tangga kepercayaan antar anggota adaalh salah satu penyangga kekokohan keluarga tersebut.
            Selain itu, dalam keluarga orang tua seharusnya mampu bersikap adil dan bijaksana terhadap anak-anaknya. Dalam arti, tidak mebedakan dan tidak terlalu mengistimewakan salah satu. Dalam film ini terlihat sebuah gambaran bahwa john cenderung lebih memperhatikan esther dan mengabaikan perhatian terhadap kedua anak kandungnya, max dan daniel. Terutama pada daniel, hingga daniel merasa iri dan tidak suka pada esther.
            Jika ditinjau dari sosiologi gender, dalam film ini keluarga coleman bisa dianalisi dengan teori struktural fungsionalisme, dimana dalam teori ini kedudukan antara laki-laki dan wanita dalam sebuah keluarga dibedakan. Jika laki laki memiliki wilayah publik, sedangkan wanita menguasai wilayah domestik. Sesuai jika dikaitkan dengan isi film ini, dimana kate sebagai istri dari john hanya bekerja mengurusi urusan rumah tangga dan mendidik anak, sementara untuk urusan dunia luar atau mencari nafkah sepenuhnya dikuasai oleh john.